SURVIVAL MODE : ON (part 1)

Location : dalam kamar, rumah dekat tikungan, tmp massa berkumpul, koneksi internet sebrang jalan….

Music background : Il Divo & Josh Groban

Weather : demek2 agak lembab abis diguyur ujan gede tadi sore

Cuma pengen curhat aja….

MASA ADAPTASI v. 2.0

Setelah kerasan tinggal di 235 - rumah para singletons diatas bukit - selama 17 bulan, akhirnya diriku berpindah habitat.

Mengingat kembali masa2 17 bulan itu…kesimpulannya : 235 tuh “gampang2 susah”. Dulu pas awal2, susah untuk kerasan disitu. Over all, rumah itu OK, kecuali WC. Kondisi WCnya itu lho, engga banget. Kompetisi antara rayap, semut, dan jamur were too exhilarating. But thanks to God, tiba2 (out of nowhere) rumah itu kena giliran pertama untuk diperbaiki (hehehehe…imagine me with huge grin). Dari kategori Sidon-Damsyik (itu nama kamar2 isolasi TBC di kelas III Serukam – saking parahnya rumah itu kali ya smp dijuluki demikian sama orang2???), tiba2 kami berubah kasta menjadi Narwastu 9 (nama kamar VIP Serukam, sebenernya cm ada 8 kamar)! Di-tegel keramik bo! Kinclong abesh! Rumahku aja kaga pake tegel keramik gitu, tapi di Serukam tiba2 bs dpt rmh bertegel keramik. Aneh memang hidup ini ;D

Tapi terlepas dari kondisi rumah, yang paling bikin berat ninggalinnya tuh orang2 yang ada di dalemnya. Dulu, g tinggal bersama para alumni MMC 2, the two and only, TM dan ES. We were having a good time together, para Sidon-Damsyik-ers. Sekitar April kemaren, TM turun ke bawah. Disini rule-nya, anak baru tinggal di bukit. Makin senior barulah makin dekat RS. Karena SW & MO kemaren cabut, TM giliran turun ke 308. Tinggal g dan ES. Lalu ES berpulang ke Medan & tak tentu kembalinya selama berbulan-bulan. Syukur ada si kecil, anak baru dari UPH yang dateng tepat 1 mg sblm ES cabut.

I realized that basically I’m not a highly adaptive person. Bahkan cenderung bertahan di comfort zone, drpd keluar ke wild world yg penuh tantangan, kecuali klo emang kudu alias harus. Nah, untuk menyesuaikan diri sama FD, si kecil itu pun butuh waktu. Saat itu, g lagi keilangan temen2 di Serukam. Semua coping mechanism g gone. Syukurlah si kecil bukan orang yg maksa msk ke private zone g, shg we can going well in a short time. Dan semuanya makin seru & menyenangkan waktu si kecil no.2 dateng, VV. I’ve known her as my junior since high school. Yah, cm TST (Tau Sama Tau) doang slm di high school dan med school. Agak lebih kenal waktu dia dateng MMC 4 kemaren. Makin kenal waktu akhirnya tinggal serumah. Makin serulah rumah atas setelah lengkap kami bertiga ;D and I enjoy their companies very very much.

Hingga akhirnya datang kabar bahwa ada anak baru yang mo dateng ke Serukam. Udah diterima lamaranny dan akan tiba awal Oktober di Serukam. Karena berdasarkan urutan senioritas orang selanjutnya dibawah TM adalah g, maka HG bersabda supaya g pindah ke 308 (intinya gitu). Setelah menimbang-nimbang baik buruknya (no place is perfect, guys), g mutusin untuk mengikuti tradisi & pindah ke bawah.

Yeah…di 308 lebih nyaman di satu sisi karena skrg ada koneksi internet dan letaknya lebih deket ama RS. Tapi ketidaknyamanannya banyak, dan salah satu yang terBESAR (yang bikin g bergumul until this very minute) adalah NOISE. 308 is just too strategic. Too many people come and go (they came for the TV basically ;D hehe – BCL’s TV, not mine of course). I rarely get my peaceful sleeping diluar jam2 normal orang tidur (baca : 10 mlm til morning). Klo judulnya adl “tidur siang” & “bayaran tidur”…walaaaah…bergumul dah. Don’t get your hopes too high, my friend… Bahkan ada suatu kali, dimana noise levelnya just so high, until I can’t write, I can’t read, I can’t think, boro2 sleep! Serasa mo meledak karena bising sekali! It’s just too noisy for me – yang udah 17 bln di-isolasi di rumah atas, menikmati suasana hutan yg real live action.

The price of peacefulness is so high.

I remember the time when I was still in Jatinangor, di kamar kos g yang sempit di Puren. Silent night, peaceful night. Compared with my time at home yang noisy karena ada 4 kepala lain di rumah yang sama2 beraktivitas saat itu.

Again, a quiet and silent environment is very rare.

I’m still adapting, still surviving. Setiap pilihan kan ada konsekuensinya toh. Ada positif dan ada negatifnya ;D bersyukur sajalah setiap saat, jgn kebanyakan mengeluh (ini lagi menasehati diri sendiri hehehe)
abcs