Christmas—God’s Cure

Our Daily Bread
December 23, 2010 — by C. P. Hia


"Grace and truth came through Jesus Christ" —John 1:17

If your physician called you and in a serious voice said, “Please come in as soon as you can. I have something to discuss with you,” you would know he has bad news! Your first response might be, “No, I don’t want to know.” But you go because it is only when you know the diagnosis that you can learn the cure.
God, our Great Physician, also has some bad news—about man’s spiritual condition. When against His expressed warning Adam and Eve ate the forbidden fruit, God told Adam that all mankind would die spiritually and physically. That’s the bad news.
But He also gave the solution. He promised a Savior (Gen. 3:15). The apostle John tells us, “Grace and truth came through Jesus Christ” (John 1:17). But how does that help? Jesus came that first Christmas to bring God’s grace, something that none of us deserve because like Adam we have all sinned. But Jesus also came to reverse what sin brought. He came to be the truth (John 14:6) that would bring us back to God. He came to “save His people from their sins” (Matt. 1:21).
Listen to what the Great Physician has to say in the Bible about your spiritual condition. Then accept the cure He has provided—the gift of salvation through Christ.

Life is uncertain,
Death is sure;
Sin the cause,
Christ the cure.
—Anon.

Spiritual blindness can be cured only by the Great Physician.

MIRACLE...MIRACLE

It was one hot Sunday noon (12 o’clock in the equator sunlight!!). I went home to have lunch, opened my FB and clicked the News Feed. A list of status updates showed up and one of them stroke me like thunder in a one holed-noon (itu kan Inggrisnya untuk “petir di siang-bolong”??).

About one month before, she wrote that she had pleural effusion – accumulation of fluid in thorax cavity between lung and pleura (selaput paru-paru). Back then, I thought that she got TBC (Indonesia’s national lung disease). And finally, they found the pleural effusion cause. The malignancy - lung cancer.

She’s a doctor, the same year as me, our age only differ one year.  She’s a Sundanese and we share hometown, Bandung. We were in the same lab group during med school. After graduation I don’t really know her updates, until now, when I learned her lung cancer. Stage 4 Squamous Cell Lung Cancer.

All of a sudden, a consciousness comes to mind. How does it feel? What if…it’s me and not her?
But more than that, I suddenly feel sad. My colleague, who hasn’t met HIM personally, is dying.

P

“Mengapa Allah menyembuhkan beberapa orang dan tidak menyembuhkan yang lainnya?“

Demikian tag line dari buku putih terbitan Visipress berjudul “Kesembuhan yang Ajaib” (Miraculous Healing). Walau katanya buku itu diterbitkan thn 2009, baru beberapa bln lalu aku melihat buku itu terpampang di toko buku rohani. Waktu itu aku baru saja pulang dari mission trip di Temanggung, my second mission trip yang meninggalkan kesan cukup dalam. Karena pengalaman di Temanggung itulah (akan kuceritakan lain kali), aku sangat tertarik ketika melihat buku itu (dan satu buku lain yang juga akan kuceritakan di lain kesempatan).  

Penulisnya adalah direktur nasional pertama dari China Inland Mission (a.k.a OMF International) di Amerika Utara, Henry Frost, yg juga merupakan rekanan dari (the famous) Hudson Taylor, pendiri CIM. Sebenarnya buku ini sudah lansia, pertama kali diterbitkan dalam bahasa aslinya pada tahun 1931 (wow, Indonesia masih dibawah penjajahan Belanda tuh). Pada edisi Indonesia-nya ini, turut diterjemahkan kata pengantar dari Joni Eareckson Tada, seorang penderita tetraplegia (kelumpuhan tangan dan kaki) selama 30 tahun lebih.

I found this book very interesting karena Frost membahasnya bukan hanya dari segi biblikal, tapi juga segi praktikal. Dia membeberkan argumen2 yang masuk akal sekaligus alkitabiah sebagai penjelasan thd pokok2 perdebatan yang umum, terutama dari orang2 yang mengklaim mukjizat secara ekstrim & keliru. Tetapi dia tidak kehilangan iman bahwa Allah tetap mampu dan mau memberikan kesembuhan yang ajaib pada masa sekarang ini.

Let’s peek in! ^ ^

MR.A and ME


Seorang laki-laki tua umur 70-an tahun terbaring di IGD dengan O2 lewat selang di lubang hidungnya. G memegang rekam mediknya dan melihat catatan pemeriksaan yang sudah dibuat rekan sejawat g.
 “Nyeri dada kiri sejak 3 hari SMRS, rasa ditusuk-tusuk dan ditindih, bla bla bla…. Rwyt TD tinggi sudah lama, bla bla bla…. Terakhir berobat ke RSUB 2004…,” g bergumam mencoba mencerna ceritanya. Lalu berpindah ke rekam jantung. “Weis… klasik serangan jantung,” komentarku melihat deretan garis hitam turun naik di lembar kotak2 merah. Pola yang khas, sulit dibantah.
Sejawat g sedang bertugas sebagai dokter klinik, jadi dalam 1 minggu ini dia tidak memasukkan px rawat inap. Kehormatan itu jatuh pada g. Maka g bergerak mendekati sang pasien, yang ditunggui seorang lelaki paruh baya. Aku menyapa sekilas, lalu menanyakan ulang beberapa pertanyaan kunci. Setelah mendapatkan konfirmasi, aku menyampaikan diagnosisnya, “… jadi dari hasil rekam jantungnya tampak bahwa bapak sedang mengalami serangan jantung dan…. “
Kalimat g terpotong oleh gesture dia yang tidak biasa. Dia langsung terisak dan menangis.
“Weleh…weleh….”
Setelah dia lebih tenang, I spoke a few reassurance sentences and explained that we would continue with chest X-ray and several blood examinations.  And then I left him.

When I was waiting for radiology expertise, one of the nurses told me that man real identity. Ternyata dia adalah bapaknya para pegawai di RS dan Akper Serukam dan masih kerabatnya beberapa perawat RS. Fenomena yang tidak asing lagi di RS “keluarga” Serukam, dimana semua orang (catat : SEMUA) masih bersaudara – berkerabat – berhubungan darah – sharing the same ancestors, entah bagaimana ^ ^’. Sambil menunggu, g telp IGD untuk meminta mereka menghubungi ICU untuk bersiap-siap menerima bapak ini.
Kembali di IRJ, salah satu perawat kerabat bapak itu datang mengajak bicara. Dia menyatakan kesiapannya untuk menerima bapak itu, tapi… “Masalahnya anaknya telepon saya dan meminta supaya…yah, kami juga mengerti kondisi bapak…tapi bagaimana kalau dia dirawat di rumah saja dan tidak masuk RS?” Sejenak g memandangi perawat itu dan terbayang muka salah seorang anaknya, Mr. Goodbye, yang bekerja di Akper – I looked at him in disbelief.
G menjelaskan ulang kondisinya yang jelas2 serangan jantung dan insisted that the best thing was to admit that px into the hospital. He finally backed out for a while dan menyarankan untuk memanggil anaknya. G lsg setuju dan ingin bertemu lsg dgn anaknya, Mr. Goodbye.

SEPT 2010 - Alone Into The Lone

ALONE INTO THE LONE

Lesson about Loneliness from Elisabeth Elliot
---Loneliness : It can be wilderness. It can be a pathway to God---


The day I found the book was not that dramatic.
I finally managed to arrive at Serukam safely after spending one night at Pontianak.
G ditempatin di motel, kamar no. 6 (by request dong – supaya ada kamar mandi dalem). Dan ternyata bukan cuma ada kamar mandi dalem, tapi ada terasnya juga. Begitu datang, g langsung “disambut” Mario, one of my fave twins, junior g sejak SMP. Dia lagi maen ke Serukam setelah menyelesaikan PTT Pusat-nya yang aneh bin ajaib di Sekadau.  

Hari itu juga g “shopping” di motel library. Semua buku di rak2 itu g liatin satu demi satu, dan akhirnya g bisa mendapatkan beberapa nice books ;D And one of them is “Loneliness” by Elisabeth Elliot.
Ini perjumpaan ketiga dengan karya2 Elisabeth Elliot, setelah Shadow of the Lord Almighty dan ?? of Love. Buku biru berdebu itu agak outstriking buat g karena pada saat itu g emang lagi dalam posisi “alone” di motel (well, ada Mario sih). Posisi “alone” itu menolong g untuk lebih menyelami ttg kesendirian dan kesepian (haha).

What is loneliness?

AUGUST 2010 - Titik Nol

Semuanya berawal dari pengumuman penerimaan PPDS.

G mengikuti ujian saringan masuk hari pertama dengan semangat. Bertekad untuk menaklukkan soal2 TOEFL, mengerjakan sebisa mungkin TPA (soale udah seabad rasanya sejak ngerjain soal2 Math SD-SMP-SMA), berharap they-think-I’m-sane-enough di MMPI (catet : I AM sane haha)(lbh tepatnya, I AM Chris, not Sane, who is Sane anyway?).
Ujian hari kedua lebih menegangkan. Soal2 khusus jurusan yang diminati. Hanya 60 soal, means kudu bener banyak2, salahnya seminimal mungkin. Soalnya sih standard, jawabannya itu yang membingungkan haha.
Yang paling parah ketegangannya adl 1 mg kemudian : interview. G jadi inget ujian lisan g masa ko-ass dulu. 1x di Syaraf, 2x di Interne. And I concluded that I didn’t like verbal tests.
The interview lasted for half an hour or so. They didn’t torture me, don’t worry & I didn’t want to go through the details again. What I knew was when I got out from the room, I got a bad feeling. I felt like they would reject me. I couldn’t explain why. I just felt that way. What? Sounded lack of faith? U can name it all u want. I just felt that way.

ONCE UPON A TIME IN CHINA (part TWO)


To read the FIRST PART of the story, click the following link : 

DAY THREE – JUNE 27TH – GUILIN-YANGZHUO
Setiap hari, kami hanya menginap 1 malam saja dan pagi2nya harus check-out untuk melanjutkan perjalanan. Breakfast di hotel lumayan bervariasi. Ada bubur (polos, pitan, telur), udon (kwetiauw kuah dgn beragam asinan), kue2 & roti (mocinya mirip cireng, tapi enak), dumplings (kue tie sayur, daging), nasi goreng (biasanya enak – sesuai selera Indon), kwetiaw goreng, fresh pakcoy/kailan, sosis goreng (I assume it’s pork), juice (orange/apel/nanas), hot soy bean milk, hot milk, dll, dsb. Ada yang tawar, ada yang keasinan, ada yang cocok, ada yang engga. Pokoke coba aja deh =)



Di pagi yang kelabu itu, kami mengunjungi 2 objek wisata Guilin yang terkenal, Elephant Trunk Hill dan Fubo Hill. I like Elephant Trunk Hill better. Jadi itu suatu taman yang luaaaas di pinggir sungai, dimana kita bisa menikmati keindahan bukit di seberang sungai, yang bolong shg berbentuk belalai gajah. FYI, Guilin tuh dikelilingi bukit2 yang mungkin ratusan jumlahnya. Semodel bukit kapur di Tagog Apu. Beragam ukuran, bentuk, dan imaginasi yang menyertainya. Ada yang model jempol, jari jemari, ibu2, sampe ke belalai gajah ini. Keren sih. Lebih keren lagi karena bukit2 beginian bisa jadi objek wisata. How clever is the people who found it.

ONCE UPON A TIME IN CHINA (part ONE)

Masa kecil g diwarnai dengan kehadiran berbagai film silat Mandarin yang tidak terlupakan. Sebut saja Legend of the Condor Heroes (cewe pintar dgn cowo lugu tp jago kungfu), disambung Return of the Condor Heroes (Andy Lau dgn sindrom Bibi-nya, Siao Liong Li), To Liong To (Tony Leung waktu masih muda), dan tentu saja beragam film Jet Lee. Dan yang paling berkesan adalah pentalogi Once Upon a Time in China. Sang master kung fu Wong Fei Hung dgn bibi-nya, Bibi ke-13 (lagi2 bibi, ada apa sih dgn bibi2 di film2 ini??). Jalan ceritanya simple (and cliché) tapi dikemas dgn menarik, gaya rambut Manchu VS jas & rayban Western style, gerakan2 kung fu yg amazing, gaya Jet Lee yang kocak, dibumbui love story, dan tentunya sang hero akan menang di akhir cerita. Namun dgn ke-klise-an yang very entertaining ini, Once Upon a Time bs mencapai 5 seri! Hebat….
Setelah “berpetualang” dgn film2 tersebut, akhirnya 25-29 Juni 2010 kemaren, diriku bisa mengunjungi daratan Cina. The Nanning-Guilin-Yangzhou trip. Ini trip keluarga kami yang pertama setelah hampir 10 thn sjk terakhir pergi bareng (wow, kemana aja g slm ini??)(Jatinangor, RSHS, Borneo...weleh-weleh).

[June 25-29th, 2010 – Nanning, Guilin, Yangzhou Trip]





GOD'S PACE, GOD'S GRACE (part Three)

This story has its FIRST & SECOND parts. 
Click on the link below if u haven't read the first or second part =)

SABTU, 22 MEI 2010

09.00 – 13.30      Taking the boat menyusuri Ketungau river (Senaning – Ng.Bayan)
13.30 – 14.30      On foot dari tmp boat berlabuh s/d desa terdekat, serambi depan NKRI :
                            Desa Nanga Bayan
15.00 – 15.30      Lunch
15.30 – 17.00      Mengikuti International Motorcross Championship from 
                            Ng.Bayan – Sebetung-Paluk
17.00 – 20.00      Bebersih, persiapan lecture
20.00 – 20.30      Dinner
20.30 – 22.30      Interactive lecture : diare & pengenalan kotak Pertolongan Pertama
                Workshop : LGG (larutan gula-garam), Handwashing

Karena kami sudah menghabiskan 2 malam di Senaning, kami hanya akan tinggal maksimal 2 malam di Sebetung-Paluk. Pagi2 benar, dengan semangat ’45, kami bertiga bersiap-siap naik motor boat. Barang2 dibawa seperlunya saja, sisanya dititipkan di Senaning. Hari cerah, langit biru, matahari bersinar terik. Jauh berbeda dengan hari2 sebelumnya yang slalu diwarnai dengan kelabunya langit dan rintik2 hujan setiap pagi sampai menjelang siang. Debit air tidak terlalu tinggi, tetapi masih bisa dilewati boat dengan mulus.
Saat itu ada 10 orang dalam boat. Judas di paling dpn, sbg pengarah boat. Seorang ibu dan anaknya yg pul-kam ke Ng.Bayan. G dan Tabasco di tengah, disusul Anomali dan pemuda dari Sebetung-Paluk. Di belakang boat ada NYB, ibu dr Ng.Bayan, dan supir boat (msh kerabat Pak NYB).
Pelan2 kami menyusuri Sungai Ketungau. Jadi ingat temen2 Serukam dan MMC yang pernah menyusuri sungai menuju Tamong. Mungkin begini juga rasanya. Kiri kanan sungai masih hutan yang lebat. Pepohonan yang rimbun tinggi menaungi sungai di beberapa bagian, tapi sering juga sungai dibiarkan kosong, langsung tertimpa sinar matahari yang semakin menyengat. Menarik ketika mencermati tanah tempak pohon berpijak, ternyata pasir putih, mirip dengan pasir pantai. Warnanya indah tapi sayangnya membuat pepohonan tepat di kiri kanan sungai tak kuat berdiri jika air pasang. Seringkali mereka rubuh ke arah sungai dan menghalangi jalan perahu, seperti yang kami alami 1x.
Syukurlah bapak2 di dalam boat dengan hati2 dan sabar mampu menuntun boat & penumpangnya keluar dengan selamat dari halang rintang pepohonan yang rubuh ;D klo ga, bs benjol deh kena batang pohon =)
Diiringi lagu2 rohani bernuansa Celtic, I enjoyed my time on Ketungau river.
“This is my Father’s world…”

GOD'S PACE, GOD'S GRACE (part Two)

This story has its FIRST PART. Click on the link below if u haven't read the first part =)



Anomali adalah seorang pembelajar. “Yang penting bukan kuliah berapa banyak, tp baca bukunya!” He has a great curiosity over anything and learn everything from everywhere (well, he skip medical hehe), especially yang berbau teknik, pertanian, dunia langit, etc, etc. Memiliki hiperaktivitas adrenal, shg tenaganya di-recharge saat ngomong sama orang lain (bkn wkt tidur hehe) dan tidur di sela2 waktu sampah (e.g menunggu ga jelas, lg perjalanan di kendaraan).
Dibandingkan dengan Tabasco dan gue yang awam bgt mslh mission trip, Anomali adalah seorang expert. Berpengalaman menjelajahi dalam & luar negeri dlm berbagai ekspedisi. Omongannya tinggi, ngawang2, tapi terbukti dalam bentuk real live action. Punya standar tertentu dan akan berusaha untuk memenuhi standar tsb. Makanya layak bgt klo dia jadi leader menggantikan Judas (yg shrsnya bs memposisikan dirinya sbg leader mengingat umur & profesi & ke-orang lokal-annya).

Di Senaning, listrik PLN tenaga diesel hanya exist dari jam 18 – 6. Selebihnya bergantung pada cahaya matahari untuk menerangi bumi.
Maka di pagi yang dingin, kelabu, dan basah karena lebatnya hujan, kami bertiga ngahuleng di ruang tengah rumah YM. Klo ga jadi ke Sebetung-Paluk, apa gunanya kami jauh2 pergi dari Bandung?? Kami juga merasa aneh. Saat Anomali memutuskan kami tidak jadi berangkat dengan boat yang harga supirnya super mahal itu, tidak nampak perlawanan dari Judas. Dia tidak tampak kecewa ataupun tampak berusaha memikirkan alternatif lain. Padahal dia harusnya (harusnya!) very eager to make this plan succeed. Bukankah ini impiannya sejak lama? Hasrat hatinya yang terpendam demi kemajuan daerahnya? Dia tenang2 saja & malah menyuruh kami voting setuju/tdk setuju batal ke Sebetung-Paluk. Suatu bentuk cari aman sebagai bahan pelaporan ke pihak Bandung nanti. Makinlah kami tak habis pikir. 

GOD'S PACE, GOD'S GRACE (part One)

Once upon a time….
Tersebutlah seorang localist – let’s call him Judas –  seorang putra daerah yg konon terbeban u/ memajukan daerah asalnya melalui jalur pendidikan. Dia mengajukan ide pembangunan sekolah tersebut ke institusi tempat dia menuntut ilmu & setelah penggodokan beberapa waktu lamanya, diputuskan untuk mengirim tim u/ menjajaki kemungkinan tersebut. Awalnya tim kami berjumlah 6 orang, namun karena masalah kesehatan, akhirnya 4 orang yang berangkat. Judas, Anomali, Tabasco, and me. A preliminary survey team.
Perjalanannya memakan waktu 10 hari (18-28 Mei 2010). Daerah tujuannya adalah Kecamatan Ketungau Hulu, Kab.Sintang, Prov.Kalimantan Barat.

(Peta milik dayakblogs.blogspot.com)


Walaupun g pernah 23 bulan di West Borneo, Sintang adalah suatu daerah yang belum pernah g kunjungi. So, it was brand new for me. And also for Anomali & Tabasco. Anomali uda pernah ke Kalsel, tp br kali ini ke Kalbar dan Tabasco cuma pernah stay 3 mg di Kab. Bengkayang. So basically, we relied upon information & travel plan set up by Mr. Judas. But actually, no one in this team really knows Mr. Judas. The impression I got from our meetings in Bandung was he had talent in ‘mouth’ section. Dia mempromosikan 1 daerah dibanding 3 alternatif lain, yang konon ‘mudah dijangkau – hanya 2 jam naik sepeda motor’. Dia bilang ‘semuanya beres, sudah diatur’ dan ‘semuanya disana kenalan dan saudara saya, jadi gampanglah, bisa diatur’.  ‘Tidak perlu kuatir, semuanya sudah beres’.

THE SKYRUNNER


Kegalauan dalam hati, pikiran yang masih berkabut, mata yang tak bisa melihat
Hanya iman yang mampu menembus kelamnya ketidakpastian

Kidung burung2 disekitar pepohonan hijau yang berkicauan merdu, riang, memuji….
Menikmati langit biru yang terbentang layaknya kanvas luas….
Kabut dingin yang turun di malam hari….
Bintang2 yang berkedip riang menghiasi hitam pekatnya malam….
Anak manusia yang berpeluh, otot2nya meregang, menapak bumi, berlari, jantung yang berdegup, menghirup nafas dengan kedua paru-paru....
Diiiringi desiran angin yang membelai tubuh yang dari debu tanah
Bersyukur karena diciptakan, dipilih, dan ditugaskan di bumi….



Will never stop admiring God’s painting in the vast blue sky
Wanna step my feet & run in the sky
The skyrunner
Whether it’s gray or it’s blue
There will always be a shining sun behind it
God’s ray of light
God’s radiant warmth
The Love of God

A PLACE TO BELONG

        
        Hari Kartini di thn 2008. Matahari bersinar dengan terik tanpa ampun di garis ekuator. Aku menginjakkan kaki untuk kedua kalinya di Supadio, bandara yang sempit dan hiruk pikuk itu. Masih teringat keberangkatanku tadi subuh. Saying goodbye to Dad, Mom, & bro – giving each of them a hug. Because for the first time in my life, I travelled alone to another island.
     God helped me to arrive safely. Rasa panas langsung menyengat kulit sewaktu turun dari pesawat. Setelah mengambil luggage, I got out from the waiting room. Many people swarmed near the exit door. Penjemput penumpang, calo, tukang taksi, porter, petugas keamanan, semua bercampur jadi satu. Syukurlah a familiar face welcomed me. HG, and then AP. My restless heart soothed a little bit.
     Aku menarik nafas panjang & menguatkan hati. “This is it Chris. Welcome to Borneo,” ujarku dalam hati sambil mengikuti mereka berdua ke Kijang 1070.
         A stranger in Borneo.


SOMEWHERE...OVER THE RAINBOW


“ Help me to walk aright,
More by FAITH and less by sight;
Lead me with heavenly light –
Teach me Thy way.” – Ramsey


Semuanya berawal dari rencana sederhana. 16-01-10. G dan FD berencana pergi ke Singkawang. G mo potong rambut, FD mo belanja. Biar mur-mer (murah meriah), kami mo naik bis sekola yang jam 05.30 pagi. Makan bur-ba (bubur babi) dulu (karena saking paginya, toko2 blm pada buka), baru menunaikan tujuan masing2 sambil JJS keliling Singkawang. Rencananya ga lama2 di Skw karena belum visite. Menjelang tengah hari, kami berharap sudah balik ke Serukam dengan bis umum (baca : elf – semodel Elf Cililin geto).

Namun malam sebelum hari JJS tersebut, sktr 22.30, ada makhluk tiba2 mengetok kaca jendela g (“Huweee?? Siapa yang ngetok malem2 begini??” pikir g wkt itu). Ternyata itu FD! Dia baru saja pulang dari tempat MG. Asalnya mah cuma mau ngambil kertas ucapan buat farewell TM namun “terhambat” disana hingga hitungan jam. Singkat cerita, FD mentioned about our plan ke MG lalu tiba2 MG punya ide bagus! “Jadi cie, kita kagak jadi pegi pk bis sekolah bsk. Kita pegi bareng MG dan ponakannya jm 7 pg. Oya, bareng 3 tamu dari S’pore juga.”
G cuma bisa melongo (kalo di film Nodame sih bunyinya,”Hieeeeh??”).

RESTLESS

RESTLESS
January 2010
Mengawali Januari dengan membuka mata di rumah dan 10 hari kemudian membuka mata kembali di pedalaman West Borneo…. Both are my beloved ;D
Setelah melalui hampir 3 minggu “praying & thinking session”, I decided to come back to Serukam even for a very limited time. Perjalanan yang aga aneh sebenarnya krn untuk pertama kalinya terdampar di Terminal 3 jam 4 pagi (!!!). Lebih anehnya lagi krn g pikir I was the only one, tp tnyt ada org yg sdh lebih dulu berada di situ sambil bergulung dalam kain Bali-nya (sambil tidur u/mengisi waktu). Keren sih Terminal 3 di waktu subuh…yang ga keren itu duinginnnya….brrrr….I wished I had my thick jacket on (instead of jeans jacket). Dengan menggigil kedinginan, g melewati pos pertama dengan mulus dan satu2nya ide yang muncul di kepala untuk mengusir rasa dingin yang kelewatan ini adalah dengan…MAKAN!!! Chewing would generate heat, my theory back then ;D

Singkat cerita, God helped me to arrive safely at Supadio airport. Padahal sebelumnya, pesawat Mandala yang kami tumpangi berguncang-guncang di angkasa due to cloudy weather for almost 20 minutes or so (quite long eh?). Rencananya g bakal stay one night di mess Ponti & ikut pulang bareng rombongan Serukam & tamu besok siang.
Namun dalam waktu relatif singkat, waktu WB muncul di mess, I heard surprising news. My senior TM is going to leave, this January. TM is my MMC senior, my senior housemate when we were still in the Sidon-Damsyik, and again my senior housemate when I moved to 308. By her leaving, our Sidon-Damsyik trio (with ES) is officially closed.
abcs