Seorang laki-laki tua umur 70-an tahun terbaring di IGD dengan O2 lewat selang di lubang hidungnya. G memegang rekam mediknya dan melihat catatan pemeriksaan yang sudah dibuat rekan sejawat g.
“Nyeri dada kiri sejak 3 hari SMRS, rasa ditusuk-tusuk dan ditindih, bla bla bla…. Rwyt TD tinggi sudah lama, bla bla bla…. Terakhir berobat ke RSUB 2004…,” g bergumam mencoba mencerna ceritanya. Lalu berpindah ke rekam jantung. “Weis… klasik serangan jantung,” komentarku melihat deretan garis hitam turun naik di lembar kotak2 merah. Pola yang khas, sulit dibantah.
Sejawat g sedang bertugas sebagai dokter klinik, jadi dalam 1 minggu ini dia tidak memasukkan px rawat inap. Kehormatan itu jatuh pada g. Maka g bergerak mendekati sang pasien, yang ditunggui seorang lelaki paruh baya. Aku menyapa sekilas, lalu menanyakan ulang beberapa pertanyaan kunci. Setelah mendapatkan konfirmasi, aku menyampaikan diagnosisnya, “… jadi dari hasil rekam jantungnya tampak bahwa bapak sedang mengalami serangan jantung dan…. “
Kalimat g terpotong oleh gesture dia yang tidak biasa. Dia langsung terisak dan menangis.
“Weleh…weleh….”
Setelah dia lebih tenang, I spoke a few reassurance sentences and explained that we would continue with chest X-ray and several blood examinations. And then I left him.
When I was waiting for radiology expertise, one of the nurses told me that man real identity. Ternyata dia adalah bapaknya para pegawai di RS dan Akper Serukam dan masih kerabatnya beberapa perawat RS. Fenomena yang tidak asing lagi di RS “keluarga” Serukam, dimana semua orang (catat : SEMUA) masih bersaudara – berkerabat – berhubungan darah – sharing the same ancestors, entah bagaimana ^ ^’. Sambil menunggu, g telp IGD untuk meminta mereka menghubungi ICU untuk bersiap-siap menerima bapak ini.
Kembali di IRJ, salah satu perawat kerabat bapak itu datang mengajak bicara. Dia menyatakan kesiapannya untuk menerima bapak itu, tapi… “Masalahnya anaknya telepon saya dan meminta supaya…yah, kami juga mengerti kondisi bapak…tapi bagaimana kalau dia dirawat di rumah saja dan tidak masuk RS?” Sejenak g memandangi perawat itu dan terbayang muka salah seorang anaknya, Mr. Goodbye, yang bekerja di Akper – I looked at him in disbelief.
G menjelaskan ulang kondisinya yang jelas2 serangan jantung dan insisted that the best thing was to admit that px into the hospital. He finally backed out for a while dan menyarankan untuk memanggil anaknya. G lsg setuju dan ingin bertemu lsg dgn anaknya, Mr. Goodbye.
Sejenak iklan lagi (karena itu hari klinik dan dia bukan satu2nya px yang g urus) dan ketika g kembali ke arena IRJ, salah seorang spesialis kami sedang melihat-lihat rekam jantung px bersama LR (my other colleague). Untuk ketiga kalinya hari itu, g menjelaskan betapa khasnya gambaran serangan jantung px itu (dan LR setuju). Namun tujuan spesialis itu ternyata adalah untuk menyampaikan “aspirasi pasien dan keluarganya” untuk tidak dirawat di RS. Pak spesialis menyuruh g menulis obat2an untuk dibawa pulang dan… “Tidak perlu pakai tanda tangan menolak perawatan segala, tidak enak, kan masih orang kita juga….” I again looked at him in disbelief.
“But sir….” I tried to argue. Tapi pak spesialis sudah membulatkan tekad, tak perlu ttd lembar hijau untuk penolakan rawat inap. Dengan alis berkerut, g menyodorkan rekam medis px itu, “Kalau begitu bapak saja yang tulis bahwa mereka menolak rawat dan tak perlu ttd.”
Pak spesialis tampak ragu sekilas tapi dia menurut dan segera menulis, lengkap dgn inisial dan parafnya. “Perlu apa lagi di rumah? Oksigen mungkin?” G mengangguk dgn terpaksa dan mekanistis. “Akan saya sampaikan pada mereka,” ujar pak spesialis semangat dan dia segera berlalu.
Seiring dengan berlalunya pak spesialis, g mengembalikan kartu itu beserta note ke kotak sejawat g dan pergi makan dengan sebal. “Ada apa sih dengan orang2 disini??”
45 menit kemudian…setting di ruang dokter…habis makan siang.
G menemukan sejawat g, sang dokter klinik, sedang menangis tersedu-sedu. Ini episode pecah-bisul yang kedua dalam 3 bulan terakhir.
“Gak adil!! Gak adil tau!!!”
Rupanya selama g pergi makan siang, telah terjadi insiden berdarah (lebay, gak bener-bener berdarah sih). Antara dia dan Mr. Goodbye. Insiden kedua antara mereka berdua dalam tahun ini. Dia bertanya apakah Mr. Goodbye sudah menandatangani lembar penolakan rawat inap untuk bapanya. Sayangnya dengan cara yang kurang pas, yang membuat Mr. Goodbye tersinggung dan marah. Saat sejawat g itu mo minta maaf, Mr. Goodbye berkata, “Saya belum siap untuk memaafkan!” Perawat senior IGD dan 1 spesialis lainnya (bkn yg berurusan denganku) yang mendengar keributan ikut mendekat ke TKP.
Singkat kata, Mr. Goodbye pergi melenggang kangkung, berhasil mendapatkan keinginannya – untuk kesekian kalinya di RS ini – dan berkomentar, “Susah memang urusan sama dokter2 muda. Lebih gampang sama dokter senior langsung.”
Tapi yang membuat temen sejawat g menangis bukan hinaannya, tapi fakta bhw untuk kesekian kalinya, Mr.Goodbye mendapatkan keinginannya lagi. Makanya di sela-sela isak tangisnya dia bilang, “Gak adil!! Gak adil tau!! Kenapa dia selalu semau-maunya sendiri?? Kapan sih Tuhan bakal menyadarkan dia??”
G duduk diam di sebelahnya dan berpikir keras. Ingatan g kembali pada bahan WOF kami bersama Oma kemarin malamnya. Yang juga diingat oleh teman g itu (karena sambil menangis sesegukan, dia membaca Mazmur 73 di sela-sela linangan air mata ^ ^’’’).
P
Asaph (atau Asaf), salah satu dari 3 pemimpin pujian Israel, menuliskan isi hati dan pergumulannya dalam Mazmur 73. G menyarankan supaya passage ini dibaca dalam bahasa Inggris maupun Indonesia-nya secara lengkap. Tidak seluruhnya g kutip disini.
“(3) For I was envious of the boastful, when I saw the prosperity of the wicked à (4) no pangs in their death, (5) not in trouble nor plagued like other men, (6) Therefore pride serve as their necklace; violence covers them like a garment…(9) they set their mouth against the heavens, and their tongue walks through the earth…(11) And they say, “How does God know? And is there knowledge in the Most High?” (12) Behold, these are the ungodly, who are always at ease; they increase in riches.”
Asaf mengemukakan salah satu issue yang menimbulkan tanda tanya besar di Perjanjian Lama : “How is it that the wicked so often prosper, while the godly suffer so much?” Mengapa orang fasik nampaknya baik2 saja, senang, tidak ada masalah, bahkan semakin kaya dan makmur, dan tidak ada tanda2 kejatuhan akibat segala kefasikannya? Sementara orang percaya sakit2an, miskin, sengsara, banyak masalah?
Ada konflik batin yang muncul dalam diri pemazmur saat itu, antara mengetahui kebenaran Firman Tuhan dengan melihat kenyataan yang terjadi di depan mata. Dia bergumul hebat. Dia merasa imannya diuji ketika ada discrepancy antara iman dan pemahaman ttg Allah dengan kenyataan yang dia lihat setiap hari. Ia tidak mampu memahami semuanya dengan akal pikiran manusianya.
“(16) When I thought how to understand this, it was too painful for me – “
Namun ia berpaling kepada Allah ditengah-tengah pergumulannya dan mendapatkan jawaban.
“(17) – Until I went into the sanctuary of God; then I understood their end à You set them in slippery places; cast them down to destruction. (19) to desolation, consumed with terrors. (20) You shall despise their image.”
Di tengah-tengah ketidakmampuannya untuk memahami semuanya dengan kekuatan sendiri, Allah hadir sebagai jawaban. Allah adalah jalan keluar. Allah adalah tempatnya bersandar. Allah adalah pengharapannya. Allah adalah … segala-galanya.
“(23) You hold me by my right hand. (24) You will guide me with Your counsel (25) Whom I have in heaven but You? And there is none upon earth that I desire besides You. (26) My flesh and my heart fail; but God is the strength of my heart and my portion forever.”
Adakah Pribadi lain yang lebih bisa diandalkan dan dipercayai selain Allah?
P
Waktu SMA dulu, g punya seorang guru agama. Sepanjang yang g inget, deretan guru2 agama g sejak SD s/d kuliah nyaris tak meninggalkan impresi. Di SD kami sibuk belajar ayat hafalan (tnp benar2 paham artinya) dan manghafalkan segala pengetahuan Alkitab yang bisa dihafal (sejarah, jln cerita, tokoh, tempat, nama kitab, jumlah kitab, dll, dsb). Di SMP kami belajar dari satu buku yang g ga inget lagi judulnya, apalagi isinya. Yang g tahu kami cuma sekedar melewati buku2 itu dan tahun2 ajaran kami di SMP. Hingga akhirnya g bertemu dengan dia.
Dia sangat-sangat-sangat nyentrik. Bapa-bapa Jawa asli. Muka, pembawaan, tutur kata, pola pikir, perilakunya njawa bang-get. Dan dia punya afek datar. Flat. Bila ngebodor pun (=bergurau), garing mati. Garing pisan. Teu hayang seuri (= gak pengen ketawa). Dia menyuruh kami semua membuat catatan pelajaran dia. Catatan itu harus lengkap DAN berwarna-warni. Makin rapi dan indah, makin tinggi nilainya di akhir tahun ajaran nanti. Dia juga sangat mencintai Renungan Harian. Kami disuruh membeli, membaca, menggaris point yg dianggap penting, memberi bintang, dan memberi judul baru. Itu juga ada nilainya. Bentuk ulangannya sangat simple. B – S (Benar dan Salah). Kalau tak benar, ya salah, dan demikian sebaliknya. Untuk bisa menjawab ulangan tersebut, harus membaca dan menghafal buku pelajaran se-DETAIL mungkin agar bisa naik kelas.
Bagi anak2 SMA seperti kami, dia terlalu kontroversial untuk tidak dikomentari, dijadikan bahan gurauan, dan dicoba untuk dikelabuhi.
Namun ada salah satu pelajaran yang g ingat.
Rules are made for a reason.
Peraturan bukanlah jeruji penjara, namun pagar pengaman.
Bayangkan kita sedang menyetir mobil di suatu lereng gunung dengan kelokan2 tajam dan di tepi lereng itu terbentang jurang dalam yang terjal. Peraturan adalah pagar pembatas jalan yang dipasang supaya mobil tak masuk jurang. Atau bayangkan ranjang kecil kita waktu kanak-kanak. Peraturan adalah jeruji di empat sisi ranjang untuk menjaga bayi/balita supaya tidak jatuh. Atau bayangkan saat kita di dalam mobil dan sibuk memakai sabuk waktu melihat ada polisi di ujung jalan. Peraturan adalah safety belt yang dibuat untuk mengurangi dampak buruk kecelakaan mobil.
I am not a saint. I don’t always comply 100%. I have my own rebellious times. But that noon, I hated when they bent the rules. And made me bent it too (scr tdk lsg). Rulenya adalah ttd surat penolakan rawat inap jika px atau keluarganya menolak untuk rawat inap (padahal ada indikasi untuk rawat inap). Tujuannya baik, untuk melindungi praktisi medis dari tuntutan hukum di kemudian hari. Dan pada beberapa kasus, itu dapat menolong px / keluarganya mempertimbangkan ulang ttg keseriusan penyakit px dan membuat mereka berubah pikiran. Kenapa sih justru orang2 yg seharusnya mengerti indikasi rawat inap (e.g doctor & nurse & nursing staff) yang malah ikut2an menolak rawat inap? Kenapa sih udah tau aturannya kudu ttd, masih juga ga mo ttd/ mendukung untuk tdk ttd dgn alasan “orang kita”?
Sesungguhnya peraturan itu ibarat payung. Payung yang melindungi kita dari efek sinar ultraviolet berlebihan di saat panas dan menghindarkan kita dari hipotermia dan prone-to-common-cold di saat hujan. Saat sesuatu yang buruk terjadi, tuntutan hukum mah bisa datang dari siapapun juga, mo ‘orang kita’ kek, mo ‘bukan orang kita’.
Suatu kali Mr.Goodbye pernah mengeluh nyeri ulu hati e.c gastritis akut. Saat itu Vi yang lagi jaga malam. Serasa yang empunya RS adalah moyangnya, dia memasukkan dirinya sendiri ke dalam ruang rawat inap dan mengeluarkan dirinya sendiri keesokan harinya tanpa ba-bi-bu kepada dokter yang merawatnya. Dan tak ada yang complain kecuali Vi yang gondog bgt wkt itu.
Kali lain, Mr Goodbye datang untuk meng-USG dirinya. Kali ini VK yang pegang dia. Seperti biasa, dia macam jelangkung, “datang tak diundang, pulang tak diantar.” VK yang threshold “cuek beibeh” nya tertinggi diantara kami semua, berasumsi bhw Mr. Goodbye takkan datang mengambil obat. Tapi tiba2 Mr.Goodbye datang dan complain, kenapa dia tidak dipanggil...”Jangan membuat saya kelihatan seperti pasien nakal dong.” VK dengan lempeng (=afek datar) merespon “Oh” dan bertanya apakah dia perlu obat sekarang. Mr. Goodbye lagi-lagi tersinggung dan langsung balik badan bubar jalan, “Gak perlu!”. VK cuma mengangkat bahu cubek and let it flow (I think only her who can deal with him – levelnya setara – no emotion at all, wkwkwkwkwkwk).
Jadi yang satu selalu ingin bending the rules.
Tapi rules-bender selalu membutuhkan enabler. Kita semua pasti pernah khilaf dan menjadi enabler. Again, we’re not saint, I’m not saint. Tapi apa jadinya klo senior pun ikut2an jadi enabler? Macam bapa spesialis yang enabling Mr. Goodbye di tragedi siang itu. Macam spesialis lainnya lagi yang memeriksa px tanpa rekam medis (padahal tak gawat) lalu tiba2 memasukkannya ke kamar (sblm urusan admisi rutin selesai). “Kebetulan” px VIP itu juga kabur setelah selesai dirawat tanpa membayar sepeserpun. Lha kan jadi olok-olok.
Rules are made for a reason. Jangan rubuhkan pagar sebelum tahu untuk apa pagar itu dibangun. Selalu ada kasus khusus yang menuntut kita ber”improvisasi”, dan butuh hikmat untuk menyikapinya waktu kasus itu muncul. Tapi jgn dijadikan alasan untuk bending the rules supaya sesuai kemauan kita / kepentingan kita. Jgn juga jadi enabler for others to bend the rules (O, help me God!).
P
Hal terakhir adalah tentang hukum tabur tuai.
Apapun yang kita tabur sekarang, cepat atau lambat pasti kita tuai.
Ini adalah suatu peringatan yang keras sekaligus penghiburan. Harus betul2 berhati-hati dengan apa yang sedang ditabur sekarang. Karena yang dituai tak mungkin jauh dari apa yang ditabur. Yang menabur benih gandum, akan menuai oatmeal. Yang menabur angin, akan menuai badai.
P
Jadi bila lain kali hati kita bertanya-tanya, bergumul, atau bimbang, kita harus ingat pengalaman iman sang pemazmur Asaf.
“(28) But it is good for me to draw near God; I have put my trust in the Lord God, that I may declare all your works.”
Mari mendekat pada Allah. Mari kembali pada Allah. Bukan sekedar untuk disegarkan, tapi untuk kembali diutus ke dunia, supaya pekerjaan2 Allah dinyatakan melalui diri kita. Bejana tanah liat, namun dipakai untuk memancarkan kemuliaan-Nya yang besar.
O, help us, God.
NOTES :
Ayat2 Alkitab dalam bhs. Inggris diambil dari The Gideons International.
Tafsiran dikutip dari NIV Bible Study dan rangkuman WOF Selasa, akhir Oktober 2010.
Post a Comment
What do you think? ^^