This is the account of my
newest adventure.
Tgl 3-13 Juli kemaren aku
ditugaskan untuk turun ke lapangan bareng petugas PKMD yang laen. Mereka lanjut
ke Sempatung, sementara aku diturunkan di Parek. Ada sih tawaran untuk ke Sempatung
dulu, tapi karena ga da petugas cewek yang ikut serta ke Sempatung, gak ah.
Stick to the original plan aja ^^
Kami berangkat 09.30 pagi dari
Srkm (hemmm...konon jam 8 tapi belum ada batang hidungnya waktu jam yang
disepakati tersebut). Pake motor trail PKMD, si JLX. Motor tinggi besar gitu,
siap menghadapi medan yang sulit. Harusnya sih pake sepatu bot juga tapi aku
gak punya. Lagipula katanya jalan kering karena sudah sekitar 3 mingguan gak
hujan. Kami mampir sebentar di Bky, mereka breakfast, kami bungkus lunch lalu
melanjutkan perjalanan.
Sebenernya gak jauh (well,
anything less than 6 hrs here isn’t far hahahahaha) dari Srkm ke Parek. Cuma
jalannya itu lho. Separuh perjalanan (dari Bky ke Sebalo lalu masuk Suti
Semarang) jalanannya sirtu (pasir batu). Rata tapi bergetarrrr. Gigi sampe
gemeletukan nahan getaran motor wkwkwkwk. Trus harus pake masker juga karena
berdebu. Separuh perjalanan sisanya yang seru (mulai Suti Semarang smp masuk
area Serimbo). Jalan tanah yang bergelombang. Asli offroad! Syukur cukup
kering, hanya beberapa bagian yang masih berlumpur. Jalan lurus bentar, trus
bergelombang, banyak jebakan batman, trus lurus, dan bergelombang lagi. Konon
klo lagi musim hujan, bisa habis karena jatuh ke lumpur berkali-kali dan waktu
tempuh bisa 2x lebih lama. Soon enough, kerasa banget dah betapa “empuknya” jok
JLX. Sampe sulit bangun dari motor dan sakit duduk selama 3 hari wkwkwk.....
(nasib bokong tepos)
Tapi...di beberapa titik
pemandangannya bagus banget. Bisa lihat area pegunungan Tengon-Bentiang. Masih
ditutupi pohon-pohon sehingga mirip karpet hijau yang luas membentang. Bisa
lihat lembah di sisi jalan. Langitnya juga very blue & beautiful ^^ Delight
for our eyes.
Syukur yang nyupirin motornya
ahli. Dia berhasil menyeberangi small creeks 2x tanpa kami basah kuyup. Gak
terjatuh sekalipun di daerah2 berlumpur. Bravo man! =)) Dan setelah 4 jam
perjalanan, termasuk beberapa kali istirahat, kami tiba di BKM (Balai Kesehatan
Masyarakat) Parek.
X
| BKM Parek |
BKM
Parek terletak di ujung dusun Parek, agak isolated, dikelilingi kebun sahang
(merica), di suatu tanah berumput dekat SD. Sebelah kanan rumah tinggal,
sebelah kiri BKM-nya, tapi bagian belakang kedua bangunan tersebut terhubung.
Rumah tinggal terdiri dari 3 kamar tidur, 1 r.makan, 1 kamar mandi, 1 WC, dan 1
dapur. BKM terdiri dari 2 ruangan (kmr obat dan kmr periksa), kmr blkg yang
kosong, lalu ada 1 WC (rusak) dan 1 ruang paling belakang yang lebih mirip
gudang. Dibawahnya ada kandang ayam ^^
| BKM Parek |
Kami
disambut Pd & Nt, pasutri perawat yang ditugaskan PKMD u/ jaga BKM. Mereka
mulai jaga disitu sejak menikah tahun lalu. Sekarang Nt lagi hamil 5 bulanan,
jadi mereka akan balik Srkm Sept nanti, sebelum perutnya terlalu besar untuk
dibawa offroad. Walau sudah ada yang jaga BKM, tiap bulan ada petugas lain yang
akan datang untuk membawa vaksin. Karena ga da kulkas di BKM dan ga da listrik
24 jam untuk menunjang kulkas tersebut hehe. Minggu pas aku dateng itu
sebenarnya minggu tenang, alias kaga ada kegiatan khusus. Posyandu baru
dilaksanakan minggu depannya.
Dusun
Parek terdiri dari 88 rumah yang didiami oleh 96 KK. Gak gede2 amat sih
dusunnya. PKMD punya 12 kader di dusun itu, some are active, some
are.....rarely seen. Rata2 orang disitu berladang, menanam padi, berkebun
merica, dan noreh karet juga. Selain itu bisa jadi buruh angkat kayu dan angkat
pasir. Kampungnya sendiri cukup bersih karena babi-babi sudah mulai
dikandangkan. Tapi ada juga yang bandel, babinya sengaja dikeluarkan dari
kandang kalau sore2. Alasannya kalau dibiarkan liar jadinya lebih gemuk. Alasan
sebenarnya sih malas memberi makan secara teratur. Padahal babi-babi yang
dibiarkan liar sering merusak kebun orang lain atau berkubang di bawah rumah
orang lain (hemmmm....).
Kegiatan
harian Pd & Nt di BKM lebih banyak non medis daripada medis. Mereka bangun
pagi (atau bisa juga bangun lebih siang wkwkwk), kasi makan ayam dan anjing
(they have 2 dogs, Gading & Giselle – bagus amat nyak nama anjing
betinanya), masak sarapan, urus rumah/kebun (ada kebun kecil di dekat BKM),
kadang2 nyemprot pohon merica (ternyata mereka ikut berkebun merica juga, di
tanah lateral kiri BKM). Lalu masak lunch dan baring2 tidur siang. Sorenya bisa
ikut OR (main voli/dulu maen bola), jalan2 ke kampung pas sore2, ikut nonton TV
kalau mau, masak dinner, & go to bed early. Simple regular life. Kadang2
ada pasien berobat ke BKM pas sore2 (habis mereka pulang berladang). Pas aku
dateng, orang2 memang sedang sibuk berladang tiap hari. Sore2 mereka capek
semua, jadi enggan disuruh berkumpul, maunya cepat tidur karena harus bangun
subuh dan mengulangi semua ritual pekerjaan harian mereka.
Siang
hari di Parek puanasss banget. Kalau nyuci baju jam 8 pagi, jam 11 udah nyaris
kering sempurna. Tapi sore harinya sejuk dan malam harinya dingin ^^ Bahkan
harus pake selimut klo malem2. Ada angin dingin yang menyusup via sela-sela
kayu di BKM, brrrrr. Tapi bisa tidur nyenyak karena cuacanya dingin hehehehe
(compared to Nanga Baram yang bisa sauna pas tidur malem karena panassss terus).
Tidur nyenyak selama berada di bawah lindungan kelambu.... ;D
X
Dug dug dug! Dug dug dug dug!!
Jam 03.30 subuh di hari Sabtu
(still counted as my first night there), pas lagi pules banget tidur, ada cowok
gedor2 BKM dan manggil2 Pd. Karena kamarku paling depan, langsung terbangun karena
gedoran tersebut. Gak lama Pd bangun dan keluar menemui cowok yang gedor2 itu.
Ternyata panggilan melahirkan.
Dejavu deh. Berasa stase Obgyn lagi.
Karena aku baru saja keluar dari 1 bulan stase Obgyn yang super duper hectic,
especially in the last week before going to Parek. Satu minggu dimana pasien2
membludak sampai2 zal bidan gak mampu menampung lagi =))
Ditemani senter dan dibungkus jaket,
kami berjalan melewati dusun dan menyeberangi S.Pade via jembatan baru. Rumah
ibu yang mau melahirkan itu ada di sisi lain dari dusun Parek. Mereka baru saja
menikah tahun lalu (dengan segala intriknya) and now they’re gonna have their
first baby. Harusnya sih bulan depan, tapi rupanya meleset dibandingkan HPHT. Aku
udah berdoa kuat-kuat sama Tuhan supaya Dia menolong ibu itu untuk melancarkan
selancar mungkin dan bayinya bisa lahir selamat.
Rumahnya kecil dan lampunya
remang-remang. Saat aku dan Nt masuk ke bilik (yang merupakan kamar mereka),
ibu itu lagi ngeden2 ditemani paraji (traditional midwife). Hemm...interesting.
Syukur Nt sudah sempat cerita bahwa disini sangat umum untuk melahirkan dibantu
paraji. Ada 2 paraji di dusun ini, salah
satunya istri kepala dusun yang sekarang berada bersama kami. Satu lagi kurang
laku karena galak dan judes wkwkw. Syukur dapat yang ini, bukan yang satunya.
Aku cek dalam, bukaan memang sudah
lengkap. Dia mulas sejak jam 01.30an. Syukur kami dipanggil pas uda lengkap
wkwkwkwk. Ketuban sudah pecah spontan. Sambil ngecek detak jantung bayi (ada
Doppler syukurnya), aku melihat ke sekeliling. Haizzz...ini mah ga mungkin
nolong secara steril. Bersih aja udah bagus (sambil memandangi tiker bambu alas
tidur ibu itu yang warnanya gak jelas – well karena remang2 juga sih).
Ibu itu ngeden2 dan kepala bayi
mulai terlihat. Tapi kemajuannya tidak secepat yang diharapkan. Paraji itu
ngomong sama Nt dalam bahasa Parek. Syukurnya Nt udah mulai ngerti bahasa situ.
Dia translate bahwa parajinya mo mengubah posisi ibu itu, dari berbaring ke
jongkok biar cepet turun. Aku setuju karena itupun salah satu posisi melahirkan
yang di-approved. Lagipula lebih gampang bikin ibunya ngerti ngeden yang bener
itu seperti apa, yaitu seperti BAB =))
Suaminya disuruh duduk di belakang
istrinya, dan ibu itu nyandar ke suaminya sambil jongkok. Syukur perutnya kaga
gede2 amat dan kaki gak bengkak. Klo gak, mana tahan disuruh jongkok kayak
gitu. Setelah itu dia ngeden tiap kali mulas. Syukurlah kepala bayi makin turun
dan makin terlihat. Lalu dia lanjut mengedan dan mengedan dan mengedan dan akhirnya
lahirlah kepala bayinya!! Puji Tuhan! ;D Langsung kulahirkan semuanya dan
kuambil bayinya untuk dipotong tali pusat (kami bawa alat bersih), dikeringkan,
dibikin nangis, dan diperiksa. Sementara kami sibuk dengan bayi, parajinya
sibuk dengan ari-arinya. Setelah itu dia sibuk mengurus ibunya dengan cara-cara
kampung. We don’t have the opportunity to interfere anymore.
Yeah, yang penting bayinya lahir
sehat. Perempuan, 2.6 kilo, diberi nama sesuai nama bulan lahirnya (seperti
banyak orang lain di kabupaten ini hahaha). Ari-arinya lahir lengkap. Ibunya
juga keliatan baik-baik saja pas kami visite ulang sorenya ^^ Puji Tuhan! My
first experience untuk berkolaborasi dengan paraji pas melahirkan. Interesting
indeed.
X
Hari-hari
setelah itu relatif tenang. Kami kebaktian Minggu di gereja setempat. Dan
seperti “tradisi” orang situ, tiap kali ada orang baru datang/petugas PKMD
datang, pasti kena khotbah. Baik itu cerita di sekolah minggu, maupun
membagikan firman Tuhan di kebaktian umum. Gedung gerejanya sudah bertegel
keramik dengan peralatan sound system yang lumayan. Ada keyboard untuk
mengiringi kebaktian. Keyboardis-nya pasrah aja, tergantung siapa yang mau
nyanyi di depan, dan mau lagu apa. Jikalah dia tidak bisa, ada pak gembala
dengan gitarnya yang mumpuni =)) Mereka memuji Tuhan dengan semangat. Bahkan
persembahan pujian dari jemaat makan waktu hampir 1 jam pada hari Minggu itu
(plus kesaksian2 singkat sebelum dan sesudah menyanyi).
Kemudian
ada rapat kader Posyandu. Aku hadir sebagai pengamat saja. Terkesan waktu yang
hadir mostly bapak-bapak. Biasanya kader kan ramenya ibu2. Ini ibu2nya malah cuma
2 yang muncul (salah satunya istri tuan rumah). Pd memimpin dengan sangat baik,
mengarahkan mereka untuk mengeluarkan pendapat dan mencari solusi bersama. Tidak
bernada menggurui/mendominasi =)) Takes a skill to do that.
Pasien2
klinik bervariasi, mulai dari bayi sampai nenek2. Tapi tidak sebanyak pasien
klinik Nanga Baram. Masalahnya BKM ini juga sangat terbatas jenis dan jumlah
obat2annya. Jadi klo diberi pasien2 yang terlalu advanced case / advanced diagnosisnya
juga...apa yang mau dibuat?? Seperti yang terjadi dengan 1 px anak. Demam 1
mgg. Kami rajin follow up dia tiap 3 hari kerumahnya. Sudah pake antibiotik
tapi belum ada perubahan. Kok malah mencurigakan ke infeksi selaput otak dan
sederet diagnosis banding lainnya. Tapi perlu pemeriksaan lebih lanjut di
center yang lebih lengkap. Akhirnya (dengan susah payah) berhasil meyakinkan
ortunya untuk membawa dia ke RS. Satu px lg yang parah adalah anak kader kami.
Serangan asma berat. Klo di RS pasti uda dinebu. Lha disini? Akhirnya cm dikasi
obat sesak (itupun tablet dibikin puyer karena gak ada sirup) sambil berdoa
kuat-kuat supaya Tuhan mengasihani dan menyembuhkan anak itu.
Tapi
pasien2 lain lebih simple dari itu. Ujung jari terpotong parang waktu
berladang. Syukur betul2 di ujung doang. Punggung kaki sobek kena standar
motor. Syukur kulitnya nda hilang semuanya. Jari yang lain lagi terkena parang
waktu berladang. Syukur ndak sampai putus urat. Kemudian ada 1 hari aneh dimana
orang2 “berjatuhan” dari jembatan. Jadi jembatan baru itu ujungnya memang tiba2
menanjak tajam. Nah pada hari yang naas itu, lampu di sluruh dusun mati (karena
sedang perbaikan bendungan). Motor pertama orang Tengon. Tidak siap untuk
menanjal tanjakan, motor itu terlempar ke kiri. Motor kedua sekitar 5 jam
setelahnya, orang Serimbo. Tidak siap untuk menanjal tanjakan, motor itu
terlempar ke kanan. Haizzzz.... Syukur ndak ada yang jatuh terus sampai ke
sungai. Korban pertama hanya cedera ringan. Korban kedua dijahit sedikit di
dekat matanya (dibawah penerangan senter dan lilin). Benang yang tersedia
ukuran segede gaban. Tanpa jarum. Jarumnya lepasan, juga segede gaban wkwkwkwk.
Tapi syukur masih ada benang, jarum, dan minor set sehingga bisa melakukan
tindakan =))
| Gotong royong perbaiki bendungan |
| Pade river |
Di
waktu luang, Nt banyak masak. Masak sayur, masak ikan, masak bubur jagung,
masak agar2, masak kue2 untuk ibadah rumah tangga. Syukur dia doyan dan pintar
masak. Susahnya disini sayuran dan daging di tukang sayur mahal banget. 2x
lipat harga Srkm (yang uda termasuk mahal compared to Skw). Sementara pasar gak
ada. Pasar terdekat di kampung Melayu di Tengue. Orang2 sekitar cukup sering
memberi bahan2 makanan untuk petugas BKM, seperti beras, jagung, rebung,
pepaya, kadang2 ikan yang mereka tangkap. Tuhan mencukupkan.
X
Di akhir mgg pertama aku disitu,
akhirnya kami pergi Posyandu.
Jumat sore kami berangkat ke
Jangkok, 15 mnt dari BKM dengan motor. Kami Posyandu di rumah kader
satu-satunya dan kader tertua disitu. Berhubung listrik mati (perbaikan
bendungan makan waktu 1 mgg, jadi mulai Kamis malam kami hidup dalam
kegelapan), Posyandunya makin lama makin remang-remang. Mengandalkan pelita dan
senter, petugas PKMD membuka dalam doa dan membawakan renungan. Lalu bapak itu
menimbang, memplot BB ke grafik, dan memberi penyuluhan (sangat, sangat)
singkat. Pd menekankan bahwa sekarang kader yang harus memberi penyuluhan.
Bahan2nya dari leaflet dan buku bergambar yang sudah dibagikan oleh PKMD. Cukup
banyak ibu2 hadir beserta anak2nya.
| The faithful man in Jangkok |
| Posyandu @Jangkok |
Setelah acara selesai, kami dijamu
makan malam oleh bapak itu dan keluarganya. Such a good time to have a
fellowship. Kinda impressed with this man’s faithfulness to serve with PKMD all
these years (more than 20 yrs I supposed). Waktu masih bersantai-santai, kami
mulai mendengar bunyi2 mencurigakan di luar. Ternyata mulai turun hujan! Kami
lari terbirit2 menaiki motor masing2 dan segera pulang ke BKM. Hujan turun dengan
lebat dan kami basah kuyup ;D wkwkwkwkwk..... Syukur bawa jaket (dan terbukti
cukup waterproof, sperti yang diiklankan haha!)
Sabtu full Posyandu dari pagi sampe
sore. Pertama kami berangkat menuju kampung yang paling jauh dulu, yaitu
Sebantik. Seperti yang diceritakan Nt, kampung ini memang masih kotor banget
dan underdeveloped dibanding kampung2 lainnya. Belum terjangkau listrik karena
dayanya gak kuat untuk nyampe sana (aliran sungainya terlalu kecil untuk
menghasilkan daya PLTMH yang besar). Beragam peliharaan (terutama piggywiggy)
berkeliaran bebas dan mencemari jalanan. Tapi sudah ada WC umum dan aliran air
bersih di seberang rumah kader tempat kami Posyandu. Orang2nya juga masih
banyak berdukun jika terserang penyakit. Tapi dukunnya sendiri pernah operasi
di Srkm ^^v
Tuan rumahnya sendiri menyambut kami
dengan ramah dan hangat. Sama seperti di Jangkok, tempat Posyandunya terus
menerus di rumah ini. Acara dibuka dengan doa, lalu aku yang kena giliran
renungan, lanjut dengan bapak kader membacakan penyuluhan dari leaflet gizi
buruk. Setelah itu mulai menimbang dan menyuntik. Ada suntik TT juga untuk
perempuan umur 15-40 thn. Habis Posyandu, tuan rumah menjamu kami makan siang.
Sambil makan mereka mengeluhkan sulitnya untuk mempengaruhi tetangga2 yang lain
untuk hidup lebih bersih demi menjaga kesehatan. Contoh yang paling mudah
adalah masalah mengandangkan babi. Easier said than done.
Jam 1 siang kami berangkat ke
kampung berikutnya yaitu Padang Peluntan. Disini tidak lama, hanya menyuntik
saja dan periksa beberapa ibu hamil. Rata-rata ibu hamil di dusun2 itu akan
melahirkan di dukun beranak. The best thing PKMD can do is to monitor their
weight, blood pressure, fundal height, baby position, and give them
supplements. Jika ada tanda2 bahaya, mereka bisa segera disarankan untuk ke RS
terdekat. Di Parek ada yang memanggil petugas PKMD untuk menolong persalinan,
tapi yah, seringkali berdampingan dengan parajinya wkwkwk....
| Posyandu @Pd.Peluntan |
Kampung ketiga adalah Padang
Tanjung. Kampung ini lebih bersih dan lebih teratur daripada yang sebelum2nya.
Sudah ada listrik masuk kampung juga. Rumah kader tempat kami Posyandu ukurannya
luas dan memiliki WC dalam rumah =)) Air bersih berlimpah ruah ^^ (serasa
pengen mandi saking panasnya). Ada beberapa pxs berobat. Salah satunya cedera
bahu sudah 1 mgg. Antara terkilir atau ada fraktur. Dia kusarankan segera ke RS
untuk dirontgen dulu supaya jelas ada fraktur/tidak. Kalaupun hanya terkilir,
perlu dibius untuk reposisi karena sudah 1 mgg berlalu.
| Posyandu @Pd.Tanjung |
Hari Minggu adalah hari
Posyandu terakhir. Pagi-pagi kami berangkat ke Jangkak, about 20 mins by
motorbike. Bener2 civilized village deh dibanding yang sudah-sudah. Mereka punya
PLTMH sendiri sehingga hari itu listrik menyala seharian. Aku langsung
ngecharge HP & terharu liat TV nyala haha. Lebih terharu lagi waktu tahu
ada sinyak HP dimana-mana di kampung ini. Dibanding Parek, Jangkak lebih strict
dalam pembatasan alat2 eletronik. Mereka melarang alat2 elektronik tertentu
(mis. rice cooker) supaya daya listrik terbagi rata dan cukup untuk orang
sekampung. Rumah kader tempat kami ikut ngaso juga punya air bersih dan WC
dalam rumah (yang sedang dalam proses renovasi). Dusunnya tampak bersih dan
teratur dengan gereja PIBI dibangun tepat di tengah kampung.
| GPIBI Jangkak |
| Jangkak village |
Diluar rumah, tampak orang
sedang menjemur merica. Satu ladang merica ditanami sekitar 600 pohon. Sekali
panen, merica bisa menghasilkan lebih dari 40 juta IDR. Tapi dipanennya 8 bulan
sekali dan more than 40 millions itu pun masih bruto, belum dikurangi ongkos
beli bibit, ongkos tiangnya, memelihara, memupuk, dll, dsb. Makanya mereka
perlu noreh karet u/memenuhi kebutuhan harian. Kalau pandai menabung, ya bisa
menyekolahkan anak ke luar daerah itu, bahkan luar Kalimantan. Bisa punya
decent house beserta peralatan2 elektronik di dalamnya dan motor (beberapa
motor bahkan).
Mnr Nt, jemaat di Jangkak kesadaran
perpuluhannya cukup baik. Mereka bisa membangun pastori di dekat gereja dan
bisa memiliki seperangkat alat band untuk mengiringi kebaktian (termasuk drum
setnya). Pd yang main keyboard karena belum ada yang bisa memainkan keyboard
itu. Awalnya aku udah senang2 karena karena katanya sudah ada yang akan
khotbah. Tapi ujung2nya kena tunjuk lagi. Kebaktiannya tidak selama yang di Parek
minggu lalu karena persembahan pujiannya tidak banyak. Kebaktian ditutup dengan
pengumuman dari bapak2 yang selalu membawa 3 buku besar saat pengumuman =)) (a
Jangkak’s signature according to Pd hehe)
Setelah ganjal perut dengan mie,
kami mulai Posyandu di gereja. Salah satu kader membawakan penyuluhan tentang darah
tinggi (dari buku bergambar PKMD), didampingi Nt yang menjelaskan ulang supaya orang2
lebih nangkep. Setelah itu penimbangan, penyuntikan dan pengobatan. Yang di
Jangkak ini lebih menarik pengobatannya. Real sick people! ^^ Asma bronchiale, COPD,
sp.TBC DD/ Bronkiektasis terinfeksi, dan lain2. Orang2nya juga lebih bisa
diomongin dan diedukasi (well kecuali untuk 1 ibu2 yang terbentur masalah
bahasa).
| Posyandu @Jangkak |
| (big) Lunch @Jangkak |
Jam 14.30 finally we had our (official)
lunch! Asli makan besar. Nasi musti nyobain dari 4 wadah nasi. Trus ada telur dadar,
telur balado, babi hutan, babi biasa, daun ubi, sawi, ikan tangis, dll, dsb.
Termasuk bekasam babi hutan. My stomach was totally full to the max. Dengan
kekenyangan, kami pulang ke Parek dan melakukan Posyandu terakhir disono.
Setelah itu tinggal beres2 dan siap2 pulang ke Srkm Senin pagi.
Puji Tuhan tidak ada hujan lagi. Hari Senin pagi saat
pulang, jalanan relatif kering. Walau sempat hampir jatuh dari motor karena
motornya tergelincir, sempat harus turun dari motor waktu nyebrang kali, perjalanan
pulang cukup lancar. Tiba di Bengkayang jam 11an and had lunch before went back
to Srkm. Home sweet home ^^
Epilogue
Seminggu
setelah balik dari Parek, bapa2 TBC (yang Nt pantau pengobatannya) akhirnya
kontrol bersama salah satu keluarganya ke RS. Dia putus obat dong! Padahal Nt
udah ngingetin tiap hari supaya dia segera kontrol sambung obat TBC.
Haizzzz.... Nah, dari pasien itu juga aku dengar bahwa anak yang kurujuk itu
akhirnya berobat ke RS lain. Makanya gak pernah nyampe ke Serukam. Px TBC anak
yang satu lagi belum kontrol lagi ke RS. Semoga tidak ikut2an putus obat.
Bersyukur untuk trip ke Parek. Melihat
bagaimana perjuangan orang2 yang melayani disana. Melihat kesempatan besar yang
dimiliki petugas PKMD yang stay disana untuk jadi berkat dan teladan. Ide untuk
menempatkan pasutri di BKM bener2 brilian. Karena bisa saling mendukung dan
menjaga, integritas juga lebih terpelihara, dan ada kesempatan untuk menjadi
contoh di tengah2 masyarakat. Dengan demikian diharapkan bisa memberikan dampak
positif dan perlahan-lahan menginduksi terjadinya perubahan di dalam masyarakat
yang dilayani (even though it’s not an easy task and can’t be achieved in a
short time).
| Parek team, July 2015 |
“...the harvest is plentiful, but the laborers are few;
therefore pray earnestly to the Lord of the harvest to send out
laborers into his harvest.”
(Matthew 9 : 37–38)


