MAY 2015 - MMC X


Many things had happened since I last wrote to you guys.
From early March until 2nd week of May, we were so occupied  by 10th MMC. Di dalam rangkaian training MMC itu diselipkan begitu banyak training dan 1x retreat. Lalu sibuk jalan2 ke Ponti hahaha (long weekend) on early May. On April, my family came to visit me! (yaaayy!!) Dan minggu lalu saat ada another long weekend, I went to a mission trip with a church from Jakarta to the border (Balai Karangan). Not to mention, aku sedang rotasi 3 bulan di Bedah which demands so many times & efforts (semangat!). But also very interesting, even more interesting than last year ;D

OK, let’s start with recap from MMC X, shall we?
Ì
           
MMC (Medical Mission Course) yang digagas oleh PMdN (Perkantas Medis Nasional) sudah memasuki tahun ke-10. Aku berkesempatan ikut MMC III, long long time ago =)) *well, not that long lah. Tujuannya masih sama, untuk memperlengkapi secara medis dan rohani para dokter yang akan pergi PTT/memiliki hati untuk melayani di daerah2 terpencil di Indonesia. Tetapi ruang lingkupnya sudah diperluas ke dokter gigi. Bahkan tahun ini diujicobakan ada perawat juga (yang di akhir program terbukti terlalu prematur untuk di-launching)(bener2 trial doang).
            Ada 3 dokter umum, 2 dokter gigi, dan 1 perawat yang mengikuti program MMC X ini. 1 mgg di OMF Jakarta dan 9 minggu di Kalimantan Barat. Mostly di Serukam, diselingi retreat dan 2x live-in di Nanga Baram dan Siding. Dibanding saat aku MMC dulu, program MMC semakin lama memang semakin sophisticated. Sulit untuk di-manage oleh segelintir orang, apalagi hanya oleh 1 orang. Tapi sisi positifnya adalah  pembekalan yang didapatkan jauh lebih kaya dibanding dulu2.


MMC X : 3 GPs, 2 dentists, 1 nurse
  
            Kami berkesempatan menikmati pembicara2 dari dalam dan luar negeri, baik yang berbicara ttg hal2 medis, maupun ttg hal2 rohani. Karena mereka biasanya mengadakan open session, baik di jam kerja, maupun after work hours. Sometimes, we could go out every night 5 days-a-week! Hal yang terbukti sangat sangat melelahkan, karena kami jaga malam, post jaga malam, post asistensi di OR. But in our “sober days”, bener2 merasa diberkati dengan mendengarkan sharing/presentasi mereka.
            Di minggu2 awal MMC, banyak pembicara menyampaikan tentang bagaimana mereka menggumuli panggilan Allah dalam kehidupan mereka. Ada yang memang dokter kemudian memutuskan menjadi penginjil. Ada yang memang penginjil sejak awalnya dan terpanggil untuk melayani saudara “sepupu”. Ada yang dokter, dan tetap melayani sebagai dokter. Aku merasa dikuatkan kembali ketika mereka bersaksi bahwa ketika Allah memanggil, Dia akan memperlengkapi dan memcukupkan segala sesuatunya. Tidak berarti semua akan jadi lancar jaya, tentu tidak. Menjadi seorang pengikut Kristus berarti sudah tanda tangan kontrak jalan Salib. Pasti akan memikul salib setiap hari. Tetapi yang luar biasa adalah di dalam periode memikul salib tersebut, Tuhan memberikan sukacita, damai sejahtera, kekuatan (yang seringkali melampaui segala akal) hari demi hari.
            Saat bicara tentang kecukupan yang dari Allah, mereka bersaksi bahwa pasangan hidup pun adalah salah satu yang disediakan Allah bagi mereka. Dokter yang menjadi penginjil mengutarakan bahwa bagi dia, yang penting untuk dimiliki oleh pasangan hidupnya adalah : takut akan Tuhan, mau melayani Tuhan dimanapun pasangannya ditempatkan/dipanggil, dan ada kerinduan untuk melayani jiwa2. Dan tentu saja, kesamaan visi & panggilan. Sementara pasangan penginjil yang lain menyaksikan bahwa di dalam cross-cultural marriage mereka selama puluhan thn, mereka menjadikan Kristus sebagai pusat. Perbedaan budaya, latar belakang, dan kebiasaan diantara mereka diatasi dengan menjadikan CROSS sebagai culture (word-play dari “cross cultural” marriage hehehe). Fokusnya adalah Kristus, bagaimana mereka berdua bisa memenuhi Amanat Agung Yesus Kristus (Mat 28:18-20) sebagai 1 keluarga/tim pasutri. Yang membuat mereka awalnya terkesan adalah bagaimana pasangannya berdoa & mengasihi jiwa2, rela hidup menderita demi pekabaran Injil, percaya bahwa hartanya di surga, bukan di dunia.
            Maka ketika seorang laki-laki/perempuan termasuk highly educated, well-mannered, a Christian too, but lacks in vision for evangelism, mission for reaching out, and passion to serve people wherever/whenever (especially in remote areas jika itu panggilannya), perlu dipertimbangkan ulang sebagai pasangan hidup. Your resume can be mind-blowing, but still, sameness in vision & passion sitting at the top priority.
            Di minggu2 menjelang akhir, ada retreat di Longsand beach selama 3 hari 2 malam. Nah, kupikir bisa sedikit relax di retreat ini, getting to know the MMC-ers a little better. Karena selama ini jadwal mereka dengan pembicara tamu sangat, sangat padat. Belum lagi ngurus kapel 2x seminggu dan sekolah minggu tiap Minggu. Tapi ternyata tetap sibuk dan padat juga. Bahkan sulit curi2 waktu untuk sharing dengan para pembicara lokal yang merupakan mentor2 kami dari tahun ke tahun. But still it was good. Ada EMG med specialist dari England yang membagikan eksposisi Efesus bagi kami secara remarkable.
            dr. GC (the EMG med specialist) membahas Efesus 1-5, sementara Efesus 6 dibahas di Kapel hr Rabu berikutnya. Efesus 1 membahas tentang gambaran kemuliaan Allah & rencana ilahi di surga. Efesus 2 menggambarkan kontras antara kemuliaan Allah di Efesus 1 dengan kejahatan manusia di bumi beserta segala kebobrokannya. Namun di Ef 2:8-10 Allah berkenan untuk menganugerahkan keselamatan bagi manusia, bahkan sudah merencanakan pekerjaan baik u/ mereka lakukan bagi Dia.
            Efesus 3 bicara tentang missio Dei / God’s mission u/ mempersatukan semua orang dari segala suku bangsa, ras, bahasa di dalam Dia (baik Gentiles, maupun Jewish) à itulah rahasia besar Allah yang dibukakan pada masa itu. Karena murid2 Yesus pada masa itu masih berpikir bahwa keselamatan hanya tersedia bagi Jewish. Misi orang2 percaya adalah to tell everyone else about the Gospel & become servants of the Gospel.
            Efesus 4 menandai bagian kedua dari Efesus yaitu “How to live”. Tapi Paulus memulai dengan mengingatkan bahwa dasarnya adalah : Tuhan sudah mati dan membenarkan kita. Hidup benar sebagai wujud syukur atas keselamatan yang sudah diterima, bukan demi mendapatkan keselamatan.
Topik pertama dari Efesus 4 adalah kesatuan dan keberagaman dalam gereja – mengapa harus ada kesatuan dalam gereja. Unity in diversity, NOT unity in a sense that everything menjadi serba sama dan kehilangan identitas saat bersatu. Yang mengena adalah teguran tentang harus memiliki humility, gentleness, and patience. Humility is a right understanding about yourself à jika sombong, akan impatient toward other people. Meanwhile gentleness & patience are right behaviours toward other people. Paulus juga ingin agar kita grow up in truth & love à speaking the truth in love & live in the truth.
Topik kedua dari Efesus 4 membahas tentang kekudusan à tidak boleh lagi sama dengan yang tidak mengenal Allah. Hal itu dikarenakan kita telah mengenal Kristus secara pribadi (“you have known Christ” – not only “know about”) & sudah dengar-dengaran akan Kristus (“you heard Christ”). In order to live in holiness, we must fix our eyes upon Jesus. Lalu diberikan prinsip2 hidup dalam terang.
Terakhir, Efesus 5. Beliau tidak bahas panjang lebar, hanya sekilas saja. Penekanannya pada submission = serving other sacrificially à mendahulukan kepentingan mereka dulu. Submission is God’s solution for living in harmony. Submission harus diterapkan dalam beberapa aspek kehidupan : suami – istri, ortu – anak, majikan – bawahan.
            Selain eksposisi Efesus, salah satu sesi yang menarik (dan masih nyambung dengan topik kesatuan jemaat) adalah “Conflict Management) by PG (&also GC).
PG memulai dengan outstriking reality that we are these very person who can create conflict. And we are these very person who can be difficult to live with. Wow, so true! (segala skenario dan pertanyaan yang telah disiapkan temenku u/ditanyakan lasngsung runtuh berkeping-keping wkwkwkwk....)
Dia bahas dari Genesis 3:9-11 about the fall of men into sin. The 1st conflict, 1st crisis, 1st men. Eve meragukan kebaikan Tuhan (keraguan akan Tuhan adalah sumber konflik), Eve menambahi kata-kata Tuhan (aplikasi FT hanya kita lakukan separuh-separuh), & Eve had pride to judge God & refused God’s authority lalu mengambil jalannya sendiri.
            So, how do we solve conflict? Well, jawaban PG bener2 penuh kasih dan pengertian...
1-Embrace God’s love & God’s sovereignty à don’t question it, don’t try to help God (karena impatient while waiting on God).
2-Remember who we were (broken sinners saved out of grace).
3-Berdoa & menyerahkannya pada Tuhan.
            How do we live with challenging people?
1-Remember God’s sovereignty à Dia mengizinkan orang itu datang & bertahan; pelayanan itu milik Tuhan. Lalu, berdoa dan tanya Dia untuk solusinya.
2-Berdoa supaya Tuhan menolong kita untuk melihat sisi lain yang positif dari orang tersebut, bersyukur for their contributions, and pray so that there’s a change of heart – OUR own heart (biasanya kan ngedoain hati orang lain yang berubah, bukan hati kita).
            Waktu kutanya bagaimana klo konfliknya dengan orang yang lebih senior, GC berpendapat jawabannya di Mat 18 : 15-17 tentang cara menegur/menyelesaikan masalah secara bertahap (4 mata, bawa org lain, di hadapan jemaat). Tapi tricky partnya adalah kita pikir dia bersalah terhadap kita, sementara orang itu juga berpikir kita yang bersalah terhadap dia. Prinsip2nya sudah didapatkan, tapi untuk praktek di dalam dunia nyata tidak semudah mengetik prinsip2 ini ^^”” (so help us Lord)
            Points tentang Efesus dan Conflict Management menjadi penting karena kami baru saja melewati 1 konflik internal di bulan Februari lalu (over ‘small things’ yang mengandung implikasi besar & dililit politik ini-itu) dan sedang ‘menderita’ konflik berikutnya (kali ini terkait penyelenggaraan MMC itu sendiri). Kami berdiskusi, berpikir berdoa bagaimana cara terbaik untuk menyelesaikannya....

Ì

            Di minggu terakhir MMC, seperti biasa, datang 2 kakak kami yang terkasih. Yang satu IS, staf Pkantas Medan dan satu lagi IK, pentolan BGA Sion Jakarta. Untuk pertama kalinya, aku dan DW were hosting a dinner in our house (simple simple foods of course, ditambah special salad dari DP) one free evening. Kami berlima mengobrol, bertukar cerita, tertawa (keras-keras) bersama =)) Waw, a rare delicacy. Lalu di hari terakhir sebelum MMC pulang, Ka IK akhirnya berhasil mengunjungi Longsand beach setelah bertahun-tahun datang ke Serukam tapi tak pernah sempat kesana. She enjoyed it very much.
            Akhirnya MMC X berakhir di tgl 10-05-15. Sebelum mereka pergi ada farewell party (yang dihosting mereka sendiri). Our farewell pic looked like smurfs & smurfettes ;D Yang dentists ada yang balik ke pelayanan siswa, ada yang mau coba PTT. Nurse nya mau ikut follow up post MMC. Sementara GPs nya mostly akan masuk internship 1 tahun ke tempat2 yang ditentukan oleh pusat (jd mirip PTT cm lebih pendek waktunya dan mandatory). Semoga mereka menjadi berkat dimanapun ditempatkan & terus memiliki hati yang terpanggil untuk mengambil bagian dalam misi Allah di Indonesia ini.

MMC X Farewell Party



Ì
0 Responses

Post a Comment

What do you think? ^^

abcs