Thinkabout Christmas

(Occasion : Christmas Eve
Background : Christmas music
Place : my small-but-full room)

Several days before Christmas, a friend of mine had a sad & burdened heart. She felt that this Christmas is going to be miserable because her family can't be together like before. What striking me was her last sentence, "...I felt empty."

SURVIVAL MODE : ON (part 2)

06.30 AM
I have a flight leaving on 07.55. I’ve prepared myself since 06.15. The regular taxi (langganan WB) still hasn’t arrived. I have contacted him since 2 days ago, told him about my check-in time and all, and he said OK (just one word : OK).

06.45 AM
I waited patiently at the hospital mess in Pontianak. I arrived there last night with travel from Singkawang. Leaving Singkawang at 7 PM, I knocked myself out along the road (thx to Dimenhydrinate) and found myself arrived at Pontianak around 9.15 PM.

07.00 AM
I decided to SMS him, stated that he supposed to be here like…half an hour ago?? And at that time I was supposed to be in the airport – checked in?? No reply. I tried to call him. No one answered. The second & third attempts just the same.

07.10 AM
I began to panic.

07.20 AM
That old man finally replied my SMS with one word,”OK.”
Your OK won’t solve my problem, sir!!! I shouted anxiously-in my heart.
I called him & he picked up. “You have to trust me,” he said.
“I’m already late!!!!” Now I shouted for real.
“Just relax. The plane won’t leave until 9,” that calm voice answered my shouting.
“My flight is on 7.55 you know & I was supposed to checked in 30 minutes ago!!!”
It was his turn to be in sudden silent.

I reached out for Mr.A. Can u pick me up,pls? My usual taxi still hasn’t showed up – in pitiful tone.
But Mr.A wasn’t in Pontianak, he’s out of town that morning. He amazed with my stupidity – we can call it that way, no offense – but he offered a way out. Call a local taxi; I’ll give u the number. That’s already 07.25.

I tried to make up my mind. Still not believe I could be in such a mess like this.

07.30
The guy from the airport called me. “Where are u, miss? You’re the only person who hasn’t checked in.”
“I still wait for my taxi, sir.” The dumbest answer ever.
“WHAT??” he shouted in disbelief “We won’t wait for you, you know. You better get here now, or you’ll miss your flight. The plane already landed since 7.15 from Jakarta.”
“No, please wait up for me, sir…I’ll be there…”

The taxi guy called again. “My tire goes flat. Do you have any car there at the hospital mess?”

I just knew that time that I was going to miss my flight.
For the first time ever.

*************

Yeah, I finally missed my cheapest Pnk-Jkt Mandala flight that morning. Something I have arranged since a month ago. G terduduk di tangga mess, masih ga percaya akan ketololan g yang selangit. Missed a flight. Benar2 kebodohan luar biasa. Tapi g sadar, cuma duduk diam akan menjadi kebodohan yang lebih luar binasa lagi. Karena dengan cara apapun, I have to be in Jakarta that day. I already booked a flight tomorrow morning to Tanjungkarang, Lampung.
Again I called Mr.A, seeking from wisdom. He advised me to call Mr.C, a travel agent who stands by at the airport. I followed his advice & thx God – I finally got a ticket that noon to Jkt by Batavia. I called the local taxi and waited in the airport for 2 hours or so, didn’t want to make another mistake. Mr.A also advised me to contact my ticket agent, tried to get a refund, berapapun itu – and I did get a little bit of refund.
Finally I flew to Jkt that noon and flew to Lampung the next day.

**************

Perjalanan ke Lampung ini dalam rangka tugas luar. G ditawari WB untuk ikut 2nd CPD (Continuing Professional Development) Weekend yang diadain PMdN bareng RS Immanuel Bandar Lampung. Isinya seminar & workshop u/dr.umum (dan juga drg). Acaranya 4 hari u/yang Kristen, u/non Kristen 3 hari. Bedanya tuh di hari Kamis sorenya (dan setiap sore di hari2 brktnya) ada panel diskusi di gereja dalam kompleks RS.
Setelah menginap semalam at my best friend’s place in Jakarta, g cabut ke Lampung. Traveling alone kayak gini cukup bikin g deg2an juga. Biasanya ada temen minimal satu ;D Ternyata di pesawat I found a familiar face, my senior at med school. Tapi baru bs g sapa pas turun dari pesawat. Kmdn g dijemput seorang lelaki tak dikenal, yg bawa2 tulisan nama g dan dibawahnya ada tulisan RS Immanuel. Sambil mikir dia itu siapa (Travel? Supir RS? Saha??), g ikut naek mobilnya. Ooo...ternyata dia medrep (medical representative)-nya Pharos. Pantesan panitia seminar bisa nyanggupin untuk antar jemput para tamu. Ternyata mereka menggunakan jasa para medrep. Mereka jadi supir gratisan, antar jemput kami terus dari & ke bandara, dari & ke hotel, pokoke sepanjang acara d. Which makes me wonder……seberapa banyak para dokter/pihak farmasi RS Immanuel harus menggunakan obat2an pabrik mereka???
Medrep yang menjemput g itu orang Palembang, sekolah analis farmasi, lalu kerja jd medrep dan sudah sekitar 7 th-an di Lampung. Pas ditanya knp ga jd analis (sesuai sekolahan-nya), dia menjawab jujur, “Klo udah jadi medrep dok, berat jadi analis lagi – gajinya lebih besar jadi medrep.” Hmm…lagi2 masalah jumlah income.
Lalu pak medrep itu cerita2 soal Lampung (“Engga banyak berubah dok, gini2 aja Lampung”), jalan Trans Sumatra, bis-kereta api-travel yg bs dipake untuk jalan2 di Sumatra, hotel2 di Lampung (“Yang paling bagus tuh Bukit Randu – emang terletak diatas bukit – viewnya bagus dok, naeknya harus pake gigi satu, tapi makanannya ga enak…”).
Pinter juga ni orang ngomong, pikir g. Emang gitu kali ya klo jd medrep? Kudu ramah, pinter ngambil hati dokter, biar nanti mo ngeresepin obat pabrik mrk??
Kebetulan (hmm…sbnrnya tak ada yang kebetulan di dunia ini) g juga lagi mulai baca an interesting book. Written by an internist, dr. Triharnoto, titled “The Doctor : Catatan hati Seorang Dokter”. Baru baca beberapa halaman pertama, g langsung percaya 101% buku itu bikinan dokter. Ngertiin dokter banget dah!
Nah, di chapter pertamanya ada interesting opinion dari beliau :
“Tidak berarti karena dokter meresepkan obat tertentu, lalu artinya dokterlah yang membuat harga obat menjadi mahal.” Alasannya : karena obat dan teknologi kedokteran (beragam pemeriksaan penunjang spt lab, rontgen, USG, CT-scan, etc, etc) adalah & sudah menjadi industri komersial. Dokter tidak bisa “menyembuhkan” ( I use a quotation marks because healing only comes from God, not man) pasiennya tanpa menggunakan obat, sementara penentuan harga obat itu sendiri merupakan suatu proses rumit, kompleks, dan sudah sangat dibisniskan. Dokter secara individual sama sekali tidak mampu membuat pelayanan kesehatan menjadi murah. Yeah, boleh setuju, boleh tidak. Namun ada baiknya sebelum menentukan sikap, baca dulu buku ini, barulah beropini ;D
Ga kerasa, akhirnya kami tiba di hotel tmp g nginep, di suatu jalan protokol yang cukup ramai. Just a small hotel but it has a nice, clean, & cozy room. Ada TV, AC, dan shower 2 rasa (maksudne aer panas & dingin). Bednya king size, bisa dipakai berdua. G share kamar bareng alumni MMC 3 dulu, Pina. Dia baru berangkat sore dari Jkt hari itu bareng 2 orang lain (yg salah satunya alumni MMC 2, temen curhatnya ES). Baru juga mo baring2, eeehh, ada yang telepon. Ternyata temen kuliah g dulu! Dia juga ikutan seminar ini & nginep di hotel yg sama. Lumayanlah ada temen ;D


*****************

Malam itu panel diskusinya berjudul Medical Mission. Yang bawainnya dr.Andreas Andoko (direktur RS Immanuel) dan Kak Ria Pasaribu (wah, kangen juga dengerin dia, it’s been quite some time since I last met her).
Saat ditengah-tengah pandis, tiba2 g dapet SMS dari Pina.
“Kami ketinggalan the last flight to Lampung today.”
Haaah?? Another missed flight??

****************

Pertama kali menginjakkan kaki ke Sheraton Lampung, waktu memasuki lobbynya yang ethnic but classy (and filled with bulai), serasa orang kampung masuk kota. Kok hotelnya kerasa keren bener yak? Pantesan ditawarin 635.000 per malam bo. Makin terpukau waktu liat swimming poolnya…weis… (kayak belum pernah liat pool aja, dek). G suka banget!



Hari Jumat kami workshop di salah satu ruangan sempit di hotel. Mana AC-nya mati. Topiknya pas lagi – Sesak Nafas :’) Tapi 2 hari berikutnya kami seminar di ballroom-nya. Yang dateng rata2 dari Lampung, yang dari luar Lampung cuma segelintir. Mnr salah satu anak Maranatha angk.2000 yang PTT disono, di Lampung sering diadain seminar & simposium. Biayanya murah meriah, sementara SKP-nya tinggi2 (dibanding Bandung yang harga seminarnya mahal tp SKP-nya rendah). Tp bknnya SKP tinggi/ga tgt lama seminar/simposium itu berlangsung? Bkn tergantung tarif?
Selama rangkaian acara berlangsung, sampe lupa rasa lapar karena kenyang terus. Snack dan makan besar-nya enak semua (setara dengan kelas hotelnya la ya). Pagi2 kami makan di hotel masing2. Begitu nyampe Sheraton, uda ditawarin snack. Lalu makan siang (paling seneng wkt lunch deket swimming pool ;D viewnya OK). Dan saat makanan baru beranjak sedikit dari gaster, sudah tersedia snack lagi. Kemudian malam harinya, sebelum Pandis, kami dapet dinner dulu.
Malam itu tentang Doctor Who Made A Difference. Bahasan2 ttg pandisnya ntar g susulkan, tidak dibahas dalam edisi kali ini.

****************

Hr Sabtu acaranya full bgt. Start around 09.30 (didahului segala jenis preambule) dan baru beres around 17.30. Padet banget materinya. Mulai dari HIV/AIDS, DHF, Swine Flu, TBC, hingga Rematik. Masing2 topik dibahas oleh 3-4 orang dokter (Sp dan non-Sp) yang menguasai bidang tsb.
Tapi dapet banyak sih, baik pengetahuan baru maupun pengetahuan lama yang dibahas kembali. The human mind is one of the amazing things on earth. It’s interesting to know that even pengetahuan yang udah kita tahu pun, jika diajarkan kembali akan tetap terdengar fresh, bila diantaranya disisipi pengalaman kita berinteraksi dengan kasus tersebut scr nyata. Dan ada beberapa pembicara yang fasih benar. Bahan yang dia bawain sebenernya bakal boring abis, tapi karena dia suka bgt + menguasai bgt + sungguh2 nyampeinnya, bahan tsb jd very2 interesting.
Tapi bener2 hari yang melelahkan. Duduk seharian, berusaha memeras otak untuk mencerna sebyk mgkn info, mikir u/ jadiin itu se-aplikatif mgkn…fiuh, betul2 cape. Pulang ke hotel cuma mandi doang, langsung cabut lagi ke gereja. Ada malam puji2an dan khotbah. Pake nyanyi 3 lagu lagi pendetanya. Wah, hands up deh. Klo sempet ada break after the seminar, mgkn ga se-mabok itu malemnya.
Waktu akhirnya bisa pulang ke hotel malem itu, g menyadari that was already our last night in Lampung.

****************

Hari Minggu yang juga hectic. Setelah rasa patah2 kemarin, pagi2 buta udah bangun untuk bersiap-siap ke gereja. Selain siap2 ke gereja, kami juga udah packing smua barang & check out pagi itu juga. Setengah lari2, menyambar breakfast sekilas, lalu memampatkan diri di mobil dr.Dodi (makasi ya Dok!). Mobil sejenis Jazz itu mampu memuat 3 cewe di deret belakang, lalu 4 lelaki dewasa di tengah (yg suempiit abish), dan 2 orang di dpn. Lalu kami meluncur ke gerejanya dr.Dodi….yang ternyata….
…tidak lain, tidak bukan adalah GKI yang mengambil lokasi BPK Penabur Lampung….
Wakakakakakakak….g uda mau ketawa abis (dalam hati tapi)! Dunia emang sempit. Jauh2 dari Borneo ke Lampung pun, g masih bertemu dengan ‘the origin of me’ – GKI dan BPK ;D Sejak meluncur keluar dari uterus ampe sesaat sebelum berangkat ke Borneo, g selalu di GKI. Dan sejak g bersekolah minggu di GKI, sejak itu pula g ada di BPK (karena GKI-nya numpang di gedung BPK). Pas SMP dan SMA g baru officially di BPK. Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah 6 bulan, g menyanyikan kembali Kidung Jemaat dan mengikuti liturgi GKI dengan 4 bacaan sebelum firman thea =) Life is indeed funny.
Sepanjang hari tersebut, kami belajar tentang seluk beluk malaria. Suatu penyakit yang cuma 1x g temui selama koas di Bandung & Sumedang (itupun impor dari Kepri). Perkenalan real live action dengan malaria baru terjadi di Borneo. Mulai dari tahu doang secara teoretis hingga akhirnya menangani kasus post malaria dengan gagal ginjal akut yg berat. Klo ga pergi PTT, entah kapan akan bersinggungan dengan kasus malaria.
Acara berlangsung lumayan tepat waktu & diakhiri dengan lunch. Baru setengah ‘perjalanan’, g ditelp. Tnyt nyokapnya FD. Kami udah janjian ketemu di Sheraton. Dia mo ngajak makan pempek, sekalian nitip barang buat anaknya via g. Yang dateng itu cicinya (yg lebih muda dari g tp uda beranak 2), nyokapnya, dan anak cicinya yang sulung (he’s cute!).
Mengamati separuh keluarga FD, jadi sedikit lebih ngerti ttg background dia & ngerti knp gaya dia kayak gitu hahahahaha…. Lagi2 amazed on how God works in each one of us & mendatangkan kami kesini, ke Serukam, dengan cara-Nya sendiri. One thing for sure, kalau bukan pekerjaan tangan Tuhan, tidak mungkin kami bisa ada di Serukam (and I thanked Him for bringing me here ;D and also my friends).
Setelah makan kapal selam yang uenakkkk bgt (sausnya kurang asem, tp pempeknya enak!!), kami sempet jalan2 di mall-nya Lampung (well, sejenis Kings shopping centre-nya Bandung d) to kill the time. Lalu g dianterin ke bandara. Sebenernya masih lamaaa menuju keberangkatan g. Tapi kesian Kevin uda ngantuk, pegih satu siangan.
Bandara Rd.Intan II Bandar Lampung tuh letaknya agak di luar kota (mirip Supadio-nya Ponti). Hanya saja ini lebih sempit dari Supadio. Sekali memandang aja, ruang tunggunya udah ‘kesapu’ semua. Makanya dengan mudah g menemukan 2 anak UPH (seangkatan AI klo ga salah) yang lagi nunggu pesawat. Mereka juga peserta CPD. Cowonya orang Lampung yg sekola & gawe di Jkt, sementara cewenya orang Ponti (tuh kan g bilang juga ‘dunia sempit’) yang tinggal & besar di Jakarta. Trus temen seangkatan g juga muncul. Setelah mereka pergi, g duduk bareng salah satu pembicara CPD & tak lama kemudian segerombol panitia CPD muncul. Ternyata flight kami sama, Garuda to Jkt.
Malam itu, saat tiba di Jakarta, Cengkareng penuh sesak. Terminal arrival macet banget. Sampai2 g harus nge-geret koper & dus (titipan nyokapnya FD) naek lift ke terminal departure spy my best pal bs jemput. Klo ga bisa sejam-eun macet di terminal arrival. What a hectic day! But I was really glad to see my friend again (& again for a night, I stayed at her house).

****************

04:00
Alarm HP g bunyi. Aduh…rasanya ga mo bangun…masih cape banget bekas perjalanan kemaren. Tapi, masa mo mengulangi kejadian 6 hari yang lalu? Ketinggalan pesawat??
My friend masih bergulung di selimutnya sementara g menyeret diri keluar dari tmp tidur.

04.45
This time I have to check in on 05.00. My plane will leave at 06.05.
“Ayo, sudah waktunya berangkat. Pas2an ni waktunya,” ujar si Om, bokapnya my pal (yang uda g repotin trus – makasi ya Om). Cuma sempat menyeruput teh manis, ga sempet sarapan. Kami bergegas menuju mobil beserta gembolan2ku : 1 koper, 2 kotak yang ga muat lagi di tangan g, plus 1 backpack.
Si Om segera memundurkan mobil keluar dari garasi, lalu memajukan mobil dan…
Portal?? Lho kok ada portal?
Hualah…ternyata ada portal di ujung jalan dan digembok pula! Sementara jam baru menunjukkan menjelang jam 5. Sang pemegang kunci tak dapat dihubungi! Pasti sedang asyik di pulau kapuk. Jalan lain juga diportal. Demi keamanan bersama alasannya.
Syukurlah rumah temen g itu punya 2 pintu (rumahnya tepat di persimpangan jalan). Cepat2 mereka memindahkan motor dan membuka pintu garasi yang satunya, yang langsung menuju jalan tnp portal.
Satu halangan terlewati!

05.15
G nyampe juga di Terminal 3. Cepet2 berpamitan & say many-many-many thank you, lalu segera meng-geret barang2 g masuk ke dalam. Mandala Airlines dan Air Asia sekarang menggunakan Terminal 3 untuk arrival & departure from & to Jkt. Lokasinya sedikit lebih rumit dari terminal2 yang biasa, tapi jauuuuuh lebih keren & modern.
Tanpa kesulitan, g bisa masuk hingga ke depan counter Mandala dimana penumpang2 lain lagi ngantri untuk berangkat ke Pnk juga. Tunjukkin tiket, cocokkan dengan KTP, timbang luggage, tempel stiker, print boarding pass. Ritual yang terus dilakukan berulang-ulang kepada setip penumpang, sementara waktu terus bergulir. Antrian pelan2 maju hingga giliran g tiba.

06.40
“Wah mbak, pesawat uda boarding. Cepet ya,” kata si mas2 di belakang counter sambil menyerahkan boarding pass g. G menerimanya sambil mikir. Boarding itu maksudnya? Para penumpang udah dipanggil masuk pesawat bukan?? G terus mikir sambil bayar airport tax dan melewati pintu kaca berikutnya.
“Tujuan mana mbak?” tanya salah satu dari 2 petugas yang berdiri di situ.
“Pontianak pk Mandala, Pak.”
“Udah boarding mbak! Ayo cepet lari!”
Lari?
Alhasil g emang berlari-lari. Naek eskalator menuju lantai 2 lalu menyusuri lorong panjang menuju pos pemeriksaan terakhir sebelum boarding. Udah gitu jalan cepet menuju penyobek karcis. Lewat dari penyobek karcis sudah lebih tenang, karena pesawat sudah bertengger di depan mata. Ga kan kemana-mana pesawat itu! ;D

06.05
Duduk di seat dekat jendela (my fave spot). Bisa ngeliat pemandangan di luar.
Bari ngos-ngosan tapi. Hah heh hoh abis OR pagi……
Yeah, anything-lah as long as I didn’t miss my plane, ever again ;D
Sambil mengatur nafas, g ngeliat ke luar. Langit Jakarta yang biru abu2 diatas dan sederet pesawat yang siap berangkat pagi itu dibawahnya.
Borneo…here I come…again.


****************

SURVIVAL MODE : ON (part 1)

Location : dalam kamar, rumah dekat tikungan, tmp massa berkumpul, koneksi internet sebrang jalan….

Music background : Il Divo & Josh Groban

Weather : demek2 agak lembab abis diguyur ujan gede tadi sore

Cuma pengen curhat aja….

MASA ADAPTASI v. 2.0

Setelah kerasan tinggal di 235 - rumah para singletons diatas bukit - selama 17 bulan, akhirnya diriku berpindah habitat.

Mengingat kembali masa2 17 bulan itu…kesimpulannya : 235 tuh “gampang2 susah”. Dulu pas awal2, susah untuk kerasan disitu. Over all, rumah itu OK, kecuali WC. Kondisi WCnya itu lho, engga banget. Kompetisi antara rayap, semut, dan jamur were too exhilarating. But thanks to God, tiba2 (out of nowhere) rumah itu kena giliran pertama untuk diperbaiki (hehehehe…imagine me with huge grin). Dari kategori Sidon-Damsyik (itu nama kamar2 isolasi TBC di kelas III Serukam – saking parahnya rumah itu kali ya smp dijuluki demikian sama orang2???), tiba2 kami berubah kasta menjadi Narwastu 9 (nama kamar VIP Serukam, sebenernya cm ada 8 kamar)! Di-tegel keramik bo! Kinclong abesh! Rumahku aja kaga pake tegel keramik gitu, tapi di Serukam tiba2 bs dpt rmh bertegel keramik. Aneh memang hidup ini ;D

Tapi terlepas dari kondisi rumah, yang paling bikin berat ninggalinnya tuh orang2 yang ada di dalemnya. Dulu, g tinggal bersama para alumni MMC 2, the two and only, TM dan ES. We were having a good time together, para Sidon-Damsyik-ers. Sekitar April kemaren, TM turun ke bawah. Disini rule-nya, anak baru tinggal di bukit. Makin senior barulah makin dekat RS. Karena SW & MO kemaren cabut, TM giliran turun ke 308. Tinggal g dan ES. Lalu ES berpulang ke Medan & tak tentu kembalinya selama berbulan-bulan. Syukur ada si kecil, anak baru dari UPH yang dateng tepat 1 mg sblm ES cabut.

I realized that basically I’m not a highly adaptive person. Bahkan cenderung bertahan di comfort zone, drpd keluar ke wild world yg penuh tantangan, kecuali klo emang kudu alias harus. Nah, untuk menyesuaikan diri sama FD, si kecil itu pun butuh waktu. Saat itu, g lagi keilangan temen2 di Serukam. Semua coping mechanism g gone. Syukurlah si kecil bukan orang yg maksa msk ke private zone g, shg we can going well in a short time. Dan semuanya makin seru & menyenangkan waktu si kecil no.2 dateng, VV. I’ve known her as my junior since high school. Yah, cm TST (Tau Sama Tau) doang slm di high school dan med school. Agak lebih kenal waktu dia dateng MMC 4 kemaren. Makin kenal waktu akhirnya tinggal serumah. Makin serulah rumah atas setelah lengkap kami bertiga ;D and I enjoy their companies very very much.

Hingga akhirnya datang kabar bahwa ada anak baru yang mo dateng ke Serukam. Udah diterima lamaranny dan akan tiba awal Oktober di Serukam. Karena berdasarkan urutan senioritas orang selanjutnya dibawah TM adalah g, maka HG bersabda supaya g pindah ke 308 (intinya gitu). Setelah menimbang-nimbang baik buruknya (no place is perfect, guys), g mutusin untuk mengikuti tradisi & pindah ke bawah.

Yeah…di 308 lebih nyaman di satu sisi karena skrg ada koneksi internet dan letaknya lebih deket ama RS. Tapi ketidaknyamanannya banyak, dan salah satu yang terBESAR (yang bikin g bergumul until this very minute) adalah NOISE. 308 is just too strategic. Too many people come and go (they came for the TV basically ;D hehe – BCL’s TV, not mine of course). I rarely get my peaceful sleeping diluar jam2 normal orang tidur (baca : 10 mlm til morning). Klo judulnya adl “tidur siang” & “bayaran tidur”…walaaaah…bergumul dah. Don’t get your hopes too high, my friend… Bahkan ada suatu kali, dimana noise levelnya just so high, until I can’t write, I can’t read, I can’t think, boro2 sleep! Serasa mo meledak karena bising sekali! It’s just too noisy for me – yang udah 17 bln di-isolasi di rumah atas, menikmati suasana hutan yg real live action.

The price of peacefulness is so high.

I remember the time when I was still in Jatinangor, di kamar kos g yang sempit di Puren. Silent night, peaceful night. Compared with my time at home yang noisy karena ada 4 kepala lain di rumah yang sama2 beraktivitas saat itu.

Again, a quiet and silent environment is very rare.

I’m still adapting, still surviving. Setiap pilihan kan ada konsekuensinya toh. Ada positif dan ada negatifnya ;D bersyukur sajalah setiap saat, jgn kebanyakan mengeluh (ini lagi menasehati diri sendiri hehehe)

SANDSTORM - Sept 2009

In the desert of the heart
Let the healing fountain start,
In the prison of his days
Teach the free man how to praise
– W.H. Auden (What’s So Amazing About Grace)

Friday - Sept 4th,2009 – Kapuas River – 10.10 AM

Angin dingin S. Kapuas berhembus di bawah terik panas ekuator. Kami bertiga duduk di bangku ferry. Trio Serukam : aku, Om IT, dan Ika. Di dek bawah kendaraan2 berjejer rapi, mulai dari truk besar dari Kalteng hingga Strada two-cabin berlumur lumpur.

Kami berangkat dari Serukam Jumat subuh tadi, waktu ayam masih tidur2 ayam dan kucing…yeah, sejak kapan sih kucing bangun pagi? Barang2 kami ga banyak, cuma ransel masing2, 2 kantung plastik (satu isi snack & 2 Aqua 1,5 L; satu lagi isi baju RS), dan 5 kotak (mulai dari seukuran kotak mie s/d seukuran kompor). Semuanya diangkut masuk Kijang misi dan kami dianter Pa Silent sampe Tayan.

Kami berangkat subuh2 karena takut ketinggalan satu2nya bis yang lewat hari itu. Tapi rupanya kami kepagian (walau udah sempet stop dulu untuk sarapan). Bisnya masih lama datengnya. Akhirnya Om IT putuskan untuk angkut semua barang dan ikut nyebrang bersama ferry. Jadilah kami mengangkut semua barang2 itu dan masuk ke ferry – which was our first mistake.

Sept 4th,2009 – Piasak – 12.03 PM

Perjalanan dengan ferry hanya makan waktu 10 menit. Yang lebih lama tuh proses masukin dan ngeluarin truk & mobil2nya.

Tadi g bilang kesalahan pertama karena akhirnya kami bertiga harus angkut barang lagi, dari ferry kembali ke daratan. Masalahnya jalan turunannya yang dari besi itu susah banget dijalani. Apalagi ditambah sambil mikul kotak. G udah kuatir jatoh. Dan keputusan kami untuk menyeberang sendiri (tanpa menunggu bis) led us to our second mistake.

Kena calo bis. Dia suruh kami bayar 110.000 per orang. Om IT ngotot bahwa 2 bulan lalu 105.000. Akhirnya dapet sih 105.000 beserta bonnya. Tapi waktu kami udah naek ke bis, kernetnya kasih bon lagi, seharga 300.000 alias cepe per orang. Males deeeh….

But anyway, tengah hari itu kami sudah duduk di dalam bis. Separuh depan berisi penumpang, sementara separuh belakang berisi tumpukan barang2 para penumpang. G duduk di sebelah Ika, sementara Om duduk di deket pintu samping. Waktu duduk, g aga heran. Kok rasanya bangkunya berdebu ya? Ketebalan debunya kayak udah ga didudukin 3 minggu gitu. Tapi yang penting dapet tempat duduk. Om bilang sih perjalanannya emang bakal berdebu jadi kami udah siap2 bawa masker. Om dan g pake topi, sementara Ika refused to use anything to cover her head.

Lalu bis Valenty kami mulai bergerak meninggalkan Piasak. Nanga Baram, here we come! (masih antusias)

Perjalanan ke Nanga Baram merupakan suatu proses transformasi. Transformasi pertama adalah struktur jalan yang kami lewati. 1/3 jarak pertama berupa jalanan hotmix, licin dan lancar. Menurut rencana, jalan besar ini akan menjadi jalan Trans Kalimantan, yang menghubungkan Kalbar dengan Kal-Kal lainnya (well, it’s about time, Mr. government). Kemudian di suatu titik, jalanan hotmix itu berubah menjadi jalan tanah orange yang sudah dimampatkan namun belum diaspal. Akibatnya, tiap kali dilewati kendaraan (dan memang banyaaak kendaraan yang lewat), debu tanah akan bergulung-gulung naik dan menutupi udara. Yang menuntun pada transformasi yang kedua : perubahan warna. Rambut hitam jadi beruban (uban debu). Baju biru jadi coklat (coklat debu). Tas hitam jadi coklat (ketimbun debu). Dan klo celana dikibaskan, bisa dapet oleh-oleh sekantong debu. Maka, setiap orang yang naik ke dalam bis, tidak akan keluar dengan wujud yang sama. Dijamin berubah wujud karena tertimbun debu.

Pantesan walau bis itu jalan tiap hari dengan banyak penumpang, debu di tempat duduknya selalu tebal (now we know).

Tapi yang membuat g heran adalah mayoritas orang2 di dalam bis yang ga pake apa-apa, cuma bawa diri doang – polos. Masker pun ga pake. Klo debu yang nempel di badan dan barang aja udah segambreng-gambreng, kebayang gak sih berapa banyak yang terinhalasi dan nyangkut di paru2?? Ngebayanginnya aja g uda serem sendiri.

Saturday - Sept 5th,2009 – Ng.Baram – 07.25 AM

Kemarin siang kami tiba sekitar jam 2 siang di klinik. Semua pakaian langsung kami buang ke ember untuk direndem semalem suntuk dan kami langsung mandi (baca : menggosok badan dari debu). Yang paling repot mandinya tentu saja Ika. Rambutnya baru bisa mulai terasa seperti rambut setelah 3 kali keramas (hehehe) gara2 ketimbun debu selama di perjalanan. Baru saja bernafas lega sejenak, pasien2 sudah berdatangan sampai malam.

Keesokan harinya, g mulai mencermati klinik dan sekitarnya dengan lebih seksama. Sebelum ke Ng.Baram, g sempet nanya ama TM (yang uda 2x ksono), ada tempat buat jogging ga disana. Dengan cepat TM menjawab ada, di depan klinik ada lapangan yang cukup luas katanya. Ternyata, bukan cuma luas, tapi segede gambreng! Luaaas seablag-ablag di depan dan samping klinik. Saking luasnya, yang di samping klinik itu dipake buat lapangan bola. Untuk mencapai tetangga terdekat di sebelah kanan klinik, perlu berjalan 7 menit. Tetangga di sebelah kiri sih udah ga perlu dikunjungi lagi (graveyard). To make it more interesting, lahan yang luaaaas banget itu semuanya gersang dan berpasir. Berdebu abis. Boro-boro mo jogging??

Lalu g bertanya-tanya, mengapa kami harus pake gen-set tiap kali matahari mulai meredup, sementara tetangga2 kami ada listrik. Ternyata PLN memang ada, tapi kabel terakhir diputus di depan klinik (lebih tepatnya di pinggir jalan, di depan klinik – karena ada jarak yang jauuuh antara tiang listrik dengan klinik hehe). Konon dulu sih klinik punya listrik, tapi sekarang sudah tidak lagi. Dan PLN di Ng.Baram hanya menyala di waktu malam saja, jadi setali tiga uang sama genset-lah. Bedanya lebih murah (ga usah pake bensin) dan ga ribut.

Diatas kertas klinik buka pk.08.00 s/d 17.00. Pada prakteknya orang2 datang saat kami belum makan pagi dan masih datang setelah genset dinyalakan. Asa di Puskesmas swasta ;D Tapi klo pasien itu ga berdatangan, basically kami ga da kerjaan (dan walau baru hari ke-2, udah mulai garinkkk….).

Itulah sebabnya setiap 2 hari sekali – di malam hari tentunya (mau gosong apa pergi siang hari bolong jalan kakee???) kami pergi mencari sinyal. Ini bener2 dalam arti harfiah : mencari sinyal. Kami harus berjalan dulu sejauh 500 meter menuju proyek jembatan, lokasi terdekat satu-satunya di regio itu untuk dapetin sinyal. Setelah itu kudu usaha mengacung-acungkan HP di titik2 tertentu (can we call it : hotspots??) sambil menekan 888 berulang-ulang (usaha memancing sinyal).

Suatu fenomena baru nan aneh buat g. Tapi itu udah jadi habitual action orang2 sekitar, t.u anak2 mudanya. Dan g baru menyadari satu fakta lagi : selain sinyal hanya ada di hotspots tertentu, hanya HP2 tertentu yang mampu menangkapnya!! HP Nokia jadul, apalagi yang 500 ribu-an berjaya banget di hotspots. Sementara HP berkamera g…yeah…ke laut aja deh. G udah nyerah pada pertemuan kedua, langsung aja ambil SIM Cardnya dan nunggu giliran minjem HP jadul ;D (sadar diri tea hehehe).

Jadi, siapa bilang hotspots cuma ada di mall2 kota2 besar? ;D

Sunday - Sept 6th,2009 – Ng.Baram – 09.55 AM

Seudah mandi pagi, kami berjalan kaki ke gereja (GFA – Gereja Firman Allah), around 1 kilo from clinic. Which makes me wonder, apa gunanya kami mandi dulu sebelum ke gereja, lha wong kami kena debu lage sepanjang perjalanan ke gereja??

Dulu gereja2 di daerah ini dirintis oleh Pak Ron dan Mr.Berglund (klo ga salah bokapnya Darcy, misionaris yang tinggal di sekitar Ketapang) tahun 70-an. Cuma payahnya (like in Sungkung)(payah untuk orang luar, bagus untuk orang dalem) mereka kebaktian pake bahasa suku. Bahasa Dayak daerah situ yang bahkan Dayak Ahe kami pun ndak ngarti bahasanya. Alhasil kami berdua (Om IT rada ngarti soalnya, krn udah beberapa kali kesini) cengo sepanjang kebaktian. Belum lagi buku lagunya aneh bin ajaib. Entah siapa yang ngarang…. Dari satu buku itu, kami ga tau semua lagunya. Tapi orang2 lokal disitu tetap menyanyi dengan khidmat dan rata2 sudah hafal luar kepala dengan lagu2nya.

Di hari ke-3 di Nanga Baram, g menyadari ada trio musuh besar bagi para pendatang (esp. g kayaknya), yaitu : heat, dust, and mite.

Disini karena gersang banget & jalan tanah padat yang belum diaspal, rasanya puaaanaaaaas banget. G curiga suhu di siang bolong bisa mencapai lebih dari 30 derajat. Bener2 burning sensation. Tiap siang (baca : 12.00-16.00) g selalu mandi sauna, free of charge! Keringetan sampe banjir. Keluar bentar aja, bisa pulang jadi barbecue (t.u g sih, ga semua orang kok). Kemudian dust-nya udah jelas la ya (seperti yang g gambarkan di awal kisah). Dan musuh ketiga adalah mite – the agas. Sejenis kutu item kecil, sulit diidentifikasi dengan mata (kecuali dipantau dengan teliti), entah melompat-lompat, entah terbang2. Biasanya kita baru menyadari kehadirannya klo udah kerasa NYELEKIIITT! Alias kena gigit. Terus antihistamin dilepaskan dan mulailah kita scratching – garuk, garuk, garuk, dan garuk lagi. Makin digaruk, makin gatal, makin panas, makin merah, makin gede…. Sayangnya, susah banget untuk ga ngegaruk dan jangan berharap besok sudah sembuh – karena bekas gigitannya will stay itchy for at least 3 days (and it’s possible to have it more than 3 days).

Makanya disini g rajin banget pake repellent. Tapi ga ngaruh banyak juga (jangan2 klo pake minyak tanah baru mempan??) Teuteup aja kena gigit sana sini. Kedua kaki dan tangan g dengan segera menjadi saksi medan pertempuran, kekalahan telak barrier kulit VS mites (dan insects). Hiks…. Gatelnya itu lho….

Tuesday - Sept 8th,2009 – Ng.Baram – 02.30 PM

Grafik kehadiran pasien tersedikit jatuh pada momen siang hari, di masa2 free sauna biasanya g dapatkan. Klo ga berhasil tidur siang (saking burning out-nya), g akan duduk di belakang meja dokter, baca buku “Reclaiming Friendship” (finally, I read it after a year nganggur di rak!), and thinking about soooo many things.

Salah satunya adalah : sulit benar jadi dokter di daerah terpencil. Sulit untuk hidup hanya dengan klinik tok, tanpa lab, tanpa pemeriksaan penunjang apapun. Udah harus serba tahu (mulai dari penyakit bayi 1 hari ampe nenek2, dari kulit ampe saraf), saingan sama mantri (yang kadang lebih gila & semau-maunya ngobatin orang!), dan tergantung banget sama pasokan obat lagi.

Biarpun baru hari Selasa, tapi sekarang ada kerjaan baru buat g. Stock opname tiap siang (sebelum baca buku & daydreaming). Ngeliatin obat2an yang masih ada sambil memperkirakan kapan habisnya, kapan ngelepasnya, untuk siapa, dan berapa banyak mo dikasih. Karena obat2an sirup aja udah sangat menipis dan akan lenyap in no time. Heavy dust membawa pasien2 ISPA (t.u youngster) dalam jumlah berjubel ke klinik dan persiapan obat sirup sangat terbatas dibandingkan dengan jumlah pasien yang membutuhkan.

Karena tidak ada lab, mau ga mau harus kembali ke fitrahnya : a clinical doctor. Dgn praktek di Nanga Baram, g baru nyadar betapa tergantungnya g sama lab lately. Keenakan hidup di Serukam. Dikit2 cek darah, dikit2 foto, klo masih ga yakin ada USG. Enak betul dibanding disini. Disini g diingetin lagi untuk mempertajam anamnesis (yang konon menentukan 80% diagnosis), melakukan pemeriksaan fisik (by hands, otoscope) dengan teliti, dan menentukan working diagnosis. Nyaris ga da diagnosis pasti, tapi harus ada working diagnosis supaya bisa ngasih th/. Anamnesis yang kerasa penting juga adalah riwayat berobat – karena rata2 dari mereka udah minum macem2 sebelum dateng ke klinik (such as obat malaria – yang udah makin mirip permen Hexos untuk mereka). Pokoke bener2 jadi klinisi lagi.

And the weird thing is…even though it’s stressful (krn tdk ada kepastian Dx/)…it turns out that I can enjoy it. Using my mouth to ask, my eyes to see, my hands to examine, my ears to hear, and gathering all info for analysis and take action. Stressful but enjoyable. Making me realize that I love being a clinician.

Tapi klinik Nanga Baram sih sebenernya punya potensi untuk jadi kayak klinik ASRI di Sukadana - Ketapang. Jadi klinik yang punya simple lab dan suatu hari bisa jadi klinik dgn beberapa beds u/rawat inap. Lagian kan ada lapang bola seabalg-ablag di sebelah klinik. Kemudian kalo Trans Kalimantan bener2 udah diaktifin, daerah itu bakal rame dilewati kendaraan. Daerah yang mulanya terpencil dan sulit dijangkau berubah drastis ketika sarana transportasi diperbaiki.

Hanya saja keinginan g untuk stay di suatu tempat yang ada sarana pemeriksaan penunjang lebih daripada stay di remote area yang kliniknya polos..los..los membuat g bertanya-tanya lagi. Ada sebagian diri g yang muncul ke permukaan slm g merenung-renung di klinik. I questioned my motives about becoming a missionary doctor (dalam artian ‘dokter yg melayani di remote area’). I cannot fool myself / lying to myself. No, I don’t like being isolated. I don’t like living in a place without electricity. I feel inadequate of taking care myself in remote place – cari makanan di hutan/sungai, masak barang2 asing itu sendiri, wah…. G ngerasa not capable of many things. I feel like don’t have capability to adapt easily in new places and new people. Dan demikianlah pikiran2 semacem itu memenuhi pikiran g.

It’s confusing how our minds can explore many subjects when we’re placed in a remote place like this….

Wednesday - Sept 9th,2009 – Ng.Baram – 08.31 PM

Cuma mo bilang, tanggal yang bagus buat kawinan. 09-09-2009. Gampang diinget lagi ;D Kira2 di Bandung berapa banyak ya yang merit tgl segini? Tapi emang hambatan terbesarnya adalah bukan akhir minggu, jadi susah juga, sapa yang mo dateng? Ato bisa juga buat tanggal lahir anak. Via SC elektif misalnya. Kira2 berapa ya tarif SpOG-nya klo pesenan kayak gitu? (bukannya seharusnya SC itu ga boleh dipesen ngikutin kemauan px, tapi atas indikasi?)

Cuma mo bilang, semua obat sirup udah ke laut. Klo sampe dateng pasien anak ato bayi lagi mo gimana?? Disuru minum tablet?? Padahal mayoritas pasien sejauh ini adalah anak-anak.

Maka dimulailah petualangan puyer kami. G mulai mengidentifikasi obat2an yang masih tersedia di lemari obat kami dan menghemat item2 yang bisa dipuyer. Konon, menurut verifikator waktu akreditasi RSUB tahun lalu, puyer sudah tidak direkomendasikan lagi oleh para spesialis karena ada kemungkinan dosis kurang akurat, kurang terjamin kebersihannya, dll, dsb. Tapi di daerah terpencil kayak gini, boro2 mikirin himbauan itu. Yang penting, apa yang bisa kita buat untuk pasien, ya kita buat. Yang penting, benefit masih melebihi risk.

Bersyukur banget perawat sesenior Om IT yang pergi ke NB. Posologi puyer dia lumayan juga, banyak akalnya di dalam menerjemahkan instruksi pembuatan puyer yang kadang njelimet (yang didahului oleh dokternya mikir tujuh keliling gimana caranya menerjemahkan dosis hasil hitung2an ke dalam bentuk obat yang real!!). G udah keluarin semua jurus2 kungfu yang g tau deh buat ngobatin penyakit yang muncul dengan apa yang ada. Setiap obat yang diberikan diiringi doa dari dokter dan perawatnya supaya pasiennya cepet sembuh ;D

Sunday - Sept 13th,2009 – Ng.Baram – 01.00 PM

Last day on clinic.

Tomorrow we’ll go home to Serukam (wow, finally Serukam IS home ;D hehe).

10 hari di NB rasanya udah cukup. Yang bikin berat tuh trio musuh besar : heat, dust, and mite. Ditambah lagi insomnia selama 3 malam berturut-turut e.c cuaca kepanasan kali. Pokoke klo ga bisa tidur tuh sengsara betul.

But, at the end of journey, I’m grateful to God. He knows how I dislike pediatric patients, but He provided me with PLENTY of them. And He helped me to get through with them, providing the medicine (walau dengan improvisasi abis), and giving them the health they needed. Kemudian ada sekitar 6 pxs yang kontrol ulang dan look better than before (THANK’S GOD!). jadi selalu ada ups & downsnya ^ ^. Dapet banyak pengalaman u/ mendiagnosis secara klinis – s’thing that I almost forget by working in a hospital. Ngandelin anamnesis, riwayat2, PF, dan disesuaikan dengan obat2an yang tersedia. This is a wonderful experience indeed. It’s like being a Sherlock Holmes – kayak detektif.

Thank You Lord. I love being a physician. An instrument in Your hand. There’s no point in being a doctor without The Great Physician behind ;D

Reassurance seperti apa yang Tuhan berikan di NB?

He assures me that He will put me anywhere He wants, at any times He thinks it best

& I will feel blue (even black haha) or battered here & there;

but eventually I will ALWAYS feel & see His guiding hands & His wonderful intentions & plans in my life. Sudah terbukti dulu - sekali, dua kali, berkali-kali, bahkan setiap kali, sampe sekarang dan sampe seterusnya akan selalu terbukti….

“Never will I leave you, never will I forsake you”

“For My thoughts are not your thoughts, neither your ways My ways…as the heavens are higher than the earth, so are My ways higher than your ways and My thoughts than your thoughts.”

Hmmm….pada akhirnya inipun suatu pengalaman iman.

Perjalanan pertumbuhan.

Berasa seperti kacang ijo yang jadi tauge, tumbuh melengkung makin tinggi ke arah sinar matahari (kenapa tauge?? Krn bentar lagi kami mo mkn kc.ijo hihihihihi)

Guess it’s time to say goodbye, Nanga Baram………….

EPILOGUE :

Hampir aja ga jadi pulang ke Serukam hari Senen yang agak naas itu.

Pagi2 buta Om IT udah krasak-krusuk beresin kotak-kotak. Jam 05.30 dia berkokok bangunin kami. Jam 8.15 kami semua udah duduk manis depan klinik, nunggu bis Valenty (satu2nya bis pada hari itu yang naek ke peradaban) yang KONON dateng jam 9 – yang KONON kami sudah dipesankan tempat.

Jam 9.15, Ika mendengar deru bis dari kejauhan dan ternyata benar…itu Valenty…yang berjalan terus, melewati kami??! Nah lho?? Kok ga stop sih? Wualah! Jadilah si Boneng (salah satu anak lokal situ) mengejar bis dengan motornya. Alhasil baru di-stop di deket GFA ( around 1 kilo from clinic, duh). Trus bisnya ga mo balik lagi, jadi harus kami yang kesana maek motor.

Begitu naek bis, Ika langsung menyampaikan kabar laen, “Udah ga da tempat duduk,dok.” Heh? Berdiri 2,5 jam? Berdiri di Damri 1,5 jm dari Jatinangor ke Leuwipanjang sih g uda pernah. Tapi 2,5 jam mah ga kira-kira!!!!

Ika dapet tempat duduk di bangku serep (baca: sebuah kotak ditengah bangku penumpang kiri & kanan). G dapet tempat di kotak yang sama, tapi ngadep blkg (which would be really nauseous) dan pinggul g kaga muat. Alhasil g menemukan karung, teuing naon eusina, pokoke langsung g dudukin dan kepala g setinggi siku para penumpang.

Dan debunya…mau mati kena timbun debu! All part of me yang terexposed to the the air changed into chocolate L. Ada beberapa kali agak choking karena air-filled dust. Padahal g udah pake masker yang di dalemnya pake tissue lagi. Luar binasa memang debunya. Syukurlah g pake baju rangkep 2, luarnya tangan panjang. Celana, tas, apalagi kaki g (dan sepatu sendal Spotec nan lawas itu) jangan ditanya lagi kabarnya.

Tapi relalah menderita 2,5 jam ketimbang batal pulang. Siapa yang bisa jamin hari Selasa kami ga kan dapet Valenty yang penuh kayak gitu lage?

Setelah itu kami menyeberang pake ferry & di ujung sana, Mr.Silent sudah menanti bersama 1070 tercintya ;D Duh, senengnya lihat 1070! Langsung deh masuk, pasang AC segede-gedenya, bersih2 pk tissue basah, dan ketiduran dalam perjalanan menuju Sosok (late lunch).

Pendek cerita, kami tiba dengan selamat di Serukam =) Home sweet home. Bed sweet bed. Thanks a lot my Lord!!

LESSONS IN G

Pagi itu mobil Taft hitam belewuk (karena belum dicuci) membawa kami bertiga (berempat dengan supir) ke Pak Bulu, Anjongan – sekitar 2 jam dari Pontianak. Di depan ada Timo (sopir PKMD) dan HC, sementara g dan Lisia (perawat dari PKMD) duduk di belakang. Ada 2 jalan menuju tepat tsb, via Singkawang or via Bengkayang. Somehow, Timo is very fanatic with Bky route.

Separuh perjalanan dilalui dengan agak mual (karena lewat jalan ular Vandering yang belokan tertajamnya 160 derajat), tetapi diselesaikan dengan lebih mual lagi sejak masuk jalan menuju Karangan. Semua jalannya berlubang (baik small, medium, or ndaleeem bo) dan ga sedikitpun Timo berniat untuk mengerem mobil saat masuk lubang. Dia bahkan lebih memilih masuk badan jalan yang dari tanah sehingga berkali-kali Taft kami miring kiri ato kanan. Seakan-akan kami sedang “Tour de Karangan”, off-road selama 1 jam, diiriingi “sepoi-sepoi” angin debu yang masuk lewat jendela karena Taftnya cuma punya AG (Angin Gelebug).

Sekitar jam 11 siang, 4 orang Serukam tiba di Pak Bulu, wajah lengket dan agak2 hitam karena debu, rambut menebal seperti ijuk, dan sensasi motion sickness post dikocok dalam Taft.

(Amazingly, dalam 5 menit, Timo hopped into the Taft again and returned to Serukam, via the very same disastrous way. Ck ck ck)


3-8 Agustus kami bertugas di PPMT (Pusat Pelatihan Misi Terpadu) yang berdiri sekitar 9 tahun yang lalu di Pak Bulu. PPMT tuh proyeknya GKY Greenville, salah satu supporting donor Bethesda. Sitenya lumayan luas, semua bangunannya dari kayu dan beratap seng (konon dulunya rumbia – lebih adem) terdiri dari aula pertemuan (merangkap tempat ibadah), perumahan (baik asrama maupun per keluarga), kantor dan ruang kuliah. Yang menarik adalah perpustakaan yang dibangun diatas kolam. It supposed to be really beautiful. Sayangnya karena sedang puncak musim kemarau, aer kolamnya udah kayak greenish gray ga jelas gitu dan debit air udah minim banget (tapi masih cukup untuk para ikan di dalamnya idup).

Peserta PPMT adalah orang2 dari berbagai tingkat pendidikan (mulai dari ga tamat SD sampe pernah kuliah tapi ga selesei) yang bersedia digembleng dalam hal rohani maupun pertanian (dan sedikit tentang medis sederhana). Mereka diharapkan akan menjadi pengabar2 Injil ke daerah2 terpencil di Kalimantan Barat, yang bisa men-support diri mereka sendiri melalui berkebun. Atau mereka bisa mengajarkan masyarakat tentang bercocok tanam yang baik sambil “memberi makan” rohani mereka.

Makanya selain bangunan2, ada site untuk bercocok tanam juga. Ada ladang terong, pare, semangka, cabe, dll, diselingi pohon2 pepaya (yang tiap hari bisa diambil buahnya), pisang, dan rambutan. Pokoke lumayan luaslah.

Tugas kami bertiga disana adalah mengajarkan sedikit tentang medis, yang lebih ditujukan pada upaya promotif dan preventif, mengenali hal2 yang bahaya dan harus segera dirujuk. HC bicara tentang gigi, Lisia tentang P3K, dan g tentang penyakit2 umum. Kami adalah kloter pengajar ketiga untuk periode thn ini, yang datang setiap bulan untuk ngajar.

Angkatan tahun ini ada 12 orang. Gendernya campuran (mayoitas cewek, tp ada cowok). Range umurnya mulai dari 16 tahun s/d 27 tahun, daerah asalnya tersebar dari pelosok Kalbar, dan pendidikannya ada yang tidak tamat SD sampe ada yang tamat SMA. Jadi benar2 variatif, kurang homogen.

Mereka diajar untuk hidup teratur selama pendidikan di PPMT. Sudah ada jadwalnya untuk hari demi hari dan mereka kudu taat sama jam2 itu (yang ditandai dengan bunyi lonceng)(jadi inget waktu SD). Jam bangun, jam makan, jam belajar, jam istirahat, jam berladang, jam belajar mandiri di perpus, dan jam masuk rumah. Makan pun harus bareng2 dan sebelumnya suka diawali dengan melafalkan ayat hafalan yang ditugaskan untuk hari itu (baru boleh makan). Jadi kebayang dong betapa bergumulnya anak2 yang udah terbiasa hidup semau-maunya sendiri. Yang biasa hidup bebas tanpa peraturan. Mereka bisa merasa sangat terkekang selama di PPMT.

I’m reading a book now. A famous writing by Philip Yancey, called “What’s So Amazing About Grace”. G udah denger tentang buku ini sejak lama, tapi baru di Serukam ini berkesempatan untuk membacanya original versionnya (yang Englishnya). G yakin lebih bagus dari terjemahannya sih karena Philip banyak menuliskan frase yang lebih bagus dalam bahasa aslinya ketimbang diterjemahkan.

Salah satu pernyataan awal yang outstriking adalah definisi GRACE. “Grace means there is nothing we can do to make God love us more & there is nothing we can do to make God love us less” Anugerah Allah bagi kita adalah final, fixed, dan immeasurable. Tidak berubah, tidak bisa dipengaruhi apapun.

Perumpamaan yang paling mengena buat g ttg GRACE adalah The Prodigal Son parable. Kisah si anak yang hilang. Dalam perumpamaan ini tampak jelas bahwa in the realm of GRACE, the word “deserve” does not even apply. Karena we don’t deserve it. Klo kita layak untuk mendapatkannya, maka itu bukan anugerah. Dan perumpamaan yang selalu menohok g adalah tentang hamba yang jahat. Hamba yang baru saja dianugerahi penghapusan hutang yang sangat besar oleh raja, yang menjebloskan temannya ke penjara karena sedikiiiit saja berhutang. Sudah diberi anugerah besar, tapi tidak mau menyalurkan itu kepada sesamanya. Ingrate.

Talking about ingrate atau ungrateful, g jadi inget kisah anak2 PPMT. Sperti tadi g bilang, mereka berasal dari latar belakang yang bermacam-macam tapi kesamaannya adalah rata2 mereka dari keluarga tidak mampu. Singkatnya unfortunate people klo menurut ukuran dunia. From my point of view, bisa masuk PPMT adalah suatu anugerah. Bisa dapet pendidikan, makan-minum-tmp hidup gratis! Asal…sungguh2 dan mo ikut aturan. Tapi nyatanya selalu aja ada orang yang mengabaikan that big grace, throw it away in various ways. Ada yang ga tahan hidup teratur di asrama, kabur pulang. Ada yang bikin masalah sampe udah didisiplin pun tetep menolak berubah, akhirnya dikeluarin. Banyak yang gugur selama proses pendidikan berlangsung untuk berbagai alasan. Ada lagi yang selama praktek lapangan, bukannya men-Injili dan melayani masyarakat, malah sibuk gonta-ganti cewek. Malah ada yang sampe sekarang menghilang entah kemana (padahal lagi praktek lapangan) dan dikabarkan sudah merit sama cewe lokal.

Bukankah itu ungrateful? Padahal grace yang ditawarkan sudah sedemikian besar.

Tapi banyak juga diantara mereka yang sadar betul akan anugerah yang diterima. Salah satunya angkatan PPMT awal yang duduk makan bersama kami selama 1 minggu kemarin. Cewek itu selesai pendidikan PPMT, melanjutkan S1 di Jakarta (klo ga salah), dan setelah tamat kembali lagi ke PPMT jadi staf. Padahal klo denger cerita dia, dulu angkatan2 PPMT awal sengsaraaaaa betul! Sampe nginep di ladang, lahannya besar dan susah digarap (harus ditebas dulu baru bisa ditanami), sampe nangis ngerjainnya. Sekarang sih mereka lebih enak, pake lahan yang di kompleks PPMT. Walaupun perjuangannya berat, anugerah untuk bisa masuk PPMT itu dia syukuri dan manfaatkan semaksimal mungkin. Asalkan mereka mau berusaha, sebenernya mereka bisa sekolah setinggi-tingginya dan bisa disponsori oleh donor untuk pembiayaannya. So lucky, aren’t they? (menurut standar dunia)

But again, I myself am not any better from the prodigal son or anak PPMT yang kabur. Anugerah Tuhan yang sedemikian besar suka lupa g syukuri dan lupa hidupi dengan nyata. Dua masalah besar yang sering muncul adalah kejatuhan (lagi dan lagi) dalam dosa (yang sama) dan keengganan untuk mengampuni. Topik pertama dibahas Philip Yancey dalam “The Scandal of Grace”, dan yang kedua dibahas dalam masalah forgiveness (“Why Forgive?”).

Dilema tentang pengampunan dibuka dengan kisah satu keluarga di Amerika. Sang nenek tidak mau memaafkan ayahnya yang pemabuk dan bertekad untuk tidak jadi seperti ayahnya. Tetapi hatinya yang keras (never apologized & never forgave), melukai anak perempuannya; yang lagi-lagi bertekad untuk tidak jadi seperti ibunya, namun pada akhirnya melukai anak lelakinya. Mereka semua dibelenggu oleh kebencian yang “ditularkan” dari generasi ke generasi. Satu keluarga yang dibelit oleh unbroken chain of unforgiveness.

Selanjutnya Philip menguraikan lebih lanjut mengenai alasan mengapa harus memaafkan dan pentingnya memaafkan. Selama membaca chapter2 tsb, g bisa merasakan logikanya dan langsung menyetujui isinya. Lalu g teringat seorang teman (perhatikan : lagi2 kata2 Yesus dalam Alkitab terbukti benar). Teman g ini punya masalah dengan bapanya. Sekitar 5 thn lalu (lupa persisnya), ibunya meninggal tiba-tiba karena sakit. Sesudah menduda selama ini, bapanya tiba-tiba datang menemui dia untuk mengabarkan bahwa pada tanggal sekian dia akan menikah lagi dengan seorang janda beranak 2. Teman g kaget banget tapi ga bisa protes karena semuanya udah fixed. Dan bapanya berlaku sama dengan anak2nya yang lain; mengabarkan, bukan meminta persetujuan. Namun di depan orang2 lain, ia berkata bahwa semua anak2nya sudah menyetujui (padahal semuanya tidak setuju). Teman g ini marah, sedih (dia nangis abis slm 2 hari – sebelum & saat pernikahan bapanya), dan ga mo pulang lagi ke rumah.

Untuk alasan yang berbeda, g juga bergumul tentang masalah memaafkan bokap selama bertahun-tahun (yang proses rekonsiliasinya dimulai saat MMC 3). Jadi g tahu betul bahayanya, penderitaannya, dan betapa destruktifnya hatred and unforgiving heart. G langsung inget dia dan pengen nyampein ke dia tentang pentingnya beresin masalah kemarahan dia itu supaya ga jadi kepahitan yang berlarut-larut. Pas g lagi mikirin gimana cara ngasitaunya, tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah seorang yang g bener2 ga suka.

PLAK!

G serasa “ditampar” sama Roh Kudus.

Jangan sok-sok mo ngambil debu di mata orang laen sementara balok segede gaban masih melintang di depan pupil mata sendiri. Lagi-lagi kata2 Yesus dalam Alkitab terbukti benar.

Begitu ngeliat orang itu, instantly I remember how I dislike that person. Kilasan2 peristiwa yang tidak menyenangkan langsung muncul di permukaan. G langsung ngerasa ‘panas’. I remember all evil deeds-nya dia, crooked ways-nya dia, dia yang selalu menghalalkan segala cara demi kenyamanan & keuntungan pribadi, pokoke semua yang bikin g ga suka banget sama dia. Walaupun semua yang dia bikin ga langsung berdampak sama g, g tetep ga suka banget sama dia (aneh).

Dan g harus memaafkan dia???! You gotta be joking!

Ternyata yang perlu bertobat itu g dulu, bukan temen g. G langsung bergumul antara knowledge yang baru g setujui dari tadi dengan kenyataan bahwa hati g masih belum mau memaafkan. Parah betul g ini. Lebih gampang nunjuk kesalahan orang laen daripada melihat kesalahan diri sendiri. Jadi, jangan lupa untuk bertobat sebelum berpikir untuk mempertobatkan orang lain =)

Menjelang tengah bulan Agustus, akhirnya g mendapatkan “Summer Holiday” g. Persis seperti yang dibayangkan di edisi yang lalu. The “sunbathing, beach sand, and coconut (sluuurp…aah segeer)” (without Bali tentunya hehe). Tgl 17-nya kan libur. Nah, tgl 15-nya kami cabut ramai-ramai ke Sengkejong (Skw). Bawa mobil L-300 yang muat 9 orang. Ada B’Andy & nyokapnya, Pa Leo Rooroh, HC, g, FD, VK, SA, dan SW (foto2ne udah g publish sebagian di Facebook – album “August Splash”).

Berangkat pagi2 abis visite px. Nyampe disana lunch di nasi campur deket SS (Sinar Sakti – tmp kami biasa belanja…dulu…skrg msh tutup krn sengketa warisan). Nasi campurnya enak!! Menyerupai Nasi Akwang di Ponti ;D Dari situ kami belanja2 barang kebutuhan dulu, baru berangkat ke Pasirpanjang.

Waktu nyampe di Pasirpanjang, kami liat ada jalan baru, sebagian tanah, sebagian diaspal. Jalannya lumayan jauh, makin lama makin nanjak. Para cw di belakang hesitate ttg mencoba objek wisata baru, tapi B’Andy, g, SW di depan berpikir masih worth trying for kok. Akhirnya nekatlah kami mencoba. Ternyata itu memang menelusuri lereng gunung, nanjaaaaaaaak terus sampe tiba di puncak gunungnya. Syukur L-300 nya kuat nanjak haha.

Tapi emang worth it banget pas nyampe puncak. Kami bisa liat tepi pantainya Singkawang. Pesisir paling barat dari Kalimantan. Kereen ;D Abis deh difoto-foto. Sayangnya horisonnya kurang jelas karena ditutupi kabut. Cuma timingnya emang aga salah, soale lagi panas ereng2an, nyaris kami terbakar hanya gara2 foto2 hehehe.

Udah puas foto2 dan nyobain gazebonya (konon tempat ngeliat sunset klo sore2), kami turun ke pantai. Klo dipikir-pikir, hebat juga investornya. Berani invest sedemikian banyak duit untuk bikin objek wisata baru, di tempat yang sebenernya sih ga bagus2 amat tapi jadi menarik karena mulai ditata. Cuman teuing tah kumaha ngerawatna. Orang Indon mah pinter nyieun tapi goreng miarana. Sok kurang sense of belonging nya teh.

Pantainya – surprisingly – sepi. Seakan-akan kami punya pantai untuk sendiri. Acara maen dimulai dengan makan degan (kelapa muda), lalu nyebur maen aer sampe basah kuyup, trus jalan ke daerah batu2an (tujuannya lagi2 foto2lah). Setelah kenyang maen aer, kami maen softball. Waktu itu ujan udah mulai rintik2 sampe akhirnya kami ujan2an maen softball. Sampe soaking wet abis, lebih basah daripada waktu nyebur. Tapi…seneeeeng banget!! Udah lama musim kemarau, ga kena aer, lalu hari itu kena aer seharian. Nyebur, maen di pantai lalu kena hujan ;D kayak katak kena hujan. Senang ;D (bari was-was kuatir pilek setelahnya).

Malamnya kami ke kota Singkawang. Makan malam di tempat capcay yang uenak di pinggir jalan (konon deretan jualan malem2 itu namanya Pasar Hongkong). Tempat capcay itu ada keunikannya. Rupanya dia kongsi-an sama tukang minuman. Nah, si engko2 minuman ini yang nyentrik. Dia rupanya ga suka klo disuruh nyebutin harga tiap minuman. Maunya ngitung 1 meja ditotal langsung. Dulu salah satu dokter kami sempet tarik urat sama dia karena dokternya ngotot pengen tau harga per gelas, sementara dia sambil ngomel tetep ga mo ngasih detailnya, Cuma totalnya doang. Dasar aneh. Makanya kami kemaren pesen barang yang sama dan langsung bayar se-meja-eun, ngarah teu ribut. Abis makan, belanja lagi sebentar (karena ada yang ngebet belanja pasar). Udah itu barulah pulang ke Serukam. Cape, lepek, ke-pasir-an (baca: cucian banyak pasir dan asin kena laut) tapi senang!! Asli, entah kenapa, g seneng banget dan very enjoying that day =)

Finally, I got my summer holiday.

And I’m learning my lessons in G.


[G = Grace]

abcs