LESSONS IN G

Pagi itu mobil Taft hitam belewuk (karena belum dicuci) membawa kami bertiga (berempat dengan supir) ke Pak Bulu, Anjongan – sekitar 2 jam dari Pontianak. Di depan ada Timo (sopir PKMD) dan HC, sementara g dan Lisia (perawat dari PKMD) duduk di belakang. Ada 2 jalan menuju tepat tsb, via Singkawang or via Bengkayang. Somehow, Timo is very fanatic with Bky route.

Separuh perjalanan dilalui dengan agak mual (karena lewat jalan ular Vandering yang belokan tertajamnya 160 derajat), tetapi diselesaikan dengan lebih mual lagi sejak masuk jalan menuju Karangan. Semua jalannya berlubang (baik small, medium, or ndaleeem bo) dan ga sedikitpun Timo berniat untuk mengerem mobil saat masuk lubang. Dia bahkan lebih memilih masuk badan jalan yang dari tanah sehingga berkali-kali Taft kami miring kiri ato kanan. Seakan-akan kami sedang “Tour de Karangan”, off-road selama 1 jam, diiriingi “sepoi-sepoi” angin debu yang masuk lewat jendela karena Taftnya cuma punya AG (Angin Gelebug).

Sekitar jam 11 siang, 4 orang Serukam tiba di Pak Bulu, wajah lengket dan agak2 hitam karena debu, rambut menebal seperti ijuk, dan sensasi motion sickness post dikocok dalam Taft.

(Amazingly, dalam 5 menit, Timo hopped into the Taft again and returned to Serukam, via the very same disastrous way. Ck ck ck)


3-8 Agustus kami bertugas di PPMT (Pusat Pelatihan Misi Terpadu) yang berdiri sekitar 9 tahun yang lalu di Pak Bulu. PPMT tuh proyeknya GKY Greenville, salah satu supporting donor Bethesda. Sitenya lumayan luas, semua bangunannya dari kayu dan beratap seng (konon dulunya rumbia – lebih adem) terdiri dari aula pertemuan (merangkap tempat ibadah), perumahan (baik asrama maupun per keluarga), kantor dan ruang kuliah. Yang menarik adalah perpustakaan yang dibangun diatas kolam. It supposed to be really beautiful. Sayangnya karena sedang puncak musim kemarau, aer kolamnya udah kayak greenish gray ga jelas gitu dan debit air udah minim banget (tapi masih cukup untuk para ikan di dalamnya idup).

Peserta PPMT adalah orang2 dari berbagai tingkat pendidikan (mulai dari ga tamat SD sampe pernah kuliah tapi ga selesei) yang bersedia digembleng dalam hal rohani maupun pertanian (dan sedikit tentang medis sederhana). Mereka diharapkan akan menjadi pengabar2 Injil ke daerah2 terpencil di Kalimantan Barat, yang bisa men-support diri mereka sendiri melalui berkebun. Atau mereka bisa mengajarkan masyarakat tentang bercocok tanam yang baik sambil “memberi makan” rohani mereka.

Makanya selain bangunan2, ada site untuk bercocok tanam juga. Ada ladang terong, pare, semangka, cabe, dll, diselingi pohon2 pepaya (yang tiap hari bisa diambil buahnya), pisang, dan rambutan. Pokoke lumayan luaslah.

Tugas kami bertiga disana adalah mengajarkan sedikit tentang medis, yang lebih ditujukan pada upaya promotif dan preventif, mengenali hal2 yang bahaya dan harus segera dirujuk. HC bicara tentang gigi, Lisia tentang P3K, dan g tentang penyakit2 umum. Kami adalah kloter pengajar ketiga untuk periode thn ini, yang datang setiap bulan untuk ngajar.

Angkatan tahun ini ada 12 orang. Gendernya campuran (mayoitas cewek, tp ada cowok). Range umurnya mulai dari 16 tahun s/d 27 tahun, daerah asalnya tersebar dari pelosok Kalbar, dan pendidikannya ada yang tidak tamat SD sampe ada yang tamat SMA. Jadi benar2 variatif, kurang homogen.

Mereka diajar untuk hidup teratur selama pendidikan di PPMT. Sudah ada jadwalnya untuk hari demi hari dan mereka kudu taat sama jam2 itu (yang ditandai dengan bunyi lonceng)(jadi inget waktu SD). Jam bangun, jam makan, jam belajar, jam istirahat, jam berladang, jam belajar mandiri di perpus, dan jam masuk rumah. Makan pun harus bareng2 dan sebelumnya suka diawali dengan melafalkan ayat hafalan yang ditugaskan untuk hari itu (baru boleh makan). Jadi kebayang dong betapa bergumulnya anak2 yang udah terbiasa hidup semau-maunya sendiri. Yang biasa hidup bebas tanpa peraturan. Mereka bisa merasa sangat terkekang selama di PPMT.

I’m reading a book now. A famous writing by Philip Yancey, called “What’s So Amazing About Grace”. G udah denger tentang buku ini sejak lama, tapi baru di Serukam ini berkesempatan untuk membacanya original versionnya (yang Englishnya). G yakin lebih bagus dari terjemahannya sih karena Philip banyak menuliskan frase yang lebih bagus dalam bahasa aslinya ketimbang diterjemahkan.

Salah satu pernyataan awal yang outstriking adalah definisi GRACE. “Grace means there is nothing we can do to make God love us more & there is nothing we can do to make God love us less” Anugerah Allah bagi kita adalah final, fixed, dan immeasurable. Tidak berubah, tidak bisa dipengaruhi apapun.

Perumpamaan yang paling mengena buat g ttg GRACE adalah The Prodigal Son parable. Kisah si anak yang hilang. Dalam perumpamaan ini tampak jelas bahwa in the realm of GRACE, the word “deserve” does not even apply. Karena we don’t deserve it. Klo kita layak untuk mendapatkannya, maka itu bukan anugerah. Dan perumpamaan yang selalu menohok g adalah tentang hamba yang jahat. Hamba yang baru saja dianugerahi penghapusan hutang yang sangat besar oleh raja, yang menjebloskan temannya ke penjara karena sedikiiiit saja berhutang. Sudah diberi anugerah besar, tapi tidak mau menyalurkan itu kepada sesamanya. Ingrate.

Talking about ingrate atau ungrateful, g jadi inget kisah anak2 PPMT. Sperti tadi g bilang, mereka berasal dari latar belakang yang bermacam-macam tapi kesamaannya adalah rata2 mereka dari keluarga tidak mampu. Singkatnya unfortunate people klo menurut ukuran dunia. From my point of view, bisa masuk PPMT adalah suatu anugerah. Bisa dapet pendidikan, makan-minum-tmp hidup gratis! Asal…sungguh2 dan mo ikut aturan. Tapi nyatanya selalu aja ada orang yang mengabaikan that big grace, throw it away in various ways. Ada yang ga tahan hidup teratur di asrama, kabur pulang. Ada yang bikin masalah sampe udah didisiplin pun tetep menolak berubah, akhirnya dikeluarin. Banyak yang gugur selama proses pendidikan berlangsung untuk berbagai alasan. Ada lagi yang selama praktek lapangan, bukannya men-Injili dan melayani masyarakat, malah sibuk gonta-ganti cewek. Malah ada yang sampe sekarang menghilang entah kemana (padahal lagi praktek lapangan) dan dikabarkan sudah merit sama cewe lokal.

Bukankah itu ungrateful? Padahal grace yang ditawarkan sudah sedemikian besar.

Tapi banyak juga diantara mereka yang sadar betul akan anugerah yang diterima. Salah satunya angkatan PPMT awal yang duduk makan bersama kami selama 1 minggu kemarin. Cewek itu selesai pendidikan PPMT, melanjutkan S1 di Jakarta (klo ga salah), dan setelah tamat kembali lagi ke PPMT jadi staf. Padahal klo denger cerita dia, dulu angkatan2 PPMT awal sengsaraaaaa betul! Sampe nginep di ladang, lahannya besar dan susah digarap (harus ditebas dulu baru bisa ditanami), sampe nangis ngerjainnya. Sekarang sih mereka lebih enak, pake lahan yang di kompleks PPMT. Walaupun perjuangannya berat, anugerah untuk bisa masuk PPMT itu dia syukuri dan manfaatkan semaksimal mungkin. Asalkan mereka mau berusaha, sebenernya mereka bisa sekolah setinggi-tingginya dan bisa disponsori oleh donor untuk pembiayaannya. So lucky, aren’t they? (menurut standar dunia)

But again, I myself am not any better from the prodigal son or anak PPMT yang kabur. Anugerah Tuhan yang sedemikian besar suka lupa g syukuri dan lupa hidupi dengan nyata. Dua masalah besar yang sering muncul adalah kejatuhan (lagi dan lagi) dalam dosa (yang sama) dan keengganan untuk mengampuni. Topik pertama dibahas Philip Yancey dalam “The Scandal of Grace”, dan yang kedua dibahas dalam masalah forgiveness (“Why Forgive?”).

Dilema tentang pengampunan dibuka dengan kisah satu keluarga di Amerika. Sang nenek tidak mau memaafkan ayahnya yang pemabuk dan bertekad untuk tidak jadi seperti ayahnya. Tetapi hatinya yang keras (never apologized & never forgave), melukai anak perempuannya; yang lagi-lagi bertekad untuk tidak jadi seperti ibunya, namun pada akhirnya melukai anak lelakinya. Mereka semua dibelenggu oleh kebencian yang “ditularkan” dari generasi ke generasi. Satu keluarga yang dibelit oleh unbroken chain of unforgiveness.

Selanjutnya Philip menguraikan lebih lanjut mengenai alasan mengapa harus memaafkan dan pentingnya memaafkan. Selama membaca chapter2 tsb, g bisa merasakan logikanya dan langsung menyetujui isinya. Lalu g teringat seorang teman (perhatikan : lagi2 kata2 Yesus dalam Alkitab terbukti benar). Teman g ini punya masalah dengan bapanya. Sekitar 5 thn lalu (lupa persisnya), ibunya meninggal tiba-tiba karena sakit. Sesudah menduda selama ini, bapanya tiba-tiba datang menemui dia untuk mengabarkan bahwa pada tanggal sekian dia akan menikah lagi dengan seorang janda beranak 2. Teman g kaget banget tapi ga bisa protes karena semuanya udah fixed. Dan bapanya berlaku sama dengan anak2nya yang lain; mengabarkan, bukan meminta persetujuan. Namun di depan orang2 lain, ia berkata bahwa semua anak2nya sudah menyetujui (padahal semuanya tidak setuju). Teman g ini marah, sedih (dia nangis abis slm 2 hari – sebelum & saat pernikahan bapanya), dan ga mo pulang lagi ke rumah.

Untuk alasan yang berbeda, g juga bergumul tentang masalah memaafkan bokap selama bertahun-tahun (yang proses rekonsiliasinya dimulai saat MMC 3). Jadi g tahu betul bahayanya, penderitaannya, dan betapa destruktifnya hatred and unforgiving heart. G langsung inget dia dan pengen nyampein ke dia tentang pentingnya beresin masalah kemarahan dia itu supaya ga jadi kepahitan yang berlarut-larut. Pas g lagi mikirin gimana cara ngasitaunya, tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah seorang yang g bener2 ga suka.

PLAK!

G serasa “ditampar” sama Roh Kudus.

Jangan sok-sok mo ngambil debu di mata orang laen sementara balok segede gaban masih melintang di depan pupil mata sendiri. Lagi-lagi kata2 Yesus dalam Alkitab terbukti benar.

Begitu ngeliat orang itu, instantly I remember how I dislike that person. Kilasan2 peristiwa yang tidak menyenangkan langsung muncul di permukaan. G langsung ngerasa ‘panas’. I remember all evil deeds-nya dia, crooked ways-nya dia, dia yang selalu menghalalkan segala cara demi kenyamanan & keuntungan pribadi, pokoke semua yang bikin g ga suka banget sama dia. Walaupun semua yang dia bikin ga langsung berdampak sama g, g tetep ga suka banget sama dia (aneh).

Dan g harus memaafkan dia???! You gotta be joking!

Ternyata yang perlu bertobat itu g dulu, bukan temen g. G langsung bergumul antara knowledge yang baru g setujui dari tadi dengan kenyataan bahwa hati g masih belum mau memaafkan. Parah betul g ini. Lebih gampang nunjuk kesalahan orang laen daripada melihat kesalahan diri sendiri. Jadi, jangan lupa untuk bertobat sebelum berpikir untuk mempertobatkan orang lain =)

Menjelang tengah bulan Agustus, akhirnya g mendapatkan “Summer Holiday” g. Persis seperti yang dibayangkan di edisi yang lalu. The “sunbathing, beach sand, and coconut (sluuurp…aah segeer)” (without Bali tentunya hehe). Tgl 17-nya kan libur. Nah, tgl 15-nya kami cabut ramai-ramai ke Sengkejong (Skw). Bawa mobil L-300 yang muat 9 orang. Ada B’Andy & nyokapnya, Pa Leo Rooroh, HC, g, FD, VK, SA, dan SW (foto2ne udah g publish sebagian di Facebook – album “August Splash”).

Berangkat pagi2 abis visite px. Nyampe disana lunch di nasi campur deket SS (Sinar Sakti – tmp kami biasa belanja…dulu…skrg msh tutup krn sengketa warisan). Nasi campurnya enak!! Menyerupai Nasi Akwang di Ponti ;D Dari situ kami belanja2 barang kebutuhan dulu, baru berangkat ke Pasirpanjang.

Waktu nyampe di Pasirpanjang, kami liat ada jalan baru, sebagian tanah, sebagian diaspal. Jalannya lumayan jauh, makin lama makin nanjak. Para cw di belakang hesitate ttg mencoba objek wisata baru, tapi B’Andy, g, SW di depan berpikir masih worth trying for kok. Akhirnya nekatlah kami mencoba. Ternyata itu memang menelusuri lereng gunung, nanjaaaaaaaak terus sampe tiba di puncak gunungnya. Syukur L-300 nya kuat nanjak haha.

Tapi emang worth it banget pas nyampe puncak. Kami bisa liat tepi pantainya Singkawang. Pesisir paling barat dari Kalimantan. Kereen ;D Abis deh difoto-foto. Sayangnya horisonnya kurang jelas karena ditutupi kabut. Cuma timingnya emang aga salah, soale lagi panas ereng2an, nyaris kami terbakar hanya gara2 foto2 hehehe.

Udah puas foto2 dan nyobain gazebonya (konon tempat ngeliat sunset klo sore2), kami turun ke pantai. Klo dipikir-pikir, hebat juga investornya. Berani invest sedemikian banyak duit untuk bikin objek wisata baru, di tempat yang sebenernya sih ga bagus2 amat tapi jadi menarik karena mulai ditata. Cuman teuing tah kumaha ngerawatna. Orang Indon mah pinter nyieun tapi goreng miarana. Sok kurang sense of belonging nya teh.

Pantainya – surprisingly – sepi. Seakan-akan kami punya pantai untuk sendiri. Acara maen dimulai dengan makan degan (kelapa muda), lalu nyebur maen aer sampe basah kuyup, trus jalan ke daerah batu2an (tujuannya lagi2 foto2lah). Setelah kenyang maen aer, kami maen softball. Waktu itu ujan udah mulai rintik2 sampe akhirnya kami ujan2an maen softball. Sampe soaking wet abis, lebih basah daripada waktu nyebur. Tapi…seneeeeng banget!! Udah lama musim kemarau, ga kena aer, lalu hari itu kena aer seharian. Nyebur, maen di pantai lalu kena hujan ;D kayak katak kena hujan. Senang ;D (bari was-was kuatir pilek setelahnya).

Malamnya kami ke kota Singkawang. Makan malam di tempat capcay yang uenak di pinggir jalan (konon deretan jualan malem2 itu namanya Pasar Hongkong). Tempat capcay itu ada keunikannya. Rupanya dia kongsi-an sama tukang minuman. Nah, si engko2 minuman ini yang nyentrik. Dia rupanya ga suka klo disuruh nyebutin harga tiap minuman. Maunya ngitung 1 meja ditotal langsung. Dulu salah satu dokter kami sempet tarik urat sama dia karena dokternya ngotot pengen tau harga per gelas, sementara dia sambil ngomel tetep ga mo ngasih detailnya, Cuma totalnya doang. Dasar aneh. Makanya kami kemaren pesen barang yang sama dan langsung bayar se-meja-eun, ngarah teu ribut. Abis makan, belanja lagi sebentar (karena ada yang ngebet belanja pasar). Udah itu barulah pulang ke Serukam. Cape, lepek, ke-pasir-an (baca: cucian banyak pasir dan asin kena laut) tapi senang!! Asli, entah kenapa, g seneng banget dan very enjoying that day =)

Finally, I got my summer holiday.

And I’m learning my lessons in G.


[G = Grace]

0 Responses

Post a Comment

What do you think? ^^

abcs