Friday - Sept 4th,2009 – Kapuas River – 10.10 AM
Angin dingin S. Kapuas berhembus di bawah terik panas ekuator. Kami bertiga duduk di bangku ferry. Trio Serukam : aku, Om IT, dan Ika. Di dek bawah kendaraan2 berjejer rapi, mulai dari truk besar dari Kalteng hingga Strada two-cabin berlumur lumpur.
Kami berangkat dari Serukam Jumat subuh tadi, waktu ayam masih tidur2 ayam dan kucing…yeah, sejak kapan sih kucing bangun pagi? Barang2 kami ga banyak, cuma ransel masing2, 2 kantung plastik (satu isi snack & 2 Aqua 1,5 L; satu lagi isi baju RS), dan 5 kotak (mulai dari seukuran kotak mie s/d seukuran kompor). Semuanya diangkut masuk Kijang misi dan kami dianter Pa Silent sampe Tayan.
Kami berangkat subuh2 karena takut ketinggalan satu2nya bis yang lewat hari itu. Tapi rupanya kami kepagian (walau udah sempet stop dulu untuk sarapan). Bisnya masih lama datengnya. Akhirnya Om IT putuskan untuk angkut semua barang dan ikut nyebrang bersama ferry. Jadilah kami mengangkut semua barang2 itu dan masuk ke ferry – which was our first mistake.
Sept 4th,2009 – Piasak – 12.03 PM
Perjalanan dengan ferry hanya makan waktu 10 menit. Yang lebih lama tuh proses masukin dan ngeluarin truk & mobil2nya.
Tadi g bilang kesalahan pertama karena akhirnya kami bertiga harus angkut barang lagi, dari ferry kembali ke daratan. Masalahnya jalan turunannya yang dari besi itu susah banget dijalani. Apalagi ditambah sambil mikul kotak. G udah kuatir jatoh. Dan keputusan kami untuk menyeberang sendiri (tanpa menunggu bis) led us to our second mistake.
Kena calo bis. Dia suruh kami bayar 110.000 per orang. Om IT ngotot bahwa 2 bulan lalu 105.000. Akhirnya dapet sih 105.000 beserta bonnya. Tapi waktu kami udah naek ke bis, kernetnya kasih bon lagi, seharga 300.000 alias cepe per orang. Males deeeh….
But anyway, tengah hari itu kami sudah duduk di dalam bis. Separuh depan berisi penumpang, sementara separuh belakang berisi tumpukan barang2 para penumpang. G duduk di sebelah Ika, sementara Om duduk di deket pintu samping. Waktu duduk, g aga heran. Kok rasanya bangkunya berdebu ya? Ketebalan debunya kayak udah ga didudukin 3 minggu gitu. Tapi yang penting dapet tempat duduk. Om bilang sih perjalanannya emang bakal berdebu jadi kami udah siap2 bawa masker. Om dan g pake topi, sementara Ika refused to use anything to cover her head.
Lalu bis Valenty kami mulai bergerak meninggalkan Piasak. Nanga Baram, here we come! (masih antusias)
Perjalanan ke Nanga Baram merupakan suatu proses transformasi. Transformasi pertama adalah struktur jalan yang kami lewati. 1/3 jarak pertama berupa jalanan hotmix, licin dan lancar. Menurut rencana, jalan besar ini akan menjadi jalan Trans Kalimantan, yang menghubungkan Kalbar dengan Kal-Kal lainnya (well, it’s about time, Mr. government). Kemudian di suatu titik, jalanan hotmix itu berubah menjadi jalan tanah orange yang sudah dimampatkan namun belum diaspal. Akibatnya, tiap kali dilewati kendaraan (dan memang banyaaak kendaraan yang lewat), debu tanah akan bergulung-gulung naik dan menutupi udara. Yang menuntun pada transformasi yang kedua : perubahan warna. Rambut hitam jadi beruban (uban debu). Baju biru jadi coklat (coklat debu). Tas hitam jadi coklat (ketimbun debu). Dan klo celana dikibaskan, bisa dapet oleh-oleh sekantong debu. Maka, setiap orang yang naik ke dalam bis, tidak akan keluar dengan wujud yang sama. Dijamin berubah wujud karena tertimbun debu.
Pantesan walau bis itu jalan tiap hari dengan banyak penumpang, debu di tempat duduknya selalu tebal (now we know).
Tapi yang membuat g heran adalah mayoritas orang2 di dalam bis yang ga pake apa-apa, cuma bawa diri doang – polos. Masker pun ga pake. Klo debu yang nempel di badan dan barang aja udah segambreng-gambreng, kebayang gak sih berapa banyak yang terinhalasi dan nyangkut di paru2?? Ngebayanginnya aja g uda serem sendiri.
Saturday - Sept 5th,2009 – Ng.Baram – 07.25 AM
Kemarin siang kami tiba sekitar jam 2 siang di klinik. Semua pakaian langsung kami buang ke ember untuk direndem semalem suntuk dan kami langsung mandi (baca : menggosok badan dari debu). Yang paling repot mandinya tentu saja Ika. Rambutnya baru bisa mulai terasa seperti rambut setelah 3 kali keramas (hehehe) gara2 ketimbun debu selama di perjalanan. Baru saja bernafas lega sejenak, pasien2 sudah berdatangan sampai malam.
Keesokan harinya, g mulai mencermati klinik dan sekitarnya dengan lebih seksama. Sebelum ke Ng.Baram, g sempet nanya ama TM (yang uda 2x ksono), ada tempat buat jogging ga disana. Dengan cepat TM menjawab ada, di depan klinik ada lapangan yang cukup luas katanya. Ternyata, bukan cuma luas, tapi segede gambreng! Luaaas seablag-ablag di depan dan samping klinik. Saking luasnya, yang di samping klinik itu dipake buat lapangan bola. Untuk mencapai tetangga terdekat di sebelah kanan klinik, perlu berjalan 7 menit. Tetangga di sebelah kiri sih udah ga perlu dikunjungi lagi (graveyard). To make it more interesting, lahan yang luaaaas banget itu semuanya gersang dan berpasir. Berdebu abis. Boro-boro mo jogging??
Lalu g bertanya-tanya, mengapa kami harus pake gen-set tiap kali matahari mulai meredup, sementara tetangga2 kami ada listrik. Ternyata PLN memang ada, tapi kabel terakhir diputus di depan klinik (lebih tepatnya di pinggir jalan, di depan klinik – karena ada jarak yang jauuuh antara tiang listrik dengan klinik hehe). Konon dulu sih klinik punya listrik, tapi sekarang sudah tidak lagi. Dan PLN di Ng.Baram hanya menyala di waktu malam saja, jadi setali tiga uang sama genset-lah. Bedanya lebih murah (ga usah pake bensin) dan ga ribut.
Diatas kertas klinik buka pk.08.00 s/d 17.00. Pada prakteknya orang2 datang saat kami belum makan pagi dan masih datang setelah genset dinyalakan. Asa di Puskesmas swasta ;D Tapi klo pasien itu ga berdatangan, basically kami ga da kerjaan (dan walau baru hari ke-2, udah mulai garinkkk….).
Itulah sebabnya setiap 2 hari sekali – di malam hari tentunya (mau gosong apa pergi siang hari bolong jalan kakee???) kami pergi mencari sinyal. Ini bener2 dalam arti harfiah : mencari sinyal. Kami harus berjalan dulu sejauh 500 meter menuju proyek jembatan, lokasi terdekat satu-satunya di regio itu untuk dapetin sinyal. Setelah itu kudu usaha mengacung-acungkan HP di titik2 tertentu (can we call it : hotspots??) sambil menekan 888 berulang-ulang (usaha memancing sinyal).
Suatu fenomena baru nan aneh buat g. Tapi itu udah jadi habitual action orang2 sekitar, t.u anak2 mudanya. Dan g baru menyadari satu fakta lagi : selain sinyal hanya ada di hotspots tertentu, hanya HP2 tertentu yang mampu menangkapnya!! HP Nokia jadul, apalagi yang 500 ribu-an berjaya banget di hotspots. Sementara HP berkamera g…yeah…ke laut aja deh. G udah nyerah pada pertemuan kedua, langsung aja ambil SIM Cardnya dan nunggu giliran minjem HP jadul ;D (sadar diri tea hehehe).
Jadi, siapa bilang hotspots cuma ada di mall2 kota2 besar? ;D
Sunday - Sept 6th,2009 – Ng.Baram – 09.55 AM
Seudah mandi pagi, kami berjalan kaki ke gereja (GFA – Gereja Firman Allah), around 1 kilo from clinic. Which makes me wonder, apa gunanya kami mandi dulu sebelum ke gereja, lha wong kami kena debu lage sepanjang perjalanan ke gereja??
Dulu gereja2 di daerah ini dirintis oleh Pak Ron dan Mr.Berglund (klo ga salah bokapnya Darcy, misionaris yang tinggal di sekitar Ketapang) tahun 70-an. Cuma payahnya (like in Sungkung)(payah untuk orang luar, bagus untuk orang dalem) mereka kebaktian pake bahasa suku. Bahasa Dayak daerah situ yang bahkan Dayak Ahe kami pun ndak ngarti bahasanya. Alhasil kami berdua (Om IT rada ngarti soalnya, krn udah beberapa kali kesini) cengo sepanjang kebaktian. Belum lagi buku lagunya aneh bin ajaib. Entah siapa yang ngarang…. Dari satu buku itu, kami ga tau semua lagunya. Tapi orang2 lokal disitu tetap menyanyi dengan khidmat dan rata2 sudah hafal luar kepala dengan lagu2nya.
Di hari ke-3 di Nanga Baram, g menyadari ada trio musuh besar bagi para pendatang (esp. g kayaknya), yaitu : heat, dust, and mite.
Disini karena gersang banget & jalan tanah padat yang belum diaspal, rasanya puaaanaaaaas banget. G curiga suhu di siang bolong bisa mencapai lebih dari 30 derajat. Bener2 burning sensation. Tiap siang (baca : 12.00-16.00) g selalu mandi sauna, free of charge! Keringetan sampe banjir. Keluar bentar aja, bisa pulang jadi barbecue (t.u g sih, ga semua orang kok). Kemudian dust-nya udah jelas la ya (seperti yang g gambarkan di awal kisah). Dan musuh ketiga adalah mite – the agas. Sejenis kutu item kecil, sulit diidentifikasi dengan mata (kecuali dipantau dengan teliti), entah melompat-lompat, entah terbang2. Biasanya kita baru menyadari kehadirannya klo udah kerasa NYELEKIIITT! Alias kena gigit. Terus antihistamin dilepaskan dan mulailah kita scratching – garuk, garuk, garuk, dan garuk lagi. Makin digaruk, makin gatal, makin panas, makin merah, makin gede…. Sayangnya, susah banget untuk ga ngegaruk dan jangan berharap besok sudah sembuh – karena bekas gigitannya will stay itchy for at least 3 days (and it’s possible to have it more than 3 days).
Makanya disini g rajin banget pake repellent. Tapi ga ngaruh banyak juga (jangan2 klo pake minyak tanah baru mempan??) Teuteup aja kena gigit sana sini. Kedua kaki dan tangan g dengan segera menjadi saksi medan pertempuran, kekalahan telak barrier kulit VS mites (dan insects). Hiks…. Gatelnya itu lho….
Tuesday - Sept 8th,2009 – Ng.Baram – 02.30 PM
Grafik kehadiran pasien tersedikit jatuh pada momen siang hari, di masa2 free sauna biasanya g dapatkan. Klo ga berhasil tidur siang (saking burning out-nya), g akan duduk di belakang meja dokter, baca buku “Reclaiming Friendship” (finally, I read it after a year nganggur di rak!), and thinking about soooo many things.
Salah satunya adalah : sulit benar jadi dokter di daerah terpencil. Sulit untuk hidup hanya dengan klinik tok, tanpa lab, tanpa pemeriksaan penunjang apapun. Udah harus serba tahu (mulai dari penyakit bayi 1 hari ampe nenek2, dari kulit ampe saraf), saingan sama mantri (yang kadang lebih gila & semau-maunya ngobatin orang!), dan tergantung banget sama pasokan obat lagi.
Biarpun baru hari Selasa, tapi sekarang ada kerjaan baru buat g. Stock opname tiap siang (sebelum baca buku & daydreaming). Ngeliatin obat2an yang masih ada sambil memperkirakan kapan habisnya, kapan ngelepasnya, untuk siapa, dan berapa banyak mo dikasih. Karena obat2an sirup aja udah sangat menipis dan akan lenyap in no time. Heavy dust membawa pasien2 ISPA (t.u youngster) dalam jumlah berjubel ke klinik dan persiapan obat sirup sangat terbatas dibandingkan dengan jumlah pasien yang membutuhkan.
Karena tidak ada lab, mau ga mau harus kembali ke fitrahnya : a clinical doctor. Dgn praktek di Nanga Baram, g baru nyadar betapa tergantungnya g sama lab lately. Keenakan hidup di Serukam. Dikit2 cek darah, dikit2 foto, klo masih ga yakin ada USG. Enak betul dibanding disini. Disini g diingetin lagi untuk mempertajam anamnesis (yang konon menentukan 80% diagnosis), melakukan pemeriksaan fisik (by hands, otoscope) dengan teliti, dan menentukan working diagnosis. Nyaris ga da diagnosis pasti, tapi harus ada working diagnosis supaya bisa ngasih th/. Anamnesis yang kerasa penting juga adalah riwayat berobat – karena rata2 dari mereka udah minum macem2 sebelum dateng ke klinik (such as obat malaria – yang udah makin mirip permen Hexos untuk mereka). Pokoke bener2 jadi klinisi lagi.
And the weird thing is…even though it’s stressful (krn tdk ada kepastian Dx/)…it turns out that I can enjoy it. Using my mouth to ask, my eyes to see, my hands to examine, my ears to hear, and gathering all info for analysis and take action. Stressful but enjoyable. Making me realize that I love being a clinician.
Tapi klinik Nanga Baram sih sebenernya punya potensi untuk jadi kayak klinik ASRI di Sukadana - Ketapang. Jadi klinik yang punya simple lab dan suatu hari bisa jadi klinik dgn beberapa beds u/rawat inap. Lagian kan ada lapang bola seabalg-ablag di sebelah klinik. Kemudian kalo Trans Kalimantan bener2 udah diaktifin, daerah itu bakal rame dilewati kendaraan. Daerah yang mulanya terpencil dan sulit dijangkau berubah drastis ketika sarana transportasi diperbaiki.
Hanya saja keinginan g untuk stay di suatu tempat yang ada sarana pemeriksaan penunjang lebih daripada stay di remote area yang kliniknya polos..los..los membuat g bertanya-tanya lagi. Ada sebagian diri g yang muncul ke permukaan slm g merenung-renung di klinik. I questioned my motives about becoming a missionary doctor (dalam artian ‘dokter yg melayani di remote area’). I cannot fool myself / lying to myself. No, I don’t like being isolated. I don’t like living in a place without electricity. I feel inadequate of taking care myself in remote place – cari makanan di hutan/sungai, masak barang2 asing itu sendiri, wah…. G ngerasa not capable of many things. I feel like don’t have capability to adapt easily in new places and new people. Dan demikianlah pikiran2 semacem itu memenuhi pikiran g.
It’s confusing how our minds can explore many subjects when we’re placed in a remote place like this….
Wednesday - Sept 9th,2009 – Ng.Baram – 08.31 PM
Cuma mo bilang, semua obat sirup udah ke laut. Klo sampe dateng pasien anak ato bayi lagi mo gimana?? Disuru minum tablet?? Padahal mayoritas pasien sejauh ini adalah anak-anak.
Maka dimulailah petualangan puyer kami. G mulai mengidentifikasi obat2an yang masih tersedia di lemari obat kami dan menghemat item2 yang bisa dipuyer. Konon, menurut verifikator waktu akreditasi RSUB tahun lalu, puyer sudah tidak direkomendasikan lagi oleh para spesialis karena ada kemungkinan dosis kurang akurat, kurang terjamin kebersihannya, dll, dsb. Tapi di daerah terpencil kayak gini, boro2 mikirin himbauan itu. Yang penting, apa yang bisa kita buat untuk pasien, ya kita buat. Yang penting, benefit masih melebihi risk.
Bersyukur banget perawat sesenior Om IT yang pergi ke NB. Posologi puyer dia lumayan juga, banyak akalnya di dalam menerjemahkan instruksi pembuatan puyer yang kadang njelimet (yang didahului oleh dokternya mikir tujuh keliling gimana caranya menerjemahkan dosis hasil hitung2an ke dalam bentuk obat yang real!!). G udah keluarin semua jurus2 kungfu yang g tau deh buat ngobatin penyakit yang muncul dengan apa yang ada. Setiap obat yang diberikan diiringi doa dari dokter dan perawatnya supaya pasiennya cepet sembuh ;D
Sunday - Sept 13th,2009 – Ng.Baram – 01.00 PM
Tomorrow we’ll go home to Serukam (wow, finally Serukam IS home ;D hehe).
10 hari di NB rasanya udah cukup. Yang bikin berat tuh trio musuh besar : heat, dust, and mite. Ditambah lagi insomnia selama 3 malam berturut-turut e.c cuaca kepanasan kali. Pokoke klo ga bisa tidur tuh sengsara betul.
But, at the end of journey, I’m grateful to God. He knows how I dislike pediatric patients, but He provided me with PLENTY of them. And He helped me to get through with them, providing the medicine (walau dengan improvisasi abis), and giving them the health they needed. Kemudian ada sekitar 6 pxs yang kontrol ulang dan look better than before (THANK’S GOD!). jadi selalu ada ups & downsnya ^ ^. Dapet banyak pengalaman u/ mendiagnosis secara klinis – s’thing that I almost forget by working in a hospital. Ngandelin anamnesis, riwayat2, PF, dan disesuaikan dengan obat2an yang tersedia. This is a wonderful experience indeed. It’s like being a Sherlock Holmes – kayak detektif.
Thank You Lord. I love being a physician. An instrument in Your hand. There’s no point in being a doctor without The Great Physician behind ;D
Reassurance seperti apa yang Tuhan berikan di NB?
He assures me that He will put me anywhere He wants, at any times He thinks it best
& I will feel blue (even black haha) or battered here & there;
but eventually I will ALWAYS feel & see His guiding hands & His wonderful intentions & plans in my life. Sudah terbukti dulu - sekali, dua kali, berkali-kali, bahkan setiap kali, sampe sekarang dan sampe seterusnya akan selalu terbukti….
“Never will I leave you, never will I forsake you”
“For My thoughts are not your thoughts, neither your ways My ways…as the heavens are higher than the earth, so are My ways higher than your ways and My thoughts than your thoughts.”
Hmmm….pada akhirnya inipun suatu pengalaman iman.
Perjalanan pertumbuhan.
Berasa seperti kacang ijo yang jadi tauge, tumbuh melengkung makin tinggi ke arah sinar matahari (kenapa tauge?? Krn bentar lagi kami mo mkn kc.ijo hihihihihi)
Guess it’s time to say goodbye, Nanga Baram………….
EPILOGUE :
Hampir aja ga jadi pulang ke Serukam hari Senen yang agak naas itu.
Pagi2 buta Om IT udah krasak-krusuk beresin kotak-kotak. Jam 05.30 dia berkokok bangunin kami. Jam 8.15 kami semua udah duduk manis depan klinik, nunggu bis Valenty (satu2nya bis pada hari itu yang naek ke peradaban) yang KONON dateng jam 9 – yang KONON kami sudah dipesankan tempat.
Jam 9.15, Ika mendengar deru bis dari kejauhan dan ternyata benar…itu Valenty…yang berjalan terus, melewati kami??! Nah lho?? Kok ga stop sih? Wualah! Jadilah si Boneng (salah satu anak lokal situ) mengejar bis dengan motornya. Alhasil baru di-stop di deket GFA ( around 1 kilo from clinic, duh). Trus bisnya ga mo balik lagi, jadi harus kami yang kesana maek motor.
Begitu naek bis, Ika langsung menyampaikan kabar laen, “Udah ga da tempat duduk,dok.” Heh? Berdiri 2,5 jam? Berdiri di Damri 1,5 jm dari Jatinangor ke Leuwipanjang sih g uda pernah. Tapi 2,5 jam mah ga kira-kira!!!!
Ika dapet tempat duduk di bangku serep (baca: sebuah kotak ditengah bangku penumpang kiri & kanan). G dapet tempat di kotak yang sama, tapi ngadep blkg (which would be really nauseous) dan pinggul g kaga muat. Alhasil g menemukan karung, teuing naon eusina, pokoke langsung g dudukin dan kepala g setinggi siku para penumpang.
Dan debunya…mau mati kena timbun debu! All part of me yang terexposed to the the air changed into chocolate L. Ada beberapa kali agak choking karena air-filled dust. Padahal g udah pake masker yang di dalemnya pake tissue lagi. Luar binasa memang debunya. Syukurlah g pake baju rangkep 2, luarnya tangan panjang. Celana, tas, apalagi kaki g (dan sepatu sendal Spotec nan lawas itu) jangan ditanya lagi kabarnya.
Tapi relalah menderita 2,5 jam ketimbang batal pulang. Siapa yang bisa jamin hari Selasa kami ga kan dapet Valenty yang penuh kayak gitu lage?
Setelah itu kami menyeberang pake ferry & di ujung sana, Mr.Silent sudah menanti bersama 1070 tercintya ;D Duh, senengnya lihat 1070! Langsung deh masuk, pasang AC segede-gedenya, bersih2 pk tissue basah, dan ketiduran dalam perjalanan menuju Sosok (late lunch).
Pendek cerita, kami tiba dengan selamat di Serukam =) Home sweet home. Bed sweet bed. Thanks a lot my Lord!!
Post a Comment
What do you think? ^^