Showing posts with label Serukam part II. Show all posts
Showing posts with label Serukam part II. Show all posts

SEPT-OCT 2011 So This Is Goodbye


So This Is Goodbye


37 months had passed. 3 years 1 month.
23 months for Serukam part one (Label : PTT @BMH) and another 14 months for Serukam part two (Label : Serukam part II). Belum apa-apa dibandingkan kakak senior yg >6 thn, dokter radiologi yg >28 thn, dan dokter supersenior yg >45 thn.
Sudah datang u/ MMC 3 (Jan 2008), sudah datang u/ orientasi 3 bln (April 2008), sudah mulai jadi dokter PTT 1 thn 8 bln (Agustus 2008), sudah mulai jd dokter tetap (Nov 2009). Sudah ‘welcoming’ speech Juni 2008, sudah ‘farewell’ speech Mar 2010. Sudah datang lagi (Agust 2010), sudah cuti diluar tanggungan (April 2011), sudah kembali dari cuti (Juli 2011). Hingga tiba saatnya u/ 2nd ‘farewell’.
But I found myself still lousy at farewell & goodbyes.

©

Dalam posting “A Place To Belong” Maret 2010, I wrote 3 most important lessons I have learned from God in Serukam (dari sekiaaaaan banyak pelajaran) :
1)  G jd lebih mengerti dan semakin mengakui bahwa Allah kita adalah Allah yg Mahabesar, Mahakuasa, dan berdaulat penuh.
2)      I learn that I belong to God’s (big, even huuuge) family.
3)    I meet God who cares – care more about my growth, not my comfort. (BAHASAN EDISI INI)
Dan g ingin menambahkan 1 lagi :
4)      Really appreciate the “mentor-disciple” culture. (bahasan edisi berikutnya)

I still believe I belong to God’s huge-extended family =) Makanya (tetap) sulit u/ pergi (walaupun bukan untuk pertama kalinya). Namun pelajaran penting yg scr khusus aku dapet dalam 1 thn terakhir ini (dlm Serukam part II) adl perjumpaan dengan Allah yg peduli – care more about my growth, not my comfort. Kedaulatan Allah semakin kualami dengan nyata. Dan di dalam lingkup God’s sovereignty itu ada kasih Allah yg besar. Tapi waktu itu semua terjadi, rasanya…sama sekali gak enak.

©

JULY 2011 - Titik Titik Titik


Salah satu instruksi favorit guru B.Inggris waktu SMP/SMA dulu adalah “Fill in the blanks….” Sementara murid-murid (tmsk g) lbh suka instruksi “Choose one correct answer….” untuk multiple choice. “Fill in the blanks….” artinya kudu bener2 ngerti dan kepikiran apa jawabannya. Mo nembak juga susah. Apalagi klo disuruh bikin essay @@ lebih2 lagi kudu ngerti ^^
Sayangnya, ujian hidup juga gak banyak yg multiple choice. Banyaknya berbentuk “Fill in the blanks (titik-titik-titik)” atau malah kertas kosong sekalian dgn sebaris pertanyaan diatasnya – ‘Mangga diisi essay-na, neng’ ^^ Hehehe….
So now I’m gonna try to fill in the blanks…. Blanks antara “Mellowpathy, Ridiculopathy, and Cervicalarity” (MRC) à blog vacuum à smp tiba2 ada cerita Dawar ^^’’’
The untold stories.

αΩ

August 2011 - Right Site


11-08-11
RIGHT SITE



What if…
you’re in your late 20’s and had an appendectomy,
then several years later you had a right ovarian cystectomy,
and then 3 years after that, your IVP showed an ureteral stone, right-sided, accompanied with 2nd-3rd grade hydronephrosis?

Will u do another operation for your ureteral stone?

"THE SURVIVORS" - July 2011

"THE SURVIVORS" 
Episode Dawar Challenge Test 

Episode “The Survivors” kali ini diawali dengan sebuah ide untuk melakukan darmawisata (nama bekennya : rekreasi) ke air terjun Dawar di Dsn. Dawar, Kec. Sanggau Ledo, Kab. Bengkayang, Kalbar. Lokasinya sekitar 4 jam dari RSUB (dgn mobil pribadi). Original ideanya melibatkan tim Bedah, yaitu KOB (kmr operasi) dan Mata, dgn prediksi peserta para perawat KOB & Mata beserta keluarga, juga para spesialis bedah (Bedah Umum dan Mata) beserta keluarga.

Seiring berjalannya waktu, entah mengapa, jumlah peserta makin berkurang & berubah-ubah terus, hingga akhirnya hari ini ada sekitar 25 orang yg berangkat yg terdiri dari perawat KOB, Mata, bangsal lain, org2 admin & keuangan, 1 SpB, 1 SpRad, 5 dokter umum, 1 fisioterapis, 1 kasir, 1 bumil, dan 2 anak balita.

Kami berangkat dari RSUB ½ jam lebih lambat dari waktu yg direncanakan menggunakan 2 kendaraan : bus kecil Akper dan Kijang Krista 1070. G ikutan yg 1070. Ada NL sbg pengemudi dgn co-pilot Om Fah (yg naturnya mabuk mobil berat), IH dgn Lana dan Dindin, DW, dan deretan belakang diisi the big three : LA, B’ Tius, dan MT.

Jalan mobil menuju Dawar tidak mulus. Pertama kami harus melewati D’Vandering – belokan2 maut dan illogical menyusuri pinggang gunung, tidak jauh dari Serukam, menuju kota Bengkayang. Kedua, jalan beraspal gerenjul (bhs gaulnya dari : tidak rata & berlubang-lubang) sepanjang 1 jm perjalanan sejak belok di Sanggau Ledo s/d dusun Dawar. Cuma lurus doang tp menimbulkan sensasi kebas & tingling a/r gluteus bilateral karena lamanya waktu tempuh jalan gerenjul tersebut.

Di dalam 1070, hanya ada 2 orang yg pernah ke site tsb, LA & IH. Mereka main kesana 10 thn yg lalu dan meninggalkan kesan yg sgt menyenangkan buat mrk. Jd kali ini mrk membawa serta kedua balita mrk, yg terkecil Lana umur sktr 1thn-an. Blm ada survey resmi stl 10 thn yg lalu ttg lokasi tsb, hanya dari kata orang saja. Honestly, g juga gak tanya2 gmn medan yg akan dihadapi. Pas diajakin ikut, hayu2 aja krn blm pernah. Jadi dengan polos, g bercelana pendek, bawa baju ganti (walo gak niat nyebur), pake sandal jepit, bawa sunblock & payung, tapi lupa bawa topi serta gak pake backpack (tp tas yg digendong di samping).

MIRACLE...MIRACLE

It was one hot Sunday noon (12 o’clock in the equator sunlight!!). I went home to have lunch, opened my FB and clicked the News Feed. A list of status updates showed up and one of them stroke me like thunder in a one holed-noon (itu kan Inggrisnya untuk “petir di siang-bolong”??).

About one month before, she wrote that she had pleural effusion – accumulation of fluid in thorax cavity between lung and pleura (selaput paru-paru). Back then, I thought that she got TBC (Indonesia’s national lung disease). And finally, they found the pleural effusion cause. The malignancy - lung cancer.

She’s a doctor, the same year as me, our age only differ one year.  She’s a Sundanese and we share hometown, Bandung. We were in the same lab group during med school. After graduation I don’t really know her updates, until now, when I learned her lung cancer. Stage 4 Squamous Cell Lung Cancer.

All of a sudden, a consciousness comes to mind. How does it feel? What if…it’s me and not her?
But more than that, I suddenly feel sad. My colleague, who hasn’t met HIM personally, is dying.

P

“Mengapa Allah menyembuhkan beberapa orang dan tidak menyembuhkan yang lainnya?“

Demikian tag line dari buku putih terbitan Visipress berjudul “Kesembuhan yang Ajaib” (Miraculous Healing). Walau katanya buku itu diterbitkan thn 2009, baru beberapa bln lalu aku melihat buku itu terpampang di toko buku rohani. Waktu itu aku baru saja pulang dari mission trip di Temanggung, my second mission trip yang meninggalkan kesan cukup dalam. Karena pengalaman di Temanggung itulah (akan kuceritakan lain kali), aku sangat tertarik ketika melihat buku itu (dan satu buku lain yang juga akan kuceritakan di lain kesempatan).  

Penulisnya adalah direktur nasional pertama dari China Inland Mission (a.k.a OMF International) di Amerika Utara, Henry Frost, yg juga merupakan rekanan dari (the famous) Hudson Taylor, pendiri CIM. Sebenarnya buku ini sudah lansia, pertama kali diterbitkan dalam bahasa aslinya pada tahun 1931 (wow, Indonesia masih dibawah penjajahan Belanda tuh). Pada edisi Indonesia-nya ini, turut diterjemahkan kata pengantar dari Joni Eareckson Tada, seorang penderita tetraplegia (kelumpuhan tangan dan kaki) selama 30 tahun lebih.

I found this book very interesting karena Frost membahasnya bukan hanya dari segi biblikal, tapi juga segi praktikal. Dia membeberkan argumen2 yang masuk akal sekaligus alkitabiah sebagai penjelasan thd pokok2 perdebatan yang umum, terutama dari orang2 yang mengklaim mukjizat secara ekstrim & keliru. Tetapi dia tidak kehilangan iman bahwa Allah tetap mampu dan mau memberikan kesembuhan yang ajaib pada masa sekarang ini.

Let’s peek in! ^ ^

MR.A and ME


Seorang laki-laki tua umur 70-an tahun terbaring di IGD dengan O2 lewat selang di lubang hidungnya. G memegang rekam mediknya dan melihat catatan pemeriksaan yang sudah dibuat rekan sejawat g.
 “Nyeri dada kiri sejak 3 hari SMRS, rasa ditusuk-tusuk dan ditindih, bla bla bla…. Rwyt TD tinggi sudah lama, bla bla bla…. Terakhir berobat ke RSUB 2004…,” g bergumam mencoba mencerna ceritanya. Lalu berpindah ke rekam jantung. “Weis… klasik serangan jantung,” komentarku melihat deretan garis hitam turun naik di lembar kotak2 merah. Pola yang khas, sulit dibantah.
Sejawat g sedang bertugas sebagai dokter klinik, jadi dalam 1 minggu ini dia tidak memasukkan px rawat inap. Kehormatan itu jatuh pada g. Maka g bergerak mendekati sang pasien, yang ditunggui seorang lelaki paruh baya. Aku menyapa sekilas, lalu menanyakan ulang beberapa pertanyaan kunci. Setelah mendapatkan konfirmasi, aku menyampaikan diagnosisnya, “… jadi dari hasil rekam jantungnya tampak bahwa bapak sedang mengalami serangan jantung dan…. “
Kalimat g terpotong oleh gesture dia yang tidak biasa. Dia langsung terisak dan menangis.
“Weleh…weleh….”
Setelah dia lebih tenang, I spoke a few reassurance sentences and explained that we would continue with chest X-ray and several blood examinations.  And then I left him.

When I was waiting for radiology expertise, one of the nurses told me that man real identity. Ternyata dia adalah bapaknya para pegawai di RS dan Akper Serukam dan masih kerabatnya beberapa perawat RS. Fenomena yang tidak asing lagi di RS “keluarga” Serukam, dimana semua orang (catat : SEMUA) masih bersaudara – berkerabat – berhubungan darah – sharing the same ancestors, entah bagaimana ^ ^’. Sambil menunggu, g telp IGD untuk meminta mereka menghubungi ICU untuk bersiap-siap menerima bapak ini.
Kembali di IRJ, salah satu perawat kerabat bapak itu datang mengajak bicara. Dia menyatakan kesiapannya untuk menerima bapak itu, tapi… “Masalahnya anaknya telepon saya dan meminta supaya…yah, kami juga mengerti kondisi bapak…tapi bagaimana kalau dia dirawat di rumah saja dan tidak masuk RS?” Sejenak g memandangi perawat itu dan terbayang muka salah seorang anaknya, Mr. Goodbye, yang bekerja di Akper – I looked at him in disbelief.
G menjelaskan ulang kondisinya yang jelas2 serangan jantung dan insisted that the best thing was to admit that px into the hospital. He finally backed out for a while dan menyarankan untuk memanggil anaknya. G lsg setuju dan ingin bertemu lsg dgn anaknya, Mr. Goodbye.

SEPT 2010 - Alone Into The Lone

ALONE INTO THE LONE

Lesson about Loneliness from Elisabeth Elliot
---Loneliness : It can be wilderness. It can be a pathway to God---


The day I found the book was not that dramatic.
I finally managed to arrive at Serukam safely after spending one night at Pontianak.
G ditempatin di motel, kamar no. 6 (by request dong – supaya ada kamar mandi dalem). Dan ternyata bukan cuma ada kamar mandi dalem, tapi ada terasnya juga. Begitu datang, g langsung “disambut” Mario, one of my fave twins, junior g sejak SMP. Dia lagi maen ke Serukam setelah menyelesaikan PTT Pusat-nya yang aneh bin ajaib di Sekadau.  

Hari itu juga g “shopping” di motel library. Semua buku di rak2 itu g liatin satu demi satu, dan akhirnya g bisa mendapatkan beberapa nice books ;D And one of them is “Loneliness” by Elisabeth Elliot.
Ini perjumpaan ketiga dengan karya2 Elisabeth Elliot, setelah Shadow of the Lord Almighty dan ?? of Love. Buku biru berdebu itu agak outstriking buat g karena pada saat itu g emang lagi dalam posisi “alone” di motel (well, ada Mario sih). Posisi “alone” itu menolong g untuk lebih menyelami ttg kesendirian dan kesepian (haha).

What is loneliness?

AUGUST 2010 - Titik Nol

Semuanya berawal dari pengumuman penerimaan PPDS.

G mengikuti ujian saringan masuk hari pertama dengan semangat. Bertekad untuk menaklukkan soal2 TOEFL, mengerjakan sebisa mungkin TPA (soale udah seabad rasanya sejak ngerjain soal2 Math SD-SMP-SMA), berharap they-think-I’m-sane-enough di MMPI (catet : I AM sane haha)(lbh tepatnya, I AM Chris, not Sane, who is Sane anyway?).
Ujian hari kedua lebih menegangkan. Soal2 khusus jurusan yang diminati. Hanya 60 soal, means kudu bener banyak2, salahnya seminimal mungkin. Soalnya sih standard, jawabannya itu yang membingungkan haha.
Yang paling parah ketegangannya adl 1 mg kemudian : interview. G jadi inget ujian lisan g masa ko-ass dulu. 1x di Syaraf, 2x di Interne. And I concluded that I didn’t like verbal tests.
The interview lasted for half an hour or so. They didn’t torture me, don’t worry & I didn’t want to go through the details again. What I knew was when I got out from the room, I got a bad feeling. I felt like they would reject me. I couldn’t explain why. I just felt that way. What? Sounded lack of faith? U can name it all u want. I just felt that way.
abcs