Salah satu instruksi favorit guru
B.Inggris waktu SMP/SMA dulu adalah “Fill in the blanks….” Sementara
murid-murid (tmsk g) lbh suka instruksi “Choose one correct answer….” untuk
multiple choice. “Fill in the blanks….” artinya kudu bener2 ngerti dan
kepikiran apa jawabannya. Mo nembak juga susah. Apalagi klo disuruh bikin essay
@@ lebih2 lagi kudu ngerti ^^
Sayangnya, ujian hidup juga gak banyak
yg multiple choice. Banyaknya berbentuk “Fill in the blanks (titik-titik-titik)”
atau malah kertas kosong sekalian dgn sebaris pertanyaan diatasnya – ‘Mangga
diisi essay-na, neng’ ^^ Hehehe….
So now I’m gonna try to fill in the
blanks…. Blanks antara “Mellowpathy, Ridiculopathy, and Cervicalarity” (MRC) à blog vacuum à smp tiba2 ada cerita Dawar ^^’’’
The untold stories.
αΩ
My bro’s op terjadi di bln Januari. Setelah
bergumul berat, I decided to go back to Serukam right after I took him home.
Waktu itu g percaya org rmh bs take care dia dgn baik (karena ada bokap &
tante yg full di rumah). Bokap g ga dwelling dlm post power syndrome post
pensiunnya ato DM-nya, dgn rajin (mau ga mau) nganter ade g kemana-mana u/
rehab (fisio, accupuncture, kontrol). Klo waktu itu g ada di rmh, dia pasti
akan membebankan itu smua sm g. G cm mau dia bertanggung jwb sbg bapa & ga
melempar semua itu sm org lain. Karena latihan yg vigorous & segera,
kemajuan Budz jg cepet. Bersyukuuur banget.
Tapi keputusan g berakibat buruk buat
g. Komentar Ka SW, TM, Opa bener2 bikin g torn. Antara merasa bersalah krn ga
da di Bdg, but I had my reasons & g percaya itupun baik; antara ingin
berada di Serukam dan memang byk yg hrs dikerjain but feeling guilty krn sibuk2
ngurus org lain & bkn ngurus keluarga sendiri, aaaaarrrghhh pokoke kacau
banget deh. G ga bisa cerita sama siapapun krn my mind & my heart were
so..…undescribable at that time. My foggy head, my cloudy mind – during
February & early March.
I shouted out to God for (emergency) help!
And He did answer.
Waktu itu MMC 6 sudah mulai dan
datanglah Ka Ria. Memang sudah jalan Tuhan, Ka bicara ttg “Memahami &
Melakukan Kehendak Allah” berdasarkan pengalaman dia selama ini. Tiga hal yg g
catat (dari sekian byk kata2 dia yang mengena saat itu) adalah :
1)
Kalau betul2 terbuka & betul2 mau taat, it
will be very clear
2)
“Saya mau mengerjakan apa yang Tuhan mau saya
kerjakan”
3)
Melangkah saat Tuhan membukakan jalan.
Banyak banget yg nanceb. Malamnya g
berpikir dan merenung dgn serius. Paginya g ketemu dia lagi & cerita pjg
lebar. She was the answer to my prayer. Org yg sdh mengalami, yg menyampaikan
FT dgn kuat & tajam, tidak mengenal g shg bs menilai dgn objektif, dan
tidak akan berada di Serukam setiap hari shg tdk akan menghakimi. The mentor
from God.
Mnr dia, g hrs bersyukur karena God
was dealing w/ me at that time. Dihancurkan, marah, direpresi, saat berpikir
sdh selesai – meledak, marah-bingung-takut, depresi berat…and what’s next? Di
lowest level of life inilah, suatu persimpangan yang sangat menentukan. Bagi yg
tidak berpengharapan, bs berakhir dgn suicide. Tp jika bs melewati fase ini bsm
Tuhan, maka mnr dia, g akan dipersiapkan u/ dipakai u/ hal2 yg lbh bsr di kmdn
hari.
Pembentukan Tuhan harus sampai di
suatu titik dimana kita bs berkata,
“I am what I am just because of Your grace,
not more, not less.”
Dibengkokkan, ditundukkan, dihancurkan smp
kita bisa memandang diri kita seperti Tuhan memandang kita, balance antara
kekuatan & kelemahan pribadi.
Jadi bkn masalah sekolah/tidak, masalah ada
disini/disana, tapi masalah :
“Apakah serius mau terlibat dalam God’s
business?”
God is so good to me. To us, to be more
precise.
G mensyukuri mentor2 MMC 6 yg datang
spj Maret-April. We’re having such a great time & lean a lot, t.u dgn
adanya upgrading alumni MMC =)
Hmmm, waktu ngobrol2 sm Oma, Oma
disagreed w/ Ka Ria’s opinion about : “If it’s God’s lead, it supposed to be
clear”. Soale wkt mrk mau ke Indon dulu, segala sesuatunya serba kaga jelas. Tp
mrk tetep berdoa & applied visa. Take a leap of faith. So Oma said
it’s not always that clear, even though when we looked back it’s quite clear,
haha…. She thought that one of the ways to confirm God’s will is by taking a a
step of faith & pray for it along the way.
Mnr g scr pribadi, God has many ways
to work on His purposes in our lives. There’s no fixed formulas for everything.
Dasarnya tetep, yaitu FT. Tp lainnya lbh fleksibel dan Tuhan itu kreatif. We
just have to be opened & sensitive & have an obedient heart yg mau
dengar2an & menurut. That’s what I think.
Setelah bergumul dan berkonsultasi, g
mmutuskan u/ mencoba Internal Med u/ terakhir kalinya di Unpad. Kalo yg ini gak
tembus, kemungkinan g u/ sekolah thn ini tertutup. Karena berarti hrs pilih
jurusan lain di Unpad atau pilih Internal Med di tmp lain, dan itu melibatkan
jml biaya yg blm bs dipenuhi saat ini.
Pertengahan
April itu – beberapa hari sblm MMC 6 berakhir – g berangkat ke Bandung. Cuti
diluar tanggungan hingga selesai ujian.
αΩ
Persiapan sblm ujian kali ini lebih
singkat dari tahun lalu. Beda 1 bulan. Tapi intinya msh sama, ikut PKB IPD,
ikut COMET, ikut simposium2 IPD, bljr TOEFL, bljr bhn2 IPD lagi.
Yg menarik buat g adalah ikut
Cardiometabolic Conference di Jkt. Seneng krn murah (dapet diskon), tmp
simpo-nya enak (JCC), makanannya lbh enak lagi, dan bisa nginep di rumah FD =)
Seneng bgt dengerin cerita2 dia lagi & ngobrol ngaler ngidul ;D Kekangenan
g terobati hehehe….
Rumah FD yg dkt Mall Tmn Anggrek
sangat strategis. Akhirnya g bisa ketemu LS dan Ka Ina dengan janjian di MTA
(tinggal jalan kaki doang). LS itu sodara PA g dulu pas kuliahan. Kami ngobrol
panjang lebar slm 2,5 jam (including dinner) stl 3 thn gak ngobrol betulan.
Kami sempet ketemu di kawinan Karin tp gak sempet ngobrol, cuman say “hi”
doang. Sisanya chatting, texting, dan FB-an.
Tapi dia udah berubah banyak.
Idealismenya tergerus motivasi mengejar the biggest outcome u can get. Menurut
dia, kerja di RS di kota besar jelas bkn buat pelayanan, tp buat cari duit. Mana
yg memberi fee terbesar, nyaman u/ bekerja, dan ada jenjang karier yg
jelas/menjanjikan. Dia memang lagi nabung untuk membiayai sekolahnya nanti.
Waktu g tanya, dia gak bisa jawab,
apakah motivasi “fee terbesar & kenyamanan kerja” dpt menjadi pegangan
jangka panjang u/ bekerja di 1 RS u/ 15/20/30 thn ke depan?
I still think that there’s more to life than
just that. Atau g yang bermimpi? Utopia? Klo g sampe pindah ke kota &
bekerja, apakah uang yang akan menjadi drive terbesar g? Making as much money
as possible? Tapi klo hidup g driven by money, bukankah seperti menyangkali
semua yg udah g pelajari & dapatkan & Thn ajarkan slm ini di Serukam? Iya,
memang perlu uang u/ membiayai hidup, apalagi klo mo sekolah.
Tapi bukankah yang menjamin & mencukupi
& memelihara kehidupan adalah Sang Empunya alam semesta dan bukan si mamon?
Bagaimana caranya bisa tetap lurus dan content
di kota besar, tnp kehilangan jiwa melayani?
Pertemuan
dgn Ka Ina juga menarik & informatif. Pada intinya dia menjelaskan ttg
metode Baca Gali Alkitab (BGA). G nanya ttg hal ini karena minimal 3x Tuhan
shouted at me melalui mentor2 yang berbeda wkt MMC 6 kmrn bhw He wants ME. Dia
mau g sungguh2 belajar mengenal Dia & punya hubungan yg dekat dgn Dia. I
need to find a way so that God can feed me more through His word & I can
learn more every day. Salah satu caranya adl mel. BGA ini. Dibutuhkan komitmen
dan kerja keras memang =)
Yang
menarik dr Ka Ina adalah spirit-nya untuk membagikan kebenaran Alkitab kepada
sebanyak mungkin orang & mendorong mereka untuk juga menikmati keindahan,
kedalaman, dan kekayaan FT. Back to the Bible. Enjoy the fellowship w/ the Word
& God Himself, personally. Dia seorang yg very passionate, ditengah
ke-mellow-annya yg dominan, dan sangat menghargai hubungan interpersonal.
Tanpa
kelompok kecil/KTB, tanpa support group yg real, sulit sekali u/ bertahan
hidup. I need to be held accountable. Somebody to watch over my back, menuntut
pertanggungjawaban g. Kebutuhan akan kelompok kecil gak berarti jadi tidak
mandiri. Bukankah we Christians are not meant to live solitarily, to fight
alone, & to walk alone? Isn’t that what fellowship are meant to be?
αΩ
18 Juni maju ujian TPA-MMPI-TOEFL.
Panitianya parah, ga jelas siapa-ujian di mana. Trus ngedarin absensi aja
unorganized banget. Tapi ujian2nya bs berlangsung dgn baik.
23 Juni tes seluruh bahan IPD. Ada
inovasi baru dgn ujian menerjemahkan 1 jurnal dari NEJM ke dlm bhs Indon.
Menyadari 1 hal yang “lucu” :
“Berjuang keras untuk masuk, berjuang
setengah mati untuk tetap di dalam, berjuang giat supaya bisa keluar.” Apa sih
maunya manusia itu? Hehehe…. Fenomena ujian PPDS mirip dgn fenomena gestasi.
Susah2 masuk, susah2 bertahan di dalam, & susah2 pengen keluar.
27 Juni the interview. Kesimpulan post
interview : I need a MIRACLE, w/ capital letters.
Respons para senior ttg ujian wawancara g :
-
Ibu BGA : “Hidup ini di-drive dlm anugerah
untuk kerjakan yg mulia dlm rencana-Nya. Spt khotbah Stefanus (dlm renungan) hr
ini. Yuk kita doa 8 hari.”
-
Ibu PA : “Hidup itu benar2 harus berharap pada
Tuhan, jadi memang kita sama2 tunggu anugrah-Nya ya. Kalaupun bukan ini, pasti
ada anugrah lain menunggumu. Be patient & wait upon our Lord.”
-
Senior XSerukamers (sdh mkn asam garam seputar
tes PPDS) :
“Berdasarkan pengalaman pribadi, penguji kayak
apapun gak ngaruh. Aku percaya daftar PPDS itu ga da fair2nya sama sekali. Only
God’s will that matters, period J Usaha
& koneksi juga ga ngaruh deh. Tapi yah usaha mah bagian kita yang uda wajib
dikerjain. So harapanku smg keterima di IPD matches God’s will. Looking forward
to your good news! J GB!”
αΩ
Suatu kali saat masih di Bandung, g
dapet kesempatan u/ menghadiri 1 PA dimana Pak John Chambers jadi nara
sumbernya. Ia membahas beberapa ayat, salah satunya adalah Psalm 92 : 5 (NIV)
“How great are Your works, O Lord, how
profound Your thoughts!”
Dikaitkan dengan the famous Rome 8:28-29 (NIV)
yg harus dpahami bersama-sama, tidak boleh dicomot salah satu saja :
28 : “And we know that in all things God works
for the good of those who love Him, who have been called according to
His purpose.”
29 : “For those God foreknew He also
predestined to be conformed to the likeness of His Son, that He might be
the firstborn among many brothers.”
Kata
‘good’ di ayat 28 jangan diselewengkan dengan memproyeksikan cita2 kita sebagai
penjelasan kata ‘kebaikan’. Karena di ayat 29 ditunjukkan bahwa yang terbaik
dari Allah untuk kita adalah ‘menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya’. Goalnya
: becoming like Christ.
Caranya
? Ya harus melalui proses yang menurut Allah terbaik untuk kita (lihat
Psalm 92:5 – pikiran Allah tak terselami). Jangan dibandingkan dengan orang
lain krn proses pembentukan Allah bagi manusia sifatnya individual, bisa
berbeda-beda. Segala sesuatu yang terjadi pada kita juga bertujuan supaya kita
bisa lebih luas / lebih efektif lagi dalam melayani.
Bersyukur
banget diingetin lagi ttg hal2 ini. The goal is not our comfort (or our wealth,
our happiness, our heart desires) but our character – sejauh mana semakin
serupa dengan Kristus.
That’s the ultimate goal: becoming like
Christ. No goals are greater than that.
αΩ
Setelah tahu tidak diterima lagi,
rasanya masih seperti ditonjok. Masih pengen nanya kenapa. Masih
mengulang-ulang episode interview. Masih pengen hasilnya bukan itu. Masih
sangat emosional (& I want everybody to leave me alone – I’ll get over this
soon).
Tapi (anehnya) di sisi lain, merasa
diselamatkan oleh Tuhan dari sesuatu yg g kira baik buat g, tp yg menurut Dia
engga. Somehow, not good, not right for me. Doa g terjawab. His plan is
prevail. His will is displayed. Dalam kasih & hikmat-Nya, Dia memberikan g
yang paling baik menurut Dia. Terus terang g gak ngerti rencana Dia & g gak
bisa liat apa untuk saat ini. But I believe His good heart & His good
intention & His good answer. All I have to do is lean on Him, wait upon
Him, trust Him, obey Him, love Him, and know His heart.
The 2nd blow…hmm…tastes
different. I wonder what the 3rd blow feels like? ^^ (just joking)
So, it’s finale that this subject in
this school is not for me. Case closed.
Which……generates more questions, such as :
Where? When? What subject à
same/different? What if? Are you sure you’re meant for schooling? And so on….
Segudang pertanyaan kembali mengantri
dan mau ga mau, g harus mengisi ‘titik…titik….titik….’ lagi. What’s next?
Syukurlah, kemarin g cuti diluar
tanggungan dan bukannya resign dari Serukam. Jadi udah jelas, g akan balik ke
sono. Minggu, 10 Juli, g udah “mendarat” lagi di tgh hutan, safe & sound.
Hanya saja kali ini ‘with my hands tied’ ^^’
αΩ
Post a Comment
What do you think? ^^