JULY 2011 - Titik Titik Titik


Salah satu instruksi favorit guru B.Inggris waktu SMP/SMA dulu adalah “Fill in the blanks….” Sementara murid-murid (tmsk g) lbh suka instruksi “Choose one correct answer….” untuk multiple choice. “Fill in the blanks….” artinya kudu bener2 ngerti dan kepikiran apa jawabannya. Mo nembak juga susah. Apalagi klo disuruh bikin essay @@ lebih2 lagi kudu ngerti ^^
Sayangnya, ujian hidup juga gak banyak yg multiple choice. Banyaknya berbentuk “Fill in the blanks (titik-titik-titik)” atau malah kertas kosong sekalian dgn sebaris pertanyaan diatasnya – ‘Mangga diisi essay-na, neng’ ^^ Hehehe….
So now I’m gonna try to fill in the blanks…. Blanks antara “Mellowpathy, Ridiculopathy, and Cervicalarity” (MRC) à blog vacuum à smp tiba2 ada cerita Dawar ^^’’’
The untold stories.

αΩ


My bro’s op terjadi di bln Januari. Setelah bergumul berat, I decided to go back to Serukam right after I took him home. Waktu itu g percaya org rmh bs take care dia dgn baik (karena ada bokap & tante yg full di rumah). Bokap g ga dwelling dlm post power syndrome post pensiunnya ato DM-nya, dgn rajin (mau ga mau) nganter ade g kemana-mana u/ rehab (fisio, accupuncture, kontrol). Klo waktu itu g ada di rmh, dia pasti akan membebankan itu smua sm g. G cm mau dia bertanggung jwb sbg bapa & ga melempar semua itu sm org lain. Karena latihan yg vigorous & segera, kemajuan Budz jg cepet. Bersyukuuur banget.
Tapi keputusan g berakibat buruk buat g. Komentar Ka SW, TM, Opa bener2 bikin g torn. Antara merasa bersalah krn ga da di Bdg, but I had my reasons & g percaya itupun baik; antara ingin berada di Serukam dan memang byk yg hrs dikerjain but feeling guilty krn sibuk2 ngurus org lain & bkn ngurus keluarga sendiri, aaaaarrrghhh pokoke kacau banget deh. G ga bisa cerita sama siapapun krn my mind & my heart were so..…undescribable at that time. My foggy head, my cloudy mind – during February & early March.

I shouted out to God for (emergency) help!
And He did answer.

Waktu itu MMC 6 sudah mulai dan datanglah Ka Ria. Memang sudah jalan Tuhan, Ka bicara ttg “Memahami & Melakukan Kehendak Allah” berdasarkan pengalaman dia selama ini. Tiga hal yg g catat (dari sekian byk kata2 dia yang mengena saat itu) adalah :
1)      Kalau betul2 terbuka & betul2 mau taat, it will be very clear
2)      “Saya mau mengerjakan apa yang Tuhan mau saya kerjakan”
3)      Melangkah saat Tuhan membukakan jalan.
Banyak banget yg nanceb. Malamnya g berpikir dan merenung dgn serius. Paginya g ketemu dia lagi & cerita pjg lebar. She was the answer to my prayer. Org yg sdh mengalami, yg menyampaikan FT dgn kuat & tajam, tidak mengenal g shg bs menilai dgn objektif, dan tidak akan berada di Serukam setiap hari shg tdk akan menghakimi. The mentor from God.
Mnr dia, g hrs bersyukur karena God was dealing w/ me at that time. Dihancurkan, marah, direpresi, saat berpikir sdh selesai – meledak, marah-bingung-takut, depresi berat…and what’s next? Di lowest level of life inilah, suatu persimpangan yang sangat menentukan. Bagi yg tidak berpengharapan, bs berakhir dgn suicide. Tp jika bs melewati fase ini bsm Tuhan, maka mnr dia, g akan dipersiapkan u/ dipakai u/ hal2 yg lbh bsr di kmdn hari.
Pembentukan Tuhan harus sampai di suatu titik dimana kita bs berkata,
“I am what I am just because of Your grace, not more, not less.”
Dibengkokkan, ditundukkan, dihancurkan smp kita bisa memandang diri kita seperti Tuhan memandang kita, balance antara kekuatan & kelemahan pribadi.
Jadi bkn masalah sekolah/tidak, masalah ada disini/disana, tapi masalah :
“Apakah serius mau terlibat dalam God’s business?”

God is so good to me. To us, to be more precise.

G mensyukuri mentor2 MMC 6 yg datang spj Maret-April. We’re having such a great time & lean a lot, t.u dgn adanya upgrading alumni MMC =)
Hmmm, waktu ngobrol2 sm Oma, Oma disagreed w/ Ka Ria’s opinion about : “If it’s God’s lead, it supposed to be clear”. Soale wkt mrk mau ke Indon dulu, segala sesuatunya serba kaga jelas. Tp mrk tetep berdoa & applied visa. Take a leap of faith. So Oma said it’s not always that clear, even though when we looked back it’s quite clear, haha…. She thought that one of the ways to confirm God’s will is by taking a a step of faith & pray for it along the way.
Mnr g scr pribadi, God has many ways to work on His purposes in our lives. There’s no fixed formulas for everything. Dasarnya tetep, yaitu FT. Tp lainnya lbh fleksibel dan Tuhan itu kreatif. We just have to be opened & sensitive & have an obedient heart yg mau dengar2an & menurut. That’s what I think.
Setelah bergumul dan berkonsultasi, g mmutuskan u/ mencoba Internal Med u/ terakhir kalinya di Unpad. Kalo yg ini gak tembus, kemungkinan g u/ sekolah thn ini tertutup. Karena berarti hrs pilih jurusan lain di Unpad atau pilih Internal Med di tmp lain, dan itu melibatkan jml biaya yg blm bs dipenuhi saat ini.
                Pertengahan April itu – beberapa hari sblm MMC 6 berakhir – g berangkat ke Bandung. Cuti diluar tanggungan hingga selesai ujian.

αΩ

Persiapan sblm ujian kali ini lebih singkat dari tahun lalu. Beda 1 bulan. Tapi intinya msh sama, ikut PKB IPD, ikut COMET, ikut simposium2 IPD, bljr TOEFL, bljr bhn2 IPD lagi.
Yg menarik buat g adalah ikut Cardiometabolic Conference di Jkt. Seneng krn murah (dapet diskon), tmp simpo-nya enak (JCC), makanannya lbh enak lagi, dan bisa nginep di rumah FD =) Seneng bgt dengerin cerita2 dia lagi & ngobrol ngaler ngidul ;D Kekangenan g terobati hehehe….
Rumah FD yg dkt Mall Tmn Anggrek sangat strategis. Akhirnya g bisa ketemu LS dan Ka Ina dengan janjian di MTA (tinggal jalan kaki doang). LS itu sodara PA g dulu pas kuliahan. Kami ngobrol panjang lebar slm 2,5 jam (including dinner) stl 3 thn gak ngobrol betulan. Kami sempet ketemu di kawinan Karin tp gak sempet ngobrol, cuman say “hi” doang. Sisanya chatting, texting, dan FB-an.
Tapi dia udah berubah banyak. Idealismenya tergerus motivasi mengejar the biggest outcome u can get. Menurut dia, kerja di RS di kota besar jelas bkn buat pelayanan, tp buat cari duit. Mana yg memberi fee terbesar, nyaman u/ bekerja, dan ada jenjang karier yg jelas/menjanjikan. Dia memang lagi nabung untuk membiayai sekolahnya nanti.
Waktu g tanya, dia gak bisa jawab, apakah motivasi “fee terbesar & kenyamanan kerja” dpt menjadi pegangan jangka panjang u/ bekerja di 1 RS u/ 15/20/30 thn ke depan?
I still think that there’s more to life than just that. Atau g yang bermimpi? Utopia? Klo g sampe pindah ke kota & bekerja, apakah uang yang akan menjadi drive terbesar g? Making as much money as possible? Tapi klo hidup g driven by money, bukankah seperti menyangkali semua yg udah g pelajari & dapatkan & Thn ajarkan slm ini di Serukam? Iya, memang perlu uang u/ membiayai hidup, apalagi klo mo sekolah.
Tapi bukankah yang menjamin & mencukupi & memelihara kehidupan adalah Sang Empunya alam semesta dan bukan si mamon?

Bagaimana caranya bisa tetap lurus dan content di kota besar, tnp kehilangan jiwa melayani?

                Pertemuan dgn Ka Ina juga menarik & informatif. Pada intinya dia menjelaskan ttg metode Baca Gali Alkitab (BGA). G nanya ttg hal ini karena minimal 3x Tuhan shouted at me melalui mentor2 yang berbeda wkt MMC 6 kmrn bhw He wants ME. Dia mau g sungguh2 belajar mengenal Dia & punya hubungan yg dekat dgn Dia. I need to find a way so that God can feed me more through His word & I can learn more every day. Salah satu caranya adl mel. BGA ini. Dibutuhkan komitmen dan kerja keras memang =)
                Yang menarik dr Ka Ina adalah spirit-nya untuk membagikan kebenaran Alkitab kepada sebanyak mungkin orang & mendorong mereka untuk juga menikmati keindahan, kedalaman, dan kekayaan FT. Back to the Bible. Enjoy the fellowship w/ the Word & God Himself, personally. Dia seorang yg very passionate, ditengah ke-mellow-annya yg dominan, dan sangat menghargai hubungan interpersonal.
                Tanpa kelompok kecil/KTB, tanpa support group yg real, sulit sekali u/ bertahan hidup. I need to be held accountable. Somebody to watch over my back, menuntut pertanggungjawaban g. Kebutuhan akan kelompok kecil gak berarti jadi tidak mandiri. Bukankah we Christians are not meant to live solitarily, to fight alone, & to walk alone? Isn’t that what fellowship are meant to be?
               
αΩ

18 Juni maju ujian TPA-MMPI-TOEFL. Panitianya parah, ga jelas siapa-ujian di mana. Trus ngedarin absensi aja unorganized banget. Tapi ujian2nya bs berlangsung dgn baik.
23 Juni tes seluruh bahan IPD. Ada inovasi baru dgn ujian menerjemahkan 1 jurnal dari NEJM ke dlm bhs Indon.
Menyadari 1 hal yang “lucu” :
“Berjuang keras untuk masuk, berjuang setengah mati untuk tetap di dalam, berjuang giat supaya bisa keluar.” Apa sih maunya manusia itu? Hehehe…. Fenomena ujian PPDS mirip dgn fenomena gestasi. Susah2 masuk, susah2 bertahan di dalam, & susah2 pengen keluar.
27 Juni the interview. Kesimpulan post interview : I need a MIRACLE, w/ capital letters.
Respons para senior ttg ujian wawancara g :
-       Ibu BGA : “Hidup ini di-drive dlm anugerah untuk kerjakan yg mulia dlm rencana-Nya. Spt khotbah Stefanus (dlm renungan) hr ini. Yuk kita doa 8 hari.”
-       Ibu PA : “Hidup itu benar2 harus berharap pada Tuhan, jadi memang kita sama2 tunggu anugrah-Nya ya. Kalaupun bukan ini, pasti ada anugrah lain menunggumu. Be patient & wait upon our Lord.”
-       Senior XSerukamers (sdh mkn asam garam seputar tes PPDS) :
“Berdasarkan pengalaman pribadi, penguji kayak apapun gak ngaruh. Aku percaya daftar PPDS itu ga da fair2nya sama sekali. Only God’s will that matters, period J Usaha & koneksi juga ga ngaruh deh. Tapi yah usaha mah bagian kita yang uda wajib dikerjain. So harapanku smg keterima di IPD matches God’s will. Looking forward to your good news! J GB!”


 And His answer was : not accepted.

αΩ


Suatu kali saat masih di Bandung, g dapet kesempatan u/ menghadiri 1 PA dimana Pak John Chambers jadi nara sumbernya. Ia membahas beberapa ayat, salah satunya adalah Psalm 92 : 5 (NIV)
“How great are Your works, O Lord, how profound Your thoughts!”
Dikaitkan dengan the famous Rome 8:28-29 (NIV) yg harus dpahami bersama-sama, tidak boleh dicomot salah satu saja :
28 : “And we know that in all things God works for the good of those who love Him, who have been called according to His purpose.”
29 : “For those God foreknew He also predestined to be conformed to the likeness of His Son, that He might be the firstborn among many brothers.”
                Kata ‘good’ di ayat 28 jangan diselewengkan dengan memproyeksikan cita2 kita sebagai penjelasan kata ‘kebaikan’. Karena di ayat 29 ditunjukkan bahwa yang terbaik dari Allah untuk kita adalah ‘menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya’. Goalnya : becoming like Christ.
                Caranya ? Ya harus melalui proses yang menurut Allah terbaik untuk kita (lihat Psalm 92:5 – pikiran Allah tak terselami). Jangan dibandingkan dengan orang lain krn proses pembentukan Allah bagi manusia sifatnya individual, bisa berbeda-beda. Segala sesuatu yang terjadi pada kita juga bertujuan supaya kita bisa lebih luas / lebih efektif lagi dalam melayani.
                Bersyukur banget diingetin lagi ttg hal2 ini. The goal is not our comfort (or our wealth, our happiness, our heart desires) but our character – sejauh mana semakin serupa dengan Kristus.
That’s the ultimate goal: becoming like Christ. No goals are greater than that.
                 
αΩ

Setelah tahu tidak diterima lagi, rasanya masih seperti ditonjok. Masih pengen nanya kenapa. Masih mengulang-ulang episode interview. Masih pengen hasilnya bukan itu. Masih sangat emosional (& I want everybody to leave me alone – I’ll get over this soon).
Tapi (anehnya) di sisi lain, merasa diselamatkan oleh Tuhan dari sesuatu yg g kira baik buat g, tp yg menurut Dia engga. Somehow, not good, not right for me. Doa g terjawab. His plan is prevail. His will is displayed. Dalam kasih & hikmat-Nya, Dia memberikan g yang paling baik menurut Dia. Terus terang g gak ngerti rencana Dia & g gak bisa liat apa untuk saat ini. But I believe His good heart & His good intention & His good answer. All I have to do is lean on Him, wait upon Him, trust Him, obey Him, love Him, and know His heart.
The 2nd blow…hmm…tastes different. I wonder what the 3rd blow feels like? ^^ (just joking)
So, it’s finale that this subject in this school is not for me. Case closed.
Which……generates more questions, such as : Where? When? What subject à same/different? What if? Are you sure you’re meant for schooling? And so on….
Segudang pertanyaan kembali mengantri dan mau ga mau, g harus mengisi ‘titik…titik….titik….’ lagi. What’s next?
Syukurlah, kemarin g cuti diluar tanggungan dan bukannya resign dari Serukam. Jadi udah jelas, g akan balik ke sono. Minggu, 10 Juli, g udah “mendarat” lagi di tgh hutan, safe & sound. Hanya saja kali ini ‘with my hands tied’ ^^’

αΩ
0 Responses

Post a Comment

What do you think? ^^

abcs