OCTOBER
2012
BLESSING
~Celebrating 1 Year in Bandung~
Saat
mendengar kata “berkat” biasanya yang langsung terpikir adalah mendapatkan
sesuatu yang waaaw. Sesuatu yang mendatangkan kegembiraan (uhuy!), yang menambah
kepemilikan (dari gak punya jadi punya), yang membuat keinginan hati terwujud
(dreams come true banget dah), atau yang membuat suatu kebutuhan terpenuhi (pas
perlu, pas ada). Atau mendapatkan sesuatu yang baru (bisa mobil baru atau baru
punya mobil – baik itu baru ataupun bekas). Bisa berupa kejutan – tak disangka,
tak dinyana, seperti kena durian runtuh (hmm...itu lbh mirip musibah deh klo
smp keruntuhan durian), tapi bisa juga sesuatu yg sudah diduga (krn sudah
diharapkan, diminta, didoaken sejak dulu kala). Bisa juga berupa kelepasan dari
sesuatu (lepas dari boss yg opresif misalnya??) yang dianggap
sulit/berat/membawa penderitaan.
Sejak
kecil kita sudah diajari untuk berdoa meminta berkat. Mulai dari ‘berkatilah
makanan ini’ smp ‘berkatilah papa mama’ dan mulai beralih ke ‘berikanlah sepeda
BMX baru ya Tuhan’ (jadoel bgt msh era BMX – sekarang kayaknya ‘berikanlah
iPhone 5S itu ya Tuhan’) hingga ‘berkatilah saat menjawab soal ujian ini’
(either uda belajar / gak belajar). Bahkan yg belum mengenal Tuhan pun sibuk
meminta berkat ke pohon2 besar, gua2, batu2, atau makam2 tertentu. Jika pada
akhirnya kita mendapatkan berkat tsb, lazimnya kita akan berkata “Terimakasih,
Tuhan” – karena kita percaya bhw Tuhanlah sumber berkat. Tapi banyak juga orang
yg berkata, “Ah itu kebetulan” atau “Ah itu hoki doang”. Sisanya mungkin malah
lupa untuk berterimakasih dan berlalu begitu saja.