Saturday, Nov 27th, 2010 – Batavia
She’s wearing a white long dress, which is a dream
of many girls since their childhood. Her head is covered. Berjalan dengan
anggun ditemani sang ayah, perlahan-lahan menyusuri deretan bangku gereja yang
sudah dihias. Jemaat yang berdiri memandangi dengan kagum dan haru, sekaligus
gembira. Di ujung depan sana, menanti sang pria, juga dengan setelan putih. He
looked awesome too.
I never think
of myself as an “enthusiastic & widely acclaimed people person”
Seorang teman
berkata bahwa dirinya sulit dekat dengan orang lain. Dan seperti itu juga yang
kurasakan.
Ga gampang
deket sm org. Ga gampang membuka diri dgn org lain. Merasa kesulitan klo
bertemu org baru. Klo sekedar kenalan sih banyak (tapi kalah banyak dibanding
org2 Extrovert & Sanguin). Tapi ga banyak yg bener2 jd temen main. Temen
mainku cm segelintir org (not more than 10), tp biasanya bertahan u/ periode yg
pjg. Mis.tmn2 SD-ku bertahan smp sktr 10thn-an. Tmn2 SMP-ku diboyong ke SMA
(krn kami sekola di tmp yg sm u/ 6 thn, tinggal naik lantai saja) & survive
smp skrg. Trus tmn2 kuliah yah bertahan sktr 10thn-an juga, smp skrg. Tapi ga
bnyk, dan org2nya itu2 aja. Jarang mengalami pelebaran. Aku ga bs manage
terlalu byk temen. Buatku sih jumlahnya ga penting, sedikit juga udah cukup,
asal kualitas hubungannya bisa terpelihara dgn baik.
Cause it takes
time & effort & heart to nurture a relationship.
Dan dari
sekian banyak temen maen itu, there are 2 women I consider best friends. Yg
satu sejak SMP, yg satu sejak kuliah. Di depan mrk, I can really be myself. Bs
ngeluarin uneg2, bs lepas & bebas, merasa sgt comfort u/ cerita apapun
& sepanjang apapun (minimal berjam-jam). Kepada 2 org inilah, I put my
loyalties & commitments.