A TRIBUTE TO FRIENDSHIP


I never think of myself as an “enthusiastic & widely acclaimed people person”
Seorang teman berkata bahwa dirinya sulit dekat dengan orang lain. Dan seperti itu juga yang kurasakan.
Ga gampang deket sm org. Ga gampang membuka diri dgn org lain. Merasa kesulitan klo bertemu org baru. Klo sekedar kenalan sih banyak (tapi kalah banyak dibanding org2 Extrovert & Sanguin). Tapi ga banyak yg bener2 jd temen main. Temen mainku cm segelintir org (not more than 10), tp biasanya bertahan u/ periode yg pjg. Mis.tmn2 SD-ku bertahan smp sktr 10thn-an. Tmn2 SMP-ku diboyong ke SMA (krn kami sekola di tmp yg sm u/ 6 thn, tinggal naik lantai saja) & survive smp skrg. Trus tmn2 kuliah yah bertahan sktr 10thn-an juga, smp skrg. Tapi ga bnyk, dan org2nya itu2 aja. Jarang mengalami pelebaran. Aku ga bs manage terlalu byk temen. Buatku sih jumlahnya ga penting, sedikit juga udah cukup, asal kualitas hubungannya bisa terpelihara dgn baik.
Cause it takes time & effort & heart to nurture a relationship.

Dan dari sekian banyak temen maen itu, there are 2 women I consider best friends. Yg satu sejak SMP, yg satu sejak kuliah. Di depan mrk, I can really be myself. Bs ngeluarin uneg2, bs lepas & bebas, merasa sgt comfort u/ cerita apapun & sepanjang apapun (minimal berjam-jam). Kepada 2 org inilah, I put my loyalties & commitments.


Dulu aku takut penolakan orang. Jadi ragu2 u/ berteman. Aku juga takut kehilangan dan takut tidak cocok. Namun suatu kali, aku baca buku. Judulnya : RELATIONSHIPS (Les & Leslie Parrott, 2001, Gospel Press).

Mnrt mereka, ada 2 jenis sahabat : sahabat dalam perjalanan & sahabat hati.

Sahabat dalam perjalanan tidak kekal, akan tiba pada akhir alaminya. Bukan karena ketidakpuasan/ketiadaan minat. Namun hanya karena jalan telah berakhir. Kita telah sampai pada akhir perjalanan bersama & sudah waktunya untuk berpindah ke hal2 lain, dan teman2 yang lain.
Ini tidak berarti bahwa persahabatan itu gagal. Mereka membawa kita melintasi bidang jalan tertentu, dan untuk itu kita bisa bersyukur.
Sahabat yang kita temui di sepanjang jalan kehidupan membuat perjalanan menjadi menyenangkan.
Sahabat hati tidak seperti sahabat dalam perjalanan. Mereka tetap bersama-sama kita walaupun perjalanan telah berakhir. Tidak peduli berapa bulan / kilometer yang dilalui, persahabatan ini terus bertahan.  

Seperti itulah gambaran my friendship with Pheo. Kami bertemu di usia muda, kelas 2 SMP. Sama-sama masih ababil – ABG labil. Dengan segera, dua temperamen & MBTI yg berbeda ini menemukan >30 kesamaan (dan – dasar anak SMP – dibikin listnya, hehehe). Selepas SMA kls 1, kami berpisah (physically, but not emotionally). Ada masa2 tinggal di kota yang sama, tapi lebih banyak dipisahkan oleh ribuan km dan lautan (dia pernah stay di Kch & Oz). Ada masa2 bertatap muka & bercengkerama, tapi ada masa dimana hubungan kami bergantung pada parpostel (surat, email, telepon, SMS).
Kehidupan juga tidak berjalan dgn irama yang sama untuk kami. Seasons in life untuk dia bergerak lebih cepat daripada untukku. Saat aku masih sekolah, dia sudah kuliah, Saat aku kuliah, dia sudah bekerja. Saat aku hampir menyelesaikan clerkship, dia menikah. Saat aku berangkat PTT ke hutan, dia punya bayi. Saat aku masih di hutan, bayinya yang kedua lahir ;D I know I can always consult her. She’s one of the best (full-time) mother alive!! Wkwkwk…

“Oh betapa nyamannya perasaan aman bersama seseorang;
tanpa perlu menimbang gagasan ataupun menaksir kata-kata,
tetapi menumpahkan semuanya, sebagaimana adanya
– yang baik dan buruk bersama-sama –
Sadar bahwa tangan yang setia akan mengambil dan menampi mereka,
menyimpan apa yang layak disimpan,
dan kemudian dengan hembusan kebaikan meniup pergi sisanya.”
~George Elliot~

Apakah harus mengambil sumpah setia saat memulai persahabatan (spy bs awet & tahan lama)?? =) Well, kenyataannya bukan begitu caranya bagi sebagian besar kita untuk menjadi sahabat. Kita lebih mungkin masuk ke dalamnya secara kebetulan. Kita bertemu, saling mengamati, mendapati that we’re talking in the same language, bahwa kita mempunyai minat yang sama, dan kemudian…? What’s next?



Well, jika kita peduli dgn hubungan tsb, kita akan berkomitmen. Ga berarti pake upacara mengangkat janji segala. Seringkali, komitmen berkembang secara bertahap. Kita saling berkomitmen satu sama lain, bahkan kadang2 tanpa mengetahuinya, dalam periode waktu yg panjang. Ketika menoleh ke belakang, kita melihat bahwa kita telah membuat ribuan komitmen, kecil2, berulang-ulang, setiap kali kita berkesempatan untuk membuatnya. Kita hanya bertumbuh dalam komitmen kita tanpa banyak memikirkannya. Itulah kisah persahabatan hati. 

I personally avoid saying things like “friends forever”, “for a lifetime”, dan other sweet things,  karena yah lagi-lagi semuanya adalah proses. Lebih baik tidak dikatakan tapi dijalankan. In friendship, actions speak louder than words. Ada kalanya affection & regard perlu disampaikan, tapi banyak kali lebih baik dibuktikan lewat tindakan untuk mengasihi scr langsung. Apa artinya janji tnp pemenuhan janji? Apa artinya kata-kata indah tanpa bukti tindakan yang nyata?

Apakah persahabatan hati lebih penting daripada sahabat2 kita dalam perjalanan yg cepat berlalu? Tidak juga. Yang penting adl bagaimana suatu hubungan menopang Anda sekarang. Suatu persahabatan yang terjalin – dalam bentuk apapun – merupakan salah satu pengalaman terbaik yang ditawarkan oleh kehidupan.

Menarik untuk dicermati bahwa ketika Tuhan menempatkanku dalam suatu lingkungan yang baru, Dia akan menyediakan segala sesuatu yang kubutuhkan, termasuk teman-teman. Sejak aku SD s/d PTT, dan sampai sekarang, selalu terbukti demikian.
 It’s true when I came to Serukam. Bertemu dengan segerombolan (lebay – sekelompok lbh tepatnya) orang2 dari berbagai latar belakang yang punya kisah hidup & karakteristik masing2. Banyak dari mereka mejadi kenalan baik, beberapa menjadi teman dekat, beberapa menjadi figure yang kukagumi & kuteladani, dan mereka semua sangat berarti bagiku saat melewati one of my life chapters. Aku bertanya-tanya, akankah berlanjut saat kami berpisah? Kenyataannya ada yang berlanjut, ada juga yang tidak. Tapi tetap saja selalu diingat dengan penuh ucapan syukur.
And some of them leave footprints in my heart


Dua cara menemukan sahabat sejati :
  1. Memiliki sepasang telinga yang mendengarkan (scr tulus menerima dan berempati)
  2. Penyingkapan-diri (dalam dosis yang tepat)



Cara mempertahankan sahabat sejati :
  1.   Loyalitas à memegang teguh janji u/ menjaga rahasia.
  2.  Pengampunan (forgiveness) à gunanya bagi diri sendiri, bkn bagi org lain.
  3. Kejujuran à kejujuran yg secara hati2 disampaikan dalam konteks rasa hormat
  4. Dedikasi à menyediakan segala sesuatu yg dibutuhkan u/ mempertahankan persahabatan.

 And don’t forget to take that special one in prayer.
The closer we are to God, the closer we are with each other. That I know to be true.

Sahabat sejati adalah orang yang mau mendengar & mengerti
ketika Anda mengungkapkan perasaan Anda yang paling dalam.
Ia mendukung ketika Anda tengah berjuang;
Ia menegur dengan lembut dan penuh kasih, ketika Anda berbuat salah;
Dan ia memaafkan ketika Anda gagal.
Seorang sahabat sejati melecut Anda untuk pertumbuhan pribadi,
Mendorong Anda memaksimalkan potensi Anda sepenuhnya,
Dan yang paling menakjubkan, ia merayakan keberhasilan Anda seolah-olah keberhasilannya sendiri.
~Richard Exley~

Friendship quotes yg kukutip disini memberikan kesan bahwa untuk menjadi sahabat yang sejati, kita harus menjadi malaikat, dan hanya dengan orang suci-lah kita bisa menjalin persahabatan sejati =) Hehehehe, tentu saja tidak seperti itu. Benar bhw semua quotes ini mengemukakan kualitas2 terbaik seorang sahabat. Tapi harus selalu ingat bahwa yang terlibat di dalamnya adalah 2 manusia biasa, sedang dlm proses diubahkan oleh Roh, memiliki temperamen & personality yang berbeda, bergulat dengan pergumulan2 hidupnya setiap hari, bahkan sangat mungkin bergumul dgn dirinya sendiri. So u can never find a perfect person, and we ourselves are not perfect. Justru perjalanan bergumul bersama itulah yang rewarding, saling mendukung & menyemangati, spy semakin hari menjadi semakin serupa Kristus.

 “Sopanlah pada semua orang, namun akrablah dengan beberapa,
dan biarkan yang beberapa itu diuji dengan baik
sebelum Anda memberi mereka kepercayaan Anda.
Persahabatan sejati adalah sebatang pohon yang lambat pertumbuhannya
dan harus mengalami dan menahan guncangan kesengsaraan
sebelum layak disebut ‘persahabatan’
~George Washington~



A Tribute to Pheo
1996 – 2011 and still goes on….
Your unconditional love & acceptance is the cornerstone of my teenager’s time =)
***



For further explanation, please read : 
Relationships & Relationships Workbook, Les & Leslie Parrott, 2001, Gospel Press
The Treasure of a Friend, John C. Maxwell & Dan Reiland, 2003, Harvest Publishing House



0 Responses

Post a Comment

What do you think? ^^

abcs