ONCE UPON A TIME IN CHINA (part TWO)


To read the FIRST PART of the story, click the following link : 

DAY THREE – JUNE 27TH – GUILIN-YANGZHUO
Setiap hari, kami hanya menginap 1 malam saja dan pagi2nya harus check-out untuk melanjutkan perjalanan. Breakfast di hotel lumayan bervariasi. Ada bubur (polos, pitan, telur), udon (kwetiauw kuah dgn beragam asinan), kue2 & roti (mocinya mirip cireng, tapi enak), dumplings (kue tie sayur, daging), nasi goreng (biasanya enak – sesuai selera Indon), kwetiaw goreng, fresh pakcoy/kailan, sosis goreng (I assume it’s pork), juice (orange/apel/nanas), hot soy bean milk, hot milk, dll, dsb. Ada yang tawar, ada yang keasinan, ada yang cocok, ada yang engga. Pokoke coba aja deh =)



Di pagi yang kelabu itu, kami mengunjungi 2 objek wisata Guilin yang terkenal, Elephant Trunk Hill dan Fubo Hill. I like Elephant Trunk Hill better. Jadi itu suatu taman yang luaaaas di pinggir sungai, dimana kita bisa menikmati keindahan bukit di seberang sungai, yang bolong shg berbentuk belalai gajah. FYI, Guilin tuh dikelilingi bukit2 yang mungkin ratusan jumlahnya. Semodel bukit kapur di Tagog Apu. Beragam ukuran, bentuk, dan imaginasi yang menyertainya. Ada yang model jempol, jari jemari, ibu2, sampe ke belalai gajah ini. Keren sih. Lebih keren lagi karena bukit2 beginian bisa jadi objek wisata. How clever is the people who found it.

ONCE UPON A TIME IN CHINA (part ONE)

Masa kecil g diwarnai dengan kehadiran berbagai film silat Mandarin yang tidak terlupakan. Sebut saja Legend of the Condor Heroes (cewe pintar dgn cowo lugu tp jago kungfu), disambung Return of the Condor Heroes (Andy Lau dgn sindrom Bibi-nya, Siao Liong Li), To Liong To (Tony Leung waktu masih muda), dan tentu saja beragam film Jet Lee. Dan yang paling berkesan adalah pentalogi Once Upon a Time in China. Sang master kung fu Wong Fei Hung dgn bibi-nya, Bibi ke-13 (lagi2 bibi, ada apa sih dgn bibi2 di film2 ini??). Jalan ceritanya simple (and cliché) tapi dikemas dgn menarik, gaya rambut Manchu VS jas & rayban Western style, gerakan2 kung fu yg amazing, gaya Jet Lee yang kocak, dibumbui love story, dan tentunya sang hero akan menang di akhir cerita. Namun dgn ke-klise-an yang very entertaining ini, Once Upon a Time bs mencapai 5 seri! Hebat….
Setelah “berpetualang” dgn film2 tersebut, akhirnya 25-29 Juni 2010 kemaren, diriku bisa mengunjungi daratan Cina. The Nanning-Guilin-Yangzhou trip. Ini trip keluarga kami yang pertama setelah hampir 10 thn sjk terakhir pergi bareng (wow, kemana aja g slm ini??)(Jatinangor, RSHS, Borneo...weleh-weleh).

[June 25-29th, 2010 – Nanning, Guilin, Yangzhou Trip]





GOD'S PACE, GOD'S GRACE (part Three)

This story has its FIRST & SECOND parts. 
Click on the link below if u haven't read the first or second part =)

SABTU, 22 MEI 2010

09.00 – 13.30      Taking the boat menyusuri Ketungau river (Senaning – Ng.Bayan)
13.30 – 14.30      On foot dari tmp boat berlabuh s/d desa terdekat, serambi depan NKRI :
                            Desa Nanga Bayan
15.00 – 15.30      Lunch
15.30 – 17.00      Mengikuti International Motorcross Championship from 
                            Ng.Bayan – Sebetung-Paluk
17.00 – 20.00      Bebersih, persiapan lecture
20.00 – 20.30      Dinner
20.30 – 22.30      Interactive lecture : diare & pengenalan kotak Pertolongan Pertama
                Workshop : LGG (larutan gula-garam), Handwashing

Karena kami sudah menghabiskan 2 malam di Senaning, kami hanya akan tinggal maksimal 2 malam di Sebetung-Paluk. Pagi2 benar, dengan semangat ’45, kami bertiga bersiap-siap naik motor boat. Barang2 dibawa seperlunya saja, sisanya dititipkan di Senaning. Hari cerah, langit biru, matahari bersinar terik. Jauh berbeda dengan hari2 sebelumnya yang slalu diwarnai dengan kelabunya langit dan rintik2 hujan setiap pagi sampai menjelang siang. Debit air tidak terlalu tinggi, tetapi masih bisa dilewati boat dengan mulus.
Saat itu ada 10 orang dalam boat. Judas di paling dpn, sbg pengarah boat. Seorang ibu dan anaknya yg pul-kam ke Ng.Bayan. G dan Tabasco di tengah, disusul Anomali dan pemuda dari Sebetung-Paluk. Di belakang boat ada NYB, ibu dr Ng.Bayan, dan supir boat (msh kerabat Pak NYB).
Pelan2 kami menyusuri Sungai Ketungau. Jadi ingat temen2 Serukam dan MMC yang pernah menyusuri sungai menuju Tamong. Mungkin begini juga rasanya. Kiri kanan sungai masih hutan yang lebat. Pepohonan yang rimbun tinggi menaungi sungai di beberapa bagian, tapi sering juga sungai dibiarkan kosong, langsung tertimpa sinar matahari yang semakin menyengat. Menarik ketika mencermati tanah tempak pohon berpijak, ternyata pasir putih, mirip dengan pasir pantai. Warnanya indah tapi sayangnya membuat pepohonan tepat di kiri kanan sungai tak kuat berdiri jika air pasang. Seringkali mereka rubuh ke arah sungai dan menghalangi jalan perahu, seperti yang kami alami 1x.
Syukurlah bapak2 di dalam boat dengan hati2 dan sabar mampu menuntun boat & penumpangnya keluar dengan selamat dari halang rintang pepohonan yang rubuh ;D klo ga, bs benjol deh kena batang pohon =)
Diiringi lagu2 rohani bernuansa Celtic, I enjoyed my time on Ketungau river.
“This is my Father’s world…”

abcs