ONCE UPON A TIME IN CHINA (part ONE)

Masa kecil g diwarnai dengan kehadiran berbagai film silat Mandarin yang tidak terlupakan. Sebut saja Legend of the Condor Heroes (cewe pintar dgn cowo lugu tp jago kungfu), disambung Return of the Condor Heroes (Andy Lau dgn sindrom Bibi-nya, Siao Liong Li), To Liong To (Tony Leung waktu masih muda), dan tentu saja beragam film Jet Lee. Dan yang paling berkesan adalah pentalogi Once Upon a Time in China. Sang master kung fu Wong Fei Hung dgn bibi-nya, Bibi ke-13 (lagi2 bibi, ada apa sih dgn bibi2 di film2 ini??). Jalan ceritanya simple (and cliché) tapi dikemas dgn menarik, gaya rambut Manchu VS jas & rayban Western style, gerakan2 kung fu yg amazing, gaya Jet Lee yang kocak, dibumbui love story, dan tentunya sang hero akan menang di akhir cerita. Namun dgn ke-klise-an yang very entertaining ini, Once Upon a Time bs mencapai 5 seri! Hebat….
Setelah “berpetualang” dgn film2 tersebut, akhirnya 25-29 Juni 2010 kemaren, diriku bisa mengunjungi daratan Cina. The Nanning-Guilin-Yangzhou trip. Ini trip keluarga kami yang pertama setelah hampir 10 thn sjk terakhir pergi bareng (wow, kemana aja g slm ini??)(Jatinangor, RSHS, Borneo...weleh-weleh).

[June 25-29th, 2010 – Nanning, Guilin, Yangzhou Trip]






DAY ONE – JUNE 25TH – JKT-NANNING
Kami berangkat sore hari pake Shenzhen Airlines dari Soekarno-Hatta, Jakarta ke Nanning Wuxu International Airport di Guangxi, China. Perjalanannya makan waktu sekitar 4,5 jam. Perbedaan waktu antara Jabar dan Guangxi cuma 1 jam (Jabar jam 15.00, Guangxi jam 16.00). Ini pertama kalinya g naek pesawat yang lamanya lebih dari 1,5 jam. Enaknya ya dikasi makan =) Tapi mati gaya banget. Mo tidur ga bisa, mo maen ga bisa, mo jalan2 ga bisa (emangnya kereta api??). Gimana klo ke Amrik ya?? Lebih mati gaya lagi… =)
Sebenernya ini trip dari sekolaan nyokap gue. Rombongan kami berjumlah 24 orang, 23 orang guru SMP & afiliasinya (sodara, anak, pasangan) dan 1 tour leader. Rata-rata pergi sendiri. Ada yang berdua dgn sodara dan hanya ada 2 keluarga @4org (tmsk keluarga kami). Mayoritas sih ibu2. Range umur peserta 22 thn-an ampe 70 thn-an. Tour leadernya sethn lbh muda dr gue.
Begitu nyampe malem2 di Nanning, disambut imigrasi China yang mukanya rada2 spooky dan tour guide lokal, Mr. Hong Akian. To our surprise, Mr.Akian spoke Indonesia! Not perfect in grammar but more than sufficient and beyond our expectations ^ ^ Soale selama di China, g akhirnya mengembangkan deafness system karena ga ngarti mereka bilang apa. Pokoke klo ga ngomong English, ya ga g waro…. Jadi kebal gitu sama semua orang yang nawarin dagangan, menyapa, bertanya, pokoke dudul dah…. Syukurnya nyokap g bisa Mandarin hehehe…. Adek g yang udah ngeles Mandarin pun, vocab-nya belum cukup untuk memahami mereka ngomong apa.

DAY TWO – JUNE 26TH – NANNING-GUILIN
Hari itu kami nyampe di hotel tengah malem. Sekedar numpang mandi, tidur, dan breakfast lalu cabut ke next city di pagi berikutnya – the famous Guilin. Dalam perjalanan menuju next city, kami mengunjungi gua alam, Yi Ling Cave yang penuh dgn stalactite dan stalagmite.  Terus terang g kaga nyatet detail ttg cave ini, seberapa panjang (klo ga salah 1 km-an), seberapa tua, dll. Yang g inget, guanya lumayan gede dan di dalam kami dibawa naik turun. Ada kalanya naik tangga tinggi2 lalu turun lagi sampe hampir ke dasar gua. Menariknya, gua itu sudah dibagi menjadi beberapa tema dan dilengkapi sistem pencahayaan yang dinyalakan bergantian sesuai dengan trek kami. Ada cave guide (berwujud cewe pake chang-i) yang mengetahui lokasi steker lampu dan rute perjalanannya. Kami akan berhenti di 1 lokasi lau dia nyalain lampu untuk daerah situ aja dan matiin lampu untuk daerah lainnya. Makanya kami harus stay together dan ga berlambat-lambat, klo ga bisa keburu gelap krn udah dimatiin lampunya.
Tanpa pencahayaan yang tepat (lampu sorot beraneka warna di lokasi yang tepat sesuai skenario mereka), gua itu bakal gelap gulita dan sama sekali ga menarik. Selain butuh kewaspadaan saat berjalan (soale leueur karena banyak air), butuh imaginasi yang tinggi (persis seperti belajar Radiologi haha) untuk turut membayangkan bentuk2 dari stalactite & stalagmite disono menjadi bentuk ibu2, kura2, petani, padi, babi, dll, dsb. Salut g ama orang2 yang telah lebih dulu meng-explore gua tersebut dan menentukan lokasi yang tepat untuk lampu sorot untuk mendukung imaginasi mereka =)
Menjelang keluar, ada suatu spot yang cukup lebar, diterangi berbagai lampu yang menarik (bahkan mirip underwater scene) yang dijadikan spot untuk foto. Foto gratis, katanya. Jadilah kami satu-satu difoto di spot tersebut. Well, my family sih berdua-dua, bonyok dan g&Budz. Di luar gua, kami mengantri untuk mendapatkan hasil foto kami yang gretongan itu – yang ternyata sebesaaar – perangko. Dudul! Inilah blackmail terselubung! Mana ada yang mau foto sebesar perangko ituh?? Diliat pake lup juga cuma bisa bedain orang sama gua. 1 foto = 20 yuan (20 RMB = 1300 IDR lah). Klo dilaminating, bayar lagi. Syukurlah tadi keluarga kami fotonya berdua-dua, jadi cuma bayar 2 foto (tau gitu foto sekeluarga sekalian). Harganya sih kaga mahal2 amat, cuma gondog aja di-blackmail terselubung seperti demikian. Ibuku yang bijak bersabda, “Udah, itung2 bagi2 rezeki sama mereka….”  

Dari Yi Ling Cave, kami berlanjut ke objek wisata berikutnya. DR.TEA, tempat jualan teh dan produk2 dari teh. Disini kami menjumpai sistem pariwisata lain. Pertama, wajib mengunjungi tempat yang ditunjuk oleh pemerintah. Klo mangkir, local guide didenda sekian ratus yuan per orang. Kedua, tamu2 yang datang akan dikumpulkan di dalam suatu ruangan untuk mendengarkan penjelasan dan melihat demonstrasi dari pihak penjual (g jadi inget Innovation Store dan berbagai iklan mirip demikian di TV). Setelah itu ditawarin barang2nya dan bisa bargaining harga. Di DR.TEA sih kami disuru nyicip teh sambil dijelasin ttg kegunaannya. Misalnya ada teh yang bisa melancarkan BAB (tapi juga bisa mengobati enteritis – nah, bingung ga loe?? – anti konstipasi tapi bisa anti diare??). Trus biasalah ada slimming tea (iye, kalo loe mknnya habek mah ga bakal kurus walo udah minum teh 30 packs), Osmanthus tea (Oolong tea plus Osmanthus flower), dan Osmanthus cake (macem koya kacang gitu lah). Kegaringan lainnya adalah Pu Er Tea, teh multikhasiat yang konon bisa awet disimpen puluhan tahun dan akan diberi sertifikat yang menyatakan dia udah berapa puluh tahun. Makin lama makin berkhasiat? Ga juga ah, mereka ga blg demikian. Dudulnya, rombongan kami ada yang beli dan ga dapet sertifikat tuh! Dan malem itu di Guilin, di pasar malemnya, kami lihat setumpuk Pu Er Tea seharga 10-20 yuan, Osmanthus Tea, dan teh2 lainnya yang ditawarkan di DR.TEA dengan harga jauh lebih miringgg….



Sebenernya di sepanjang hari2 tour kami, berulang kali di berbagai tempat kami menjumpai semua barang yang ditawarkan di DR.TEA dengan harga yang variatif tp cenderung lbh miring. Alhasil orang2 yang beli di DR.TEA jadi bulan2an spj perjalanan hehehe…. Jahilnya….
Kami tiba di Guilin setelah menempuh 4,5 jam via jalan darat. Dari kota ke kota dihubungkan jalan tol yang terpelihara dgn baik (walau harganya selangit, dihitung yuan/per km bo). Menginap di Sunshine Hotel, hotel yg relatif baru dengan arsitektur China kuno yang menarik. Lucunya, tepat di depan hotel, ada hotel lama bernama Sunlight Hotel dan di jalan masuk  menuju hotel ada toko retail oleh2 bernama SunCome. I can’t help wondering whether they come from the same owner. Soale klo bukan dari pemilik yang sama, berarti pemilik Sunshine punya dendam kesumat kale sama Sunlight ampe ngediriin hotel tepat di depannya dengan nama yang relatif sama =) G konfirmasi dgn tour leader, she has no idea about that =)

Sperti yg td uda g mention, kami pergi ke pasar malam Guilin, tepat di belakang hotel, di sepanjang jalan yang mungkin mencapai 2 km panjangnya. Berderet-deret berdiri kios pedagang kaki lima, yang termasuk teratur dibanding di Indon. Klo pagi ampe siang, itu jadi jalan umum, Sore dan malam ditutup untuk dijadikan tempat berjualan. You can get almost anything there, from food, merchandise, massage, until women. 3 guru pria kami kebagian ditawarin item yang terakhir waktu mereka jalan2 di pasar malem. Hmm…konsekuensi dari pariwisata. Me and my fam sempet ke taman di tepi sungai. Foto2 dgn latar belakang pagoda emas dan perak. Keren! =) Tamannya juga bagus dan terawat, sidewalknya lebar dan enak buat jalan2.         


[[ to be continued ]]
0 Responses

Post a Comment

What do you think? ^^

abcs