To read the FIRST PART of the story, click the following link :
DAY THREE – JUNE 27TH – GUILIN-YANGZHUO
Setiap hari, kami hanya menginap 1 malam saja dan pagi2nya harus check-out untuk melanjutkan perjalanan. Breakfast di hotel lumayan bervariasi. Ada bubur (polos, pitan, telur), udon (kwetiauw kuah dgn beragam asinan), kue2 & roti (mocinya mirip cireng, tapi enak), dumplings (kue tie sayur, daging), nasi goreng (biasanya enak – sesuai selera Indon), kwetiaw goreng, fresh pakcoy/kailan, sosis goreng (I assume it’s pork), juice (orange/apel/nanas), hot soy bean milk, hot milk, dll, dsb. Ada yang tawar, ada yang keasinan, ada yang cocok, ada yang engga. Pokoke coba aja deh =)
Di pagi yang kelabu itu, kami mengunjungi 2 objek wisata Guilin yang terkenal, Elephant Trunk Hill dan Fubo Hill. I like Elephant Trunk Hill better. Jadi itu suatu taman yang luaaaas di pinggir sungai, dimana kita bisa menikmati keindahan bukit di seberang sungai, yang bolong shg berbentuk belalai gajah. FYI, Guilin tuh dikelilingi bukit2 yang mungkin ratusan jumlahnya. Semodel bukit kapur di Tagog Apu. Beragam ukuran, bentuk, dan imaginasi yang menyertainya. Ada yang model jempol, jari jemari, ibu2, sampe ke belalai gajah ini. Keren sih. Lebih keren lagi karena bukit2 beginian bisa jadi objek wisata. How clever is the people who found it.
Selain itu, orang2 juga ditawari foto bersama burung2 item penangkap ikan milik para nelayan. Jadi loe bayar, berdiri di rakit, pake caping, sambil memanggul tongkat panjang yg diatasnya meclok burung di kiri dan kanan. Katanya burung2 itu diiket lehernya, sehingga ketika mereka nyaplok ikan, mereka ga bisa nelen buruan mereka itu dan kudu “disetor” sama nelayan. Burung2 yang malang. Tapi emang customnya gitu dan burung2 itu nampak fine2 aja, lindeuk & ga protes hehe….
Salah satu pedagang di area itu jualan lo han kuo, sejenis buah warna coklat yang suka dibikin minuman. Konon berkhasiat menghilangkan panas perut. G juga minum lo han kuo dari kecil (thx to my mom) dan di dalam kemasannya suka ada foto2 Guilin, one of them is Elephant Trunk Hill! =) jadi g mrs seneng krn bs ngunjungin apa yg biasanya cm g liat di lo han kuo hehehe….
Sementara Fubo Hill dinamai demikian mengikuti nama seorang jenderal (Fubo s’thing). Jenderal itu berjasa melawan Vietnam yang berusaha untuk menginvasi Nanning, Guilin, dan sekitarnya (lihat peta : Vietnam berada di bawah RRC, dkt Nanning). Dia menantang jenderal Vietnam untuk memotong batu pake pedang. Nah, saking saktinya (entah jenderalnya, entah pedangnya yang sakti) batu berdiameter more & less 20 cm itu terpotong. Jadilah kami ramai2 berfoto di lokasi yang dipercayai sbg batu yang terpotong itu. Lucunya, sebagian anggota rombongan malah berfoto di batu lain, di belakang batu yang bersejarah itu! Mereka pikir, batu pendek itulah batu yang terkenal. Dasar….Kemudian kami berlanjut ke objek wisata “wajib” hari itu : toko obat Tong Ren Tang, toko obat yang konon sudah ada sejak zaman kekaisaran dulu. Lagi2 kami dikumpulkan di dalam sebuah ruangan. Masing2 orang duduk di bangku yang sudah dialasi dengan handuk. Lalu disodori ember kayu berisi ramuan entah apa untuk merendam kaki. Sambil merendam kaki, kami mendengarkan penjelasan (klo tidak dibilang ‘promosi’) dari cewe yang bisa bhs Indon patah2 (bpnya org Semarang). Setelah mendengarkan penjelasan, dia memasukkan 5 orang yang dia panggil profesor untuk memeriksa beberapa orang dari rombongan kami. Terus orang2 itu akan menuliskan resep dan mulai bargaining spy kami beli obat dari situ (yg harganya mahal tentunya!). Males deh pokonya.
I’m not against traditional medicine. I think that Western medicine is not everything, TCM (Traditional Chinese Medicine) pun pasti mengandung khasiat juga. Lha wong tnp Western med aja orang2 dulu bs sembuh juga. Hanya saja g masih bingung untuk menggabungkan mereka krn konsep dasar TCM berbeda 1800 dengan Western. Dan mnr g, klo trad.med harganya selangit tapi penelitian scr multicenter, skala besar, & randomized-nya blm jelas, buat apa ambil resiko? Mending pk obat yang udah melalui prosedur penelitian & sejauh ini terbukti. Kesulitan lain menjadi dokter adl kami ga bs sembarang merekomendasikan. G sendiri pk obat trad, tp g ga punya bukti ilmiah ttg obat2 yg g pk, so g ga kan merekomendasikannya untuk org lain. Salah satu perbedaan dokter dgn dukun/tabib/praktisi lainnya seharusnya adalah EBM (evidence-based medicine). Klo ga, gmn mempertanggungjawabkannya??
Tapi ada hal lain yg penting yg g pelajari. A true physician tidak akan membuat diagnosis berdasarkan obat/tindakan tertentu yang ingin dia jual/promosikan. A true physician akan memeriksa, menyimpulkan, dan merekomendasikan scr objektif, tnp dipengaruhi oleh iming2 keuntungan pribadi saat melakukannya. To be one true physician like that in this era, I think not easy.
Yang kedua adalah menyaksikan pertunjukan (spektakuler) Liu San Jie di malam hari. 30 mnt sblm pertunjukan, kami sudah mengantri di gerbang masuk. Dari gerbang masuk, kami harus berjalan kaki bsm serombongan besar turis (domestik maupun mancanegara) kurang lebih 15 menit untuk mencapai tempat pertunjukan. Tempat pertunjukannya arena terbuka, tepat di tepi sungai Li. Seatsnya bertingkat kyk mo nonton bola, terbagi 3 : sayap tengah-kiri-kanan. Di paling atas ada deretan VVIP (dgn atap di atas kepala. Panggungnya adalah sungai, dengan bukit2 sebagai latar belakang. Itu adalah the biggest world’s outdoor musical performance.
Pertunjukan itu mengisahkan ttg kehidupan macam2 suku di daerah itu : Zhuang, Miao, Yao, dan Thung. Liu San Jie sendiri adl penyanyi terkenal pada zamannya dari suku Zhuang. Tapi ceritanya ga melulu ttg dia. Ada kisah ttg kehidupan nelayan di mlm hari, kehidupan desa (berdagang, ngangon kebo, cuci baju di sungai), ttg cewek2 dari Long Chi yg rambutnya panjang2 (ktnya yg terpanjang bs smp 2,5 m!), ada nyanyi2 bersahut-sahutan antara cewek & cowok waktu Imlek, dll, dsb.
Ini tuh idenya Zhang Yimou, sutradara tenar yg pernah bikin Crouching Tiger, Hidden Dragon dan sejumlah film2 Mandarin laen. Figurannya banyak bgt, sekitar 500 orang. Mereka menyanyi, menari, beraksi dia atas rakit disertai permainan cahaya warna-warni yang very2 impressive! Wah, susah nyeritainnya. Kudu ditonton sendiri. Meski diguyur hujan slm ½ pertunjukan ke belakang, I still think the show was spectacular! =) Klo mo ambil foto, make sure you bring your tele along. Pake kamera biasa sih ga mempan. Tapi ini ada foto2 yg Budz coba ambil wkt pertunjukan.

For further info & beautiful pics, take a look at - http://www.chinatourguide.com dan http://www.travelchinaguide.com
DAY FOUR – JUNE 28TH – YANGSHUO-NANNING
Inget ga ke suatu masa saat Indosiar baru aja berdiri? Waktu itu dengan rajinnya, mereka memasang berbagai serial Mandarin mulai dari The Legend of Condor Heroes dan turunannya à ampe ke film2 seri yang mengharu biru (klo ga mo dibilang cengeng) semodel…g lupa judulnya…pokoke ada yg kudu lewat 7 pintu gerbang sambil dipukulin, yg suaminya terbakar mukanya lalu pake topeng, dll à balik lagi ke zaman keemasan Putri Huanzhu (Vicky Zhao). Hari-hari itu tiap sore keluarga g mantengin TV slm sejam untuk mengikuti serial2 tersebut.
Rata-rata sih mereka cerita ttg orang Han (mayoritas suku bangsa di China), tapi ada juga yang cerita ttg suku2 minoritas. Paling sering sih Miao. Yang berkesan buat g sih pakaian2 tradisional dari suku2 minoritas tsb yang artistik dan laen drpd yg laen. Ternyata dari nonton film bisa belajar ttg budaya jd (sedikit-byk).
Nah, di hari keempat (alias hari terakhir tour) kami mengunjungi sebuah rumah peristirahatan di tepi danau, Shangri-la Yangshuo. Kyknya sih ada lagi Shangri-la lain di Yunnan - China, tp ini yang di Yangshuo. Mnr Mr. Akian, dulu ada jenderal (ato pejabat, g lupa) yang membangun rumah peristirahatan disini. Lalu sekarang dijadiin objek wisata untuk memperkenalkan kehidupan suku2 di daerah situ. Jadi kayak TMII (Taman Mini) tapi “boneka”-nya asli alias ada orang2nya disitu.
Mulanya kami naik boat menyusuri danau yang ktnya klo diliat dari atas berbentuk seperti walet. Klo ga hujan, air danau itu jernih. Yang kemaren sih ijo muda krn abis hujan berhari-hari. Pemandangan di kiri kanan memang bagus. Lalu ada rumah di tepi danau berisi orang2 dari suku tertentu. Mereka menyanyikan sepotong lagu trad wkt kami lewat. Ada juga episode melewati gua alam (kali ini gelap gulita untuk sementara). Kemudian kami melewati beberapa perkampungan lagi, salah satunya konon penduduk asli disitu. “Yen cu ming” alias suku asli yang tak bernama (aneh ya ga da namanya??). Mereka berkostum kulit lalu menari-nari primitif waktu kami lewat (kok g jadi inget org Dayak??).
Setelah menyusuri danau, kami masuk ke rumah peristirahatannya. Di dalemnya penuh sampel orang2 dari berbagai suku di daerah itu, maen alat musik tradisional, mengerjakan tenunan, sulam, perhiasan, tanduk, dll, dsb. Selain melihat proses pembuatannya, bisa sekalian beli cinderamata juga. Harganya lumayan sih, mgkn krn handmade & artistik kali ya. Pokoke foto2 teruslah di sepanjang jalan karena banyak yang bisa diliat.Puas menyambangi Shangri-la, kami pergi ke objek wisata “wajib” terakhir (sekaligus objek wisata terakhir dr rangkaian tur 5 hr kami) – tukang piso. Orang2 kyknya uda males, tp krn wajib yaah didengerin juga. Lagi2 kami dimasukkan ke 1 ruangan, lalu melihat demonstrasi pisau yang bahan bakunya sama dgn pisau untuk tentara. Persis di Innovation Store deh situasinya. Bisa motong ini itu, ngegores besi, tahan ga diasah ampe 2 thn, tapi yang bikin g begidik waktu dia mencincang kertas dgn mudahnya. Weleh-weleh, jgn2 ntar jari gue yang ke laut klo masak pk piso beginian….
Kmdn stl peragaan, spt biasa, periode jualan & bargaining. Yang menarik adl sejak di DR.TEA, kami tahu bahwa SEMUA bisa ditawar. Dan bukan cuma turun sedikit, tapi klo items-nya cukup byk dan jago nawar, bisa TURUN BYK. For example : 260 bs turun sampe 160 u/ minimal 5 set. Gile kan?? Masa bs turun 100 yuan? Dan mereka pasti masih untung! Jadi brp harga dasarnya?? Nah, slm proses bargaining yang alot itu berlangsung, g, Budz, dan nyokap malah foto2 di dpn gbr ikan di luar toko. Hihihihi….After lunch, kami meneruskan perjalanan darat kembali ke Nanning krn bsk kami akan kembali ke Jkt via Nanning. Seperti sudah diprogram, semua penumpang lsg tertidur pulas slm 2jam-an lah begitu naik bis. Mo gmn ga gemuk, kt salah seorang guru, udah makan lsg bobo =) Dan seperti waktu perginya, kami kembali mampir di suatu bangunan besar bernama “WC”. Yups, bangunan besar yang diperuntukkan sebagai WC umum t.u untuk para pengguna jalan raya (yg mungkin udah kebelt sjk sejam yg lalu). Dibagi 2 : cewe dan cowo. Dalemnya…hualah…ga usah ditanya. Selalu ada bau pesing menetap dikombinasikan dgn bau bakaran ttt (btk obat nyamuk bakar gitu) yg mgkn mksdny u/ mengusir bau. Klosetnya sangat minimalis, sangat membumi, wajib bawa tissue u/ para wanita. Abis buang, silakan injak pedal dkt kloset u/ flushing.
Suatu kali sempat juga mampir di WC lain dkt pom bensin. Lbh amazing lagi. Klosetnya hanya berbentuk saluran stainless memanjang dari ujung ke ujung, diberi sekat (mungkin 5 kamar), TANPA pintu sama sekali (itu teh WC cewek). Semua penumpang wanita di bus kami lsg complain. Karena selain tanpa pintu, kami bisa menyaksikan aliran air dari ujung kamar yang satu ke kamar lainnya. As it for me, ya udah, urinated aja. Klo ga BAK malah lebih repot nahannya ^ ^’
Bagusnya, walo bangunan bernama WC itu sendiri bikin il-fil, di halaman luar tersedia berbagai alat OR. Ada untuk ngelemesin kaki (kayak air walking gitu), ada untuk pinggul (goyang kiri-kanan), ada untuk tgn, pokoke macem2 deh. Dan…tentu saja ada minimarket. Mungkin Mr. Akian udah ga kaget lg melihat perilaku orang Indon yang doyaaaaaaaaan bgt belanja dimanapun & kapanpun & ga kenyang2 lg blnjnya.
Mlmnya kami tiba di Nanning dan menyantap our last dinner in China. Seperti biasa, makan tengah alias cia ciu. Klo di Bandung sih cia ciu tuh mewah bgt. Tapi klo di China emang gitu kok cara makannya. Cia ciu BID (2x sehari). Menu yang pernah disantap a.l. sup (sup ayam, tomat, labu, bayam plus kerang – itu yg plg aneh), telur dadar (menu wajib, bisa BID makan telur! Biasanya digoreng, tp pernah jg saus asam), ayam (wijen, goreng), babi (biasanya samchan masak cabe merah-ijo gede2), bebek (tnyt berminyak jg), ikan (khas Yangshuo : ikan masak arak – enak!), sapi, kacang panjang, pakcoy/kailan. Pernah juga muncul bawang cah, lumpia, kentang goreng, kacang tanah goreng, pokoke suka aneh2. Rata2 sesuai lidah kami, tapi ada juga yang bener2 ga cocok. Minuman wajibnya : soda (Sprite/Coke/Pepsi), bir (rombongan kami ga minum ini), dan teh hijau panas.
Habis makan, kami kembali menginap di Universal International Hotel (aneh ya, udah ‘universal’, msh juga ditambah ‘international’, tapi staf didlmnya kaga kdgrn English speaking tuh…). Sebagian tukang belanja lsg cepet2 cabut pk taxi ke Wan Ta, pusat perbelanjaan daerah itu. Walo udah terancam tutup, mereka tetep nekat nyoba. Klo keluarga kami sih jalan2 ke semodel hypermart di belakang hotel, cari yg deket aja. Di Nanning ga da pasar malem kyk di Yangshuo dan Guilin.
DAY FIVE – JUNE 29TH – NANNING-JKT
Nanning adalah sebuah kota yang berkembang dengan cepat. Dalam 5 tahun, sdh banyak sekali gedung2 pecakar langit yang didirikan. Rata-rata penduduk tinggal di rumah susun (nama keren : apartemen). Jalanannya lebar2 dan bersih. Ada jalanan khusus sepeda & sepeda motor. Rata2 penduduk menggunakan sedan/SUV, bila tidak menggunakan sepeda, sepeda listrik, & sepeda motor. Di kiri kanan jalan banyak sekali tanaman. Enak diliat. Makanya kota itu berani mengklaim diri ‘green city’. Ga kayak Bandung, “the flower city”-nya cuma pas mo KAA doang =) udah gitu bunga2 dan tanaman2nya raib entah kemana.
Tapi ada juga macet sepulang kerja, tabrakan kendaraan bermotor, orang2 yang nyebrang tidak pada tempatnya, dan 3x bus kami (yg jalannya udah kayak siput – krn ada speed limitation) dipotong sama motor yang seenaknya melintas. No city is perfect-lah. But overall, it’s a nice city ^ ^ Juga bersyukur krn uda bs scenic tour (yang bnr2 ngeliat pemandangan terus2an slm 5 hr).
Bandaranya sih ga terlalu besar. Waiting roomnya aja cuma se-uwek. Makanya walo kami udah dateng 3 jm sblm boarding time, kami baru bisa check-in 1,5 jam sblm boarding (imigrasinya baru buka). Tapi tempatnya bersih dan teratur, mirip terminal 3 (terminal 3 lebih besar dibanding Nanning-Wuxu).
Perjalanan kami ke Jkt dgn Shenzhen Airlines berlangsung lancar. Bisa tidur nyenyak, ntn film yg ada teks Inggris-nya (how I miss that so much!!), makan kenyang (walo rasanya aga aneh), yg kurang cuma minum – soale botol minum kami pada dibuangin di bandara Nanning. Waktu nunggu luggage di Soekarno-Hatta, ada beberapa turis China. Rupanya mereka dijemput o/ supir Indon bermodalkan secarik kertas bertuliskan nama mereka dlm huruf Latin. Gagap budaya dan bahasa terjadi lagi. Si supir pk Indon, si turis pk Chinese, alhasil saling ngerti dgn bhs Tarzan (rupanya bahasa itu yg sbnrnya bhs internasional haha). G tersenyum miris, inget beberapa jam yang lalu, g yang berada di posisi itu, dgn gagap budaya & gagap bahasanya.
Dr Jkt lanjut ke bdg pk bus sewaan. Mimpinya sih jam 8 or 9 malem udah nyampe rumah. Tapi mimpi tinggal mimpi. Jakarta macet TOTAL di hari Selasa!! Alhasil, stl berhenti 1 jm u/mkn di Pacific Place, kami baru nyampe rumah 01.30 hari berikutnya. Mateng deeeh…. Tapi teuteup bersyukur karena bisa tiba dengan selamat dan ga kurang suatu apapun ^ ^
Hmm…walaupun dilahirkan sebagai keturunan China, orang Han - separo Khe - separo Hokkian, g menyadari bhw sesungguhnya g ini tetep org Indon. Lahir di Indon, besar di Indon, ngertinya bhs & budaya Indon. Walo dgn segudang mslh diskriminasi, g tetep org Indon. I belong here & I’m grateful for that. Yeah, klo ada umur & kesempatan, boleh juga tuh pergi melancong lagi ke China ^ ^ Masih banyak yg belum dilihat ;D hehe….
Over & out!












Post a Comment
What do you think? ^^