AUGUST 2010 - Titik Nol

Semuanya berawal dari pengumuman penerimaan PPDS.

G mengikuti ujian saringan masuk hari pertama dengan semangat. Bertekad untuk menaklukkan soal2 TOEFL, mengerjakan sebisa mungkin TPA (soale udah seabad rasanya sejak ngerjain soal2 Math SD-SMP-SMA), berharap they-think-I’m-sane-enough di MMPI (catet : I AM sane haha)(lbh tepatnya, I AM Chris, not Sane, who is Sane anyway?).
Ujian hari kedua lebih menegangkan. Soal2 khusus jurusan yang diminati. Hanya 60 soal, means kudu bener banyak2, salahnya seminimal mungkin. Soalnya sih standard, jawabannya itu yang membingungkan haha.
Yang paling parah ketegangannya adl 1 mg kemudian : interview. G jadi inget ujian lisan g masa ko-ass dulu. 1x di Syaraf, 2x di Interne. And I concluded that I didn’t like verbal tests.
The interview lasted for half an hour or so. They didn’t torture me, don’t worry & I didn’t want to go through the details again. What I knew was when I got out from the room, I got a bad feeling. I felt like they would reject me. I couldn’t explain why. I just felt that way. What? Sounded lack of faith? U can name it all u want. I just felt that way.

Then I went for mission trip to North Lampung. 2 days before we left Lampung, my friend helped me to see the internet & the result was : not accepted. I prayed to God that He would show me His will, what’s best for me. And then I prayed, “God, pls, accept me!” And got back to the surrender-my-all prayer again (sounds “bipolar”??) But the result was : not accepted.

In the movie or storybook, klo ada shocking news ato unexpected things happened, they used to use, “…and when he heard the news, it felt as if his world collapsed…” (Inception banget seeh…)
Gak sih, gak sampe segitunya. Dunia g masih tetap utuh (buktinya kalian semua masih alive & well & Armageddon msh tetep blm tjd hehe). Kecewa? Iya. Sedih? Well, ada juga. Merasa diperlakukan tidak adil? Ada juga.
Tapi yg lebih mengganggu adl : 1) Am I incompetence? 2) What does this failure mean? “Not now? Not Unpad? Or not Interne?” 3) What’s next?

I don’t really know their reasons for not accepting me. It was said that I failed my interview. Ada juga yg memperhitungkan faktor X didalamnya. Tapi buat g, karena g pernah meminta Tuhan menunjukkan kehendak-Nya dan apa yg terbaik buat g menurut Dia, it simply means (not that simple sebenernya) that tidak diterima saat ini adl yg terbaik mnr Dia

And the next confusing question adalah : what’s next?
Lagi2 g diperhadapkan pada intersection. Persimpangan jalan.

P

Titik nol.
What’s so special about that?

Yang pertama : Titik nol derajat adalah titik dimana benda cair berubah wujud menjadi padat. Akibatnya bisa kita nikmati seharga 2000 perak (ES teh manis),  4000 perak (ES nescafe di kantin Serukam), 8000 perak (ES campur sepesial)(saking specialnya sampe ditulis ‘sepe-sial’), dan 15000 perak (banana split with ICE cream).

Yang kedua : Garis lintang nol derajat alias garis khatulistiwa. Sebenarnya, garis khatulistiwa atau garis ekuator cuma rekaan manusia. Tapi teuteup aja dianggep spesial sampe2 di Siantan – sekitar 3 kilo dari Pontianak ke arah Sungai Pinyuh – dibangun Tugu Khatulistiwa alias Equator Monument.

Berikut kutipan dari Kompas :
“Bagaimana garis nol derajat itu bisa ditemukan di Kota Pontianak? Berdasarkan catatan tahun 1941, disebutkan bahwa pada 31 Maret 1928 satu ekspedisi internasional yang dipimpin seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda tiba di Pontianak. Tujuannya adalah untuk menentukan titik/ tonggak garis ekuator.

Pada tahun 1928 tugu pertama yang mereka bangun baru berbentuk tonggak tanda panah. Tonggak itu kemudian disempurnakan tahun 1930. Selain di atasnya ada tanda panah, juga ada lingkaran. Setelah itu, arsitek Silaban pada tahun 1938 melakukan penyempurnaan dan membangun tugu yang baru.

Tugu inilah yang kemudian bentuknya sangat terkenal di dunia. Bangunan itu terdiri dari empat buah tonggak atau tiang dari kayu belian atau kayu ulin (kayu langka khas Kalimantan). Masing-masing tonggak berdiameter 0,30 meter. Dua tonggak bagian depan tingginya 3,05 meter dari permukaan tanah, sedangkan dua tonggak bagian belakang, tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah, tingginya 4,40 meter.

Adapun diameter lingkaran yang bertuliskan "EUENAAR" 2,11 meter. Panjang panah yang menunjuk arah lingkaran ekuator adalah 2,15 meter. Di bawah panah terdapat tulisan "109 derajat 20’0"OlvG" yang menunjukkan letak tugu itu berdiri pada garis bujur timur. Setiap terjadi titik kulminasi, bayangan tugu dan benda-benda lain di sekitarnya menghilang beberapa saat. Ini menandakan bahwa tugu ini benar-benar berada di garis lintang nol derajat.

Pada tahun 1990 kawasan tugu itu direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu yang asli. Di atas kubah dibuat duplikat tugu dengan ukuran lima kali lebih besar dibandingkan dengan tugu yang aslinya. Peresmian bangunan ini dilakukan 21 September 1991.

Peristiwa yang paling menakjubkan di sekitar Tugu Khatulistiwa adalah saat terjadi kulminasi, yakni matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itu bayangan tugu "menghilang" beberapa detik, meskipun diterpa sinar Matahari. Kita yang berdiri di sekitar tugu juga akan hilang bayangannya selama beberapa saat. Titik kulminasi matahari itu terjadi 2x setahun, yakni antara tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September.”

Seperti yang sudah pernah g singgung di travel journal “Ketungau Hulu Trip”, kami (g, Budz, dan sang astronom) sempat mampir di Tugu Khatulistiwa di akhir petualangan kami ke Kalbar. Saking niatnya, sampe2 pake angkot lalu bus AG (Angin Glebug) dari kota Ponti ke area tugu. Dulu kami cuma lihat fotonya di buku sejarah. Tapi akhirnya bisa liat juga aslinya (mereka yang pertama, g udah yang ketiga kayaknya). Asli kadang2 lebih baik dari foto. Soale hal sebaliknya berlaku sama istana kesultanan Pontianak. Karena kurang terurus, lebih baik menikmati fotonya daripada lihat tempat aslinya ^ ^’’’

P

Another intersection after a major failure.

How I miss those old times when I didn’t have to ask what road to choose, what step I should take. Waktu2 dimana semuanya sudah ada jalurnya. TK ke SD ke SMP ke SMA. Lalu a big intersection di pemilihan jurusan. Kemudian highway again for 6 years. S.Ked lalu co-ass. Dan…intersection lagi.
A bigger one. Mau apa setelah diluluskan dari sekolah kedokteran?
Kemudian pertanyaan yang membingungkan itupun dijawab Tuhan melalui MMC and finally PTT at Serukam. 1 th 8 bln yang jelas (walau diiringi berbagai pertanyaan mengenai masa depan).

G punya pilihan, tetap di Bandung dan cari kerja sambil menunggu pendaftaran selanjutnya. Atau bekerja di Bandung dan tidak mencoba lagi. Atau bekerja di luar Bandung dan menunggu pendaftaran selanjutnya. Atau di luar Bandung dan tidak mencoba lagi. Aduh, seperti pelajaran kombinasi dan peluang Matematika waktu di sekolaan dulu. Begitu banyak options….

Di sisi lain, g “dipaksa” untuk mereview ulang segala sesuatunya, termasuk motivasi untuk PPDS. What are my real motivations? Apa yang ada di balik semua kalimat2 yang g tulis di lembar pendaftaran PPDS? G juga mereview ulang keputusan2 yang sudah g ambil untuk menentukan langkah2 ke depan.
Tiba2 saja ada banyak hal yang harus dipikirkan lagi….

P

Yang ketiga : titik nol adalah awal dari segala sesuatu – well, maybe that all, but almost everything.
Umur dimulai dari nol. Penggaris dimulai dari nol. Stopwatch dimulai dari nol. Dan sebelum pengisian bensin, kita disuruh memastikan bahwa meterannya dimulai dari nol.
Banyak makna terkandung di balik titik nol.

Sekarang waktunya untuk merencanakan ulang, berpikir, berdoa, bertanya, menunggu….
Salah satu yang paling berat adalah menunggu….
Sometimes I think that we people are not naturally created to wait haha… That’s why one of the fruit of the Spirits is patience =)

How do I do this waiting stuff? My heart asks me a difficult question. Salah satu tulisan Elisabeth Elliot mengenai Mazmur 37 terasa sangat menolong.

True waiting on God is not “doing nothing”
Trust in the Lord and do good.
Dwell in the land (make your home, settle down, be at peace where God puts you).
Delight in the Lord (make the Lord your only joy) and He will give u what your heart desires (yang pastinya kudu sesuai sama His desires).
Commit your life to the Lord.
Trust in  Him and He will act.
Be quiet before the Lord.
Wait patiently for Him, not worrying about others
(almost impossible, unless at the same time we are also learning to find joy in the Lord, commit everything to Him, trust Him, and be quiet).

Waiting is an offering & a sacrifice.
A true faith is waiting with NO agenda of one’s own, NO deadlines, and NO demands on what God must do. Simply an OPEN heart and OPEN hands. Ready to receive what He chooses, and have confidence that what He chooses will be better than our best.
What a difficult task.
All I know, for now, I return to where I started my journey. The jungle.
O help me God to have that kind of FAITH and SURRENDER completely to You. 
0 Responses

Post a Comment

What do you think? ^^

abcs