ALONE INTO THE LONE
Lesson about Loneliness from Elisabeth Elliot
---Loneliness : It can be wilderness. It can be a pathway to God---
The day I found the book was not that dramatic.
I finally managed to arrive at Serukam safely after spending one night at Pontianak.
G ditempatin di motel, kamar no. 6 (by request dong – supaya ada kamar mandi dalem). Dan ternyata bukan cuma ada kamar mandi dalem, tapi ada terasnya juga. Begitu datang, g langsung “disambut” Mario, one of my fave twins, junior g sejak SMP. Dia lagi maen ke Serukam setelah menyelesaikan PTT Pusat-nya yang aneh bin ajaib di Sekadau.
Hari itu juga g “shopping” di motel library. Semua buku di rak2 itu g liatin satu demi satu, dan akhirnya g bisa mendapatkan beberapa nice books ;D And one of them is “Loneliness” by Elisabeth Elliot.
Ini perjumpaan ketiga dengan karya2 Elisabeth Elliot, setelah Shadow of the Lord Almighty dan ?? of Love. Buku biru berdebu itu agak outstriking buat g karena pada saat itu g emang lagi dalam posisi “alone” di motel (well, ada Mario sih). Posisi “alone” itu menolong g untuk lebih menyelami ttg kesendirian dan kesepian (haha).
Loneliness atau kesepian bisa berupa suatu fakta dimana kita adalah satu-satunya Homo sapiens di suatu tempat. Seperti yang terjadi pada Mr. Adam di awal dunia, dimana dia adalah satu-satunya spesies manusia sebelum Tuhan menambahkan spesiesnya. Tapi ada juga loneliness yang berupa state of mind. Kita bukan satu2nya Homo sapiens di suatu tempat, bahkan mungkin berada di tengah keramaian orang. But deep down inside, we feel all alone, as if the only living creature on earth & nobody recognizes our existence. Selain itu loneliness juga dapat diberi nama lain : “empty nest” (remember ‘emptiness’??), rejection, bereavement.
“It is not good for the man to be alone. I will make a helper suitable for him.”
Dan Tuhan menciptakan manusia lain supaya manusia pertama tidak seorang diri saja. Suatu ide yang bagus ;D Terlepas dari fakta bahwa ayat itu menceritakan ttg penciptaan wanita, for me that verse also means that we are social creatures. Tidak dimaksudkan untuk jadi Robinson Crusoe atau MacGyver atau Superman, tapi untuk jadi The A-Team, SWAT, atau Fantastic Four.
Loneliness adalah suatu misteri because each stage of life may bring loneliness of one kind or another. Human life cycle of birth, puberty, adolescence, marriage, and death show that each crisis is death to the old life and the gateway to a new one.
Menurut Mrs. Elliot, loneliness isn’t primarily a problem to be solved or a pain to be assuaged, but – paradoxically – as a gift. Justru in the wilderness of loneliness God wants to give us Himself. Ketika gift itu diterima dengan iman dalam kerangka tujuan2 Allah yang penuh kasih dan kekal, gift of loneliness becomes the very pathway to holiness and – beyond our wildest imaginings – to joy.
How on earth we can have joy in our loneliness?
Awal buku ini masih mudah dicerna, karena masih membahas hal2 yang umum. Tapi mendekati tengah buku, mulailah ada beberapa pemikiran yang quite new (for me). Untuk mencernanya diperlukan konsentrasi dan membaca lebih dari 1x.
Apakah Anda ingat kisah seorang janda di Sarfat? Suatu cerita yang pasti sudah pernah diceritakan di sekolah minggu. Waktu itu bencana kelaparan sedang melanda Israel. Seorang janda yang memiliki seorang anak laki-laki hanya punya sedikit tepung dan sedikit minyak untuk membuat roti untuk terakhir kalinya. Namun Elia menyuruh janda itu untuk membuat roti bagi sang nabi dulu.
“Bake me a cake first”
Karena itu adalah firman Tuhan, maka sang janda taat. Dan akibatnya melampaui imaginasi sang janda. Kebutuhan dia dan anaknya dan Elia dicukupkan oleh Tuhan selama masa kelaparan itu. Tepung tak juga habis dan minyak tak juga kering. Di dalam kemiskinan dan kekurangannya, sang janda masih tetap bisa mempersembahkan sesuatu. Di dalam kesepian dan kesakitan kita, kita masih bisa mempersembahkan sesuatu pada Tuhan. Our pains, our loneliness, our suffering can be offerings to God.
“The sacrifices of God are a broken spirit: a broken and a contrite heart, O God, thou wilt not despise.”
“And what’s next?” tulis Elisabeth Elliot. “I will offer…the sacrifice of thanksgiving.” Karena Tuhan bersabda, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Bagi orang dunia, murid-murid Kristus mungkin salah satu makhluk paling aneh. Mengucap syukur di saat buruk, di saat penderitaan yang berat, di saat loneliness melanda.
And for myself, the biggest test comes when I have to give thanks in my suffering, in my own disappointments, in my unfulfilled wishes. I have to offer it back to the Lord.
“Let our offering be free, humble, and unconditional, given in the full confidence that His transforming energy can fit it into the working of His purposes “
Ada salah satu chapter di buku tersebut dengan judul yang menarik, bahkan bisa dijadikan judul buku baru sebenernya (hehe).
“Help Me Not To Want So Much”
Pertempuran seumur hidup antara kelapar-hausan akan Allah versus kenikmatan & keinginan daging. Mengingat masa2 dimana sedang crave so much for something (or maybe, someone?). Because our physical & emotional hungers are so strong, we easily imagine them to be our deepest hungers – until they are met, at which point we realize that there is a bottomless one. Selalu ada kelapar-hausan yang tak akan bisa terpuaskan oleh apapun di muka bumi, kecuali oleh Sang Empunya kita.
Atau ada kalanya kita memilih untuk bergumul tentang sesuatu yang sebenarnya sudah kita ketahui kebenarannya. Struggling in such a case only postpone obedience. Dibutuhkan “self-control” untuk bisa berhenti “want s’thing/somebody too much”. Self mastery is the greatest virility. Roh Kudus memampukan kita, tapi kita sendiri harus mau bertindak & bekerja sama.
“If we begin each day by an acknowledgement of our dependence upon Him, and our intention to obey Him, He will certainly help us.”
Bukunya memang sudah habis kubaca. Tapi perjalanan untuk benar2 memahami untuk kemudian menerapkannya rasanya masih panjang. Sang penulis yang sudah melampaui setengah abad kehidupan saja masih mengaku belum dapat memahami semua misterinya ;D
It takes time, effort, and pain to grow.
Rest if u must, but don’t quit.
Post a Comment
What do you think? ^^