DOCS IN THE BOX

DOCS IN THE BOX
(Movies about Doctors & What We Can Learn From Them)


Talking about movies is all about personal taste.
One said it's brilliant, meanwhile for others that particular thing is awful awful. But people can reach one common conclusion about movies, such as in IMDb, Rotten Tomatoes, Cannes, Oscar,& so on (hahaha, I know, it’s a bit pathetic to write IMDb & Rotten Tomatoes alongside Cannes & Oscar). I hope that you share my taste on the following movies. Movies about doctors. Many of them, but I pick only 4 of my fave (so far). Well, "fave movie" is a growing list, they even evolutionize.
I present them in random order.

(A) The Doctor (William Hurt, 1991, Touchstone Pictures,  2hours 3mins)
A story about one very successful cardiothoracic surgeon, Jack MacKee, in his fortieth. Very confident, skillful, takes life easy. Then suddenly his world crumbles when he’s diagnosed with  laryngeal cancer. The wake-up call : the doc now becomes the patient. Di sepanjang film digambarkan how he deals with this unpleasant reality. The film is loosely based on dr. Edward Rosenbaum’s 1998 book, A Taste of My Own Medicine.
The good :
The movie reminds me how it feels to be a patient. Makes me appreciate my patients more. I have to be more emphatic with their sufferings & struggles. Have to be grateful for the second big blessings in my life (after salvation), which is : health. Like they said, when you put yourself in somebody else's shoes, your point of view changed. Itu digambarkan dengan baik saat dia lagi didorong as a patient in a gurney. Belajar menempatkan diri sebagai pasien makes you a better doctor.
Kemudian dikontraskan antara dr. Eli Blumfield dan dr. Leslie Abbott. Sama-sama pintar tapi beda pendekatan dengan pasien. Leslie sama persis seperti Jack. Dingin, distanced, not caring enough. Sementara Eli (yang selalu Jack dan teman2nya olok2) hangat, ramah, care sama pasiennya, selalu berusaha menjelaskan prosedur sebelum dikerjakan. Pada akhirnya, yang dipilih pasien bukan hanya kepintaran dan keahlian dokter, tapi juga bedside manner dan perhatiannya.
Jika dokter harus menjadi pasien dulu supaya bisa mengerti betul rasanya menjadi pasien, maka sungguh hebat keputusan Allah untuk menjadi manusia dalam diri Tuhan Yesus. Dia bisa menyelami sepenuhnya bagaimana rasanya, sengsaranya, susahnya, sukacitanya menjadi manusia. Terbatas ruang, waktu, kuasa. Hanya Dia yang layak kita andalkan, karena Dia mengerti betul kita, karena sudah pernah jadi seperti kita (hanya saja tidak berbuat dosa).
Film ini juga mengingatkanku tentang apa yang penting dalam hidup. Seorang dokter seringkali tenggelam dalam pekerjaan dan melupakan pentingnya memelihara family relationship. When your health deteriorate & you find yourself helpless, the one that will be with you ‘til the end is your family. They need you & you need them. So we have to learn to appreciate every moments in life, especially with our beloved ones.

“Every doctor becomes a patient somewhere down the line and then it’ll hit you as hard as it hits me” – Jack MacKee to Leslie Abbott

JULY 2015 - (off)Road to Parek

This is the account of my newest adventure.
Tgl 3-13 Juli kemaren aku ditugaskan untuk turun ke lapangan bareng petugas PKMD yang laen. Mereka lanjut ke Sempatung, sementara aku diturunkan di Parek. Ada sih tawaran untuk ke Sempatung dulu, tapi karena ga da petugas cewek yang ikut serta ke Sempatung, gak ah. Stick to the original plan aja ^^
Kami berangkat 09.30 pagi dari Srkm (hemmm...konon jam 8 tapi belum ada batang hidungnya waktu jam yang disepakati tersebut). Pake motor trail PKMD, si JLX. Motor tinggi besar gitu, siap menghadapi medan yang sulit. Harusnya sih pake sepatu bot juga tapi aku gak punya. Lagipula katanya jalan kering karena sudah sekitar 3 mingguan gak hujan. Kami mampir sebentar di Bky, mereka breakfast, kami bungkus lunch lalu melanjutkan perjalanan.
Sebenernya gak jauh (well, anything less than 6 hrs here isn’t far hahahahaha) dari Srkm ke Parek. Cuma jalannya itu lho. Separuh perjalanan (dari Bky ke Sebalo lalu masuk Suti Semarang) jalanannya sirtu (pasir batu). Rata tapi bergetarrrr. Gigi sampe gemeletukan nahan getaran motor wkwkwkwk. Trus harus pake masker juga karena berdebu. Separuh perjalanan sisanya yang seru (mulai Suti Semarang smp masuk area Serimbo). Jalan tanah yang bergelombang. Asli offroad! Syukur cukup kering, hanya beberapa bagian yang masih berlumpur. Jalan lurus bentar, trus bergelombang, banyak jebakan batman, trus lurus, dan bergelombang lagi. Konon klo lagi musim hujan, bisa habis karena jatuh ke lumpur berkali-kali dan waktu tempuh bisa 2x lebih lama. Soon enough, kerasa banget dah betapa “empuknya” jok JLX. Sampe sulit bangun dari motor dan sakit duduk selama 3 hari wkwkwk..... (nasib bokong tepos)
Tapi...di beberapa titik pemandangannya bagus banget. Bisa lihat area pegunungan Tengon-Bentiang. Masih ditutupi pohon-pohon sehingga mirip karpet hijau yang luas membentang. Bisa lihat lembah di sisi jalan. Langitnya juga very blue & beautiful ^^ Delight for our eyes.
Syukur yang nyupirin motornya ahli. Dia berhasil menyeberangi small creeks 2x tanpa kami basah kuyup. Gak terjatuh sekalipun di daerah2 berlumpur. Bravo man! =)) Dan setelah 4 jam perjalanan, termasuk beberapa kali istirahat, kami tiba di BKM (Balai Kesehatan Masyarakat) Parek.
X

BKM Parek
BKM Parek terletak di ujung dusun Parek, agak isolated, dikelilingi kebun sahang (merica), di suatu tanah berumput dekat SD. Sebelah kanan rumah tinggal, sebelah kiri BKM-nya, tapi bagian belakang kedua bangunan tersebut terhubung. Rumah tinggal terdiri dari 3 kamar tidur, 1 r.makan, 1 kamar mandi, 1 WC, dan 1 dapur. BKM terdiri dari 2 ruangan (kmr obat dan kmr periksa), kmr blkg yang kosong, lalu ada 1 WC (rusak) dan 1 ruang paling belakang yang lebih mirip gudang. Dibawahnya ada kandang ayam ^^

BKM Parek









Kami disambut Pd & Nt, pasutri perawat yang ditugaskan PKMD u/ jaga BKM. Mereka mulai jaga disitu sejak menikah tahun lalu. Sekarang Nt lagi hamil 5 bulanan, jadi mereka akan balik Srkm Sept nanti, sebelum perutnya terlalu besar untuk dibawa offroad. Walau sudah ada yang jaga BKM, tiap bulan ada petugas lain yang akan datang untuk membawa vaksin. Karena ga da kulkas di BKM dan ga da listrik 24 jam untuk menunjang kulkas tersebut hehe. Minggu pas aku dateng itu sebenarnya minggu tenang, alias kaga ada kegiatan khusus. Posyandu baru dilaksanakan minggu depannya.

Dusun Parek terdiri dari 88 rumah yang didiami oleh 96 KK. Gak gede2 amat sih dusunnya. PKMD punya 12 kader di dusun itu, some are active, some are.....rarely seen. Rata2 orang disitu berladang, menanam padi, berkebun merica, dan noreh karet juga. Selain itu bisa jadi buruh angkat kayu dan angkat pasir. Kampungnya sendiri cukup bersih karena babi-babi sudah mulai dikandangkan. Tapi ada juga yang bandel, babinya sengaja dikeluarkan dari kandang kalau sore2. Alasannya kalau dibiarkan liar jadinya lebih gemuk. Alasan sebenarnya sih malas memberi makan secara teratur. Padahal babi-babi yang dibiarkan liar sering merusak kebun orang lain atau berkubang di bawah rumah orang lain (hemmmm....).

Kegiatan harian Pd & Nt di BKM lebih banyak non medis daripada medis. Mereka bangun pagi (atau bisa juga bangun lebih siang wkwkwk), kasi makan ayam dan anjing (they have 2 dogs, Gading & Giselle – bagus amat nyak nama anjing betinanya), masak sarapan, urus rumah/kebun (ada kebun kecil di dekat BKM), kadang2 nyemprot pohon merica (ternyata mereka ikut berkebun merica juga, di tanah lateral kiri BKM). Lalu masak lunch dan baring2 tidur siang. Sorenya bisa ikut OR (main voli/dulu maen bola), jalan2 ke kampung pas sore2, ikut nonton TV kalau mau, masak dinner, & go to bed early. Simple regular life. Kadang2 ada pasien berobat ke BKM pas sore2 (habis mereka pulang berladang). Pas aku dateng, orang2 memang sedang sibuk berladang tiap hari. Sore2 mereka capek semua, jadi enggan disuruh berkumpul, maunya cepat tidur karena harus bangun subuh dan mengulangi semua ritual pekerjaan harian mereka.

Siang hari di Parek puanasss banget. Kalau nyuci baju jam 8 pagi, jam 11 udah nyaris kering sempurna. Tapi sore harinya sejuk dan malam harinya dingin ^^ Bahkan harus pake selimut klo malem2. Ada angin dingin yang menyusup via sela-sela kayu di BKM, brrrrr. Tapi bisa tidur nyenyak karena cuacanya dingin hehehehe (compared to Nanga Baram yang bisa sauna pas tidur malem karena panassss terus). Tidur nyenyak selama berada di bawah lindungan kelambu.... ;D
X

            Dug dug dug! Dug dug dug dug!!
Jam 03.30 subuh di hari Sabtu (still counted as my first night there), pas lagi pules banget tidur, ada cowok gedor2 BKM dan manggil2 Pd. Karena kamarku paling depan, langsung terbangun karena gedoran tersebut. Gak lama Pd bangun dan keluar menemui cowok yang gedor2 itu.
            Ternyata panggilan melahirkan.
            Dejavu deh. Berasa stase Obgyn lagi. Karena aku baru saja keluar dari 1 bulan stase Obgyn yang super duper hectic, especially in the last week before going to Parek. Satu minggu dimana pasien2 membludak sampai2 zal bidan gak mampu menampung lagi =))
            Ditemani senter dan dibungkus jaket, kami berjalan melewati dusun dan menyeberangi S.Pade via jembatan baru. Rumah ibu yang mau melahirkan itu ada di sisi lain dari dusun Parek. Mereka baru saja menikah tahun lalu (dengan segala intriknya) and now they’re gonna have their first baby. Harusnya sih bulan depan, tapi rupanya meleset dibandingkan HPHT. Aku udah berdoa kuat-kuat sama Tuhan supaya Dia menolong ibu itu untuk melancarkan selancar mungkin dan bayinya bisa lahir selamat.
            Rumahnya kecil dan lampunya remang-remang. Saat aku dan Nt masuk ke bilik (yang merupakan kamar mereka), ibu itu lagi ngeden2 ditemani paraji (traditional midwife). Hemm...interesting. Syukur Nt sudah sempat cerita bahwa disini sangat umum untuk melahirkan dibantu paraji.  Ada 2 paraji di dusun ini, salah satunya istri kepala dusun yang sekarang berada bersama kami. Satu lagi kurang laku karena galak dan judes wkwkw. Syukur dapat yang ini, bukan yang satunya.
            Aku cek dalam, bukaan memang sudah lengkap. Dia mulas sejak jam 01.30an. Syukur kami dipanggil pas uda lengkap wkwkwkwk. Ketuban sudah pecah spontan. Sambil ngecek detak jantung bayi (ada Doppler syukurnya), aku melihat ke sekeliling. Haizzz...ini mah ga mungkin nolong secara steril. Bersih aja udah bagus (sambil memandangi tiker bambu alas tidur ibu itu yang warnanya gak jelas – well karena remang2 juga sih).
            Ibu itu ngeden2 dan kepala bayi mulai terlihat. Tapi kemajuannya tidak secepat yang diharapkan. Paraji itu ngomong sama Nt dalam bahasa Parek. Syukurnya Nt udah mulai ngerti bahasa situ. Dia translate bahwa parajinya mo mengubah posisi ibu itu, dari berbaring ke jongkok biar cepet turun. Aku setuju karena itupun salah satu posisi melahirkan yang di-approved. Lagipula lebih gampang bikin ibunya ngerti ngeden yang bener itu seperti apa, yaitu seperti BAB =))
            Suaminya disuruh duduk di belakang istrinya, dan ibu itu nyandar ke suaminya sambil jongkok. Syukur perutnya kaga gede2 amat dan kaki gak bengkak. Klo gak, mana tahan disuruh jongkok kayak gitu. Setelah itu dia ngeden tiap kali mulas. Syukurlah kepala bayi makin turun dan makin terlihat. Lalu dia lanjut mengedan dan mengedan dan mengedan dan akhirnya lahirlah kepala bayinya!! Puji Tuhan! ;D Langsung kulahirkan semuanya dan kuambil bayinya untuk dipotong tali pusat (kami bawa alat bersih), dikeringkan, dibikin nangis, dan diperiksa. Sementara kami sibuk dengan bayi, parajinya sibuk dengan ari-arinya. Setelah itu dia sibuk mengurus ibunya dengan cara-cara kampung. We don’t have the opportunity to interfere anymore.
            Yeah, yang penting bayinya lahir sehat. Perempuan, 2.6 kilo, diberi nama sesuai nama bulan lahirnya (seperti banyak orang lain di kabupaten ini hahaha). Ari-arinya lahir lengkap. Ibunya juga keliatan baik-baik saja pas kami visite ulang sorenya ^^ Puji Tuhan! My first experience untuk berkolaborasi dengan paraji pas melahirkan. Interesting indeed.
X

Hari-hari setelah itu relatif tenang. Kami kebaktian Minggu di gereja setempat. Dan seperti “tradisi” orang situ, tiap kali ada orang baru datang/petugas PKMD datang, pasti kena khotbah. Baik itu cerita di sekolah minggu, maupun membagikan firman Tuhan di kebaktian umum. Gedung gerejanya sudah bertegel keramik dengan peralatan sound system yang lumayan. Ada keyboard untuk mengiringi kebaktian. Keyboardis-nya pasrah aja, tergantung siapa yang mau nyanyi di depan, dan mau lagu apa. Jikalah dia tidak bisa, ada pak gembala dengan gitarnya yang mumpuni =)) Mereka memuji Tuhan dengan semangat. Bahkan persembahan pujian dari jemaat makan waktu hampir 1 jam pada hari Minggu itu (plus kesaksian2 singkat sebelum dan sesudah menyanyi).

Kemudian ada rapat kader Posyandu. Aku hadir sebagai pengamat saja. Terkesan waktu yang hadir mostly bapak-bapak. Biasanya kader kan ramenya ibu2. Ini ibu2nya malah cuma 2 yang muncul (salah satunya istri tuan rumah). Pd memimpin dengan sangat baik, mengarahkan mereka untuk mengeluarkan pendapat dan mencari solusi bersama. Tidak bernada menggurui/mendominasi =)) Takes a skill to do that.

Pasien2 klinik bervariasi, mulai dari bayi sampai nenek2. Tapi tidak sebanyak pasien klinik Nanga Baram. Masalahnya BKM ini juga sangat terbatas jenis dan jumlah obat2annya. Jadi klo diberi pasien2 yang terlalu advanced case / advanced diagnosisnya juga...apa yang mau dibuat?? Seperti yang terjadi dengan 1 px anak. Demam 1 mgg. Kami rajin follow up dia tiap 3 hari kerumahnya. Sudah pake antibiotik tapi belum ada perubahan. Kok malah mencurigakan ke infeksi selaput otak dan sederet diagnosis banding lainnya. Tapi perlu pemeriksaan lebih lanjut di center yang lebih lengkap. Akhirnya (dengan susah payah) berhasil meyakinkan ortunya untuk membawa dia ke RS. Satu px lg yang parah adalah anak kader kami. Serangan asma berat. Klo di RS pasti uda dinebu. Lha disini? Akhirnya cm dikasi obat sesak (itupun tablet dibikin puyer karena gak ada sirup) sambil berdoa kuat-kuat supaya Tuhan mengasihani dan menyembuhkan anak itu.

Tapi pasien2 lain lebih simple dari itu. Ujung jari terpotong parang waktu berladang. Syukur betul2 di ujung doang. Punggung kaki sobek kena standar motor. Syukur kulitnya nda hilang semuanya. Jari yang lain lagi terkena parang waktu berladang. Syukur ndak sampai putus urat. Kemudian ada 1 hari aneh dimana orang2 “berjatuhan” dari jembatan. Jadi jembatan baru itu ujungnya memang tiba2 menanjak tajam. Nah pada hari yang naas itu, lampu di sluruh dusun mati (karena sedang perbaikan bendungan). Motor pertama orang Tengon. Tidak siap untuk menanjal tanjakan, motor itu terlempar ke kiri. Motor kedua sekitar 5 jam setelahnya, orang Serimbo. Tidak siap untuk menanjal tanjakan, motor itu terlempar ke kanan. Haizzzz.... Syukur ndak ada yang jatuh terus sampai ke sungai. Korban pertama hanya cedera ringan. Korban kedua dijahit sedikit di dekat matanya (dibawah penerangan senter dan lilin). Benang yang tersedia ukuran segede gaban. Tanpa jarum. Jarumnya lepasan, juga segede gaban wkwkwkwk. Tapi syukur masih ada benang, jarum, dan minor set sehingga bisa melakukan tindakan =))

Gotong royong perbaiki bendungan


Pade river 





























Di waktu luang, Nt banyak masak. Masak sayur, masak ikan, masak bubur jagung, masak agar2, masak kue2 untuk ibadah rumah tangga. Syukur dia doyan dan pintar masak. Susahnya disini sayuran dan daging di tukang sayur mahal banget. 2x lipat harga Srkm (yang uda termasuk mahal compared to Skw). Sementara pasar gak ada. Pasar terdekat di kampung Melayu di Tengue. Orang2 sekitar cukup sering memberi bahan2 makanan untuk petugas BKM, seperti beras, jagung, rebung, pepaya, kadang2 ikan yang mereka tangkap. Tuhan mencukupkan.
X

            Di akhir mgg pertama aku disitu, akhirnya kami pergi Posyandu.
            Jumat sore kami berangkat ke Jangkok, 15 mnt dari BKM dengan motor. Kami Posyandu di rumah kader satu-satunya dan kader tertua disitu. Berhubung listrik mati (perbaikan bendungan makan waktu 1 mgg, jadi mulai Kamis malam kami hidup dalam kegelapan), Posyandunya makin lama makin remang-remang. Mengandalkan pelita dan senter, petugas PKMD membuka dalam doa dan membawakan renungan. Lalu bapak itu menimbang, memplot BB ke grafik, dan memberi penyuluhan (sangat, sangat) singkat. Pd menekankan bahwa sekarang kader yang harus memberi penyuluhan. Bahan2nya dari leaflet dan buku bergambar yang sudah dibagikan oleh PKMD. Cukup banyak ibu2 hadir beserta anak2nya.

The faithful man in Jangkok
Posyandu @Jangkok
            

Setelah acara selesai, kami dijamu makan malam oleh bapak itu dan keluarganya. Such a good time to have a fellowship. Kinda impressed with this man’s faithfulness to serve with PKMD all these years (more than 20 yrs I supposed). Waktu masih bersantai-santai, kami mulai mendengar bunyi2 mencurigakan di luar. Ternyata mulai turun hujan! Kami lari terbirit2 menaiki motor masing2 dan segera pulang ke BKM. Hujan turun dengan lebat dan kami basah kuyup ;D wkwkwkwkwk..... Syukur bawa jaket (dan terbukti cukup waterproof, sperti yang diiklankan haha!)
             Sabtu full Posyandu dari pagi sampe sore. Pertama kami berangkat menuju kampung yang paling jauh dulu, yaitu Sebantik. Seperti yang diceritakan Nt, kampung ini memang masih kotor banget dan underdeveloped dibanding kampung2 lainnya. Belum terjangkau listrik karena dayanya gak kuat untuk nyampe sana (aliran sungainya terlalu kecil untuk menghasilkan daya PLTMH yang besar). Beragam peliharaan (terutama piggywiggy) berkeliaran bebas dan mencemari jalanan. Tapi sudah ada WC umum dan aliran air bersih di seberang rumah kader tempat kami Posyandu. Orang2nya juga masih banyak berdukun jika terserang penyakit. Tapi dukunnya sendiri pernah operasi di Srkm ^^v
            Tuan rumahnya sendiri menyambut kami dengan ramah dan hangat. Sama seperti di Jangkok, tempat Posyandunya terus menerus di rumah ini. Acara dibuka dengan doa, lalu aku yang kena giliran renungan, lanjut dengan bapak kader membacakan penyuluhan dari leaflet gizi buruk. Setelah itu mulai menimbang dan menyuntik. Ada suntik TT juga untuk perempuan umur 15-40 thn. Habis Posyandu, tuan rumah menjamu kami makan siang. Sambil makan mereka mengeluhkan sulitnya untuk mempengaruhi tetangga2 yang lain untuk hidup lebih bersih demi menjaga kesehatan. Contoh yang paling mudah adalah masalah mengandangkan babi. Easier said than done.
            Jam 1 siang kami berangkat ke kampung berikutnya yaitu Padang Peluntan. Disini tidak lama, hanya menyuntik saja dan periksa beberapa ibu hamil. Rata-rata ibu hamil di dusun2 itu akan melahirkan di dukun beranak. The best thing PKMD can do is to monitor their weight, blood pressure, fundal height, baby position, and give them supplements. Jika ada tanda2 bahaya, mereka bisa segera disarankan untuk ke RS terdekat. Di Parek ada yang memanggil petugas PKMD untuk menolong persalinan, tapi yah, seringkali berdampingan dengan parajinya wkwkwk....
Posyandu @Pd.Peluntan
            Kampung ketiga adalah Padang Tanjung. Kampung ini lebih bersih dan lebih teratur daripada yang sebelum2nya. Sudah ada listrik masuk kampung juga. Rumah kader tempat kami Posyandu ukurannya luas dan memiliki WC dalam rumah =)) Air bersih berlimpah ruah ^^ (serasa pengen mandi saking panasnya). Ada beberapa pxs berobat. Salah satunya cedera bahu sudah 1 mgg. Antara terkilir atau ada fraktur. Dia kusarankan segera ke RS untuk dirontgen dulu supaya jelas ada fraktur/tidak. Kalaupun hanya terkilir, perlu dibius untuk reposisi karena sudah 1 mgg berlalu.
Posyandu @Pd.Tanjung
Hari Minggu adalah hari Posyandu terakhir. Pagi-pagi kami berangkat ke Jangkak, about 20 mins by motorbike. Bener2 civilized village deh dibanding yang sudah-sudah. Mereka punya PLTMH sendiri sehingga hari itu listrik menyala seharian. Aku langsung ngecharge HP & terharu liat TV nyala haha. Lebih terharu lagi waktu tahu ada sinyak HP dimana-mana di kampung ini. Dibanding Parek, Jangkak lebih strict dalam pembatasan alat2 eletronik. Mereka melarang alat2 elektronik tertentu (mis. rice cooker) supaya daya listrik terbagi rata dan cukup untuk orang sekampung. Rumah kader tempat kami ikut ngaso juga punya air bersih dan WC dalam rumah (yang sedang dalam proses renovasi). Dusunnya tampak bersih dan teratur dengan gereja PIBI dibangun tepat di tengah kampung.   
GPIBI Jangkak
Jangkak village

Diluar rumah, tampak orang sedang menjemur merica. Satu ladang merica ditanami sekitar 600 pohon. Sekali panen, merica bisa menghasilkan lebih dari 40 juta IDR. Tapi dipanennya 8 bulan sekali dan more than 40 millions itu pun masih bruto, belum dikurangi ongkos beli bibit, ongkos tiangnya, memelihara, memupuk, dll, dsb. Makanya mereka perlu noreh karet u/memenuhi kebutuhan harian. Kalau pandai menabung, ya bisa menyekolahkan anak ke luar daerah itu, bahkan luar Kalimantan. Bisa punya decent house beserta peralatan2 elektronik di dalamnya dan motor (beberapa motor bahkan).
            Mnr Nt, jemaat di Jangkak kesadaran perpuluhannya cukup baik. Mereka bisa membangun pastori di dekat gereja dan bisa memiliki seperangkat alat band untuk mengiringi kebaktian (termasuk drum setnya). Pd yang main keyboard karena belum ada yang bisa memainkan keyboard itu. Awalnya aku udah senang2 karena karena katanya sudah ada yang akan khotbah. Tapi ujung2nya kena tunjuk lagi. Kebaktiannya tidak selama yang di Parek minggu lalu karena persembahan pujiannya tidak banyak. Kebaktian ditutup dengan pengumuman dari bapak2 yang selalu membawa 3 buku besar saat pengumuman =)) (a Jangkak’s signature according to Pd hehe)
            Setelah ganjal perut dengan mie, kami mulai Posyandu di gereja. Salah satu kader membawakan penyuluhan tentang darah tinggi (dari buku bergambar PKMD), didampingi Nt yang menjelaskan ulang supaya orang2 lebih nangkep. Setelah itu penimbangan, penyuntikan dan pengobatan. Yang di Jangkak ini lebih menarik pengobatannya. Real sick people! ^^ Asma bronchiale, COPD, sp.TBC DD/ Bronkiektasis terinfeksi, dan lain2. Orang2nya juga lebih bisa diomongin dan diedukasi (well kecuali untuk 1 ibu2 yang terbentur masalah bahasa).

Posyandu @Jangkak
(big) Lunch @Jangkak
           


















Jam 14.30 finally we had our (official) lunch! Asli makan besar. Nasi musti nyobain dari 4 wadah nasi. Trus ada telur dadar, telur balado, babi hutan, babi biasa, daun ubi, sawi, ikan tangis, dll, dsb. Termasuk bekasam babi hutan. My stomach was totally full to the max. Dengan kekenyangan, kami pulang ke Parek dan melakukan Posyandu terakhir disono. Setelah itu tinggal beres2 dan siap2 pulang ke Srkm Senin pagi.
            Puji Tuhan tidak ada hujan lagi. Hari Senin pagi saat pulang, jalanan relatif kering. Walau sempat hampir jatuh dari motor karena motornya tergelincir, sempat harus turun dari motor waktu nyebrang kali, perjalanan pulang cukup lancar. Tiba di Bengkayang jam 11an and had lunch before went back to Srkm. Home sweet home ^^

Epilogue

Seminggu setelah balik dari Parek, bapa2 TBC (yang Nt pantau pengobatannya) akhirnya kontrol bersama salah satu keluarganya ke RS. Dia putus obat dong! Padahal Nt udah ngingetin tiap hari supaya dia segera kontrol sambung obat TBC. Haizzzz.... Nah, dari pasien itu juga aku dengar bahwa anak yang kurujuk itu akhirnya berobat ke RS lain. Makanya gak pernah nyampe ke Serukam. Px TBC anak yang satu lagi belum kontrol lagi ke RS. Semoga tidak ikut2an putus obat.

Bersyukur untuk trip ke Parek. Melihat bagaimana perjuangan orang2 yang melayani disana. Melihat kesempatan besar yang dimiliki petugas PKMD yang stay disana untuk jadi berkat dan teladan. Ide untuk menempatkan pasutri di BKM bener2 brilian. Karena bisa saling mendukung dan menjaga, integritas juga lebih terpelihara, dan ada kesempatan untuk menjadi contoh di tengah2 masyarakat. Dengan demikian diharapkan bisa memberikan dampak positif dan perlahan-lahan menginduksi terjadinya perubahan di dalam masyarakat yang dilayani (even though it’s not an easy task and can’t be achieved in a short time). 
Parek team, July 2015
  
“...the harvest is plentiful, but the laborers are few;
therefore pray earnestly to the Lord of the harvest to send out laborers into his harvest.”
                                                                                                                                                                                                  (Matthew 9 : 37–38)       

MAY 2015 - MMC X


Many things had happened since I last wrote to you guys.
From early March until 2nd week of May, we were so occupied  by 10th MMC. Di dalam rangkaian training MMC itu diselipkan begitu banyak training dan 1x retreat. Lalu sibuk jalan2 ke Ponti hahaha (long weekend) on early May. On April, my family came to visit me! (yaaayy!!) Dan minggu lalu saat ada another long weekend, I went to a mission trip with a church from Jakarta to the border (Balai Karangan). Not to mention, aku sedang rotasi 3 bulan di Bedah which demands so many times & efforts (semangat!). But also very interesting, even more interesting than last year ;D

OK, let’s start with recap from MMC X, shall we?
Ì
           
MMC (Medical Mission Course) yang digagas oleh PMdN (Perkantas Medis Nasional) sudah memasuki tahun ke-10. Aku berkesempatan ikut MMC III, long long time ago =)) *well, not that long lah. Tujuannya masih sama, untuk memperlengkapi secara medis dan rohani para dokter yang akan pergi PTT/memiliki hati untuk melayani di daerah2 terpencil di Indonesia. Tetapi ruang lingkupnya sudah diperluas ke dokter gigi. Bahkan tahun ini diujicobakan ada perawat juga (yang di akhir program terbukti terlalu prematur untuk di-launching)(bener2 trial doang).
            Ada 3 dokter umum, 2 dokter gigi, dan 1 perawat yang mengikuti program MMC X ini. 1 mgg di OMF Jakarta dan 9 minggu di Kalimantan Barat. Mostly di Serukam, diselingi retreat dan 2x live-in di Nanga Baram dan Siding. Dibanding saat aku MMC dulu, program MMC semakin lama memang semakin sophisticated. Sulit untuk di-manage oleh segelintir orang, apalagi hanya oleh 1 orang. Tapi sisi positifnya adalah  pembekalan yang didapatkan jauh lebih kaya dibanding dulu2.

CORAZON SALVAJE (Wild Heart)

CORAZON SALVAJE (Wild Heart)
Caridad Bravo Adams


Aslinya, Corazon Salvaje adalah sebuah novel in Spanish, around 300 pages, terbit tahun 1957. Novel ini terdiri dari 3 bagian, yaitu I : Corazon Salvaje, II : Monica, dan III : Juan del Diablo (Juan from the Devil’s Cape). Settingnya di Martinique, koloni Perancis (wherever that is), sekitar tahun 1903. Ceritanya berkisar di kehidupan 4 orang yang saling berkaitan satu sama lain, yaitu Renato d'Autremont VS Juan del Diablo >< Countess Monica d'Molnar VS Countess Aimee d'Molnar, lengkap dengan kisah cinta segi banyak dan segala intrik-intriknya.

Seorang tuan tanah bernama Fransisco d’Autremont punya affair dengan ibunya Juan sehingga lahirlah Juan dengan status illegitimate child. Dia berniat untuk mengakui Juan sebagai anaknya secara resmi namun terlanjur meninggal dalam kecelakaan. Akhirnya Juan dibesarkan di kalangan pelaut sebagai anak yang kasar, keras, terlibat dalam bajak laut. Sementara Renato, Fransisco’s legitimate son (yang tidak tahu Juan adalah half-brother-nya) dibesarkan dalam pendidikan yang baik di Eropa dan sudah dijodohkan dengan Countess Monica d’Molnar sejak kecil. Namun Renato jatuh cinta dengan Aimee & memutuskan secara sepihak perjodohannya dengan Monica. Monica yang patah hati ingin masuk biara. Aimee sendiri ternyata sudah pacaran dengan Juan sebelum dilamar oleh Renato. Renato dan Aimee akhirnya menikah, meninggalkan Juan yang patah hati dan ingin balas dendam. Saat Juan akan membawa kabur Aimee, Monica memergoki mereka. Dan tidak lama, Andres memergoki mereka semua. Demi mencegah skandal lebih lanjut, Monica mengaku bahwa dialah kekasih Juan dan setuju untuk menikahi Juan, demi cintanya (yang bertepuk sebelah tangan) pada Renato.

CASSETTES

CASSETTES
15-01-15

Going through my old cassette collection. Something that I had collected since junior high school.  Sebagian mulai berjamur karena jarang diputar lagi (eeerrrmmm...sudah berapa tahun ya tidak dipasang lagi di tape?? Wkwkwk). Sebagian masih dalam kondisi yang prima.  Sebagian sudah pernah disortir, sebagian masih dibiarkan dalam kondisi asli.

Kecintaan terhadap musik sudah ada sejak aku masih kecil.  Sepertinya banyak dipengaruhi keluargaku yang mostly menyukai musik juga. They’re not much of an instrument player, but they sang well (not professionally/super wonderful, but “well”). They also loved hearing cassettes & music from Christian radio programme everyday. I remember waking up in my childhood days because of classical music played on the Christian radio programme, every...single...morning. Bahkan pada kurun waktu tertentu, bokap sempat menggunakan volume program radio tersebut untuk “mengganggu” our precious “morning” sleep (during holiday) untuk membangunkan kami (haizzzz).  

Almost everyone in my family loves to collect cassettes. My grandma had her own old cassettes, then my aunt, then my dad (the real collector). So u can imagine how many cassettes my family have in our (small & cramped & crowded) house. And then...I came along & began to have my own cassette collection haha =)) My brou also collected cassettes, not he’s not an avid collector compared to dad & me.
The old old old BASF 60 mins cassettte
The newer type of BASF (90 mins cassette)

 

Jan 2015 ~ LIFE AFTER CHRISTMAS

5 JAN 2015
Life after Christmas


Hari kelima di bulan yang baru dan tahun yang baru.
Sedang bergulat mendisiplin diri duduk di hadapan netbook dan mengetik. Sambil memasang lagu2 Natal yang belum sempat didengarkan bulan lalu *LOL*
Di luar, bokap lagi beberes hiasan & lampu Natal dari our Christmas Stairlight yang tercinta. My brou & mum uda masuk kerja lagi. Tanteku sibuk dengan urusan rumah tangga seperti biasa. Life goes on, apparently. Life after Christmas.
Terbayang bagaimana situasinya di Serukam. Setelah “party hard” (baca : kebaktian, perayaan, makan2,  visitasi, fellowship) selama hampir 2 minggu sejak 24 Desember, hari Senin pertama di bulan Januari ini like putting back life to reality. Segala sentimental Natal berakhir. Segala hiasan segera dibereskan (walo ada juga yang memasangnya sampai 2 bulan). Segala toples kue segera disimpan kembali setelah isinya cepat2 dibagikan sampai habis..bis..bis. Segala koleksi kostum, hadiah, lagu2, properti Natal dimasukkan ke gudang sampai 11 bulan berikutnya.
Preparing for the season is exciting, but parting from it is like saying goodbye to beloved family/friends/things. Waktu kita melihat ke sekeliling rumah yang tampak kosong & sepi & datar, we can’t help thinking : Wouldn’t it be great if Christmas could last forever?
 Ì
abcs