DOCS IN THE BOX
(Movies
about Doctors & What We Can Learn From Them)
Talking about movies is all about
personal taste.
One said it's brilliant, meanwhile for
others that particular thing is awful awful. But people can reach one common
conclusion about movies, such as in IMDb, Rotten Tomatoes, Cannes, Oscar,&
so on (hahaha, I know, it’s a bit pathetic to write IMDb & Rotten Tomatoes
alongside Cannes & Oscar). I hope that you share my taste on the following
movies. Movies about doctors. Many of them, but I pick only 4 of my fave (so
far). Well, "fave movie" is a growing list, they even evolutionize.
I present them in random order.
(A) The Doctor (William Hurt, 1991, Touchstone
Pictures, 2hours 3mins)
A story about one
very successful cardiothoracic surgeon, Jack MacKee, in his fortieth. Very
confident, skillful, takes life easy. Then suddenly his world crumbles when he’s
diagnosed with laryngeal cancer. The
wake-up call : the doc now becomes the patient. Di sepanjang film digambarkan
how he deals with this unpleasant reality. The film is loosely based on dr.
Edward Rosenbaum’s 1998 book, A Taste of My Own Medicine.
The good :
The
movie reminds me how it feels to be a patient. Makes me appreciate my patients
more. I have to be more emphatic with their sufferings & struggles. Have to
be grateful for the second big blessings in my life (after salvation), which is
: health. Like they said, when you put yourself in somebody else's shoes, your point
of view changed. Itu digambarkan dengan baik saat dia lagi didorong as a
patient in a gurney. Belajar menempatkan diri sebagai pasien makes you a better
doctor.
Kemudian
dikontraskan antara dr. Eli Blumfield dan dr. Leslie Abbott. Sama-sama pintar
tapi beda pendekatan dengan pasien. Leslie sama persis seperti Jack. Dingin,
distanced, not caring enough. Sementara Eli (yang selalu Jack dan teman2nya
olok2) hangat, ramah, care sama pasiennya, selalu berusaha menjelaskan prosedur
sebelum dikerjakan. Pada akhirnya, yang dipilih pasien bukan hanya kepintaran
dan keahlian dokter, tapi juga bedside manner dan perhatiannya.
Jika
dokter harus menjadi pasien dulu supaya bisa mengerti betul rasanya menjadi
pasien, maka sungguh hebat keputusan Allah untuk menjadi manusia dalam diri
Tuhan Yesus. Dia bisa menyelami sepenuhnya bagaimana rasanya, sengsaranya,
susahnya, sukacitanya menjadi manusia. Terbatas ruang, waktu, kuasa. Hanya Dia
yang layak kita andalkan, karena Dia mengerti betul kita, karena sudah pernah
jadi seperti kita (hanya saja tidak berbuat dosa).
Film
ini juga mengingatkanku tentang apa yang penting dalam hidup. Seorang dokter
seringkali tenggelam dalam pekerjaan dan melupakan pentingnya memelihara family
relationship. When your health deteriorate & you find yourself helpless,
the one that will be with you ‘til the end is your family. They need you &
you need them. So we have to learn to appreciate every moments in life,
especially with our beloved ones.
“Every
doctor becomes a patient somewhere down the line and then it’ll hit you as hard
as it hits me” – Jack MacKee to Leslie Abbott
(B) Patch Adams (Robin Williams, 1998, Universal Pictures, 1hour 50mins)
It’s a semi-biographical movie from dr.
Hunter “Patch” Adams life story & his book “Gesundheit : Good Health is a
Laughing Matter”. Semi-biographical karena ada beberapa perbedaan antara film
dengan kenyataan. The story started from before he became a doc, what motivated
him to be a doc, & how he evolves into an unconventional kind of doctor. Diceritakan
dia voluntarily admitted himself to a psychiatric hospital karena suicide attempts.
Disitu dia bertemu orang2 dengan gangguan jiwa. Yang membuat dia tersentuh
adalah saat bisa membantu fellow patients dengan cara2 yang unik. Maka dia
memutuskan untuk sekolah kedokteran supaya bisa memahami manusia dan menolong
lebih banyak orang. Sepak terjangnya yang tidak biasa selama di medschool
digambarkan di sepanjang film ini.
The good :
Waktu pertama kali menonton film ini
(sebelum jadi dokter), it gave me a new insight about a different kind of doc.
The joyous one. Who believes that hope & fun & love take part in patient
recovery, not just medical care per se. Life itself is hard enough. Why add
another toil in it when you can face it with a different attitude? Robin
Williams sendiri memang terlalu pelawak untuk ukuran real doctor, but it’s good
too see “an alternative” karena Patch digambarkan as a brilliant student (with
good grade and all) walau jarang belajar (tidak sekutu buku teman2nya) &
selalu memberi waktu untuk menyentuh kehidupan pasien2 di waktu luangnya. He
chooses to treat patients as human and not afraid to be close to them, even
eager to know them more – as human being.
Pada prakteknya, sukacita (or joy) tidak
bisa dihasilkan sendiri dari hati orang. Sukacita sejati hanya bisa datang dari
hubungan personal dgn Tuhan Yesus. Dokter2 yang berbeban berat harus datang
dulu kepada Tuhan Yesus, barulah bisa menularkan dan membagikan sukacita itu
kepada pasien2nya. Jika tidak, amat sulit untuk memberikan pengharapan bagi
mereka, terutama yang sakit terminal. In order to give them hope, a doc must
find the very source of Hope first & experience it firsthand. You can’t
share what you don’t have.
Film ini juga mengingatkanku untuk think
outside the box. Medical is art, not merely science. Kita harus menguasai
teorinya untuk menegakkan diagnosis dan menentukan terapi yang tepat. Tapi
tidak semuanya sama persis dan saklek untuk semua pasien. Kadangkala harus
memutar otak dan berpikir kreatif. Jangan terbelenggu dengan cara2 lama, jika
ada cara2 baru yang lebih aman dan lebih baik untuk pasien tertentu. Tapi
seperti kata dean of medschool di awal kuliah Patch Adams : “First do no harm”.
Primum no nocere.
“We
have to treat the people as well as the disease...we become doctor to help
people.... Improving quality of life, not just delaying death” – Hunter Adams
to his friend
(C) Gifted Hands : The Ben Carson Story (Cuba Gooding, JR; 2009, Sony
Pictures, 1hour 30mins)
Film ketiga yang
menarik perhatianku adalah kisah hidup dr. Benjamin “Bennie” Carson, a
pediatric neurosurgeon di Johns Hopkins Hospital (lagi-lagi Johns Hopkins haha).
Filmnya dimulai dengan masa kini saat dia mengoperasi pasien anak dengan
seizure berkepanjangan, kemudian flashback ke masa kecilnya. He came from a
broken home family dan awalnya selalu mendapat nilai yang buruk di sekolah saat
pindah rumah. Tapi Ben punya ibu yang gigih yang punya mimpi besar bagi
anak-anaknya. Tak jemu-jemunya ibunya mendorong mereka belajar dengan rajin. Maka
mulailah Ben berprestasi di sekolah dan bermimpi untuk menjadi dokter. Film ini
dibuat berdasarkan autobiografinya yang berjudul sama “Gifted Hands : The Ben
Carson Story”.
The good :
The
movie teaches me about perseverance. Walaupun buta huruf, Mrs.Carson selalu
mendorong putra2nya untuk rajin belajar dan membaca. Ia sendiripun akhirnya
belajar membaca di sela-sela waktu kerjanya. Ia bekerja membanting tulang untuk
menyekolahkan anak2nya, walau harus bergumul dengan penyakit depresinya. Ben
mulai terpacu setelah didorong terus oleh ibunya. Ia belajar dengan tekun,
banyak sekali membaca buku di perpustakaan (various kind of books), dan rela
bekerja keras untuk mencapai cita2nya. Tapi ia juga tidak sempurna. Ada masa
dimana ia sangat bergumul dengan bad tempernya. Kombinasi dari perseverance,
hard work, and prayer membawa anak2 Mrs. Carson ke dalam kesuksesan, terutama
untuk Ben Carson.
Yang
kedua adalah tentang menggunakan talenta sampai maksimal. Dengan modal yang
ada, Ben berjuang keras mengembangkan diri. Banyak berlatih hingga mahir.
Banyak membaca hingga tahu berbagai hal, mulai dari musik klasik sampai medis. Tidak
puas dengan teknik2 yang sudah ada, ia mencoba mengembangkan teknik2 operasi
baru. Ibunya selalu bilang bahwa, “You can do anything anybody else can do,
only you can do it better.”
Yang
ketiga adalah tentang how to preserve life balance (God first, family second,
all the others next). Di filmnya, hal ini kurang tampak. Tetapi di bukunya
jelas digambarkan bagaimana ia berjuang untuk memiliki kehidupan yang seimbang.
Ben sangat mencintai penelitian selain operasi. Ia juga aktif dalam pelayanan bersama
istrinya di gereja setempat. Selain itu dia memiliki anak2 yang perlu
diperhatikan. Tapi ia sadar tidak bisa meraih kesuksesan di semua bidang tsb.
Maka Ben memilih untuk mendahulukan hal2 yang lebih penting (yaitu pelayanan
dan keluarga) dan merelakan kariernya “kurang berkembang secepat yang lain”.
I
strongly recommend you to read the book. It’s a good, refreshing, encouraging,
and inspiring book. You can finish the whole book in one day, but the effect
stays with you for a long time. It’s worth reading because it’s not just some
theories about good things. He has done all that is written in the book and
he’s still living it day by day.
“Why you waste all that time watching
the TV? If you used that time to develop your God-given gifts, it wouldn’t be
long before folks was watching you on TV” – Mrs.Carson to Bennie & his
older brother.
(D)
Something the Lord Made (Mos
Def, 2004, HBO Films, 1hour 50mins)
Last movie on my list. Aku pernah mentioned
this movie in my previous blog (Dec 29th, 2011, Follow Me! Part 1 & Follow Me! Part 2). It tells the story of Vivien Thomas
dan relasinya dengan dr. Alfred Blalock. Yang jadi tokoh utamanya bukan
surgeonnya, tapi surgery technical assistant-nya itu. The skilled layman who
has a surgeon hand. Based on true events yang diambil dari Washingtonian
magazine article “Like Something The Lord Made” by Katie McCabe & Thomas’
autobiography “Partners of the Heart : Dr.Vivien Thomas & His Work with
Alfred Blalock”. Filmnya menceritakan lika-liku kehidupan Thomas mulai dari
berhenti sebagai tukang kayu, kemudian menjadi asisten lab dr. Blalock di
Vanderbilt, dan akhirnya menjadi asisten dia di Johns Hopkins University yang
ternama di US. Thomas harus bekerja keras menghidupi keluarganya, menghadapi
diskriminasi di berbagai bidang, dan belajar menerima kenyataan tidak bisa
menjadi dokter, sambil terus berjuang menemukan his heart passion. Berkat
eksperimen bersama Thomas, dr. Blalock menjadi pioneer operasi jantung pada
bayi dengan congenital heart defect.
The good :
The movie reminds me tentang melayani di
belakang layar. Memang ada berbagai alasan mengapa Thomas wasn't recognized as
he's supposed to get for many years. But apart from that, medical service in
its truest form doesn't require recognition. Yg penting adalah pelayanannya. It
takes humility to work behind the stage. Apalagi bagi pengikut Kristus yg dipanggil
menjadi dokter. Harus meneladani Christ’s humility who has rejected all His
entitlement to become human like us, in order to atone us & save us from
eternal death. But it's not easy because of our prideful nature. And the world
around us holds a different standard of success. Harus jadi yang terdahulu,
yang diakui, yang ternama, yang kaya, yang berkuasa. Serving without thinking of recognition is a
challenge for us all.
Aku juga belajar untuk menghargai orang2
yang ada di sekitarku, baik personel medis non dokter, maupun personel non
medis. Mereka semua memberikan knotribusi bagi patients’ welfare. Kita semua
adalah satu tim kerja. Jadi ingat perawat2 atau teknisi lab zaman medschool
dulu yang membantu kami belajar. Sekarang jadi ingat perawat2 senior di IGD
maupun OR yang mengajariku banyak hal sehingga bisa menjadi dokter yang semakin
baik dari hari ke hari. Kita bisa belajar dari siapapun, tidak hanya dari
sesama dokter. It takes humility to learn from them, to be grateful to them,
& to recognize them for their contribution.
Yang terakhir adalah tentang jalan hidup
VS cita-cita. Cita-cita Thomas sejak kecil adalah menjadi dokter. Tapi pada
akhirnya dia dipanggil untuk menjadi surgery technical assisstant yang menjadi
pengajar calon-calon dokter selama puluhan tahun. Dia memberikan kontribusi
terhadap dunia kedokteran melalui penemuan teknik operasi bersama dr. Blalock.
Dia menjadi berkat untuk banyak orang melalui cara yang tidak dia bayangkan
sebelumnya. Bisa saja Thomas terus menerus putus asa dan pahit hati, tapi dia
memutuskan to get on with life & do what he loves the most, with what God
has given him (a skillful hand). Seperti yang Tuhan katakan dalam Yesaya 55 :
8-9 bahwa pikiran dan jalan Allah bukanlah seperti pikiran dan jalan kita. But
we believe that “For I know the plans I have for you, declares the Lord, plans
for welfare and not for evil, to give you a future and a hope.” (Jeremiah
29:11) Yang penting adalah memuliakan Tuhan dengan talenta yang kita miliki,
dengan cara yang Tuhan mau, pada masa yang Dia tentukan.
“Are
you sure you did this, Vivien? This is something like the Lord made” – Alfred Blalock
praises Vivien Thomas’ surgical skill.
Ì
Dari
keempat film diatas, aku belajar banyak hal. Bagaimana berempati dengan pasien.
Bagaimana memenuhi kebutuhan mental dan spiritual pasien, selain kebutuhan
jasmani mereka. Bagaimana menjadi dokter yang memiliki kehidupan yang seimbang
(antara medical career, church ministry, and family life). Bagaimana menjadi
anggota tim yang baik, yang menghargai personel medis non dokter & personel
non medis lainnya. The multi-facet dimension of a doctor’s life.
Mungkin
bagi teman-teman yang bukan dokter, pelajaran yang didapat akan berbeda. But I
hope you can enjoy these movies as much as I do. Feel free to share your
thoughts / your opinions after seeing those movies =))
Until
next time amigos! ^^
Ì


Post a Comment
What do you think? ^^