"THE SURVIVORS"
Episode Dawar Challenge Test
Episode “The Survivors” kali ini diawali dengan sebuah ide untuk melakukan darmawisata (nama bekennya : rekreasi) ke air terjun Dawar di Dsn. Dawar, Kec. Sanggau Ledo, Kab. Bengkayang, Kalbar. Lokasinya sekitar 4 jam dari RSUB (dgn mobil pribadi). Original ideanya melibatkan tim Bedah, yaitu KOB (kmr operasi) dan Mata, dgn prediksi peserta para perawat KOB & Mata beserta keluarga, juga para spesialis bedah (Bedah Umum dan Mata) beserta keluarga.
Seiring berjalannya waktu, entah mengapa, jumlah peserta makin berkurang & berubah-ubah terus, hingga akhirnya hari ini ada sekitar 25 orang yg berangkat yg terdiri dari perawat KOB, Mata, bangsal lain, org2 admin & keuangan, 1 SpB, 1 SpRad, 5 dokter umum, 1 fisioterapis, 1 kasir, 1 bumil, dan 2 anak balita.
Kami berangkat dari RSUB ½ jam lebih lambat dari waktu yg direncanakan menggunakan 2 kendaraan : bus kecil Akper dan Kijang Krista 1070. G ikutan yg 1070. Ada NL sbg pengemudi dgn co-pilot Om Fah (yg naturnya mabuk mobil berat), IH dgn Lana dan Dindin, DW, dan deretan belakang diisi the big three : LA, B’ Tius, dan MT.
Jalan mobil menuju Dawar tidak mulus. Pertama kami harus melewati D’Vandering – belokan2 maut dan illogical menyusuri pinggang gunung, tidak jauh dari Serukam, menuju kota Bengkayang. Kedua, jalan beraspal gerenjul (bhs gaulnya dari : tidak rata & berlubang-lubang) sepanjang 1 jm perjalanan sejak belok di Sanggau Ledo s/d dusun Dawar. Cuma lurus doang tp menimbulkan sensasi kebas & tingling a/r gluteus bilateral karena lamanya waktu tempuh jalan gerenjul tersebut.
Di dalam 1070, hanya ada 2 orang yg pernah ke site tsb, LA & IH. Mereka main kesana 10 thn yg lalu dan meninggalkan kesan yg sgt menyenangkan buat mrk. Jd kali ini mrk membawa serta kedua balita mrk, yg terkecil Lana umur sktr 1thn-an. Blm ada survey resmi stl 10 thn yg lalu ttg lokasi tsb, hanya dari kata orang saja. Honestly, g juga gak tanya2 gmn medan yg akan dihadapi. Pas diajakin ikut, hayu2 aja krn blm pernah. Jadi dengan polos, g bercelana pendek, bawa baju ganti (walo gak niat nyebur), pake sandal jepit, bawa sunblock & payung, tapi lupa bawa topi serta gak pake backpack (tp tas yg digendong di samping).
Thn 2009, g pernah berwisata ke Riam Merasap (air terjun juga), sama-sama di Kec. Sanggau Ledo, tp lbh dekat dari jalan utama, di Desa Segiring. Waktu itu kami berempat, my bro, g, Epen (tmn FK g yg PTT deket situ), dan VK. Jadi hanya sampai Pkm 17, tmp tmn g PTT. Tp lbh jauh dr itu, blm pernah dicoba. Yg g inget adalah jalannya jelek.
Pk 11.00an kami mentok di dusun Dawar (stl memastikan arah dgn penduduk setempat 2x sebelumnya). Stl tanya2 sedikit ttg arah menuju air terjun, kami berangkat dgn PD, 1 rombongan berjalan kaki menyusuri jalan tanah, padang rumput, ladang jagung dan ladang sahang (merica). Konon tmp tsb hanya 15 mnt perjalanan jauhnya (klo pk kaki penduduk setempat). So seburuk-buruknya, 30 menit-an lah pake kaki kami.
Hujan mulai turun rintik-rintik di musim kemarau yg panas di Borneo. Sudah 1 jam-an kami berjalan menyusuri ladang orang tp blm ada tanda2 jalan menuju air terjun. Suara air sudah terdengar di kejauhan, tp mana jalannya?? Mana hujannya berubah menjadi lebat lagi. Akhirnya sebagian dr kami berlindung sejenak di pondok di ladang jagung orang dan menyadari bahwa kami tersesat. Lost.
Gak lama, sebagian perawat memutuskan untuk mencoba mencari jalan menuju air terjun. Ada 1 jalan setapak yg curam menuju ke arah suara air berasal. IH tidak yakin itu jalannya karena seingat dia seharusnya jalannya tidak curam dari awal. Landai dulu lalu curam di dekat batu2 dekat air terjun. Tapi mereka nekat mencoba. Yang tertinggal di atas adalah 1 bumil dan hubby-nya, 2 balita beserta para penunggunya (LA, IH, NL, DW, g, dan MT). Soale kaga mungkin-lah kami coba jalan curam itu sambil bawa balita, apalagi belum tentu benar & entah menuju kemana….
Sambil melihat rombongan mereka berlalu, NL dan LA mensurvey area lain tidak jauh dari pondok tmp kami berteduh sebentar tadi. Kami menunggu kabar dari mrk apakah ada jalan. Tidak lama, NL kembali menjemput kami karena mereka sudah menemukan “jalan yg landai” itu. Hujan msh turun, balik jadi rintik2 dan kadang berhenti. Tapi jalan sudah mulai licin. Dindin yg mulanya dgn gagah berani berjalan sendiri mulai kesulitan krn rumput2 yg tinggi dan banyak akar pohon yg besar2. NL menggendong Dindin dan menunjukkan jalan. Kami semua mengikuti di belakang. Ketika mulai masuk hutan, jalan mulai menurun, tiba2 LA muncul di ujung sana dari arah berlawanan.
Beliau pucat pasi dan takipneu. Keringat2 sebesar biji jagong bercucuran. Dia ngomong beberapa patah kata yg gak jelas lalu batuk2 keras dan keliatan sesak nafas. Tas gembolannya dijatuhkan ke tanah lalu dia berbaring, masih takipneu dan kelihatan gak mampu meneruskan perjalanan. Terjemahan dari NL : salah jalan. Kami harus balik lagi ke atas dan mencari jalan lain. IH mulai panik krn mengkhawatirkan hubby-nya. Akhirnya diputuskan NL akan menunggui LA di bawah sana, sementara rombongan sisanya kembali ke atas.
Waktu tiba di atas, hujan makin lebat. Bumil dan hubby-nya memutuskan untuk mengikuti jejak langkah rombongan sebelumnya (jalan curam ke bawah yg entah menuju kemana), sementara sisanya (IH, 2 balita, DW, MT dan g) memutuskan berteduh di pondok ladang jagung itu dan makan siang dulu. Tapi kekhawatiran akan kondisi LA kayaknya membuat makan siang itu juga gak berjalan lancar. Ada kekhawatiran NL & LA tidak tahu kami di pondok & akan mencari-cari. Akhirnya g kembali ke jalan landai tadi u/ memberitahu NL bhw kami di pondok.
Tapi waktu g nyampe disana, keduanya tidak ada lagi. Kemana mrk??
****
Kembali ke arah pondok, mereka sudah berhenti makan siang (bahkan para balita pun gak selera makan) dan memutuskan untuk kembali ke dekat jalan curam yg telah dilalui oleh rombongan sebelumnya. IH masih mencemaskan LA. “Blm pernah lho dia capek smp segitunya. Dia ada bakat MI serangan jantung) lagi. Dan juga udah lama gak pernah olahraga….”
DW & g volunteer untuk mencoba rute terjal tersebut, sementara MT, IH, Dindin & Lana tinggal diatas. Tapi baru beberapa meter, hujan mulai turun lagi shg niat survey tsb dibatalkan krn klo hujannya makin besar, sulit untuk naik kembali keatas saking licinnya. Pas g & DW nyampe lagi diatas, ada NL. Dia disuruh LA mencari orang setempat dan menanyakan arah jalan ke air terjun. Lalu dia berniat kembali mencari LA.
Akhirnya kami berdiri di bawah payung dan menanti. 4 adults, 2 toddlers, di bawah hujan, dan tersesat. We’re lost, totally lost. Payah juga klo punya kelompok yang terpisah-pisah. Mana gak ada sinyal di pedalaman macam begini. G mulai merasa situasinya makin gawat. Tp kegalauan g langsung sirna waktu melihat si kecil Lana. Di bawah payung nyokapnya, anak perempuan lucu itu terduduk di atas rumput lembab, menghibur diri dgn bermain daun, dan tersenyum-senyum sendiri dgn gembiranya. Weleh2, enaknya jadi anak kecil. Biar basah, sengsara, tersesat, Pampers udah fully loaded, msh tetap bs ceria ;D
Secara tak diduga, B’ Tius tiba2 muncul dari arah jalan curam dengan basah kuyup dan nafas tersengal-sengal. Dia bilang rombongan awal berhasil menemukan batu2 dan sungai, walau tnp air terjunnya. Dan dia juga bilang LA ada di belakangnya! (& membuat IH berkurang cemasnya ^^) NL juga muncul untuk mengabarkan LA tidak ada lagi di jalan landai. Tak lama kemudian LA memang betul2 muncul, masih dengan nafas tersengal2 dan keringat sebanyak air cucuran atap (bercampur dengan air hujan haha, udah gak jelas). In one piece.
Lagi2 bapak itu berbaring di tanah, kecapean berat (karena turun naek lereng bukit), tapi kaga MI hahahaha…. Ternyata hanya acute respiratory distress e.c senilitas doang ;D Badan 10 thn yg lalu kaga sama lagi dgn sekarang. Lana yg masih gembira bermain daun, tiba2 memutuskan untuk makan daun (aduh, nak, si pemakan segala) dan menawarkan daun sama bapaknya (with that adoring cute smile & baby talk, wehehehehe).
Sesudah break sejenak, kami memulaii kembali petualangan mencari air terjun Dawar. Kali ini mengandalkan NL yg sudah dapat petunjuk dari orang lokal. Ternyata kami tersesat jauh, kelewatan jalan. Harusnya belok di bks ladang yg terbakar dan ada tong birunya, kami malah nyelonong terus jalan ke arah sebaliknya. Memang sangat penting untuk bertanya pada orang yg tepat spy tidak tersesat.
Jalan baru yang kami lewati sepertinya cukup menjanjikan (walau tidak terdengar suara air sedikitpun). Jalannya landai, melewati ladang orang lalu masuk hutan. Tidak lama kemudian terdengar samar2 suara air dan menyusul setelah itu pertemuan dengan kelompok para perawat dan pegawai yang lain. Waah, akhirnya kami mulai berkumpul kembali! =) Well, almost everyone, kec. HD, bumil dan hubby-nya yg memutuskan untuk menunggu diatas stl tersesat 1x. Good choice, bumil. Harapan kami akan jalan yang benar semakin besar waktu berdiri di tepi tebing dan dibawahnya jalan curam dan terjal dengan batu2 besar. Sepertinya inilah jalan yg kata IH dulu mereka lewati.
Tapi muncul tantangan baru. Dengan kemiringan nyaris 70 derajat, hujan gerimis (pokoke kuantitas hujannya bervariasi tp pada intinya hujan terus), dan medan yg sulit, bagaimana caranya mengirimkan Dindin dan Lana (yg sdg tertidur pulas) dengan selamat smp di bawah??
Akhirnya kami mulai estafet. Pertama Dindin yang diturunkan. G, MT dan NL meng-estafet Dindin smp di titik aman pertama (kyk kuis di TV aja). Lalu NL naik ke atas membantu estafet Lana (yg still tertidur pulas walo dioper-oper – klo dia buka mata, dia merasa horor kali ya??). Jadi estafet Dindin dilanjutkan oleh kami berdua. Syukur ada MT dgn otot2 lengannya (bayangkan otot Popeye saat habis makan spinach – tuing, tuing) yg mengangkat Dindin berkali-kali dari tmp2 sulit. Anak cowo yg super-brave itu sempet gentar juga wkt liat jalan setapak yg curam itu (berasa mo jatoh). But still, he was very brave and persevered ‘til the end =) (demi melihat air terjun yg telah dijanjikan bonyoknya sjk 1 mg lalu ^^”).
And finally, we arrived at the waterfall site!
Only to find bhw air terjunnya deressss banget dan air sungainya sedang tinggi meluap dengan arus yang tidak kalah deras. Mo gimana bisa berenang? Bisa hanyut yang pasti mah…. But apart from the falling rain (yg makin lama makin lebat…lagi) & the dangerous river, waterfall-nya sendiri keren juga. Tingginya sekitar 15-20 meter, tp tidak selebar Riam Merasap. Orang2 sibuk foto2 diri (sbg bukti pernah mencapai site tsb), 2 orang berusaha menyeberangi sungai, 2 orang berusaha memancing ikan, dan beberapa orang lainnya sibuk mandi dan keramas (pake bawa shampoo dan sabun segala).
Sementara itu, di sisi keluarga LA, kedua ortu itu lagi sibuk ngeganti baju anak2 mrk dgn baju renang, tmsk perjuangan mengganti popok Lana (cat : semua adegan ini dilakukan di bawah payung soale hujan). Pas ganti popok, eh tnyt ada benda item2 menempel di paha Lana, tak lain dan tak bukan : pacet. Pas dicabut, masih berdarah dikit dari bekas perlekatannya. Duh, kesian (tapi Lana sih gembira2 aja tuh, kaga kerasa sakit). Waktu dibersihkan di sungai (dgn airnya yang freezing), balita itu malah giggling dgn senang (walo kedinginan) =)
Fisioterapis yang mancing berhasil menangkap seekor lele. Hipotesis kami, dia pasti nyangkut karena bibirnya yang tebel itu (bkn krn liat umpannya, saking deresnya tu aer) hehehe…. Sayangnya lepas lagi waktu ditaruh di plastik. Di batu lainnya, MT lagi pasang pose foto (minta difoto) sambil menikmati air terjun. Sayang gak ada sinyal, klo ga bisa lsg diupload deh sama dia ^^ wehehehehe....
Namun lama kelamaan air yang turun dari langit makin deras sampe akhirnya bener2 hujan besaaaaar banget. Dalam kondisi ¾ basah, g & DW berlindung di bawah payung (cm demi kepala doang), sementara LA & IH juga berpayung bersama kedua balita mereka, masing2 menggendong satu. Nasib tas2 kami & semua barang yg ada di dalamnya jangan ditanya lagi deh…. Dan hujan besaaaar itu tidak menunjukkan tanda2 akan berhenti. Kami udah mulai menggigil kedinginan, apalagi para balita (yang lupa dibawain jas hujan tersebut). Tapi Dindin & Lana tetap tabah (sabarrr...dalam susah sukamu...sabarrr....)
Beberapa orang mulai bergerak naik. Kami pun ikut serta bergerak pulang. Tebing curam yg susah payah dituruni tadi sekarang harus dinaiki sekuat tenaga. Karena udah cape & sedang hujan besar, Dindin dititipkan (smbl setengah melawan) untuk digendong Om Fah yg perkasa. Lana digendong LA. Beriringan, satu demi satu berupaya menaiki bebatuan untuk mencapai puncak. Badan yg 75% basah sekarang sudah 110% basah kuyup karena gak mungkin pake payung pas naek. Pengalaman yang langka buat g : soaking wet =) Tiba2 merindukan hot bath, hot soup, and hot chocolate (bari menggigil kedinginan hehehehe).
Syukurlah sampai diatas dengan selamat. Orang2 bergerak dengan kecepatan super cepat, termasuk Dindin yg tetap digendong Om Fah dibawah payung. Sementara Lana (dgn kepala dibungkus) digendong IH dibawah payung, berada di barisan belakang, berjalan pelan tapi pasti. Ditemani LA, NL, DW, & g. Sedikit demi sedikit, kami menyusuri jalan pulang yang super becek, sambil mengobrol ditemani curahan air dari langit. Klo diinget-inget, mungkin totalnya 1,5 jam kami diguyur hujan dalam berbagai intensitas dan ditutup dgn hujan besar persisten kronis ini =) Pasrah basah deh, yg penting bisa pulang selamet ^^
Waktu melihat deretan rumah penduduk di dusun Dawar, rasanya legaaaa banget. We’re saved!
EPILOG
Ada penduduk yg berbaik hati menawarkan WC-nya untuk kami, para cewek, ganti baju (karena udah basah head-to-toe). Setelah itu bergerak pulang dalam mobil dgn high speed (hidup Mumbay-Calcutta!)(dan langit tiba2 berubah jadi biru cerah mengiringi perjalanan pulang kami ^^’’’’’’). Kedua balita langsung tepar di mobil. Dindin tertidur sampe deket Vandering, sementara Lana cuma tertidur setengah jalan, lalu bangun minta makan. Anak itu lapar & haus banget, sampe2 Antimo cair bisa diminum sambil makan cracker & waktu mulutnya dilap tissue basah, tissue itu kena makan juga (ckckck).
Kami excited waktu udah nyampe Vandering (dgn bayang2 bhw rumah sudah dekat), ketika tiba2 terdengar keras
“Ndussss!!” dan “Gredeg gredeg gredeg….”
MT menyimpulkan semuanya dgn 1 kalimat bijaksana, “Lengkap sudah perjalanan kita hari ini…dengan ban meletus!” ^^ Sebenernya g pengen ketawa ngakak waktu itu, walo kerasa miris juga bahwa ban belakang kiri bocor tepat di tikungan terakhir menuju Serukam.
Petualangan kami berakhir waktu kami ditampung bis Akper dan diangkut ke Serukam, meninggalkan LA, NL, dan Pak Sulis di Vandering, bergumul dgn ban bocor (thx guys).
Puji Tuhan bisa pulang =) What a day! ^^v
LESSONS TO LEARN
1) Never underestimated the nature. Take it seriously.
Ketika memutuskan untuk berpetualang di alam bebas, semudah apapun track-nya, tetap harus disikapi dengan serius. Kuncinya : preparation, preparation, dan preparation. Because nature can turn cruel & rough anytime. Apalagi ketika kita berpetualang bersama kelompok2 rentan : anak2, bumil, lansia, org berpenyakit ttt yg beresiko. Harus dua kali kebih siap menghadapi kondisi tak terduga dari alam.
2) Know yourself & teammates
Petualangan “The Survivors” macam begini memberikan kita valuable insights tentang diri sendiri & orang lain. The best & worst of men bisa keliatan waktu under pressure macem begini. Juga harus bisa mengukur diri, mampu/tidaknya melakukan sesuatu. Jika tidak mampu, siapa yg bisa membantu/harus menghubungi siapa. Tapi juga jgn tll takut untuk mecoba sesuatu yg baru. We’ll be surprised to find out our other unknown sides =) Hidup itu pada dasarnya penuh petualangan. Let’s take a (necessary) risk ^^
3) LA bersabda (di salah satu home speech-nya) “Rekreasi itu tidak selalu untuk bersenang-senang, yang penting jumlah yang pergi dengan pulang sama” Wakakakakakakak…parah….
Menurut g sih, definisi “bersenang-senang” itu relative. Tergantung pemaknaannya. Yang penting sih, apapun objek wisatanya/kegiatannya, yang menentukan fun/tdknya adalah dengan siapa kita pergi (tapi gak berarti boleh tanpa persiapan ya). Orang2 yg attitudenya OK, tahan menderita, sabar, mau mencoba & berusaha adalah rekan2 seperjalanan yang sangat menyenangkan. Drpd yang ngomel2 ga jelas, tnp solusi, dan lower the morale (menurunkan semangat tim). Rencana terbaik pun bisa saja gagal, tetapi tim yang baik akan menjamin keberhasilan suatu misi, semudah/sesulit apapun itu. A good teamwork is priceless.
4) “Lengkap sudah perjalanan kita hari ini…dengan ban meletus” – remark MT mengakhiri hari kami yang “ruarrr binasa”. Bahkan kejadian terakhir itupun berada dalam kerangka kasih Allah. Dalam keadaan seburuk apapun (dari kaca mata manusia), selalu ada anugerah Allah yg patut disyukuri. Syukur gak terus2an tersesat, syukur bisa nyampe air terjun, syukur masih bisa main, syukur gak celaka (gak ada yg terluka parah, MI, hanyut, dan berbagai kejadian buruk lainnya), syukur anak2 tabah & tetap ceria, syukur gak premature contraction/2nd trimester bleeding/KPD, syukur meletusnya udah deket Serukam, syukur semuanya kembali dengan selamat, syukur karena sudah percaya Yesus (klo ga bisa2 mandi kembang 7 rupa karena 1 hari yang weird), dan syukur masih tetap bisa menikmati perjalanan ini =)
5) Be flexible and enjoy everything that can be enjoyed.
Buat g secara pribadi, the adventure is really enjoyable. Cape banget sih pasti, myalgia generalisatanya aja masih akan menetap smp besok, ditambah TTH e.c keujanan besar. Fascinating, unbelievable, menantang, dan bisa belajar banyak hal. Thx to God, thx to one great team, companionship-nya enjoyable banget, t.u yg bareng2 di 1070 – suka duka ditanggung bersama bow! U guys rock!
I would definitely go for another adventure w/ u guys, next time ^^ (God helps us plz)
Post a Comment
What do you think? ^^