Ketika mendengar kata “July” dan “tropical island”, yang terbayang dalam imaginasi g adalah “sunbathing, pasir pantai, surfing, coconut (sluuurp…aah segeer), and of course…Bali! “ The gods’ island, so they said. Pokoke konotasinya liburan banget deh.
Tapi faktanya, ada discrepancy besar antara imaginasi dengan realita. Pantesan nenek moyang suka menghardik descendants mereka waktu para keturunan itu sedang leyeh2 di depan rumah menikmati angin sepoi-sepoi dan daydreaming – dibilang “Jgn kebanyakan ngimpi, ndhuk!”
Karena dua frase untuk menggambarkan “liburan” musim panas g di Serukam adalah :
“Maaf sudah penuh!” dan “Ga da matinya!!” J
Langit tetap biru cerah dan matahari tetap bersinar terik di ekuator. Tidak ada tanda-tanda alam yang memberi kami peringatan. Hanya saja, di suatu hari klinik, waktu melapor untuk bertugas di IRJ (abis visite like usually), g (dan juga sejawat yang lain ) mendapati sejublak status px bertengger di dalam kotak kami dan waktu diteliti, nomernya (waktu itu pk 11.00) sudah mencapai 123 (heeeeehh??). Waktu masih mengucek-ucek mata (untuk memastikan ga salah liat karena terdistorsi oleh belek yang mungkin masih tersisa), tiba-tiba salah satu anak Akper udah muncul lagi dengan senampan status yang tingginya menyaingi tart kawinan. Wadaw!!
Dan begitulah awal kisah perjuangan panjang selama minggu2 hectic di bulan Juli. Tuhan memberkati Serukam dengan LUAR BIASA. I’m not saying it in a cynical way lho. I’m saying it with full consciousness and with gratitude (even though I’m aware with all the “side effects” of the blessings J).
Di hari-hari klinik, kami kebanjiran sampai 180 pxs/hari (terdiri dari px umum, mata, gigi). Pulang jam 17.30 bagi dokter itu ‘bayang-bayang’, dan pulang jam 15.30 bagi perawat IRJ itu ‘mimpi’. Waktu istirahat makan siang udah ga pernah 1 jam lagi. Bisa cabut 15 menit sudah bersyukur. Yang penting cukup untuk duduk sekejap, masukkan nutrisi (survival food) ke oropharynx sekejap, bilas dengan air minum, dan back to work babe! (sambil menunggu peristaltik menyelesaikan sisanya J) Di hari-hari non klinik (selain Senin & Rabu), pxs ga terlalu banyak, tapi karena banyak dokter yang operasi (giliran ke KOB) tetep aja kerasa banyak untuk orang2 yang tersisa di IRJ.
Dampak lain dari “banjir bandang” itu adalah penuhnya kamar-kamar rawat inap, terutama kelas III. Setelah kelas III penuh, giliran kelas II dan I yang terisi. Ada suatu masa dimana Narwastu (VIP-nya Serukam) pun nyaris tak bersisa. Sehingga saat g duduk sebagai dokter jaga, yang pertama kali g tanya ke perawatnya adalah, “Masih ada kamar apa kita hari ini?” Dan saat ada px datang dengan ambulance, harus segera dilihat dan ditahan ambulancenya. Bila memenuhi kriteria, maka cepat-cepat kami bilang, “Maaf sudah penuh!”. Dengan terpaksa, px tersebut harus dirujuk ke RS lain.
G bilang “dengan terpaksa” karena merupakan suatu kebiasaan, bahkan budaya yang sudah berurat akar, bahwa Serukam tidak akan menolak pasien. Jaraaaaang sekali itu terjadi (kec.klo misalnya memang harus segera ke Ponti untuk CT-Scan kepala pada kasus severe head injury) dan ketika melakukannya, ada rasa jengah & keterpaksaan didalamnya. We don’t usually do that, but kali ini, terpaksa dilakukan karena mo dirawat di mana lagi toh?? Lha wong ruangan sudah penuh…. Ato ada juga kejadian dimana keluarga px ngotot banget pengen dirawat di Serukam, padahal kondisi px yang udah delir ga jelas (delir=delirium) mewajibkan dia dirawat di ICU. Sementara ICU-nya penuh (dan ga da yg bisa digeser krn msh pada gawat). Terpaksa-lah dirujuk balik ke Skw (padahal dia pk ambulance dari Skw!!). Dijelaskan baik-baik, sampai2 g kasih no.IGD Serukam, kalau2 msh penasaran & pengen nanya kamar di lain kesempatan.
Jadi “Maaf, sudah penuh!” terjadi beberapa kali saat ruangan rawat inap / ICU penuh. Pada tiap kali kejadian, kami berusaha supaya px bisa ditransfer secepat mungkin. Jangan sampe transit di Serukam memperlambat waktu mereka mendapatkan definitive treatment yang bisa didapetin di tempat lain. Pengalaman inipun mengajarkan keterampilan yang lain buat g. Mengukur kemampuan sendiri salah satunya. Klo kami mampu (dalam artian ada tempat), ndak mungkin kami tolak. Itu salah satu keistimewaan Serukam yang g hargai ;D
Setelah ditinggal pergi para sesepuh, sekarang para pejuang ada 7 orang : Ags (the master), YH (bapak internoid), TM (ibu jamkesmas), CR (yaitu g), SA (the “MTA”), AI (the basket-eye), ND (juara ngocol). Dengan 2 orang substitute players: VK dan FD (yang masih orientasi).
Walaupun bertujuh, dari hari Senin-Kamis, hanya ada 6 orang yang bisa masukin px karena ada sistem ‘dokter klinik’. Dokter klinik adalah orang terpilih yang full-on-duty di klinik Senen-Kamis selama 1 minggu itu. Dilarang ke KOB, boleh ga ikut morning report, ga boleh visite lama2 krn teng jm 8 udah kudu standby di klinik. Menerima nyaris semua px baru dan px kontrol yang gampang2 & bisa cepet. Di kertas catetan px, biasanya dia akan melesat dengan kecepatan cahaya meninggalkan kami. Tapi…teuteup aja klo Ags & YH sih biasanya banyak terus pxnya. Dan belakangan, g juga dapet byk terus (walo bukan dr.klinik). Apalagi waktu TM tugas luar. Berlima deh kami giliran masukin px rawat inap hasil saringan dr.klinik. Oya, ada lagi priviledge-nya DK. Secara dia uda ngos2an periksa px di IRJ, dia ga masukin px dari Sn-Kms. Jadi, klo ada px MRS, dioper ke dokter laen yang jumlah px rawat inapnya paling dikit, yaitu salah satu dari kami.
Urusan masukin pxs kadang2 aga sengit karena pada bulan Juli ini juga, beberapa kali “the chosen one” menembus level 15 untuk jumlah px rawat inap (such as the mighty Ags - way to go, Ka!!). Ga mungkinlah mrk disuru masukin lagi. Jadi pada prinsipnya sih bergiliran. Pokoke “Ga da matinya!!” deh px dateng dan masuk dirawat. Apalagi klo lagi jaga malem.
Saat jam klinik, pxs yang terus berdatangan dan “Ga da matinya!!” bisa dibagi-bagi ke dokter2 yang lain. So, masih tertahankanlah ya. Namun, saat jarum menunjukkan “Setengah LIMA”, ujian bagi dokter jaga dimulai. Semua pxs rawat jalan yang lambat datang akan berakhir di kotak dr.jaga. Belum lagi ditambah truk, Kijang, ambulance, motor, dan mobil umum yang “mampir” di depan pintu IGD mengantarkan “Ada pasien baru!”
Berdasarkan pengamatan, minimal ada 3 tipe jaga yang berhasil diidentifikasi di Serukam (bagi yang sudah tahu, maaf diulangi lagi J hehe).
Jaga tipe III adalah jaga yang notabene cuma mindahin badan doang, dari kasur di rumah ke kasur ruang dokter alias kosong bo..sepiiiii..ga da pasien IGD dan ga da konsul dari ruangan juga. Silent night, peaceful night. Sekali, dua kali dalam hidup ada juga lah kesempatan untuk dapat ketenangan seperti ini.
Jaga tipe II adalah jaga yang mirip dengan punya bayi baru lahir. Tiap 2-3 jam sekali, ngeeeng…tidur bentar, ngeeeng lagi… Jumlah pasien mungkin ga banyak, tapi mereka dateng pada waktu2 yang “ga enak” (misalnya subuh-subuh). Ato diselingi dengan krang-kring dari ruangan. Jaga kayak gini masih bisa tidur sih, tapi suka bikin hangover karena terbangun tiap 2-3 jam sekali. Mo pules dikit, eeh, dateng lagi pasien. Ga gawat lagi.
Sementara jaga tipe I adalah jaga beneran alias TERJAGA TERUSSS!!! Pasien dateng ga abis-abis di IGD (entah kenapa semua orang sakit hari itu), baik yang engga gawat maupun yang beneran gawat darurat. Yang gawat daruratnya kudu maju operasi CITO lagi, saat itu juga, ga bisa dibesokin lagi. Waktu ngurus mereka2 yang gawat, bisa ada telepon dari bangsal karena ada pasien nafas satu-satu di ruangan. Setelah ngurusin ruangan, operasi sudah siap dimulai. Saat lagi jadi asisten operasi (biasanya mata udah 4,5 watt dan tes Romberg positif alias udah goyang kiri-kanan nyaris tumbang), eeh….perawat dari IGD menelepon dan menyampaikan, “Dok, di depan udah ada 4 pasien yah. Yang satu…yg kedua….sementara yg ketiga, dan yg keempat dok, masih sodaranya yg kedua…bla..bla..bla” So, basically, you’re up all night and belel banget paginya.
Sepanjang bulan Juli, jaga tipe I is my on-call style ;D
There’s a good illustration from one of my fave books “Through His Eyes” by Kathy Collard Miller. I recommend all girls and women to read this book. Bener2 dari cewek, untuk cewek, dan ditulis dengan gaya yang ngertiin banget cewek.
Kathy bercerita tentang seorang pembicara, Gary Thomas, yang menyampaikan ilustrasi tentang the difference between responding to people with a full soul & an empty one. Bayangkan jika kamu belum makan apa-apa selama 36 jam dan kamu diundang ke suatu perjamuan makan. Ketika kamu nyampe, tuan rumahnya bilang ia perlu bantuan kamu untuk menghidangkan makanan. Tapi kamu lagi laapaaaar berat. Kamu tetap bilang iya sama tuan rumah. Tapi waktu kamu menyajikan makanan, kamu letakkan piringnya sembarangan, dengan setengah kesel, ngomel karena orang lain bisa makan, sementara kamu belum. Pada waktu kamu akhirnya bisa makan, kamu bahkan tidak bisa menikmatinya karena terlanjur kesel.
Namun jika kamu diundang ke perjamuan makan siang itu, setelah sebelumnya sempet brunch, setidaknya kamu akan nyampe dengan perut cukup kenyang. Saat tuan rumah minta kamu membantu menyajikan makanan, dengan senang hati kamu akan bilang iya dan tidak keberatan menunggu giliran makan belakangan. Kamu melayani mereka dengan baik dan memenuhi segala permintaan mereka dengan sabar. Senyum melekat di wajah kamu dan mudah bagi kamu untuk menunggu giliran untuk makan.
So, the difference between responding to people with a full soul & an empty one : an empty one hasn’t received God’s love, presence, grace meanwhile a full soul has already feasted on God’s encouragement & love, the fellowship of the Spirit, & the support of others. That soul is now able to respond to others with joy, grace, and cheerfulness.
Klo g merefleksikan ini sm pengalaman g sendiri, salah satu tantangan paling besar muncul klo abis jaga. Terutama post on-call type I. Pagi2 tuh seringkali dimulai dengan miserable. Semuanya serba cepet2. Cepet2 mandi&makan, lalu laporan pagi, disusul lari ke KOB klo ada pasien mo maju op. Habis dari KOB, px ruangan belum divisite, padahal di kotak depan udah penuh px yang mulai ga sabar nunggu. Belum lagi ditambah hypoglycemia, hypoxia, dan brain-jammed e.c kurang tidur. It’s difficult to respond to others with joy, grace, and cheerfulness. Basically, all u wish is that day will end soon & u will have your long, lost bedtime.
G jadi lebih sadar mengapa quiet time w/ God is very important, yang didalamnya mencakup berdoa dan baca FT. Itulah saat2 roh kita diberi makan, disegarkan, di-recharge. We have to feast on God’s love first before we are able to share that love to others. Dan saat melakukannya pun, kita sangat tergantung dengan God’s power within us. No way we can do it by our own strength. We’re too weak and humane.
Satu hal lagi yang g sadari dari pengalaman bulan ini adalah God’s sovereignty over all. Bahwa Allah kita adalah Allah yang memegang kendali.
Semakin lama berada disini, g semakin menyadari segala kelebihan maupun kekurangan Serukam. Byk hal yang secara mata manusia mustahil untuk dilakukan/dipertahankan. But I am amazed with God’s hands who entrusted this hospital with so many difficult and various patients. I am grateful to God that He shows Himself in this way. Allah yang empunya pelayanan ini, bukan manusia. Allah yang mengatur semuanya ini, bukan manusia. Allah yang berkenan mempercayakan sedemikian banyak hal bagi kami untuk dikerjakan. Allah yg sama juga menyediakan segala sumber dayanya. Memanggil anak-anak-Nya dari berbagai penjuru untuk melayani disini sesuai dengan apa yang Tuhan siapkan bagi tiap pribadi. Menyediakan semua equipments yang diperlukan klopun Semuanya tuh balik lagi ke God, God, and God alone.
It is God who sustain this ministry, here in the backwood of West Borneo. Not World Venture, not the Gearys, nor the doctors, nor the nurses, nor any men. It is GOD.
Klo lagi nyadar banget ttg kebenaran ini, g suka jadi gemeter sendiri. The reverence for God comes to me. Klo semuanya ini milik Tuhan dan pekerjaan tangan Tuhan, ya ampun kok berani-beraninya kami nggak mengerjakan dengan setia bagian kami?? Padahal siapa sih kami ini? Manusia dari debu dan tanah.
Jadi keleru (bukan cuma ‘keliru’) klo seseorang/sklpk org smp berpikir bhw suatu pelayanan adalah milik sendiri. Semuanya milik Tuhan. Kita adalah pekerja2 yang dipanggil sesuai kapasitas masing2 untuk bekerja di ladang-Nya Tuhan. Keleru juga klo selalu khawatir kekurangan orang. Yang Empunya ladang akan memanggil para pekerja untuk bekerja di tempat yang Dia inginkan. Bagian kita adalah tetap setia : bekerja & berdoa.
Tapi Tuhan itu baik. Dia tetep kasih wonderful break di sela-sela hecticity yang hiruk pikuk itu. Setelah mengalami banyak “kehilangan” di bulan2 sebelumnya, I got to know new people, hanged out with them, belajar hal2 baru, dan ternyata merupakan jembatan yang Tuhan buat supaya g bisa belajar bersyukur lebih banyak & belajar tentang keajaiban kasih karunia.
I wonder what lies ahead. God, would You please walk with me?
----Juli, 2009---Seroekam---West Borneo
pleasing God in every path we steps, make me reconsider our thought recents days. always complain, always bored, alwyas rumble... but i realize that sign of hunger, need God love to fill our empty heart. thank u,sis for sharing ur experience wit Him.