TRAVELLING
THE BORNEOSKY
June 22nd, 2014
Yes, I’m travelling the Borneo sky again.
And today is exactly 3 months I’ve been here. After
2 years 3 months in my beloved hometown, I’ve decided to come to West Borneo
once again. Kali ini, bukan sekedar kembali seperti 4 tahun lalu. Tapi untuk memulai sesuatu yang
baru, bersama lembaga pelayanan baru, di tempat yang sudah kukenal.
Or so I thought. I thought I knew the place
wkwkwk.... But apparently there are so many changes in these past few years. Sesuatu
yang wajar untuk terjadi =))
Hal yang belum berubah masih banyak. Langit masih
sebiru dulu. Still as fascinating & captivating as ever. Udara masih segar.
Suhu udara masih panas (bahkan – ini bedanya – lebih panas dari dulu *usapkeringatsebesarjagung).
Burung2 masih berkicau riang di pepohonan rindang samping rumah. Tupai2 masih
asyik melompat2 dari satu pohon ke pohon lain. Hujan tropis masih mengguyur
dengan lebat dan hebat. Semut api masih menggigit (with all their might) sampai
merah meradang (haizzzz....).
Sementara hal2 yang berubah misalnya sistem stase.
Berhubung sudah ada SpOG, sekarang ada 3 pilihan stase yaitu Obgyn, Bedah, dan
Umum (yang mencakup Interna, Pediatrik, & segala sisa non Bedah–non Obgyn).
Mata berdiri sendiri, tidak ada dokter umumnya. Kuotanya : 1-2 GP di Obgyn, 2-3
GP di Bedah, dan >3 GP sisanya di Umum. Yang berubah lagi adalah rekan2
sekerja, baik dokter maupun non dokter. Banyak orang baru yang tidak kukenal.
Tapi masih tertinggal beberapa gelintir teman baik ^^ Lalu aku menempati rumah
baru (tempat ke-6 yang kutinggali sejak datang kesini sebagai peserta MMC thn
2008) bersama teman serumah yang baru. Dan segudang hal baru lainnya....
Ì
Tiga bulan
pertama ini kuhabiskan dengan “orientasi” (lagi). Berhubung ada sistem baru,
perlu untuk membiasakan diri. Bulan pertama di Bedah, lalu pindah ke Obgyn, dan
diakhiri dengan Umum.
Terbukti, aku banyak mengalami amnesia di bagian
Obgyn dan Pediatrik wakakakak.... Soale itu yang paling tidak terjamah selama
jadi dr.jaga ruangan. Di bagian Obgyn, kami cuma tahu terima bayi baru lahir
yang non SC dan periksa pasien Ginekologi. Sangat jarang pasien Ginekologi yang
jelek trus harus pindah intensive care. Di bagian Pediatrik, kami cuma periksa
anak2 dan berikan mereka obat2an simptomatik dan segera pindahkan mereka ke
intensive care kalau terjadi perburukan. Tapi tidak merawat sejak awal dan
menghitung segala cairan & obat. Itu tugas SpA-nya, bukan kami. Sementara
amnesia di bagian Bedah terjadi di skill area karena tidak pernah mengerjakan
lagi bedah minor (kecuali menjahit jari kaki dan menjahit cadaver...haizzz).
Tangan terasa kaku, teknik menguap, kaki terasa pegal berdiri wkwkwkw. So
funny. It’s as if I were in clerkship again. Trying to dig out & grab back as
many memories & skills as possible (& as soon as possible haha). Bahkan
“bullying”-nya pun terasa seperti waktu koass bahahaha.... *jiah. Bedanya, aku
tahu aku dulu bisa, cuma sekarang “sedang lupa”. Jadi ketawa2 aja dan bersabar
waktu di-bully. Lebih baik banyak nanya dan banyak baca dan banyak lihat
daripada sotoy terus nyelakain orang ;D
Tapi yang kerasa nikmat banget itu, waktu “doing
something with my own hands”. Waktu ngerjain tindakan di Bedah, man, asli enjoy
banget. Semua tindakan bedah minor itu...rasanya memerdekakan. Membebaskan.
Memuaskan. Ecstatic u know! (errrmm...maybe u don’t know what I’m talking about
haha). Kemudian di Interne & Obgyn, waktu mulai merawat pasien lagi
sendiri. “Flying solo” again, becoming their primary physician, instead their
“security guard” only :P Squeezing your brain out to get the right diagnosis.
Weighing every options available to give them the best treatment (amidst our
limitation here in the jungle). And watching them get better – God knows it’s
not because of me, but His grace alone – its satisfaction is unbelievable. Wow.
Very wow. I miss all those things, very much. Lalu bisa mengambil waktu untuk
duduk dekat mereka, berbicara, mengedukasi masalah penyakit & pengobatan,
dan berdoa bagi mereka adalah kesempatan yang sangat berharga. I don’t wanna
miss it if I could.
Kemerdekaan dan kemandirian seorang dokter ternyata
sangat berharga.
Di sisi lain konsekuensi dari kemerdekaan dan
kemandirian juga banyak. Setiap hari harus bekerja lebih berat, baik secara
fisik, mental, dan spiritual. Terasa banget perjuangannya ketika banyak kasus
sulit yang dihadapi (believe me, we have tons & tons of them) dan tidak ada
spesialis terkait yang standby. Mau nanya susah, mau baca pengertian terbatas.
Resiko yang dihadapi juga lebih besar karena pegang pasien sendiri (instead of
standing behind somebody else’s back). Berkali-kali merasa ngeri & hampir
frustrasi berhadapan dengan besarnya & sulitnya kasus. Sadar akan
keterbatasan diri sbg GP, kesal ketika disuruh menghafalkan semua ilmu di dunia
supaya menjadi GP plus–plus–plus, tapi juga ingin sekali bisa jadi superGP – if
that’s even possible – to help every people we meet. If I could, I would like
to be one!
But I couldn’t. We couldn’t.
Dan pemikiran ttg superGP adalah pemikiran yang
destruktif, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Ì
Well, what I learn from these past 3 months (& years
of becoming GP – even though still few of them compared with senior physicians
wkwkwk) is that we have to give our best every time we have the opportunity to
take care a patient. Just give our best
and let God do the rest. Sounds cliche? Maybe. But I believe that firmly. At
the end of the day, that’s all I can do as human doctor. What can make me sleep
peacefully at night are the beliefs that I have done my best that day and God
will take care the rest when I surrender everything (myself, the patients, the
meds, & everything related) to Him. And in the morning, I wake up &
promise myself (& God) to learn from my previous mistakes and strive to do
better in that new day. Not more. Not less.
Dengan pemikiran seperti demikian, hari demi hari
terasa lebih tertanggungkan. Lebih ringan. Lebih hopeful dalam menjalani hari.
Lebih optimis. Lebih excited (dapat kasus apa ya hari ini? Wkwkwk). Lebih bikin
waras haha. Lebih konstruktif. Lebih mengajarku untuk berjalan bersama Allah
dan bersandar pada-Nya. Inilah kooperasi antara manusia dan Allah. Antara human
doctor & the Great Physician.
Ì
Setelah masa orientasi ini berlalu, aku akan masuk
ke salah satu stase (I imagine Surgery / Obgyn) untuk periode lebih lama.
Misalnya saja 2-3 bulan supaya bisa mengasah skills dan knowledge dengan lebih
fokus. Supaya nanti pada saatnya diterjunkan ke alam luar, aku lebih siap dari
sebelumnya. Semoga mulai bisa ada penugasan ke desa2 untuk jangka pendek
setelah selesai orientasi. Itupun akan menjadi tantangan dan pembelajaran
tersendiri karena akan melayani orang2 di daerah dengan fasilitas yang lebih
terbatas lagi. But I’m hopeful & excited =))
I’m travelling the Borneosky, once again.
Post a Comment
What do you think? ^^