Lahir sebagai generasi non
internet dan berkenalan dengan HP & internet saat beranjak dewasa has its
own perks and sorrows. Perks-nya tentu saja karena bisa menikmati kemudahan
berkomunikasi dengan belahan dunia lain dalam sekejap (t.u dalam 3 tahun
terakhir) dan kemudahan mencari informasi apapun yang dibutuhkan lewat gadget
in the palm of my hands. Pilihan, alternatif, informasi tersedia dalam jumlah
yang luar biasa banyak dan beraneka ragam. Perubahan juga (rasanya) terjadi
dalam hitungan detik, bukan lagi hari. Dunia seakan mengecil. Semua lebih mudah
dijangkau.
Sorrows-nya adalah seringkali banyak
terdistraksi dengan berjubelnya pilihan yang tersedia dalam dunia ini. Misalnya
saja untuk makan siang. Makanan Asia/Eropa/Afrika, di tempat baru yang itu/tempat
lama, pake rute biasa/ikut rute G-maps, pergi sendiri/bareng temen, dalam
rangka kumpul sosial/makan berdua saja. Walo semuanya lebih cepat dan lebih
mudah, di sisi lain rasanya lbh complicated dan njelimet. Meleng dikit aja, (rasanya)
dunia sudah berubah lagi. Duduk nonton TV aja kadang2 susah untuk konsentrasi
karena smartphone bunyi terus dari tadi. Alhasil nonton acara sambil ngobrol via
WA dengan 2-3 orang, ditambah cari info di Google untuk menjawab pertanyaan
teman dan untuk klarifikasi acara TV yang baru ditonton.
Pendek kata, media elektronik,
media komunikasi, dan media sosial menawarkan begitu banyak hal yang berusaha
menyita perhatian kita (dan kemudian kantong kita). Menjalani hidup yang
terfokus menjadi tantangan tersendiri.
I wanna share what I read this
morning from The Call by Os Guinness.
“Bertambahnya pilihan dan
perubahan memimpin kepada berkurangnya komitmen dan kontinuitas – kepada semua
orang dan kepada segala sesuatu. Menjadi modern berarti kecanduan terhadap
pilihan dan perubahan. Tetapi efek buruknya adalah pilihan dan perubahan itu
dengan cepat memimpin kepada perasaan fragmentasi, saturasi, dan kelebihan
beban. Terlalu banyak pilihan, terlalu banyak orang untuk dikenal, terlalu
banyak yang harus dilakukan, terlalu banyak yang harus dilihat, terlalu banyak
yang harus dibaca, terlalu banyak yang harus dibeli, terlalu banyak yang harus
dikejar dan diikuti.”
Aku ngerasa banget apa yang
dibilang Os Guinness ini. Banyak kali, hidup rasanya seperti dikejar-kejar.
Apalagi konon dokter dituntut untuk belajar seumur hidup, harus up-to-date
dengan info dari jurnal2 terbaru, aware dengan hasil2 penelitian terbaru, &
siap menjawab pertanyaan pasien2 yang dengan menyerap info dr.Google tanpa
dikritisi dulu benar/tidaknya, relevan/engganya.
“Pengalaman datang kepada kita
terpecah ke dalam fragmen2 dan episode2. Setiap momen seakan2 berdiri sendiri,
tanpa memiliki akar di masa lalu maupun konsekuensi dari masa depan.” Kita
seakan2 berdiri di tepi pantai, dihantam debur ombak yang dashyat lalu tiba2
lenyap begitu saja dalam sepersekian detik. Belum juga kering, kita harus untuk
dihantam debur ombak berikutnya dan begitu seterusnya. Tanpa disadari kehidupan
seakan berjalan otomatis di tengah rentetan kesibukan. Kalau kita membiarkan
diri di dalam fragmen2 dan episode2 ini, kita bahkan tidak tahu apa benang
merah dari semuanya. Ntar suatu hari kita menemukan diri kita sudah
terdistraksi dan terdampar di pantai yang asing.
Stay true to our calling will
help us to live a focused life, instead a distracted one.
“Pertama, panggilan menghancurkan pemberhalaan modern
terhadap pilihan.” Orang dunia berpikir bahwa mereka bisa menentukan pilihan
dengan sebebas2nya, semau2nya. “Namun bagi para pengikut Kristus, kita adalah
orang2 yang sudah dipanggil. Aku telah
memilih kamu, Tuhan Yesus berkata, bukan
kamu yang telah memilih Aku. Kita bukanlah milik kita sendiri, kita telah
dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Mengikut Kristus adalah respons kita
dalam ketaatan. Sekali kita telah dipanggil, kita secara harfiah tidak memiliki pilihan.”
“Kedua, panggilan meyediakan alur kisah untuk kehidupan kita.
Panggilan menyediakan suatu kesadaran akan kontinuitas dan koherensi di tengah2
dunia modern yang terbagi-bagi dan membingungkan.” Life is not just random
chances or random things happened. Everything happened for a reason, and for
us, the reason for everything is Christ. Semua harus dilihat dalam kerangka
panggilan Allah dan kerangka rencana Allah bagi kehidupan kita.
“Ketiga, panggilan menolong kita untuk menjadi orang2 yang
memiliki fokus tunggal tanpa menjadi orang2 fanatik. Kita perlu menetapkan
sasaran2 yang bijaksana dan mengesampingkan segala yang lainnya.” Di tempat yang
(dianggap) paling rohani sekalipun, bahaya tenggelam dalam kegiatan selalu ada.
Misalnya saja di gereja/di RS Misi yang sibuk dengan segala rapat atau aktivitas2
mendesak tapi sebenarnya tidak esensial. Akhirnya orang2 didalamnya kelelahan,
kehabisan waktu, dan terdistraksi.
Ì
Stay true to our calling will
help us to live a focused life, instead a distracted one.
Tentu saja pertama-tama harus
menyadari benar panggilan Tuhan dalam hidup kita. Selanjutnya, untuk bisa
melangkah maju dengan arah yang tepat, kita perlu duduk sejenak dan melihat ke
belakang, mencari benang merah Allah. Apa saja ya yang sudah diajarkan/dibukakan
Allah sebelumnya? Apa relevansinya dengan panggilan Allah bagiku? Apa yang salah?
Apa yang gagal dilakukan? Apa yang sudah benar&baik? Apa maknanya? Dan
akhirnya, apa yang Allah mau untuk aku buat/putuskan untuk hari ini dan hari
esok?
Proses ini perlu dilakukan
secara reguler dan kontinyu. Seperti kapal yang sedang berlayar ditengah lautan
luas, kemelencengan seberapa derajat pun dalam navigasi, harus cepat2
diidentifikasi dan dikoreksi. Kalau tidak, kapal itu pada akhirnya tidak akan
tiba di tempat tujuan asli. Hal yang sama dapat diaplikasikan dalam hidup kita
masing2. Let’s strive for a focused
life!
Ì
Further
reading & meditation :
* Phillipians
3 : 3 -14
* The Call – Os Guinness
* The Call – Os Guinness
Post a Comment
What do you think? ^^