“ Help me to walk aright,
More by FAITH and less by sight;
Lead me with heavenly light –
Teach me Thy way.” – Ramsey
Semuanya berawal dari rencana sederhana. 16-01-10. G dan FD berencana pergi ke Singkawang. G mo potong rambut, FD mo belanja. Biar mur-mer (murah meriah), kami mo naik bis sekola yang jam 05.30 pagi. Makan bur-ba (bubur babi) dulu (karena saking paginya, toko2 blm pada buka), baru menunaikan tujuan masing2 sambil JJS keliling Singkawang. Rencananya ga lama2 di Skw karena belum visite. Menjelang tengah hari, kami berharap sudah balik ke Serukam dengan bis umum (baca : elf – semodel Elf Cililin geto).
Namun malam sebelum hari JJS tersebut, sktr 22.30, ada makhluk tiba2 mengetok kaca jendela g (“Huweee?? Siapa yang ngetok malem2 begini??” pikir g wkt itu). Ternyata itu FD! Dia baru saja pulang dari tempat MG. Asalnya mah cuma mau ngambil kertas ucapan buat farewell TM namun “terhambat” disana hingga hitungan jam. Singkat cerita, FD mentioned about our plan ke MG lalu tiba2 MG punya ide bagus! “Jadi cie, kita kagak jadi pegi pk bis sekolah bsk. Kita pegi bareng MG dan ponakannya jm 7 pg. Oya, bareng 3 tamu dari S’pore juga.”
Keesokan harinya, g dan FD marathon visite px pagi2. Lalu cepet2 ke rmh MG. Ternyata MG & ponakannya not ready yet. Lalu muncullah ketiga org S’pore tsb. Mahasiswa kedokteran NUS (National University of Singapore) thn ke-4. 2 cewek dan 1 cowok. Wai Jia, Joanne, dan Derek. All Chinese. English spoken, understand Chinese, with scarce Melayu. Mereka baru aja nyampe Serukam malam sebelumnya.
First impression ? Wow, botol minum WJ gede bener! Around 2 L dgn warna oranye menyala ;D
Jam 8 lewat (terancam stg 9), berangkatlah kami ke Singkawang. MG & ponakannya duduk di depan, WJ-FD-g di tengah, sementara D-Jo di belakang. Sepanjang perjalanan pergi, WJ banyak nanya. Dan belum apa2, dia udah nanya yang susah2. Such as, ”Apa motivasi kamu bekerja di mission hospital?” (tentunya in English). Tidak seperti percakapan orang baru ketemu pada umumnya. Hmm, unik juga ni anak, pikir g waktu itu.
Makin unik karena belum apa2, dia udah cerita ttg bagaimana dia bisa ke Borneo. Singkatnya, dia had no idea ttg Borneo. Saat harus mengambil keputusan, dia sempet bermimpi dia bawa passport lalu tersesat di sebuah hutan, dan itu di Borneo. Kami ketawa2 sambil menyarankan dia mewujudkannya hahaha….
Sementara g potong rambut (creambath – potong rambut – keramas ulang, pokoke paket super komplit dah, lebih komplit dari biasanya), mereka ngikut MG ke pasar tradisional. Well, cm FD sih yang masuk pasar. 3 anak itu ditinggal diluar pasar sambil ditemani ponakan MG yang mati gaya (karena ga tau juga mo ngomong apa sama mrk hehehehe). Seudah itu, kami berhenti sebentar mengambil makan siang (lho?) dan menuju Long Sand beach (lho? lho?)(baca : Pasir Panjang).
Ternyata MG ngajakin ketiga org S’pore, ponakannya, dan kami berdua ke Long Sand. Udah sedia tiker dan kartu Uno. Ketiga anak itu udah siap2 mo berenang di pantai (sementara g & FD tnp persiapan apapun). Namun kondisi pantai kurang bersahabat di hari yang cerah dan panas terik itu (jam 12.30 bow!). Angin berhembus kencang, ombak bergulung tinggi. Tidak ada satu pun pengunjung yang berani berenang saat itu. Alhasil, kami menggelar tikar dibawah naungan pohon rindang, tepat diantara pantai dan mess Serukam. Aktivitasnya : menikmati angin yang kadangkala ganas (baca : menerbangkan barang2 di atas tikar), makan siang, mengobrol, minum aer kelapa muda, sambil main Uno several rounds :’) – mulai dari ga ngerti sampe ngerti.
Lagi2 WJ bertanya pertanyaan sulit, “Bagaimana mengatasi kesepian saat bertugas di daerah terpencil?” :’)
Dalam perjalanan pulang, formasi duduk berubah. G duduk bersebelahan dengan Jo & WJ di tengah. G tiba2 menyadari fenomena aneh. Setelah tadi waktu maen kartu WJ tiba2 diem dan keliatan sangat tidak berminat, sekarang dia mengeluarkan notes polos dan mulai membuat sketsa dan catatan. It seemed like she was making the beach & trees sketch. Hmm…interesting. Akhirnya mengobrol dengan Jo. She’s okay, pertanyaan2nya lbh umum (hehe), dan asyik juga. Dari situ g tau, WJ pengen jadi OB/GYN sementara Jo pgn jd pediatrician. We were joking ttg mrk bikin praktek bersama dan saling tolong menolong ;D
Sorenya mereka ngajakin maen frisbee. G dan FD menggeleng…gak dulu deh, capek...rencana cuma bentar, jadinya ampe sore. Demikianlah awalnya.

*********
Seninnya, mereka muncul di morning report. Actually mereka bukan med students pertama yang g temui slm di Serukam. Thn lalu ada 5 org med students yang dateng, orang2 Malay yang sekolah di Scotland. Salah duanya adalah the Wongs – Samuel & Charis Wong – bonyok mereka sahabat baik Bethesda (well, tepatnya Opa). Tapi interaksi g sama mereka sangat kurang. Klo ga salah waktu itu g ada tugas luar.
Menurut anak2 sih, mereka berlima tuh gokil2 t.u cowo selain Sam yang agak melambai. Nah, laen sama yang kali ini. Asa leuwih…serius? (Hati2, kesan pertama bisa menipu.…)
Tiba-tiba saja di hari2 klinik yang sibuk dan hiruk pikuk, g dibuntuti oleh salah seorang dari mereka. Bergantian antara Jo, WJ, dan D. Yang paling sering memang Jo. Ikut visite ke bangsal (tapi hari2 itu g lagi sepiii px rawat inap) lalu periksa px di rawat jalan (bejibun!). Setiap kali periksa px, g yang nanya2 lalu memberi mereka kesempatan untuk periksa juga. Lalu sedikit berdiskusi ttg penyakitnya (‘sedikit’ ya, soale g bukan pengajar tingkat tinggi macam YH) atau terapinya.
Mereka sih pure med students. Pinter banget dah soal patfis en teori2 laennya. Especially D. Mereka juga hafal prinsip terapi tapi masih kurang banget di aplikasi terapi. Maklum, belum praktek. Belum hafal sediaan dan dosis obat. G juga kayak gitu dulu (dan sampai sekarang pun masih berjuang).
Sejujurnya, karena udah lama ga dibuntutin, di satu sisi (sisi gelap gue) dibuntutin itu bikin kerjaan g delay, agak terhambat, dan lebih lama selesai. Karena harus ngejelasin pake Inggris, lalu kasih mereka kesempatan periksa dulu, lalu diskusi – pokoke diitung-itung bs 2x lebih lama. Itu cukup menambah stress di hari2 klinik. Kartu2 seakan tak ada habisnya, harus konsul ini & itu, px2 mulai gak sabaran, dan harus dibuntutin.
Iiih, pikiran yang egois banget seeeh….
Kacang suka lupa sama kulitnya. Kacang suka lupa bahwa dulu ia berkulit dan tanpa kulit, dia ga kan punya kesempatan tumbuh jadi kacang. G juga dulu kayak mereka. Klo bukan karena para seniors yang rela dibuntutin, rela membagi ilmu & pengalaman, rela dibikin repot, kapan g bisa dapet pengalaman??
Di sisi lain (sisi yang lebih terang), sebenarnya dibuntutin mereka membawa berkat tersendiri bagi gue. D yang pintar langsung nyerocos mengeluarkan 1001 macam teori, mengajari ulang ttg bbrp pemeriksaan fisik (mengajari scr ga lsg – hal2 yg jarang g lakukan). WJ selalu membawa Oxford Medicine-nya kemana-mana. Begitu ga tau/mau konfirmasi, dia langsung buka. Dan klo sampe beda sama hasil PF g, dia langsung nanya. Pertanyaan WJ berkisar pada ‘Why? How come?’ dan berbagai pertanyaan sulit lainnya – bikin otak g mikir, diperes, berusaha lebih keras lagi (bagus kan? Senam untuk otak ;D hehe). Jo sih lebih kalem klo urusan klinik, tapi setelah membuntuti YH (sang guru), dia mulai bertanya lebih banyak ;D
Interaksi g dgn mereka di klinik membuat g berusaha lebih keras dan lebih baik. Mereka mengingatkan g akan hal2 yang mungkin terlewat/lupa. When I saw their eagerness & spirits, g merasa lebih semangat juga ;D
*********
Derek yang pintar dan keliatan alim itu gariiiing banget. Has quite high sense of humor (dalam artian dia nge-garing terus hehe). Akhirnya sih ga sempet mengenal dia lebih jauh lagi karena dia pergi PKMD untuk bbrp hari. Sepulang PKMD, dia udah mo pulang.

Wai Jia seorang seniman. Dia suka banget ngegambar. Makanya dia bikin sketch waktu pulang dari piknik yang aneh dari Longsand (aneh karena saking gedenya angin wkt itu, kami hanya memandangi pantai – bukannya berenang di dalamnya – dan maen Uno). Dia udah publish 1 buku bergambar untuk membantu anak2 di Nepal dan dalam proses publish yang berikutnya. Gambarnya bagus and very interesting for children ;D
Selain itu, dia juga seorang atlet. Berlari, bersepeda, dan berenang. Triathlon bo!
It turns out that she came from a non Christian family dan saat dia percaya, dia mengalami penolakan keras dari keluarganya. Namun Tuhan sungguh baik. Kakaknya yang sempet ngata2in dia waktu dia jadi believer akhirnya dimenangkan 1 thn kemudian. Bahkan sekarang, setiap kali mission trip, bonyoknya bersedia membiayai (walaupun mereka blm percaya).
Waktu memperhatikan bukunya yang pertama “Kitesong”, ada beberapa halaman yang sengaja diwarnai gelap, ada cage…pokoknya keliatan ada makna lain behind all the drawing and color. Tapi dia ga mo jelasin dengan detail waktu g tanya.
Ternyata dia sempat mengalami major depression dan anorexia nervosa. Dia sempat ‘jatuh’ to the lowest level of life. Makanya banyak makna tersembunyi (mnr pandangan g yg awam ini hehe) di balik buku kecilnya.
But from ashes rose the winner of life…as long as we hold on to Jesus Christ.
I highly recommend you all to read her blog. I admire her wisdom and writing talent =) How she draw lessons from life and pour it out on paper (well, electronic paper,he….)

Jo seorang shy person. Kaget juga wkt denger testi dia di kapel. Soale dia tuh yang paling outgoing diantara mereka semua. Ternyata itu bukan dibawa dari lahir, tapi pekerjaan Tuhan dalam hidup dia.
Dia juga seorang runner. Mereka semua rajin OR by the way.
Dia yang paling mengerti bagaimana rasanya ga bs ngomong – total – dan harus pk notes untuk menyampaikan isi pikiran kita (pas g keilangan suara 100% akibat laryngopharyngitis berat tea). Karena 5 thn yang lalu dia operasi potong rahang karena terlalu cameuh. Akibatnya dia ga bisa ngomong 1 bulan (masih di-wire and all) dan makan lwt sedotan.
Ternyata bokapnya misionaris OMF dan masa kecilnya dihabiskan di…hmm..klo ga salah Thailand? Pokoke di Asia Tenggara non S’pore deh. Dibesarkan deket hutan gitu. Berjiwa petualang haha…. Cukup banyak berpindah-pindah sebelum akhirnya stay di S’pore untuk saat ini. Dia sih ga membayangkan dirinya jadi established doctor untuk masa yang lama di S’pore namun selalu terbayang akan ke tempat lain yang lebih terpencil, yang membutuhkan. Kemana Tuhan panggil =)
I enjoy talking to her very much ;D dia tuh bisa diajak bercanda, gila2an, tapi juga bisa diajak ngobrol serius dan ndalem. She was also very humble.

*********
Di bulan Februari ini malah berubah menjadi :
I’m not sure about anything!! God, please help!!
Melihat WJ & Jo begitu antusias & tpanggil u/bermisi, g jd mempertanyakan diri sendiri. I’m questioning myself – what on earth am I doing in Serukam?
I still haven’t love my neighbor well. I still struggle to share the Gospel to everyone. I still fighting w/ myself about all the limitations & lack of abilities, egoism and all my bad habits. I’m still no saint.
I'm still in a marathon of life, still in the long run…
Somewhere over the rainbow
Way up high,
There's a land that I heard of
Once in a lullaby.
Somewhere over the rainbow
Skies are blue,
And the dreams that you dare to dream
Really do come true.
Someday I'll wish upon a star
And wake up where the clouds are far
Behind me.
Where troubles melt like lemon drops
Away above the chimney tops
That's where you'll find me.
Somewhere over the rainbow
Bluebirds fly.
Birds fly over the rainbow.
Why then, oh why can't I?
If happy little bluebirds fly
Beyond the rainbow
Why, oh why can't I?
<<>>
Post a Comment
What do you think? ^^