RESTLESS
January 2010
Setelah melalui hampir 3 minggu “praying & thinking session”, I decided to come back to Serukam even for a very limited time. Perjalanan yang aga aneh sebenarnya krn untuk pertama kalinya terdampar di Terminal 3 jam 4 pagi (!!!). Lebih anehnya lagi krn g pikir I was the only one, tp tnyt ada org yg sdh lebih dulu berada di situ sambil bergulung dalam kain Bali-nya (sambil tidur u/mengisi waktu). Keren sih Terminal 3 di waktu subuh…yang ga keren itu duinginnnya….brrrr….I wished I had my thick jacket on (instead of jeans jacket). Dengan menggigil kedinginan, g melewati pos pertama dengan mulus dan satu2nya ide yang muncul di kepala untuk mengusir rasa dingin yang kelewatan ini adalah dengan…MAKAN!!! Chewing would generate heat, my theory back then ;D
Singkat cerita, God helped me to arrive safely at Supadio airport. Padahal sebelumnya, pesawat Mandala yang kami tumpangi berguncang-guncang di angkasa due to cloudy weather for almost 20 minutes or so (quite long eh?). Rencananya g bakal stay one night di mess Ponti & ikut pulang bareng rombongan Serukam & tamu besok siang.
Namun dalam waktu relatif singkat, waktu WB muncul di mess, I heard surprising news. My senior TM is going to leave, this January. TM is my MMC senior, my senior housemate when we were still in the Sidon-Damsyik, and again my senior housemate when I moved to 308. By her leaving, our Sidon-Damsyik trio (with ES) is officially closed.
***********
SEPARATION
People always come & go in Serukam.
Seorang senior (yg juga sudah cabuts) pernah berkata bahwa dalam masa sktr 2 thn di Serukam, dia udah ketemu berapa puluh dokter dan perawat dari berbagai negara di dunia. Isn’t it amazing in one side? Mereka datang dari berbagai tempat di muka bumi, berkunjung ke Serukam, baik untuk short maupun middle term. Depends on the guests (but also the host), short term travelers pun bisa menjadi kenalan baik selama di Serukam. Dan terimakasih untuk fasilitas i-net (yang sedikit mengobati keterasingan dari dunia luar), hubungan baik yg baru terjalin itu masih bisa difollow up via FB or email. But once in a while, come along one or two people that leave unforgettable (well, not “un” but “not easy to forget”) marks. Nah, saat itulah perpisahan jadi terasa sulit.
Bila untuk orang yang baru kenal sebentar saja sudah sulit, lebih2 lagi untuk rekanan yang sudah berbulan-bulan atau setahun lebih hidup bersama-sama. Bayangkan intensitas perjumpaan di Serukam : di rumah ketemu, lalu di morning report, berlanjut ke klinik, berpapasan di bangsal, kemudian makan siang bareng, di lapangan juga ketemu, belum lagi waktu PA hari Minggu (setelah sebelumnya duduk sebelahan waktu kebaktian), dan klo suntuk, jalan bareng ke Sengkejong. Komunitas kecil yang cukup terisolasi. Berputar-putar pun ketemunya orang yang itu-itu lagi.
Meeting new people aren’t always pleasant, adapting in a new place can be difficult, caring for others can be very exhausting, but when it comes to separation, that’s when the going gets tough. At least for me :’)
One day in this month I wondered about friendship and ask GG (Grandma G) opinion. She said,
“Opening my heart depends on the way the conversation goes, hopefully led by the Lord. It usually is just about one thing because the time is so often short--coming and going like you say--but this is probably
not the last time we will meet but even if it is--it is all being arranged by the Lord. Time is very much a constraint. Oma keeps trying to be friends to bring them to Jesus. The conversation is centered on what the Lord has been doing in my heart and life, through His Word and experience.“
Ternyata bukan cuma g aja yang bergumul waktu para seniors meninggalkan Serukam awal 2009 lalu. TM merasa sangat kehilangan. Sebelumnya dia membentuk kelompok “Power Puff Girls + Professor” bersama EN, ES, dan AD. Konon mereka dulu sangat dekat. Bisa curhat apa aj berempat di perpus r.konsul. Namun satu pe satu pergi meninggalkan Serukam. EN pergi duluan, dengan cara yang paling ga enak karena ada clash dgn para pembesar. Disusul AD dan akhirnya ES. Diantara itu SW & MO juga pergi (padahal TM suka curhat sama SW). Huge loss for her I supposed.
Dan pada masa2 yang berat tsb, kaka itu tenggelam dalam ke-Korea-an bersama 2 org teenagers yang juga maniak Korea. Stl g pikir2, mungkin itupun salah satu mekanisme kompensasi dia juga??
Mnr pendapat g, yang penting adalah mensyukuri dan menikmati setiap waktu kebersamaan kita bareng teman2 yang kita sayangi. No matter how short it is, I will choose to know someone even for a while, better than not knowing her/him at all. Kesempatan memang sangat terbatas, waktu pun tak lama. Tapi apa yang tersedia di depan mata, itulah yang perlu disyukuri dan dimanfaatkan semaksimal mungkin. Dan akhirnya, kita bisa jadi lebih maksimal memanfaatkan waktu (karena sadar akan keterbatasannya). So far, this perspective helps me to handle friendship and separation. Mengurangi stress, frustrasi, dan bisa tersenyum lebih banyak saat mengingat masa2 yang indah maupun konyol ;D (walaupun rasa nelangsa saat ditinggal pergi tetap tak bisa dipungkiri hehe….).
GG juga memiliki nasehat yang baik untuk kita semua.
**************



Namun ada hal lain yang membuat g juga restless pada bulan baru ini.
HIPOCRISY
A good pal has once again proved herself a true friend of mine.
Waktu itu hari Jumat. G lagi marah banget, emosi, uring-uringan, muak sama seseorang. Saking keselnya, g curhat sama temen g itu via chatting.
G ngedumel panjaaaaang lebar. Biasanya sih klo masih ketahan, ga kan lah sampe harus curhat. Paling2 nulis buat ngilangin mumet. Tapi yang kemaren itu emang udah overwhelming.
Sebagai teman yang baik, dia ga manas-manasin g. Dia ga nyiram minyak di tengah-tengah bara api yang sedang berkobar. Dia malah nyemprotin nitrogen cair yang dingin itu, berusaha memadamkan apinya. Dia memberi nasehat2 yang bijak hingga akhirnya at the end of our conversation, I pity that someone yang lagi bikin g super muak. Don’t hate her that much again but pity on her. Such a miserable person.
Dia juga menasehati g untuk mendoakan dia & tidak mendendam karena itu bakal merugikan diri g sendiri. I promised her I would finish this matter w/ God and let it go.
Hal yang membuat g muak banget saat itu adalah masalah kemunafikan alias hipocrisy.
According to Wikipedia…..
Hipocrisy berasal dari Greek word “hypokrisis” = "play-acting", "acting out", "coward" or "dissembling"[2].
Hypocrisy is the act of persistently pretending (wow, u/ menjadi seorang hipokrit tnyt diperlukan persistensi lho) to hold beliefs, opinions, virtues, feelings, qualities, or standards that one does not actually hold. Hypocrisy is thus a kind of lie.
Hypocrisy may come from a desire to hide from others actual motives or feelings. Hypocrisy is not simply an inconsistency between what is advocated and what is done (awalnya g pikir mslh beda omongan ama perbuatan). Samuel Johnson made this point when he wrote about the misuse of the charge of "hypocrisy" in Rambler No. 14:
Nothing is more unjust, however common, than to charge with hypocrisy him that expresses zeal for those virtues which he neglects to practice; since he may be sincerely convinced of the advantages of conquering his passions, without having yet obtained the victory, as a man may be confident of the advantages of a voyage, or a journey, without having courage or industry to undertake it, and may honestly recommend to others, those attempts which he neglects himself.[1]
Wah, benar2 menohok buat g waktu menemukan kemunafikan rekanan di Serukam tersebut. Padahal banyak orang berpikir (bahkan sampai sekarang) bahwa dia orang yang noble, tauladan, talented, dan 1001 kebaikan lainnya. G sampe ga habis pikir sama diri g, apa g yang salah? Tapi semuanya itu keluar dari mulut dia sendiri, jadi otentik banget. Perilaku dia yang keliatan sama orang luar ternyata beda banget ama motivasi dan komentar2 dia secara pribadi. Bingung ga loe? Klo pake basa Sunda mah, g sampe ngahuleng, ga abis pikir…. Waktu melihat muka dia, g jadi bertanya-tanya. Sebenernya wajah asli dia yang mana?? Yang dengan 1001 prestasi, lurus & terpuji ATO yang childish & tukang iri hati?? Gue binguuuuung!!! She’s just not one whole person. Ga matching. Ga utuh.
Namun benar apa yang temen g bilang. Kesian banget orang kayak gitu. Harus dikasihani & harus didoakan supaya suatu saat matanya bisa dibukakan & dia bisa nyadar. Aku pun harus berdoa untuk diri sendiri. Jangan sampe ikut2an jadi orang munafik berikutnya. Yang cuma pinter liat sebiji pasir di mata orang, sementara balok sebesar gunung di mata sendiri diabaikan.
Although hypocrisy has been called "the tribute that vice pays to virtue,"[4] and a bit of it certainly greases the wheels of social exchange, it may also corrode the well-being of those people who are continually forced to make use of it.[5] As Boris Pasternak has Yurii say in Doctor Zhivago, "Your health is bound to be affected if, day after day, you say the opposite of what you feel, if you grovel before what you dislike... Our nervous system isn't just fiction, it's part of our physical body, and it can't be forever violated with impunity."
*******************
Syukurlah, di tengah-tengah hal2 yang bikin restless, Tuhan menyediakan penghiburan.
Di pertengahan Januari, datanglah 3 tamu, mahasiswa kedokteran dari NUS (National University of Singapore). 1 boy, 2 girls.
Meeting them leaves marks in my heart ;D
More stories to tell next month….
Chris, hehe, kayanya tinggal di Serukam mang bener2 mengajarkan banyak hal yak.. Lucky you!! Ini pelajaran hidup yang lo ga akan dapet di tempat laen. So in every moment, may it be good or bad, pleasant or unpleasant, just enjoy it.. ^^