MARCH : In Training (part 2)


Modern Trauma Management Training

A..B..C! ATLS-walk!


Panjang amat namanya? Padahal sejak tahun lalu kami sih mendoakannya sebagai “ATLS-like Training”. Tapi ternyata nama resminya puanjaang….

Tanggal 2-6 Maret 2009, di suatu malam yang dingin tapi kaga hujan, L300 milik misi tiba di depan motel membawa serombongan gentlemen from England. One of them is our former MMC mentor (our = g, TM, ES), the beloved dr. Stephen Nash (Steff). We welcomed the 5 of them that night. Beside Steff, there were 2 old troops, 1 man, and another man with boyish look (sorry dr.Nam! hehehe).

Kali ini Steff mengkhususkan diri untuk mengajar 13 anak MMC 4 yang sedang berada di Serukam, sementara 4 temennya mengajar Trauma Training untuk dokter dan perawat Serukam. 


Mereka adalah (dari kiri ke kanan) : Robert Crouch, John Belstead, Nam Tong, dan Vincent O’Neill (yang lagi berbaring). Rob Crouch itu nurse yang very educated, udah PhD bo, nerbitin buku segala lagi…ck..ck..ck… Canggih. John Belstead awalnya SpBOrtho, tapi dalam 10 thn terakhir dia fokus di Emergency Medicine dan ga praktek Ortho lagi. Katanya disono kudu milih bidang mana yang mo ditekuni, sulit klo dua2nya.  Sekarang dia udah retired tapi masih pelayanan, salah satunya ke penjara. Nam Tong (Sp.Emergency Med) awalnya g kira dia orang Vietnam (mungkin keluarganya terapung-apung & terdampar di Inggris haha). Ternyata ga, dia orang Hongkong aslinya tapi grew up di UK I supposed. Dia sebenernya ga kenal siapapun dalam team ini. Dia cuma merespons ketika dibilang ada kebutuhan tenaga emergency medicine. Dia bahkan kaga tau mo kemana & mo ngapain haha (tapi mereka menjadikan dia team leader, dasaaar…). Vincent O’Neill is an Irish. Liat dia dan topi memancingnya bikin g inget Nigel-nya The Nanny (butlernya yang cerewet, sinis, dan lucu itu). Gayanya kocak abis. Melucu tapi dengan wajah datar tea. Dia juga EMG Med.    

Program trainingnya berlangsung 5 hari, dari jam 8an – 4an. Para dokternya diharuskan untuk ikut dari awal sampe akhir, ga boleh keluar-masuk. Sementara para perawat boleh ganti2an, tgt shift mereka. Thanks to temen2 dokter yang rela jaga klinik (krn mrk udah ATLS), kami jadi bisa ikutan full. Seneng banget bisa ikutan training lagi. Kayak waktu kuliah dulu (asa udah lama pisan teu kuliah teh).

Mereka pinter ngajarnya. Ga semua disampein, tapi emphasizing the most important things dari tiap bahasan. Memang agak sulit sih mencerna Inggris English-nya Nam Tong dan Vincent “Nigel”, yang paling jelas itu John.  Tapi teuteup aja (dasar dokter), kami paling antusias bukan waktu kuliahnya tapi waktu prakteknya :D

Mungkin karena udah kerja, semua yang diajarin itu jadi lebih kebayang karena kami mendengarkan sambil membayangkan px2 trauma yang dateng ke Serukam yang masih kami inget. Sambil nge-review ulang apa yang uda bener dan apa yang salah, kami memasukkan info2 baru ke dalam otak dan mengingat info2 lama.

 

Mereka juga ngajarin beberapa mnemonic, salah satunya adalah ATLS-walk dan ATLS-dance. ATLS-walk itu cara kita berjalan dengan posisi antebrachii (lengan bawah) 90 derajat thd brachii (lengan atas), mendekati kepala dan leher px, lalu memfiksasinya sambil memperkenalkan diri dan memulai prosedur A-B-C. Yang lucu itu pas Nigel memperagakannya. Dgn nyeleneh dia ATLS-walk dan kami hampir meledak nahan ketawa liat gaya jalannya. Tapi itu nempel banget jadinya ;D Sementara ATLS-dance adalah cara menghafal saraf tepi yang mempersarafi otot2 extremitas atas dan bawah. Yang peragainnya adalah Nam Tong. Dia kan kurus tuh. Bayangkan orang2an sawah (scarecrow) yang brachiinya lurus, lalu antebrachiinya menggantung 90 derajat, lalu digoyangin ke kiri kanan secara menggantung. Nah, itu salah satu gerakan ATLS-dance. Lucu banget. Tapi yang dia ajarin itu sangat2 membantu klo kita mau menghafal semua saraf tepi yang buanyak itu.  

Yang seru lainnya adalah waktu peragaan pake kambing. Yang ribet tuh nyari kambingnya. Babeh (perawat senior di IGD) yang jadi brokernya, nyariin 3 kambing untuk dipake latihan. Pada hari H-nya, pas mo dipotong, kambingnya sempet kabur dong. Jadilah kami ngejar2 kambing dulu sebelum bisa workshop. Terus iseng2 g nonton proses pemotongannya – yang ternyata mengerikan, diiringi embikan terakhir kambing, kejang otot terakhir, dan pake acara darah muncrat berapa meter segala lagi. Yuks. Ga lagi deh. Mending terima udah mati.

Kepala ama badannya dipisahin. Kepala buat latihan trakeostomi di lehernya, badan buat latihan pasang CTT (pipa thorax). Yeah, pada dasarnya di kambing mah gampang, ga da tanggung jawab moral, juga ga takut salah. It was fun.  


 (dibawah ini foto dr. Stephen Nash. He was just great, like a good father & we're all his lil' girls hehe.  Dia lagi-lagi dikasih batik - untuk kesekian kalinya - tapi dia seneng. Katanya suka dia pake di Inggris & orang2 pada nanya baju bermotif kayak gitu dapet darimana) 

Hari terakhir ada tes praktek untuk para dokter. Kami dikasih skenario tentang penanganan px trauma di IGD. Ga susah sih cuma kadang2 bingung juga klo kudu jawab pake Inggris dlm tes. Sorenya, kami bersama-sama anak MMC mengadakan farewell untuk mereka semua. Waktu ngajar kami, satu demi satu bergiliran cabut untuk sharing dengan MMC dalam 5 hari tsb. Mereka tuh ga biasa ngomong di depan panjang2, jadi cuma kesan-pesan secukupnya. Rata-rata sih memang ga tau dimana Borneo itu berada. Tapi mereka merasa bersyukur bisa datang kesini dan bekerjasama dengan kami walau hanya u/ 1 mg. Setelah acara penyerahan sertifikat trauma training, kami menutup keseluruhan program dengan acara makan….makan kambing latihan kami bersama. Diluar dugaan, enak lho masakan kambingnya. Bener2 empuk dan ga amis sama sekali. Hebat. Ada yang dibikin sate, ada juga yang dibikin pake bumbu kuning. Bumbu2nya meresap sampe ke dalem…nyaem….    

(to be continued to the last part - 3)

0 Responses

Post a Comment

What do you think? ^^

abcs