MARCH : IN TRAINING [part one]

Bulan Maret ini g kasih judul besar “In Training”. Sebenernya setiap saat dalam kehidupan kita adalah masa-masa pelatihan, entah kita sadari/tidak. Masa pelatihan yang berlangsung seumur hidup dan baru tamat pas kita pulang nanti ke rumah Bapa di surga. “Life in this world is a rehearsal for eternity”

Dan juga di bulan ini ada 3 special person yang berulangtahun. My mom, my cousin, and a friend in Serukam.  Happy birthday to them. Wishing I could be with my mom on her birthday ;D but heard her voice was good enough…hehe….


MMC 4 : Let All The Earth Sing YOUR Praises!

    Akhirnya 1 tahun telah berlalu sejak pertama kali g dan 6 teman yang lain menginjakkan kaki di West Borneo sebagai peserta Medical Mission Course 3. Kali ini PMdN (Perkantas Medis Nasional) memilih 13 orang (wow, banyak ya dibanding kami dulu!) dari 4 kota di Indonesia untuk mengikuti pelatihan misi bagi dokter Kristen yang akan pergi PTT.

Seperti kami dahulu, MMC 4 training (akhir Feb s/d 31 Maret 2009) dibagi menjadi 3 bagian, yaitu 1 minggu di OMF – Jakarta, 4 minggu di Serukam, dan 1 minggu live-in. Mereka dapat kesempatan untuk live-in di Tamong, salah satu desa binaan PKMD Bethesda Serukam, sama seperti MMC 2. Dulu kami di MMC 3 live-in di Sukadana, Ketapang (masih Kalbar juga), di klinik ASRI yang dikelola dr. Kinari Webb. Perbedaan yang lain adalah kunjungan 1 hari mereka ke PPMT di Anjungan, deket Ponti, sebelum berangkat pulang ke Jakarta.  

MMC 4 menjadi cukup spesial buat g secara pribadi karena ada 5 orang peserta dari Bandung, who all happened to be Unpad-ers ;D  One of them is my best friend and the rest four are my juniors at med school. Dan semua pengalaman bersama anak2 MMC 4 mau tidak mau seperti bringing back all the old memories of MMC… I remembered when I was in their position, a year ago. I recalled all the uncertainties, anxieties, expectations, high spirits, adventure-thirst hearts of a newly-graduated doctor. Tidak ada seorangpun yang ingin hidup dalam ketidakpastian dan begitu juga dengan anak2 ini (dan juga g), yang datang ikut MMC dengan harapan menemukan “signs for the future” (bhs sekulernya) or “God’s will” (bhs rohaninya).

Banyak banget-lah yang mereka dapat selama 6 minggu MMC. Sharingnya aja ampe ampir berbusa hehehe. They’re having a good times, I’m sure of it (mengingat foto2 narcis mereka aja mencapai ber-giga-giga bytes). Tapi g mo coba liat behind the scene-nya – apakah ada yang bisa dipelajari oleh pengamat di belakang layar.

Waktu MMC 4 mulai didengung-dengungkan, g berpikir bahwa secara otomatis para alumni MMC yang available akan ikut membantu. Di Jakarta minimal ada 2 alumni, yaitu Fina MMC 3 dan Sisca MMC 2. Di Serukam ada 3 orang yaitu penghuni “Sidon-Damsyik” : TM, ES, dan g. Unofficially kami (TM dan g) menobatkan ES sebagai Ibu PU, sang “koordinator umum”. Persiapannya buanyaak bgt ternyata. Contohnya masalah rumah. Sejak Desemberi, perumahan MMC yang terletak di bawah rumah Pak Leo Rooroh mulai dipersiapkan – dibangun ulang, dirapikan, dan dicat (sampe 3x dicat – entah kenapa – sampe kami heran, kok dicet melulu??). Kemudian mulai masalah berbelanja, mulai dari segala “hardware” (karena asrama itu totally blank, kosong melompong, jadi harus diisi dari nol) sampe “software” (telor, minyak goreng, kecap, bawang2, dll, dsb). Lalu konfirmasi jadwal ke Jakarta, konfirmasi ke tiap lecturer di Serukam, sambil terus mengganti jadwal karena unexpected changes (yang memang biasanya) terjadi. 

 Harap-harap cemas, akhirnya mereka datang juga ke Serukam dengan selamat. Tidak kurang satu helai rambutpun. Tapi dengan segera perhatian kami ter-distract dgn persiapan perayaan HUT RSUB. Terus terbagi lagi dengan kehadiran Tim Trauma yang akan mengajarkan ATLS sama para dokter Serukam selama 5 hari full.

Tapi ditengah segala hal-hal (baik rutin maupun insidental) yang menyita waktu dan perhatian (not to mention tenaga dan emosi), g melihat Tuhan mencukupkan mereka dengan berlimpah-limpah malah. Semua pengajar (sambil berimprovisasi sana sini) pada akhirnya bisa berbagi ilmu dan pengalaman hidup sama mereka. What a good Lord.

Secara khusus, g merasa lebih-lebih lagi bertanggung jawab atas junior2 g yang sealmamater. G menyadari keterbatasan g untuk memperhatikan semua orang (mengingat dgn detail cerita 13 org?? Whoa…g terlalu amatir untuk itu). Smentara para junior ini adalah orang2 yang g tahu sejak masa kuliah dulu dan sempet pelayanan di PMK dan PMdK bareng2.

So, I arranged a time to share with them all. Setelah 1-2x gagal, akhirnya kami sempat bertemu 2 x 1 jam (waktu yang sangat singkat sebenernya!) sepanjang MMC ini. Pertanyaan2 yang g ajukan “standar” kok : kenapa ikut MMC? Apa yang udah didapet slm ini? Apa uda ada bayangan ttg tmp PTT?

Menarik bahwa sebagian besar jawaban mrk menyerupai jawaban kami dulu. “Looking for signs for the future” yang di dalam terang iman Kristen berarti “Finding God’s will”. Dan g kembali diingatkan akan 1 hal : “We can never move forward until we put the past closed first”

Waktu FK g mengamati bahwa sebagian mahasiswa bergumul keras untuk menjawab pertanyaan, “Buat apa masuk FK?” karena mereka tidak masuk FK atas keinginan sendiri. Even my bro yang masuk atas keinginan sendiri pun, masih bergumul dengan kerinduan lain setelah masuk FK.

Sangat penting untuk berdamai dengan hal yang mendasar tersebut.

Secara pribadi g bersyukur Tuhan menolongku untuk menjawab pertanyaan itu sejak awal. Tetapi g mengamati one of my best friends struggled w/ that di awal2 masa kuliah. Then my bro struggled w/ that hingga mendekati akhir FK. Lalu one of my juniors yang ikut MMC 4 ternyata juga menyimpan pertanyaan ini sampai kemaren2.

The reason why is very important.

We have to ask ourselves that important question before we jump into something, before saying yes/no, before going somewhere. I think we should not go / do / join something without knowing the reason why.

Jangan pernah melangkah dalam gelap. Bahkan Abram pun tidak melangkah dalam gelap waktu dia memutuskan untuk meninggalkan tempat kelahirannya. Ia melangkah dengan mata iman.

Salah satu kelebihan MMC 4 adalah 2x kesempatan untuk Pause & Pondering (MMC 3 cuma 1x P&P).

Pause & Pondering adalah waktu untuk berdiam diri di hadapan Tuhan, sambil merenungkan firman Tuhan dan pelajaran2 yang telah didapatkan selama ini, untuk melihat kehendak Tuhan yang telah dinyatakan sejauh ini. G inget dulu g merasa cukup tertekan selama MMC 3. Aku dapet banyaaaaak sekali berkat, itu mah sudah pasti. Tapi di sisi yang lain, MMC 3 membawa tekanan tersendiri.  Jadwal yang padat, dinamika hidup bersama di bawah 1 atap, ditambah kebingungan dalam mengidentifikasi kehendak Tuhan (“mo PTT dimana??RS / Puskesmas??kenapa pilih kesitu??ayo cepat pilih,deadline udah mepet…”), dipersulit dengan keterbatasan kesempatan untuk menarik diri dari keramaian. G menikmati banget waktu P&P kami, hanya sayangnya kurang sering.

                Namun dari pengalaman selama MMC 3 tersebut, g menyadari kelemahan dan kelebihan g. Salah satunya adalah g sadar bahwa g adalah tipe orang yang harus secara teratur re-treat (menarik diri sejenak) dan “alone with God & myself” regularly. Manfaatnya : to keep my heart & mind on the right track, to preserve my sanity, to keep me from burning out. Perlu ada keseimbangan antara input (segala “lecture & sharing” dari para tutor) à diskusi (brainstorming) à perenungan (mencerna informasi & menganalisis hasil brain storming) à yang pada akhirnya dituangkan ke dalam output berupa POA (plan of action).

                Dan itulah salah satu keistimewaan MMC.

For me, MMC bukan sekedar sarana untuk memperlengkapi dokter Kristen yang akan berangkat PTT. Lebih dari itu, MMC adalah suatu sarana untuk mengkaji ulang kehidupan kita sejauh ini, sambil berhenti sejenak untuk bertanya, “What’s next, my Lord?” Kadangkala (jangan2 malah seringkali) sulit sekali untuk berhenti sejenak dari kehidupan yang padat dan sibuk, dan meluangkan waktu untuk berpikir ulang tentang arah hidup.

MMC adalah salah satu (bukan satu2nya lho) sarana yang baik untuk menggabungkan teori dengan praktek, pelajaran dengan teladan, kesibukan mengerjakan sesuatu dengan kesempatan untuk duduk diam & berpikir. Dan tidak hanya berhenti sampai “dapat sesuatu untuk diri sendiri”, namun kita didorong sampe punya POA yang jelas. Action man, not only talking2.

 It is a privilege for me for being able to see and participate (even just a little) in the 4th MMC. To see lives changed by God’s hands. To see them be equipped for God’s works that bigger than themselves. To see Christian physicians for Indonesia.  

[TO BE CONTINUED to part TWO]

0 Responses

Post a Comment

What do you think? ^^

abcs