One rainy noon, with empty stomach, in my hometown
Tadi pagi my old pal (who lives just outside Bandung, haha, just outside means 3 hours or so) send me a message via FB. Bertanya bagaimanakah caranya untuk menjadi seorang blogger. That question strikes me, for the second time this week. Masalahnya, I have stopped writing since December last year. Before this, an old friend (how come many of my friends are old? Hahaha) replied my Easter wish with a compliment about stories in my blog, how he enjoyed them, & how he wished I would continue writing. Lalu sebelumnya lagi, my bro said that his doc told him to write his story (the lesion, op, & all neuropathies that came with it, now & then) & he asked how he would start. Dan g memberi dia saran2, padahal yah teuteup aja g belum mulai nulis lagi.
That’s why, today, I come back.
Sebenarnya, I never stop writing. It’s just that I didn’t do it online. I do my personal journal anytime I think/feel I want/need to write it. So, tidak ada batasan frekuensi tertentu. It’s a habitual action since 2nd grade elementary school. Berawal dari buku hijau segiempat ukuran saku (yg lbh mirip catatan harian gak jelas, dgn tulisan gak jelas, isi juga gak jelas haha)(spare the 2nd grader pls) hingga hari ini buku agenda (gretongan) warna hitam tebal (krn ada no.telp,peta,kurs mata uang,waktu kota2 dunia,dll – khas buku agenda tahunan). Mulai dari tulisan cakar ayam, tulisan sambung, huruf cetak kecil2 rapi, huruf cetak membesar, huruf cetak tak rapi lagi (but mostly rapi/tdk tgt mood & sikon). Bahasa Indon resmi, prokem, Sunda, Inggris campur aduk kayak gado2. Belum lagi ditambah berbagai tempelan sana-sini yg menambah tebalnya journal (males ah nyebut diary, macam anak SMP aje – dan g GAK PERNAH manggil journal g “Dear Diary” – oalah, ga ku-ku!!!! *menggaruk dinding*)
Apa sih benefit-nya menulis?
Hmm, apa ya? Nyokap g sih gak pernah mengerti kenapa g bisa spend hours & days untuk menulis. Apakah itu menulis di kertas, buku, email, surat, and now blog. But she enjoyed it anyway =) (selama ada bro g yg membukakakn blog g, mengeprintkannya, dan memberikannya pada nyokap g hehehe)
Entah ya apa gunanya klo buat orang lain / apa gunanya scr ilmiah / psikologi, tapi menurut g sih :
- Menulis itu “preserve my sanity” (deuh, sampe segitunya)
Sepanjang pengenalan g terhadap diri g sendiri, I expressed my thoughts & feeling better through writing. I’ve never been a verbal person. Sometimes it’s difficult to express something through words. But through writing, I can communicate a whole lot more. Klo lagi pusing banget, g harus nulis supaya kepusingannya berkurang. Klo lagi seneng, g nulis juga kok, bagi2 sukacita haha. Klo lagi dapet pelajaran baru, g juga harus nulis supaya ga lupa. Klo ada masalah/pemikiran2/pelajaran2, g akan menuliskannya untuk menyalurkan stress. Menulis menolong g menguraikan kerumitan dalam kepala & hati g, membuatnya terasa lebih ringan & bearable & make it more sense ;D
- Menulis itu “preserve my memories”
Life is full with bitter-sweet memories. Waktu kecil sih, rasanya hidup lempeng2 aja, semuanya baik, menyenangkan, lancar, gak banyak tantangan. Makin besar, makin banyak tanggung jawab, makin besar pula tantangan2 yang dihadapi. Tetapi dari semua rangkaian peristiwa kehidupan-lah kita bisa banyak belajar. Supaya gak lupa/gak kehilangan pelajaran2 penting, g menuliskannya dalam my life journal. Kapan2 bisa dibuka lagi dan dibaca ulang. Fungsi pencatatan dalam journal juga bermanfaat untuk mendeteksi ada/tidaknya kemajuan dalam pola pikir, tingkah laku, pertumbuhan rohani & karakter kita dari tahun ke tahun. It can help u grow.
- Menulis itu “exercising my brain”
Kita baru betul2 mengerti sesuatu klo sudah bisa disampaikan lagi secara jelas kepada orang lain, apakah dalam bentuk verbal, maupun tertulis. Hal2 yg kita sendiri dapat dengan mudah pahami, belum tentu dapat dipahami orang lain dengan cara yg sama. Itulah yg kita usahakan melalui menulis, berpikir keras, putar otak, cari cara untuk membuat orang lain bisa ikut mengerti, menyelami, menikmati apa yg kita bagikan. Hihihi, jd pengen liat otak Albert Einstein, berotot kali ya?? Saking seringnya diajak exercise =)
- Menulis itu...ya hobi….
Wajar2 aja klo ada yg suka nulis, ada yang engga. Ada yang merasa itu panggilan jiwa, ada yang bahkan melirik pun tidak. G sih menerima menulis sebagai hobi. Ada efek relaksasi , excitement, dan enjoyment di dalamnya, sama seperti orang2 lain memilih untuk main bola, memancing, berbelanja (hahaha…emang boleh ya belanja dijadiin hobi?? Gak boleh!!). G enjoy banget nulis (klo lagi ad ide). Tapi klo lagi buntu, yah, ganti ke hobi lainnya dulu deh. Dan juga, sperti hobi2 lainnya, g juga kudu tau bates. Jangan ngurusin hobi terus (yaitu menulis) tapi membiarkan tanggung jawab lain berantakan. Hidup itu perlu keseimbangan.
- Menulis itu “sharing & (mau ga mau) influencing”
Salah satu faktor berat dalam nge-blogging adalah ketika g mempertimbangkan apakah yg di-sharing-kan itu akan menjadi manfaat atau malah mudarat buat orang lain. Soale klo g menulis untuk diri sendiri, tidak perlu kuatir masalah influence other people. Tanggung jawabnya cuma antara g & Tuhan. Tapi klo menulis sesuatu untuk dikonsumsi/di-share dengan orang lain (seberapapun terbatasnya komunitas pembaca kita), betul2 harus dipertimbangkan baik2 isi tulisan, makna tersurat, dan makna tersiratnya. Jangan sampai menyesatkan/menghasut/memecah belah orang lain.
Tapi di sisi lain (yang positif), saat kita share pengalaman, pembelajaran, sukacita, kesedihan, masalah kita, kita bisa menolong orang lain yg mungkin punya pengalaman serupa, atau malah dia bisa menolong kita. Klo ga di-sharing-kan, mana tau kan punya kesamaan?
Tanggung jawab kita : share dengan bijaksana, menyikapi sharing orang lain juga dengan bijaksana, dan jangan lupa – be careful with what u read (&watch &listen)!
Dan banyak lagi alasan2 lainnya.....
Oya, kadang2 kita (seringkali bahkan) takut tulisan kita gak sebagus tulisan orang (including me of course). Takut dihina, dicemooh, direndahin. Takut ga rame, ga nyambung, ga selesei (nah klo yg ini rada susah, kok gak selesei?? Makanya gak usah pjg2, tp tamat *sebel kan sama komik/serial film/cerbung yg ga tamat??*). Klo g bilang sih ya, cuek aja (ya kayak g ini, sekarang). Tulis aja dulu apa yang ada di pikiran dan hati loe. Sadar betul-lah kualitas tulisan g jauh banget ama pemenang Pulitzer ^ ^. But it doesn’t stop me from writing! ^ ^ I love it! I know I have to grow & upgrade my writing, & I’m in the process of it. Oleh karena itu, g sangat menghargai klo ada feedback dari u guys untuk perbaikan diri. Give me response, pls ^ ^
But for now, let’s just enjoy writing until its very core.
So, what will u write today, my friend? =)
Just grab ur pen & pencil (or your smartphone & stylus, or your BB & 2 thumbs) & start writing!
gw sejak kapanpun belum pernah sangat menyukai nulis, soalnya ga tau apa yg hrs ditulis, yg lbh parah lg, gw ga gitu suka baca, jd buat apa gw tulis kalo gw ga suka baca.
tapi kadang suka pgn, waktu itu pernah nulis pas di kantor gada kerjaan, jadi isinya tentang apa yang terjadi di kantor tiap waktunya, tapi asa ga puguh euy..
tapi gw seneng baca traveler's journal, soalnya enak dibaca dan penuh petualangan, itu yg gw suka. gw suka petualangan, tp blm ada waktu untuk bertualang (saat ini)..
sukses ya tin, meskipun blog ini ga slalu lgs gw baca, tapi pas gw baca, menyenangkan loh.. thx y.. Jbu..
hehehe.. tenang chris.. gw dari dulu pengagum tulisan lu.. Secara gw susah banget buat nulis.. mengisi 1 halaman buksur membutuhkan waktu berjam2 buat gw.. hahaha.. tapi mungkin juga krn efek pemalesan juga :p however.. like these :)