Rumah pertamaku adalah “pemukiman mertua indah”
alias rumah Oma ku. Bonyokku waktu merit blm punya rumah sendiri. Jadilah
mereka menumpang di rumah Oma smp beranak dua. Waktu pindah ke rumah kedua
(rumah pertama milik mereka sendiri), aku masih kelas 1 SD kayaknya. Jadi gak
inget proses kepindahannya. Cuma tahu dipindahin aja sama bonyok & voila!
Tiba2 uda di rumah baru. Nurut aja anak kecil mah =)
Jadi kepindahan pertamaku
(official moving, dilakukan secara sadar dan tercatat dlm memori) adalah waktu
masuk universitas. That was my first moving. Untuk pertama kalinya nge-kos,
punya tempat tinggal lain diluar rumah ortu, setelah belasan tahun. Sementara
banyak temen2ku yg dari kota2 lain di Jabar udah ngekos sejak mrk SMP. Bahkan
temenku yg di Ujungberung aja (padahal masih Bandung, tapi Bandung coret hihihi)
udah kenyang nge-kos sepanjang masa SMP-SMU. Lucunya, waktu aku mulai nge-kos karena
kuliah di Jatinangor, tmnku itu akhirnya malah “pulkam” ke rumahnya di
Ujungberung karena kuliah di Jatinangor ;D
Pindahan pertama ke tempat kos itu gak terlalu
ribet. Prinsipku adl keep it as simple as possible. Lagian, aku kan masih
pulang ke rumah tiap minggu. Jadi gak perlu byk brg. Cukup benda2 esensial
saja. Nah, baru deh belajar memikirkan : apa saja sih kebutuhan esensial dan
sekunder anak kos? Apa yg HARUS ada,
tidak bisa ditawar-tawar? Waktu itu yg masuk kebutuhan esensial adalah : penghangat
air (yg model ceret plastik itu dengan elemen pemanas di dalamnya – yg mudah
sekali ruksak, haizzz)(bkn cm rusak tp ‘ruksak’ saking seringnya), electric
cooker buat masak mie dan atau telur dan menghangatkan sayur (yg logam tea),
pakaian, buku2, dan alat tulis. Jangan lupa sedia peralatan mandi dan mencuci. Sementara
setrika? Msh bisa pinjem ke tetangga. Begitu juga dgn TV – bisa nebeng nonton ke
tetangga hehehe (baiknya tetangga2ku!!). Tp kalo radio : it’s a must =)) Radio
yang setia menemani sepanjang SMP, SMU, and now in the university too.
Saking simplenya barang2ku di tempat kos, aku sampe
dikata2in “berkemah” sama orang2 ^^”” Soale mereka yang dari luar Bandung,
kamarnya rata2 gede dan penuuuuuuuh bgt brg. Not to mention TV and computer
(blm zaman laptop murah yak, jd msh pd bw PC segede bagong). Nah, PC aye kan ad
drmh, ngapain jg dibawa ke kos. Sering pulang juga. Waktu msk musim skripsi,
aku – lagi2 – diberkati Tuhan dgn PC yg bisa dirental gratis 3 hari dalam
seminggu (alias nebeng di komputer temen kos-anku – providencia Allah pisan ^^).
Pindahan kedua
: when I did my time in Serukam. Itu lebih gile lagi pindahannya. Karena beda
pulau kali ya. Klo kos di jatinangor kan cm beda tol ^^ Barang2ku di kos bisa seminimal mungkin krn aye
bolak-balik bisa 2x dalam 1 mgg. Lha di Borneo?? Bisa pulang sethn sekali aja
udah bagus. Nah, syukurnya sebelum PTT sudah sempat lihat lokasi waktu ikut MMC.
Jadi cukup terbayanglah barang2 apa yg WAJIB
dibawa, mana yg bisa dibeli disono, dan mana yg sudah tersedia disono.
Alhasil aye datang malam2 buta itu dengan 1 koper
besar, 1 ransel, dan 1 kotak mie. Sementara 1 kotak lain yang beurat masih
mengapung2 karena dikirim via pos. Isinya : my precious books!! (kyknya selalu
jd barang bawaan paling berat buku2ku ini
TT hiks).
![]() |
| 235 on the hill |
![]() |
| 308 on the plain |
Problem utama selama PTT adalah when my things were
growing & growing & growing in numbers. Thn pertama pulang 2x dan
memang bawa barang2 baru dari rumah yg lupa / baru disadari keperluannya di
Serukam. Tapi ditambah ini-itu selama disana, tiba2 saja barang2ku membengkak!!
Baru nyadar tuh pas mulai ada pindahan “internal” di Serukam – pindah rumah dan
atau pindah kamar. Dihitung-hitung, selama total 3 thn disono, aye udah packing
dan unpacking sebanyak....hmmmm.....5x dong TT Yang paling kerasa breaking
bone-nya waktu turun dari rumah 235 (diatas bukit) ke 308 (dataran rendah,
sebelah jalan lsg). Kotak2ku ternyata buanyak dan membludak, blm termasuk 2
koper dan ransel dan tas kerja dan laptop dan.....arrrghh banyak amat!
*mukajangar*
Dan masalah bertambah besar saat akan meninggalkan
Serukam untuk pertama kali – 8 kotak, 2 koper, 1 ransel. Mo gimana bawanya
ini???
Ternyata bawa barang pulang itu
cuma satu masalah. Bayar overbaggage jelas, pake jasa porter, & minta
adekku datang ke Jakarta nemenin bawa barang. Masalah BESAR baru muncul wkt tiba di rumah kami yang empet2an macem
gudang. Kamarku udah full, penuh, ga da tmp lagi. Alhasil barang2 yg bunyaakk
bgt itu numpuk di ruangan dpn smp berminggu-minggu. Pindahan yg “ngeri benar”.
Setelah mencari akal, merotasi barang2 kesana-sini
dan membuang sebyk mungkin barang, barang2ku sudah kelihatan lbh teratur.
Makanya wkt datang lagi ke Serukam, sdh belajar dr pengalaman yang lalu. Just
leave your books at home, and bring your laptop instead =)) Jumlah pakean yg
dibw juga yang perlu2 saja. Hal-hal seperti ini nih yang tidak diajarkan di
sekolahan, tp perlu dialami sendiri untuk belajar darinya (well, bukankah byk
hal juga demikian? Tidak diajarkan di sekolah?)
Ì
Pindahan ketiga
terjadi baru2 ini. Rumah lama kami yg berumur sedikit lebih muda dariku,
semakin lama semakin menyedihkan. Sumpek, kebanyakan barang (bonyok tmsk org2
yang enggan buang barang), bocor sana-sini, dan mo rubuh disana-sini. Udah gak
nyaman untuk ditempati dan sangat perlu direnovasi. Akhirnya Juni kemarin, kami
pindah ke rumah baru, tidak jauh dari rumah lama kami.
Kalau dipikir2 itupun providencia Allah. Jarak yang
dekat memungkinkan inspeksi kerjaan para tukang dilakukan dgn mudah dan
pindahan juga bisa dilakukan secara manual labor (hebat betul para tukang itu)
dan nyicil sedikit demi sedikit.
Tapi yang complicated itu adalah proses penyortiran
barang dan proses kepindahan resminya. Repot BANGET mindahin 5 orang dengan
barang2 20-something years dgn jumlah gigantic ke tmp yg juga terbatas shg hrs dipilih2
dengan benar dan bijaksana.
All of these moving process reminded me to a book I
read in high school. A book titled “My Heart – Christ’s Home” (Robert Boyd
Munger – IVCF) which was translated by Yayasan Gloria into “Hatiku Rumah
Kristus”. Bukunya tipis, ilustrasi gambarnya bagus, kalimatnya simple, tapi
maknanya ndalem. Mr. Munger menganalogikan hati kita sebagai rumah dengan
ruangan2 didalamnya. Saat seseorang mengundang Kristus masuk dalam “rumah”
hatinya, ia menawarkan pada-Nya untuk berkeliling dan melihat hal2 yang dapat
diperbaiki sehingga Tuhan dapat “tinggal” dgn lbh nyaman. Terbayang saat
Kristus berkunjung ke satu demi satu ruangan, apakah yang akan Dia temukan?
Benda2 tertata rapi atau benda2 yang tidak seharusnya ada disitu? Apa isi ruang
belajar kita? Ruang tamu? Ruang makan?
Aku bayangkan proses kepindahan kami ke rumah baru
dapat dianalogikan dengan proses restorasi yang Tuhan Yesus lakukan saat Dia
“datang” ke dalam “rumah” hati manusia
- Moving Out
Saat pindahan, mau tidak mau harus mengkonfrontasi
barang2 yg mungkin selama ini sengaja / tidak sengaja ditelantarkan. Ah malas
dipegang2, biarkan saja dulu disitu. Sehari, dua hari, 3 minggu, tahu-tahu
sudah 4 tahun ditumpuk disitu. Sekarang hrs diurus, dibereskan, disortir,
dipack ulang klo mo dibawa pindah.
Bisa saja bersikap masa bodoh à asal pack ulang dan
bawa saja. Tapi itu tidak akan menyelesaikan masalah. Soale pas nyampe di rmh
baru, teuteup we musti diberesin ~.~”” malah nambah kerjaan krn blm disortir.
Banyak hal dlm hidup kita mirip dgn
barang2 kita. Sm seperti kita suka numpuk brg di gudang, dalam hati kita suka
numpuk byk hal. Ada “ruang rahasia” di hati kita yg mungkin masih enggan kita “buka”
di hadapan Tuhan. Byk kasus/masalah/unfinished business yg malas kita korek2
dan dibiarkan saja menggunung di satu sudut dlm hati kita (klo memang hati kita
bersudut). Tp klo gak diberesin, pasti jadi sarang tikus/kecoa, pasti akan jadi
busuk dan menggunung, ngabisin tmp, menghambat produktivitas, mengganggu
pemandangan (curcol bgt seh).
- Moving In
Saat menata ulang barang, mau tidak mau
harus memilih. Barang yang akan dimasukkan disesuaikan dengan tempat yang ada
& kebutuhan yang ada. Kalau tidak perlu, untuk apa disimpan? Kalau tidak
muat, ya jangan dipaksakan untuk disimpan disana. Dibutuhkan kebijaksanaan lho
untuk pindahan dan menata ulang barang ^^ Yang sulit itu klo mikir, “Ntar siapa
tahu perlu??” Wkwkwkwk..... Jadinya kaga dibuang-buang, padahal gak juga dipake
slm bertahun-tahun.
Dalam hidup juga, ada yang worth it untuk disimpan, tapi
ada yang perlu dibuang jauh2 karena tidak membawa manfaat. Bahkan bs membawa
penderitaan yg tidak perlu kalau dibawa-bawa terus. Don’t take your baggage
with you. Leave it at the foot of the Cross.
- Moving On with Life
Banyak sekali barang2 yg harus
kulepaskan saat pindahan ini. Barang2 dari masa kecil, saat remaja, waktu
kuliah. Semuanya mendatangkan kenangan, most of it beautiful and fun to
remember ;D But I know that I can’t (& shouldn’t) dwell in the past. Aku
akan merindukan barang2 dari masa lalu tersebut tapi tidak akan membiarkan diri
tinggal dlm kenangan.
Let it go, be grateful to God for everything
(every-single-thing : good/bad, laughter/tears, fun/hurtful) and then moving on
with life \^^/
Ì
Di bagian terakhir, aku akan sharing
sedikit tentang hal2 praktis tentang pindahan. These are the things I learn so
far. Silakan ditambah dgn ide2 dari pengalaman pribadi kalian =))
1)
Kategorikan barang2 kebutuhan kita (Sering
dipakai, Akan dipakai, Jarang dipakai). Mis. anak kuliah à buku, stationery, pakaian,
brg elektronik, gift/merchandise. Kelompokkan mereka menurut kegunaannya,
sambil disortir apakah ini msh relevan, berguna, akan dipakai, atau hny
disimpan sekedar untuk alasan sentimentil belaka.
2)
Sesuaikan jumlah dan jenis barang dengan tempat
yang tersedia. “One in, one out” bisa menjadi filosofi yg bagus untuk kamar
kita atau lemari pakaian kita (atau dlm kasusku : lemari buku!!). Tempat yang
ada tidak akan berkembang jadi lebih luas (kecuali membangun new wing/new floor
for the house hehehehe). Yang biasanya gak terkontrol itu pertambahan jml
barangnya.
3)
Simpan barang yg diperlukan di tempat yang
terjangkau. Kalau perlu, bs diinventarisasi apa saja yg kita miliki. Tempel
daftarnya di depan tiap lemari spy lebih mudah dicari. Ntar saat perlu, tinggal digunakan. Kalau tidak terlihat,
bisa2 jarang dipakai. Apalagi kalau lupa bhw kita memiliki benda tsb, pasti
tidak akan dipakai hehehe.... (lbh parah lagi, krn lupa, kita jd beli lagi
barang yg sama – what a waste!)
4)
Pilih barang2 yang tidak perlu terlalu banyak
maintenance. Drpd ntar neglected. Make plan untuk mengatur rumah dan
membersihkannya scr teratur. Kalau tidak, dengan mudah rumah baru/tmp baru kita
akan mjd gudang yg berikutnya *capede
5)
Ingat, kita ini hanya 1 org yg tak kan mampu
menghabiskan (mengkonsumsi) itu semua!!! Gak usahlah jadi korban mode/korban
tetangga. Remember simplicity & contentment. One man cannot consume it all
;D
Ì
Waktu jam menunjukkan pukul 6 pagi, sinar matahari
pagi sudah memasuki kamarku. Dengan membuka gorden dan jendela, kamar yang
awalnya gelap langsung terang dan angin pagi yang dingin masuk. Rumah yang kaya
sumber cahaya ini rasanya lebih hemat listrik dibanding rumah kami yang gelap
dulu. Sekarang lampu hanya dinyalakan sepanjang sore dan malam hari. Ventilasinya
juga jauuuuh lebih baik dan pertukaran udara lbh lancar.
Dan hari ini aku libur. Aaah, home sweet home?? Hmm...hardly.
Libur artinya waktunya menyapu dan mengepel 2 lantai (duh) dan mencuci mobil,
selain pekerjaan2 rumah yg lain. Rumah ini butuh maintenance lebih banyak dari
rumah kami yang dulu. Well, selalu ada harga yang harus dibayar, right? L^^J
*singsingkan lengan baju sambil bersiul*
Sambil menikmati kediaman kita di bumi, we have to remember
that our true dwelling is not in this world, but in heaven with Christ Jesus
some time later, for eternity.
Life here on earth is a rehearsal for eternity.
Further reading :
@ Hatiku Rumah Kristus, Robert Boyd Munger, Yayasan Gloria, 2000



gw sih bisa diitung baru 2x pindah rumah plus 1x pindahan kamar. jaraknya jg deket, masih sekompleks, dan masih serumah.
tp teutep... yg namanya pindahan, packing, moving out, moving in, sucks!
jagonya sortir barang, packing dan unpacking adalah Eyi dan Yuyung (my twin and her twin)
tiap pulang kampung, mereka bisa buang setengah isi lemari pakean gw, plus berkresek-kresek barang gak penting di kamar gw.
so, i always count on them :p
paling sedih kl harus buang barang yg mengandung kenangan. tapi ya...life must go on, dan kita pasti akan punya barang kesayangan baru (sebuah harapan).
this blog post reminded me to always moving on...
thanks, Chris!
Iya betul!! Paling sedih klo hrs buang barang yg mengandung byk kenangan *melirik kotak tmp brg kenangan di sudut sono*
Tapi yah, ada waktu untuk segala sesuatu ^^
Thx for your sharing hehe....