RESTLESS

RESTLESS
January 2010
Mengawali Januari dengan membuka mata di rumah dan 10 hari kemudian membuka mata kembali di pedalaman West Borneo…. Both are my beloved ;D
Setelah melalui hampir 3 minggu “praying & thinking session”, I decided to come back to Serukam even for a very limited time. Perjalanan yang aga aneh sebenarnya krn untuk pertama kalinya terdampar di Terminal 3 jam 4 pagi (!!!). Lebih anehnya lagi krn g pikir I was the only one, tp tnyt ada org yg sdh lebih dulu berada di situ sambil bergulung dalam kain Bali-nya (sambil tidur u/mengisi waktu). Keren sih Terminal 3 di waktu subuh…yang ga keren itu duinginnnya….brrrr….I wished I had my thick jacket on (instead of jeans jacket). Dengan menggigil kedinginan, g melewati pos pertama dengan mulus dan satu2nya ide yang muncul di kepala untuk mengusir rasa dingin yang kelewatan ini adalah dengan…MAKAN!!! Chewing would generate heat, my theory back then ;D

Singkat cerita, God helped me to arrive safely at Supadio airport. Padahal sebelumnya, pesawat Mandala yang kami tumpangi berguncang-guncang di angkasa due to cloudy weather for almost 20 minutes or so (quite long eh?). Rencananya g bakal stay one night di mess Ponti & ikut pulang bareng rombongan Serukam & tamu besok siang.
Namun dalam waktu relatif singkat, waktu WB muncul di mess, I heard surprising news. My senior TM is going to leave, this January. TM is my MMC senior, my senior housemate when we were still in the Sidon-Damsyik, and again my senior housemate when I moved to 308. By her leaving, our Sidon-Damsyik trio (with ES) is officially closed.

Thinkabout Christmas

(Occasion : Christmas Eve
Background : Christmas music
Place : my small-but-full room)

Several days before Christmas, a friend of mine had a sad & burdened heart. She felt that this Christmas is going to be miserable because her family can't be together like before. What striking me was her last sentence, "...I felt empty."

SURVIVAL MODE : ON (part 2)

06.30 AM
I have a flight leaving on 07.55. I’ve prepared myself since 06.15. The regular taxi (langganan WB) still hasn’t arrived. I have contacted him since 2 days ago, told him about my check-in time and all, and he said OK (just one word : OK).

06.45 AM
I waited patiently at the hospital mess in Pontianak. I arrived there last night with travel from Singkawang. Leaving Singkawang at 7 PM, I knocked myself out along the road (thx to Dimenhydrinate) and found myself arrived at Pontianak around 9.15 PM.

07.00 AM
I decided to SMS him, stated that he supposed to be here like…half an hour ago?? And at that time I was supposed to be in the airport – checked in?? No reply. I tried to call him. No one answered. The second & third attempts just the same.

07.10 AM
I began to panic.

07.20 AM
That old man finally replied my SMS with one word,”OK.”
Your OK won’t solve my problem, sir!!! I shouted anxiously-in my heart.
I called him & he picked up. “You have to trust me,” he said.
“I’m already late!!!!” Now I shouted for real.
“Just relax. The plane won’t leave until 9,” that calm voice answered my shouting.
“My flight is on 7.55 you know & I was supposed to checked in 30 minutes ago!!!”
It was his turn to be in sudden silent.

I reached out for Mr.A. Can u pick me up,pls? My usual taxi still hasn’t showed up – in pitiful tone.
But Mr.A wasn’t in Pontianak, he’s out of town that morning. He amazed with my stupidity – we can call it that way, no offense – but he offered a way out. Call a local taxi; I’ll give u the number. That’s already 07.25.

I tried to make up my mind. Still not believe I could be in such a mess like this.

07.30
The guy from the airport called me. “Where are u, miss? You’re the only person who hasn’t checked in.”
“I still wait for my taxi, sir.” The dumbest answer ever.
“WHAT??” he shouted in disbelief “We won’t wait for you, you know. You better get here now, or you’ll miss your flight. The plane already landed since 7.15 from Jakarta.”
“No, please wait up for me, sir…I’ll be there…”

The taxi guy called again. “My tire goes flat. Do you have any car there at the hospital mess?”

I just knew that time that I was going to miss my flight.
For the first time ever.

*************

Yeah, I finally missed my cheapest Pnk-Jkt Mandala flight that morning. Something I have arranged since a month ago. G terduduk di tangga mess, masih ga percaya akan ketololan g yang selangit. Missed a flight. Benar2 kebodohan luar biasa. Tapi g sadar, cuma duduk diam akan menjadi kebodohan yang lebih luar binasa lagi. Karena dengan cara apapun, I have to be in Jakarta that day. I already booked a flight tomorrow morning to Tanjungkarang, Lampung.
Again I called Mr.A, seeking from wisdom. He advised me to call Mr.C, a travel agent who stands by at the airport. I followed his advice & thx God – I finally got a ticket that noon to Jkt by Batavia. I called the local taxi and waited in the airport for 2 hours or so, didn’t want to make another mistake. Mr.A also advised me to contact my ticket agent, tried to get a refund, berapapun itu – and I did get a little bit of refund.
Finally I flew to Jkt that noon and flew to Lampung the next day.

**************

Perjalanan ke Lampung ini dalam rangka tugas luar. G ditawari WB untuk ikut 2nd CPD (Continuing Professional Development) Weekend yang diadain PMdN bareng RS Immanuel Bandar Lampung. Isinya seminar & workshop u/dr.umum (dan juga drg). Acaranya 4 hari u/yang Kristen, u/non Kristen 3 hari. Bedanya tuh di hari Kamis sorenya (dan setiap sore di hari2 brktnya) ada panel diskusi di gereja dalam kompleks RS.
Setelah menginap semalam at my best friend’s place in Jakarta, g cabut ke Lampung. Traveling alone kayak gini cukup bikin g deg2an juga. Biasanya ada temen minimal satu ;D Ternyata di pesawat I found a familiar face, my senior at med school. Tapi baru bs g sapa pas turun dari pesawat. Kmdn g dijemput seorang lelaki tak dikenal, yg bawa2 tulisan nama g dan dibawahnya ada tulisan RS Immanuel. Sambil mikir dia itu siapa (Travel? Supir RS? Saha??), g ikut naek mobilnya. Ooo...ternyata dia medrep (medical representative)-nya Pharos. Pantesan panitia seminar bisa nyanggupin untuk antar jemput para tamu. Ternyata mereka menggunakan jasa para medrep. Mereka jadi supir gratisan, antar jemput kami terus dari & ke bandara, dari & ke hotel, pokoke sepanjang acara d. Which makes me wonder……seberapa banyak para dokter/pihak farmasi RS Immanuel harus menggunakan obat2an pabrik mereka???
Medrep yang menjemput g itu orang Palembang, sekolah analis farmasi, lalu kerja jd medrep dan sudah sekitar 7 th-an di Lampung. Pas ditanya knp ga jd analis (sesuai sekolahan-nya), dia menjawab jujur, “Klo udah jadi medrep dok, berat jadi analis lagi – gajinya lebih besar jadi medrep.” Hmm…lagi2 masalah jumlah income.
Lalu pak medrep itu cerita2 soal Lampung (“Engga banyak berubah dok, gini2 aja Lampung”), jalan Trans Sumatra, bis-kereta api-travel yg bs dipake untuk jalan2 di Sumatra, hotel2 di Lampung (“Yang paling bagus tuh Bukit Randu – emang terletak diatas bukit – viewnya bagus dok, naeknya harus pake gigi satu, tapi makanannya ga enak…”).
Pinter juga ni orang ngomong, pikir g. Emang gitu kali ya klo jd medrep? Kudu ramah, pinter ngambil hati dokter, biar nanti mo ngeresepin obat pabrik mrk??
Kebetulan (hmm…sbnrnya tak ada yang kebetulan di dunia ini) g juga lagi mulai baca an interesting book. Written by an internist, dr. Triharnoto, titled “The Doctor : Catatan hati Seorang Dokter”. Baru baca beberapa halaman pertama, g langsung percaya 101% buku itu bikinan dokter. Ngertiin dokter banget dah!
Nah, di chapter pertamanya ada interesting opinion dari beliau :
“Tidak berarti karena dokter meresepkan obat tertentu, lalu artinya dokterlah yang membuat harga obat menjadi mahal.” Alasannya : karena obat dan teknologi kedokteran (beragam pemeriksaan penunjang spt lab, rontgen, USG, CT-scan, etc, etc) adalah & sudah menjadi industri komersial. Dokter tidak bisa “menyembuhkan” ( I use a quotation marks because healing only comes from God, not man) pasiennya tanpa menggunakan obat, sementara penentuan harga obat itu sendiri merupakan suatu proses rumit, kompleks, dan sudah sangat dibisniskan. Dokter secara individual sama sekali tidak mampu membuat pelayanan kesehatan menjadi murah. Yeah, boleh setuju, boleh tidak. Namun ada baiknya sebelum menentukan sikap, baca dulu buku ini, barulah beropini ;D
Ga kerasa, akhirnya kami tiba di hotel tmp g nginep, di suatu jalan protokol yang cukup ramai. Just a small hotel but it has a nice, clean, & cozy room. Ada TV, AC, dan shower 2 rasa (maksudne aer panas & dingin). Bednya king size, bisa dipakai berdua. G share kamar bareng alumni MMC 3 dulu, Pina. Dia baru berangkat sore dari Jkt hari itu bareng 2 orang lain (yg salah satunya alumni MMC 2, temen curhatnya ES). Baru juga mo baring2, eeehh, ada yang telepon. Ternyata temen kuliah g dulu! Dia juga ikutan seminar ini & nginep di hotel yg sama. Lumayanlah ada temen ;D


*****************

Malam itu panel diskusinya berjudul Medical Mission. Yang bawainnya dr.Andreas Andoko (direktur RS Immanuel) dan Kak Ria Pasaribu (wah, kangen juga dengerin dia, it’s been quite some time since I last met her).
Saat ditengah-tengah pandis, tiba2 g dapet SMS dari Pina.
“Kami ketinggalan the last flight to Lampung today.”
Haaah?? Another missed flight??

****************

Pertama kali menginjakkan kaki ke Sheraton Lampung, waktu memasuki lobbynya yang ethnic but classy (and filled with bulai), serasa orang kampung masuk kota. Kok hotelnya kerasa keren bener yak? Pantesan ditawarin 635.000 per malam bo. Makin terpukau waktu liat swimming poolnya…weis… (kayak belum pernah liat pool aja, dek). G suka banget!



Hari Jumat kami workshop di salah satu ruangan sempit di hotel. Mana AC-nya mati. Topiknya pas lagi – Sesak Nafas :’) Tapi 2 hari berikutnya kami seminar di ballroom-nya. Yang dateng rata2 dari Lampung, yang dari luar Lampung cuma segelintir. Mnr salah satu anak Maranatha angk.2000 yang PTT disono, di Lampung sering diadain seminar & simposium. Biayanya murah meriah, sementara SKP-nya tinggi2 (dibanding Bandung yang harga seminarnya mahal tp SKP-nya rendah). Tp bknnya SKP tinggi/ga tgt lama seminar/simposium itu berlangsung? Bkn tergantung tarif?
Selama rangkaian acara berlangsung, sampe lupa rasa lapar karena kenyang terus. Snack dan makan besar-nya enak semua (setara dengan kelas hotelnya la ya). Pagi2 kami makan di hotel masing2. Begitu nyampe Sheraton, uda ditawarin snack. Lalu makan siang (paling seneng wkt lunch deket swimming pool ;D viewnya OK). Dan saat makanan baru beranjak sedikit dari gaster, sudah tersedia snack lagi. Kemudian malam harinya, sebelum Pandis, kami dapet dinner dulu.
Malam itu tentang Doctor Who Made A Difference. Bahasan2 ttg pandisnya ntar g susulkan, tidak dibahas dalam edisi kali ini.

****************

Hr Sabtu acaranya full bgt. Start around 09.30 (didahului segala jenis preambule) dan baru beres around 17.30. Padet banget materinya. Mulai dari HIV/AIDS, DHF, Swine Flu, TBC, hingga Rematik. Masing2 topik dibahas oleh 3-4 orang dokter (Sp dan non-Sp) yang menguasai bidang tsb.
Tapi dapet banyak sih, baik pengetahuan baru maupun pengetahuan lama yang dibahas kembali. The human mind is one of the amazing things on earth. It’s interesting to know that even pengetahuan yang udah kita tahu pun, jika diajarkan kembali akan tetap terdengar fresh, bila diantaranya disisipi pengalaman kita berinteraksi dengan kasus tersebut scr nyata. Dan ada beberapa pembicara yang fasih benar. Bahan yang dia bawain sebenernya bakal boring abis, tapi karena dia suka bgt + menguasai bgt + sungguh2 nyampeinnya, bahan tsb jd very2 interesting.
Tapi bener2 hari yang melelahkan. Duduk seharian, berusaha memeras otak untuk mencerna sebyk mgkn info, mikir u/ jadiin itu se-aplikatif mgkn…fiuh, betul2 cape. Pulang ke hotel cuma mandi doang, langsung cabut lagi ke gereja. Ada malam puji2an dan khotbah. Pake nyanyi 3 lagu lagi pendetanya. Wah, hands up deh. Klo sempet ada break after the seminar, mgkn ga se-mabok itu malemnya.
Waktu akhirnya bisa pulang ke hotel malem itu, g menyadari that was already our last night in Lampung.

****************

Hari Minggu yang juga hectic. Setelah rasa patah2 kemarin, pagi2 buta udah bangun untuk bersiap-siap ke gereja. Selain siap2 ke gereja, kami juga udah packing smua barang & check out pagi itu juga. Setengah lari2, menyambar breakfast sekilas, lalu memampatkan diri di mobil dr.Dodi (makasi ya Dok!). Mobil sejenis Jazz itu mampu memuat 3 cewe di deret belakang, lalu 4 lelaki dewasa di tengah (yg suempiit abish), dan 2 orang di dpn. Lalu kami meluncur ke gerejanya dr.Dodi….yang ternyata….
…tidak lain, tidak bukan adalah GKI yang mengambil lokasi BPK Penabur Lampung….
Wakakakakakakak….g uda mau ketawa abis (dalam hati tapi)! Dunia emang sempit. Jauh2 dari Borneo ke Lampung pun, g masih bertemu dengan ‘the origin of me’ – GKI dan BPK ;D Sejak meluncur keluar dari uterus ampe sesaat sebelum berangkat ke Borneo, g selalu di GKI. Dan sejak g bersekolah minggu di GKI, sejak itu pula g ada di BPK (karena GKI-nya numpang di gedung BPK). Pas SMP dan SMA g baru officially di BPK. Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah 6 bulan, g menyanyikan kembali Kidung Jemaat dan mengikuti liturgi GKI dengan 4 bacaan sebelum firman thea =) Life is indeed funny.
Sepanjang hari tersebut, kami belajar tentang seluk beluk malaria. Suatu penyakit yang cuma 1x g temui selama koas di Bandung & Sumedang (itupun impor dari Kepri). Perkenalan real live action dengan malaria baru terjadi di Borneo. Mulai dari tahu doang secara teoretis hingga akhirnya menangani kasus post malaria dengan gagal ginjal akut yg berat. Klo ga pergi PTT, entah kapan akan bersinggungan dengan kasus malaria.
Acara berlangsung lumayan tepat waktu & diakhiri dengan lunch. Baru setengah ‘perjalanan’, g ditelp. Tnyt nyokapnya FD. Kami udah janjian ketemu di Sheraton. Dia mo ngajak makan pempek, sekalian nitip barang buat anaknya via g. Yang dateng itu cicinya (yg lebih muda dari g tp uda beranak 2), nyokapnya, dan anak cicinya yang sulung (he’s cute!).
Mengamati separuh keluarga FD, jadi sedikit lebih ngerti ttg background dia & ngerti knp gaya dia kayak gitu hahahahaha…. Lagi2 amazed on how God works in each one of us & mendatangkan kami kesini, ke Serukam, dengan cara-Nya sendiri. One thing for sure, kalau bukan pekerjaan tangan Tuhan, tidak mungkin kami bisa ada di Serukam (and I thanked Him for bringing me here ;D and also my friends).
Setelah makan kapal selam yang uenakkkk bgt (sausnya kurang asem, tp pempeknya enak!!), kami sempet jalan2 di mall-nya Lampung (well, sejenis Kings shopping centre-nya Bandung d) to kill the time. Lalu g dianterin ke bandara. Sebenernya masih lamaaa menuju keberangkatan g. Tapi kesian Kevin uda ngantuk, pegih satu siangan.
Bandara Rd.Intan II Bandar Lampung tuh letaknya agak di luar kota (mirip Supadio-nya Ponti). Hanya saja ini lebih sempit dari Supadio. Sekali memandang aja, ruang tunggunya udah ‘kesapu’ semua. Makanya dengan mudah g menemukan 2 anak UPH (seangkatan AI klo ga salah) yang lagi nunggu pesawat. Mereka juga peserta CPD. Cowonya orang Lampung yg sekola & gawe di Jkt, sementara cewenya orang Ponti (tuh kan g bilang juga ‘dunia sempit’) yang tinggal & besar di Jakarta. Trus temen seangkatan g juga muncul. Setelah mereka pergi, g duduk bareng salah satu pembicara CPD & tak lama kemudian segerombol panitia CPD muncul. Ternyata flight kami sama, Garuda to Jkt.
Malam itu, saat tiba di Jakarta, Cengkareng penuh sesak. Terminal arrival macet banget. Sampai2 g harus nge-geret koper & dus (titipan nyokapnya FD) naek lift ke terminal departure spy my best pal bs jemput. Klo ga bisa sejam-eun macet di terminal arrival. What a hectic day! But I was really glad to see my friend again (& again for a night, I stayed at her house).

****************

04:00
Alarm HP g bunyi. Aduh…rasanya ga mo bangun…masih cape banget bekas perjalanan kemaren. Tapi, masa mo mengulangi kejadian 6 hari yang lalu? Ketinggalan pesawat??
My friend masih bergulung di selimutnya sementara g menyeret diri keluar dari tmp tidur.

04.45
This time I have to check in on 05.00. My plane will leave at 06.05.
“Ayo, sudah waktunya berangkat. Pas2an ni waktunya,” ujar si Om, bokapnya my pal (yang uda g repotin trus – makasi ya Om). Cuma sempat menyeruput teh manis, ga sempet sarapan. Kami bergegas menuju mobil beserta gembolan2ku : 1 koper, 2 kotak yang ga muat lagi di tangan g, plus 1 backpack.
Si Om segera memundurkan mobil keluar dari garasi, lalu memajukan mobil dan…
Portal?? Lho kok ada portal?
Hualah…ternyata ada portal di ujung jalan dan digembok pula! Sementara jam baru menunjukkan menjelang jam 5. Sang pemegang kunci tak dapat dihubungi! Pasti sedang asyik di pulau kapuk. Jalan lain juga diportal. Demi keamanan bersama alasannya.
Syukurlah rumah temen g itu punya 2 pintu (rumahnya tepat di persimpangan jalan). Cepat2 mereka memindahkan motor dan membuka pintu garasi yang satunya, yang langsung menuju jalan tnp portal.
Satu halangan terlewati!

05.15
G nyampe juga di Terminal 3. Cepet2 berpamitan & say many-many-many thank you, lalu segera meng-geret barang2 g masuk ke dalam. Mandala Airlines dan Air Asia sekarang menggunakan Terminal 3 untuk arrival & departure from & to Jkt. Lokasinya sedikit lebih rumit dari terminal2 yang biasa, tapi jauuuuuh lebih keren & modern.
Tanpa kesulitan, g bisa masuk hingga ke depan counter Mandala dimana penumpang2 lain lagi ngantri untuk berangkat ke Pnk juga. Tunjukkin tiket, cocokkan dengan KTP, timbang luggage, tempel stiker, print boarding pass. Ritual yang terus dilakukan berulang-ulang kepada setip penumpang, sementara waktu terus bergulir. Antrian pelan2 maju hingga giliran g tiba.

06.40
“Wah mbak, pesawat uda boarding. Cepet ya,” kata si mas2 di belakang counter sambil menyerahkan boarding pass g. G menerimanya sambil mikir. Boarding itu maksudnya? Para penumpang udah dipanggil masuk pesawat bukan?? G terus mikir sambil bayar airport tax dan melewati pintu kaca berikutnya.
“Tujuan mana mbak?” tanya salah satu dari 2 petugas yang berdiri di situ.
“Pontianak pk Mandala, Pak.”
“Udah boarding mbak! Ayo cepet lari!”
Lari?
Alhasil g emang berlari-lari. Naek eskalator menuju lantai 2 lalu menyusuri lorong panjang menuju pos pemeriksaan terakhir sebelum boarding. Udah gitu jalan cepet menuju penyobek karcis. Lewat dari penyobek karcis sudah lebih tenang, karena pesawat sudah bertengger di depan mata. Ga kan kemana-mana pesawat itu! ;D

06.05
Duduk di seat dekat jendela (my fave spot). Bisa ngeliat pemandangan di luar.
Bari ngos-ngosan tapi. Hah heh hoh abis OR pagi……
Yeah, anything-lah as long as I didn’t miss my plane, ever again ;D
Sambil mengatur nafas, g ngeliat ke luar. Langit Jakarta yang biru abu2 diatas dan sederet pesawat yang siap berangkat pagi itu dibawahnya.
Borneo…here I come…again.


****************

SURVIVAL MODE : ON (part 1)

Location : dalam kamar, rumah dekat tikungan, tmp massa berkumpul, koneksi internet sebrang jalan….

Music background : Il Divo & Josh Groban

Weather : demek2 agak lembab abis diguyur ujan gede tadi sore

Cuma pengen curhat aja….

MASA ADAPTASI v. 2.0

Setelah kerasan tinggal di 235 - rumah para singletons diatas bukit - selama 17 bulan, akhirnya diriku berpindah habitat.

Mengingat kembali masa2 17 bulan itu…kesimpulannya : 235 tuh “gampang2 susah”. Dulu pas awal2, susah untuk kerasan disitu. Over all, rumah itu OK, kecuali WC. Kondisi WCnya itu lho, engga banget. Kompetisi antara rayap, semut, dan jamur were too exhilarating. But thanks to God, tiba2 (out of nowhere) rumah itu kena giliran pertama untuk diperbaiki (hehehehe…imagine me with huge grin). Dari kategori Sidon-Damsyik (itu nama kamar2 isolasi TBC di kelas III Serukam – saking parahnya rumah itu kali ya smp dijuluki demikian sama orang2???), tiba2 kami berubah kasta menjadi Narwastu 9 (nama kamar VIP Serukam, sebenernya cm ada 8 kamar)! Di-tegel keramik bo! Kinclong abesh! Rumahku aja kaga pake tegel keramik gitu, tapi di Serukam tiba2 bs dpt rmh bertegel keramik. Aneh memang hidup ini ;D

Tapi terlepas dari kondisi rumah, yang paling bikin berat ninggalinnya tuh orang2 yang ada di dalemnya. Dulu, g tinggal bersama para alumni MMC 2, the two and only, TM dan ES. We were having a good time together, para Sidon-Damsyik-ers. Sekitar April kemaren, TM turun ke bawah. Disini rule-nya, anak baru tinggal di bukit. Makin senior barulah makin dekat RS. Karena SW & MO kemaren cabut, TM giliran turun ke 308. Tinggal g dan ES. Lalu ES berpulang ke Medan & tak tentu kembalinya selama berbulan-bulan. Syukur ada si kecil, anak baru dari UPH yang dateng tepat 1 mg sblm ES cabut.

I realized that basically I’m not a highly adaptive person. Bahkan cenderung bertahan di comfort zone, drpd keluar ke wild world yg penuh tantangan, kecuali klo emang kudu alias harus. Nah, untuk menyesuaikan diri sama FD, si kecil itu pun butuh waktu. Saat itu, g lagi keilangan temen2 di Serukam. Semua coping mechanism g gone. Syukurlah si kecil bukan orang yg maksa msk ke private zone g, shg we can going well in a short time. Dan semuanya makin seru & menyenangkan waktu si kecil no.2 dateng, VV. I’ve known her as my junior since high school. Yah, cm TST (Tau Sama Tau) doang slm di high school dan med school. Agak lebih kenal waktu dia dateng MMC 4 kemaren. Makin kenal waktu akhirnya tinggal serumah. Makin serulah rumah atas setelah lengkap kami bertiga ;D and I enjoy their companies very very much.

Hingga akhirnya datang kabar bahwa ada anak baru yang mo dateng ke Serukam. Udah diterima lamaranny dan akan tiba awal Oktober di Serukam. Karena berdasarkan urutan senioritas orang selanjutnya dibawah TM adalah g, maka HG bersabda supaya g pindah ke 308 (intinya gitu). Setelah menimbang-nimbang baik buruknya (no place is perfect, guys), g mutusin untuk mengikuti tradisi & pindah ke bawah.

Yeah…di 308 lebih nyaman di satu sisi karena skrg ada koneksi internet dan letaknya lebih deket ama RS. Tapi ketidaknyamanannya banyak, dan salah satu yang terBESAR (yang bikin g bergumul until this very minute) adalah NOISE. 308 is just too strategic. Too many people come and go (they came for the TV basically ;D hehe – BCL’s TV, not mine of course). I rarely get my peaceful sleeping diluar jam2 normal orang tidur (baca : 10 mlm til morning). Klo judulnya adl “tidur siang” & “bayaran tidur”…walaaaah…bergumul dah. Don’t get your hopes too high, my friend… Bahkan ada suatu kali, dimana noise levelnya just so high, until I can’t write, I can’t read, I can’t think, boro2 sleep! Serasa mo meledak karena bising sekali! It’s just too noisy for me – yang udah 17 bln di-isolasi di rumah atas, menikmati suasana hutan yg real live action.

The price of peacefulness is so high.

I remember the time when I was still in Jatinangor, di kamar kos g yang sempit di Puren. Silent night, peaceful night. Compared with my time at home yang noisy karena ada 4 kepala lain di rumah yang sama2 beraktivitas saat itu.

Again, a quiet and silent environment is very rare.

I’m still adapting, still surviving. Setiap pilihan kan ada konsekuensinya toh. Ada positif dan ada negatifnya ;D bersyukur sajalah setiap saat, jgn kebanyakan mengeluh (ini lagi menasehati diri sendiri hehehe)
abcs