Follow Me! (Part Two)


FOLLOW ME!
(Mentor & Disciple, Part Two)
Click here if u haven’t read Part One

“Ini meja untuk menulis pesanan,” katanya sambil menunjuk meja di dekat kaca yang membatasi poliklinik dengan dunia luar. “Ada beberapa formulir lab. Coba deh km liat dulu. Ntar yang ga ngerti tanya.”
Aku mengambil salah satu formulir disitu.
“BS, FBS kak?”
“Blood Sugar. Fasting Blood Sugar. Disini sebagian masih pk istilah Barat. Nanti belajar juga cara nulis resep ya. Beda sama yang Latin punya. Udah pernah liat kan?”
Aku ngangguk2. Pernah liat sih waktu 3rd MMC kemaren. Tapi gak berarti sudah hafal!! ^^’’’
“Trus ini map buat surat2,” dia bergerak ke tumpukan map2 di meja panjang dekat kaca IGD. “Ada surat rujukan spesialis, surat keterangan berobat, lembar tindakan Askes, lembar rujukan intern Askes, lembar transfusi darah Akses, formulir permintaan darah ke PMI, formulir rujukan spesialis yg bhs.Inggris, dan…..”
Dia masih terus nyerocos ttg berbagai bentuk formulir dan lembaran yang diciptakan untuk diisi oleh tenaga kesehatan (baca : dokter, kdg2 perawat) kemudian bergerak untuk memperkenalkan kamar periksa dan alur periksa pasien di rawat jalan…..
It was only a glimpse of my orientation days in Serukam back then ;D 
##


                Did u know the enormosity of “kebingungan” that occur after not being a clerkship anymore? Praise God bahwa Dia memberi ide pada para pembesar di FKU untuk mengadakan 5 bln magang (internship) setelah 1,5 thn koass. Itu seperti icip2 pertama akan dunia dokter yang sesungguhnya, sebelum betul2 dilepas ke “hutan belantara”, all alone (theme song “All By Myself” – Celine Dion).
Praise God juga bhw ada spesialis2 yang care yang mau meluangkan waktu untuk mengajari kami, para dokter muda ini, waktu kami mencicipi magang.
I still remember clearly the very first day I wore my shiny white coat (krn blm pernah dipake sama sekali haha). Rasanya…beuraaaat banget. Mengenakan itu berarti siap untuk melepaskan perilaku childish & imbecile selama medschool & clerkship. Berarti siap untuk memikul tanggung jawab BESAR – taruhannya nyawa brur! Dan itu sama sekali ga maen2. Very, very serious business this field is…. Syukurlah spesialis wkt di RSUD Smdg itu berjiwa pengajar ;D Dengan antusias ia mengajari kami setelah menyuruh kami f.u ½ lantai per orang. Belajar banyak =)
                Dan akhirnya tiba waktunya untuk menjadi dokter beneran. Dengan gentar & bersyukur kumasuki “hutan belantara” itu. Tapi yah, sperti kubilang diatas, bingung tau ga sih….
I realized that I had no idea what a Christian doctor is & how a Christian should behave. Secara teoretis  pernah dibagikan, tapi kurang byk melihat contoh nyata di lapangan. I was “raised” in a public med school & went to general hospitals. A few good examples occurred from Christians but they weren’t enough. I still wonder, are there any differences between Christian physicians & non? And if any, what are they, specifically?
Maka pergi mengikuti 3rd MMC (Medical Mission Course) dan kembali untuk PTT di Serukam adalah salah dua (bukan salah satu) keputusan terbaik setelah lulus jadi dokter – so far (praise God for showing me that!). 
##

Hari itu adalah salah satu siang yang panas di ekuator. Terik menyengat dan gerah, apalagi di kamar rawat kelas 3, dgn kipas angin yang tak mampu mengusir udara panas. Kami sedang ikut Opa berkeliling. Salah satu pasien yg dikunjungi adalah seorang ibu2 tua, kurus kering, lemah, terbaring dgn selang di daerah lambungnya. Aku tidak tahu pasti apa diagnosisnya, tp sepertinya ada hubungannya dengan salah satu keganasan.
Opa menyapa dia dengan ramah dan menyentuh tangannya lembut. Sambil menatap dia lekat-lekat, Opa berbicara dengan ibu itu dengan halus. Sambil diselingi ,”Kasihan sekali…sungguh kasihan.” Lalu dia mengajak kami berdoa bersama untuk ibu itu.
Sebenarnya hanya  simple act saja. Tidak tiba2 ibu itu melompat2 sembuh. Tidak juga tiba2 dokternya menangis tersedu-sedu saking terharunya.  Tidak ada adegan dramatis. Only a simple act. But for me, semua gesture Opa, nada suaranya, sentuhannya, doanya, showed a great deal of compassion. A real feeling for that px. Something that I rarely see.
Namun yang lebih mengesankan adalah di luar RS, di luar perjumpaan dgn px, Opa (dan juga Oma) exhibits the same compassion. Nilai2 yang mereka pegang & tunjukkan saat berada bersama pasien/di RS/di gereja, itu juga yang mereka tunjukkan di kehidupan sehari-hari. They are not perfect & not angels, but they strive to be people of integrity – yang utuh, luar=dalam, perkataan=perbuatan.
That is extremely rare. 
##

Perlu dicatat bahwa hubungan mentor – disciple antara Blalock & Thomas jauh dari sempurna & tidak ideal. Hubungan mereka rumit, masih diwarnai diskriminasi ras, dan belum memenuhi syarat “impartasi hidup” yang cukup. Memang tidak ada mentor manusia yang sempurna, karena pada dasarnya mentor itu memang “cuma” manusia. Namun “cuma” manusia tidak selalu berarti negatif dan hopeless.  Bahkan sebaliknya.
Hal kedua yang perlu dicatat adalah : sharingku ttg pola mentoring yang pernah kudapatkan di Serukam sama sekali tidak bermaksud untuk mengagung2kan tempat ttt/orang2 ttt. All glory must be to the Lord, alone. Ada subjektivitas di dalamnya krn bersifat pengalaman, bukan kejadian ilmiah terukur. Ini sekedar untuk memberi gambaran ttg pentingnya mentoring dlm hidup seorang Kristen.
                Waktu sudah mulai bekerja di RS, banyak senior2 yang mengajarkan aspek ilmu kedokterannya. See one, do one, teach one. Sebelum melakukan suatu tindakan, minimal sudah pernah lihat & pernah melakukan dibawah supervisi. Ada kesempatan luas untuk belajar berbagai macam tindakan & dapet kesempatan untuk melakukannya solo. Selain itu, aku juga mengamati cara mereka meng-address pxs. Masing2 dengan gayanya sendiri2 =) Ada yg cereweeet bgt, ngobrol pjg-lebar; ada yg cuma 1-2 patah kalimat; ada yang setengah teriak2 (mungkin krn pxsnya geriatric dgn hearing loss), ada yg ngomong dgn lembut. But I know they do care. And that’s make a huge difference.
When u care, u’ll strive for the best. Mencari the best possible diagnosis, berusaha mengkonfirmasinya dgn pemeriksaan penunjang yg ada, dan mengusahakan the best available treatment (sesuai kemampuan pxs). Selalu ditekankan untuk menegakkan diagnosis terlebih dahulu. Jgn sekedar kasih obat simptomatis doang. Makanya dari thn ke thn, di Kalbar RS ini selalu masuk peringkat pertama penggunaan biaya Askes terbesar u/ pemeriksaan penunjang. Tapi yang terendah dalam penggunaan obat2an. Sementara RSUD/RS lain paling tinggi di penggunaan obat2an dan rendah di angka  pemeriksaan penunjang.
Karena mayoritas pasien datang dari kalangan ekonomi lemah/pas2an/menengah ke bawah, para senior mengajariku bagaimana memilih pemeriksaan penunjang dgn smart. Tidak seperti di RS2 besar dimana pxsnya tinggal dicek SEMUAnya. Ya iyalah pasti ketemu penyakitnya, lha wong dicek dari rambut kepala smp kuku kaki. Bagaimana menjembatani kepedulian akan penegakan diagnosis dgn jumlah dana yg tersedia (u/ ongkos pulang, ongkos makan, ongkos pem.penunjang, dan ongkos obat). Bener2 art! Biasanya kan ga usah ambil pusing. Mo makan apa, mo pulang pake apa, none of my business. Tapi mau ga mau harus belajar peduli. Smp kdg2 kami yg susah payah bargaining sm pxnya spy dia mau dirawat – krn penyakitnya udah berat & gak bisa sekedar rawat jalan….
Berada di Serukam seperti berada di bawah CCTV continuously. Kompleks RS ini cuma seuwek, komunitasnya kecil dan ruang geraknya terbatas, shg kami akan bertemu orang2 yang sama 24/7. Dari buka mata sampe narik selimut lagi, ketemu orang  yang itu2 juga.
No one can pretend that long (kecuali dia a great pretender dgn kemampuan represi yang magnanimous). Jadi cepat/lambat pasti keliatan sifat2 aslinya, apalagi klo tinggal serumah. Jadi pengamatan pola pikir – perkataan – sikap – perbuatan dapat dilakukan slm 24/7 scr nyata. Tmp yg menjanjikan u/ mentoring. Menjanjikan untuk para disciples, menggentarkan untuk para mentors, hehehehe…. ;D 
Makanya bagiku scr pribadi – entah untuk individu2 lain – mentoring di Serukam dimulai saat pertama menginjakkan kaki di rumah Sidon-Damsyik di atas bukit malam itu. Welcome to Serukam Training Ground! ;D hehehe. Ada 2 org alumni MMC 2 yang sudah lebih dulu menempati rumah itu. They taught me many many many things, especially the non medicinal parts – interpersonal skills, masalah sosbud, domestic  training (tmsk “kursus” hands-on membunuh tikus – kami bertiga bergumul dlm 1 kmr vs tikus).  Surprisingly, I found these “non medicinal” lessons to be very precious.
Banyak sekali peraturan tidak tertulis di Serukam. Keberhasilan para seniors adalah ketika bisa menurunkannya secara verbal dan juga membuktikannya dalam tindakan nyata – yang kemudian dituruti oleh para juniors, dijadikan pegangan, dan diwariskan ke generasi berikutnya. Tradisi yang berharga, namun rentan hilang apabila ada lost generation & rentan diselewengkan berdasarkan interpretasi pribadi. Sayang sekali apabila core values itu tergerus & lenyap. 
##

Yang dipelajari dari mentoring & discipleship so far (because I’m also still learning) :
·         Teladan hidup (life exemplarity)
Sesuatu yang priceless, tak tergantikan dgn uang à menjawab my early question wkt PTT “Jadi ada bedanya ga dr.Kristen & non Kristen”?
Ini yang memberi inspirasi terbesar. Melihat, mengamati, mengalami. Bagaimana para pioneers bisa tetap setia setelah sekian puluh tahun. Bagaimana bisa tetap memegang teguh core values di tengah2 dunia yang semakin bobrok. Bagaimana bisa tetap hidup idealis secara nyata.
Uang bisa dicari dan gampang habis; tapi teladan itu anti karat & anti maling, can’t be taken from u, apalagi if it already become a part of u.
·         Bergembira wkt lihat pertumbuhan
Bergembira waktu menyadari pertumbuhan diri sendiri dan juga orang lain. Apalagi klo dapat kehormatan coaching (beurat kt “mentoring” mah) à rewarding bgt lihat seseorang yg di-coach itu bertumbuh jadi bener, baek, baleg.
·         Belajar dari senior, tapi juga dari junior
Memang terutama sih belajar dari senior, belajar teori dan prakteknya, belajar ilmu dan cara hidupnya. Tapi tidak menutup kemungkinan junior juga bisa mengajari kita banyak hal =) Need a humble & teacheable heart.
·         Teladan terbaik adalah Tuhan Yesus, bukan manusia
So true! ^^
##

At the end of this writing, I think that one of the best book to read about mentoring is “Jesus, MD” – David Stevens, MD & Gregg Lewis. I first read it during my clerkship, was impressed, but that’s all. Waktu kemaren2 baca lagi, rasanya lbh make sense & lebih mengena. Pengalaman David Stevens sebagai dokter yang pernah menjadi misionaris di RS misi Tenwek, Kenya jadi lebih terasa nyata post Serukam experience =)

Sebenarnya yg dilakukan Tuhan Yesus adl discipleship, yang mengandung makna yg lbh dalam dan lbh spesifik bagi seorang Kristen. Mentoring bs berarti coaching scr umum, tapi pemuridan lbh dalam – following the footsteps of Jesus. Tapi kali ini aku tetap menggunakan istilah mentoring.

Unsur2 mentoring Jesus, MD :
1)      Dr. Jesus mengharapkan murid2-Nya ikut berkeliling (on rounds).
Membimbing tidak harus memiliki karunia khusus bawaan lahir dan bukan tugas dgn pendidikan khusus. Tapi lebih berupa “Ikutlah saya. Ayo kita lewatkan waktu bersama mengerjakan apa yang biasanya saya kerjakan.”
2)      Dr. Jesus mengajar lewat kejadian sehari-hari.
Semua orang ingin dimengerti à jika bs dimengerti, kebutuhannya sudah terpenuhi separuh jalan. Mrk tahu mrk mempunyai dokter yang peduli, yang telah mendengar mereka, dan yang karena ia mengerti, akan melakukan sesuatu tentang itu.
3)      Dr. Jesus menggunakan pertanyaan dengan efektif.
4)      Dr. Jesus tahu bahwa bimbingan yang terbaik itu jangka panjang.
5)      Dr. Jesus juga menganut prinsip “See one, do one, teach one” à that’s why it’s called medicine practice. Ada unsur pembelajaran dan praktek di dalamnya. Kedokteran bukanlah seperti mjd sport spectators (hanya duduk menonton). Kehidupan sbg org Kristen jg tidak seperti itu. Terkadang dalam kegagalanlah kita banyak belajar. “Mengerjakan” sesuatu selalu menuntut keberanian mengambil resiko. Kita yang melihat sang Tabib Agung sebagai life role model perlu dibimbing olehnya & menjadi mentor bagi yang lain. Bukan hanya belajar ilmu kedokteran (medical theories), but the art of medicine (seni kedokteran).

Maka our greatest mentor : Jesus Christ à a perfect example of living (I Pet 2 : 21, NIV)

Paulus berkata, “ Follow my example, as I follow the example of Christ.” (I Cor 11:1, NIV)
Itu persyaratan utama seorang mentor Kristen. Seseorang yang terus mengikuti Kristus, shg dapat diikuti oleh orang2 Kristen lainnya.
Christ is the supreme example à Christ’s apostle follows His example à we are to follow the apostle’s example.
Bukan karena seseorang itu suci, layak, sempurna, pandai, hebat, terampil maka ia menjadi mentor, namun pertama-tama karena ia mengikut Kristus.


A tribute to Serukam mentors….
WG, MARJG, PG, WB, HB, HG, MG, IR, SOA, EL, LA, IH, DP, Ags, SW, MO, YH, HC, TM, ES, RM



Bibliography/Filmography :
   v  “Something The Lord Made” – HBO, 2004
   v  “Mentor and Disciples. Partners of the Heart” – Francisco S. Lozano Sánchez – J Med Mov 3 (2007): 153-158
   v   “Jesus, MD” – David Stevens, MD & Gregg Lewis – Gospel Press, 2005

1 Response
  1. Dr. Paul Says:

    Appreciate your clarity of thought in processing some of your past experiences. Praying that others will be encouraged as well.

Post a Comment

What do you think? ^^

abcs