Follow Me! (Part One)


FOLLOW ME!
(Mentor & Disciple, Part One)


One sunny morning, more than 20 years behind….
“Ini gunung,” katanya sambil menggambar puncak segitiga yang pertama. “Dan satu lagi,” sambil menggambar puncak segitiga yang kedua. “Lalu kita tambahkan matahari” – gambar setengah lingkaran diantara kedua segitiga, lengkap dgn sunrays-nya. “Nah, setelah itu, kita gambar the loooong winding road. Jangan lupa untuk menambahkan sawah di kiri-kanan jalan” – lengkap dengan “paku-paku” padi kehijauannya. Kemudian ia menggambar 3 gumpalan awan tersebar di atas gunung dan burung-burung. Angka 3 posisi tidur mengapung di atas gunung, selang seling dengan gumpalan2 awan tadi.
“Jadi deh!” serunya senang sambil memamerkan hasilnya.
“Waaaa…..,” aku terkagum-kagum. Ini pelajaran menggambar pertama bersama Omaku, waktu baru masuk TK.

##


Sepanjang ingatanku yang terbatas akan masa kecil, rasanya itu perjumpaan pertamaku dengan seorang mentor – my beloved (late) grandma =) She taught me so many things, from drawing, reading, writing, playing, bathing, singing, u name it…. And she had many interesting stories to tell, from her youth time until Sleeping Beauty or Snow White (in their original version of course hehe, not the twisted one like nowadays). She taught me to pray, play, learn, and live. A mere human with multi talents.
                Kebutuhan akan seorang mentor sangat nyata dalam kehidupan tiap manusia. Tidak ada bayi manusia baru lahir yang langsung bisa berlari, menyetir mobil, mengerjakan pembukuan, atau membangun rumah. Harus ada seseorang yg sudah tahu dan bisa terlebih dulu untuk mengajarkan semua keterampilan yang dia butuhkan untuk bertahan hidup, bertumbuh, dan berkembang.
Secara sederhana, bisa dikatakan bahwa seorang mentor adalah orang yang udah tau lebih dulu dan bersedia ngajarin yg belum tau, dgn mengimpartasi ilmu yang terintegrasi dgn cara hidupnya, smp seakan-akan mereproduksi dirinya dlm wujud muridnya, tnp membuat murid itu kehilangan jati dirinya sendiri (nah lho, sounds not that simple….). Menurutku sih lebih dr sekedar guru yang ngajar di depan kelas slm 1-2 jam lalu pulang, krn hrs ada “impartasi ilmu yang terintegrasi dgn cara hidupnya”.
Belum lama ini aku menonton sebuah film yang menarik. An HBO movie from 2004 berjudul “Something The Lord Made”. Kisah nyata tentang seorang Afro-American yang menjadi asisten dokter bedah jantung Caucasian & together they were able to perform the first ‘Tetralogy of Fallot’ surgery.   Hubungan antara dokter bedah Alfred Blalock & teknisi lab-nya Vivien Thomas yang awalnya dimulai sebagai “master & servant”, berubah menjadi “mentor & disciple”, dan berakhir dengan masing2 orang berfungsi sebagai individu yang utuh.
I first heard about the movie from my med school friend. Awalnya gak percaya, mana ada sih teknisi lab bs ikut perform operasi jantung, apalagi ikut bikin alatnya segala. Tp tnyata bisa tuh. Sehabis nonton film itu, aku langsung search history-nya di internet. Interestingly, I found a paper made based on that movie. Penyusunnya Francisco Sánchez, dari Dept. Bedah, Univ. Salamanca di Spanyol. Tulisannya berfokus pada aspek hubungan mentor – disciple antara Blalock & Thomas.


##

Dunia kedokteran adalah salah satu ilmu tua yang perkembangannya sudah dimulai sejak ribuan tahun lalu.  Awalnya pendidikan dalam dunia kedokteran berupa “one on one” teaching.  Seseorang yang ingin menjadi murid harus mencari sendiri orang yang bersedia mengajarinya. Atau sang tabib/dokter itu yang mencari sendiri murid untuk menurunkan ilmunya. Sang murid akan dipinjami beberapa buku gurunya (di zaman sudah ada buku), lalu boleh mengikuti guru tersebut berpraktek selama jangka waktu ttt, sebelum akhirnya dianggap sudah cukup belajar & boleh berpraktek sendiri.  Karena pertambahan jumlah murid, akhirnya sistem pendidikannya berubah menjadi class-based.  Tapi teuteup gak bisa ngalahin “the power of bedside teaching”.
         Mnr F. Sanchez, guru/profesor menjadi mentor jika bisa mengajak murid2nya berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari dengan memiliki keingintahuan ilmiah, etika professional, & hikmat – selain mendemonstrasikan their intellectual capacity, training, & knowledge – yg mendapatkan kekaguman & rasa hormat dari murid mereka. Seorang mentor yang baik mewariskan perilaku, bukan hanya pengetahuan.

“Anda bisa belajar hal-hal yang tidak ada di buku dari seorang mentor“
Eugenio d’Ors

Berikut adalah perbedaan dari trainer (pelatih), professor (guru), dan mentor.
ü  Trainer      = mengajar teknik operasi
ü  Profesor = mengajar dasar teori (mengapa & kapan) dari teknik operasi
ü  Mentor    =
  1. Mewariskan gaya bgmn cara mengkonfrontasi kehidupan & profesi kita, memberi kontribusi pribadi & pengaruh pada semua aspek yang bergantung pd mereka.
  2. Mencari & menyalurkan vocation dari para murid à bertanggung jawab untuk membuat murid mempertahankan tingkah laku yang dapat dicontoh baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial mereka.  
  3. Mentor harus dapat mengerti aspirasi & kebutuhan muridnya à ada kemurahan hati secara material & spiritual à hasil yang paling membahagiakan : melihat dgn pnh ketulusan & antusiasme bagaimana muridnya dapat melampaui dia. 
“Segala sesuatu yang baik yang kita pelajari dari mentor

harus diteruskan pada orang2 yang mengikuti kita”

Pedro Lain Endalgo

Karakteristik pengajaran mentor :
  • Memberikan perhatian (afeksi), persuasi, & contoh (keteladanan) à tidak menggunakan kekerasan à krn kekerasan only leading to rebellion/hypocritism.
  • Mempraktekkan keadilan, toleransi, kewajaran.
  • Mengajar dengan rendah hati, perhatian, menawarkan persahabatan kepada murid à pekerjaan bukan beban, tapi waktu bersama yang dinikmati, dimana didalamnya semua orang mengajar dan belajar.
  • Mampu mengenali & memperbaiki kesalahan mereka, bahkan di depan murid. Murid akan sangat dirusak oleh kekurangmengertian dan keangkuhan dari seorang guru. 
“I am one of those who like to be corrected when I am wrong

And to correct others when they stray from the truth;

Both correcting & being corrected are pleasing to me….”

Socrates

##

Pengalaman mentoring berikutnya dalam hidupku terjadi di setting Korem & KTB. Aku mulai bergabung dengan Komisi Remaja sejak masuk SMU, sementara Kelompok Tumbuh Bersama (KTB) mulai kuikuti di semester 2 kuliah bersama Pknts Jtngr. Yang menarik adalah aku diharapkan untuk “belajar” dan ”praktek” secara simultan.
                KTBku terdiri dari 4 org anak ’01 (incl.me) & 1 kakak pembimbing, anak ’99. Bersyukur banget bhw KTB kami isinya bisa anak FK semua tmsk pembimbingnya. Di dalam KTB itu kami belajar kebenaran2 Alkitab bersama dan dilatihkan langsung dalam proyek ketaatan. Input2 berharga lainnya, selain datang dari kakak KTB, jg dr pembicara2 di persek Kms di Pknts Jtngr. Betul2 belajar banyak! Lbh banyak dari yg slm ini aku terima di gereja.
Diluar waktu2 di Jtngr, aku berada di Bandung – langsung “praktek”. Praktek melayani di Korem. Ikut VG, kepengurusan, nyiapin kebaktian (angkat2 perlengkapan, atur bangku, jadi pelayan kebaktian), ikut PA tiap Sabtu sore, kadang2 ngajar adik asuh, ngurusin retreat, hingga merintis pembentukan kelompok kecil di Korem. Ada 1 senior di Korem yg buatku spt mentor & byk menolong aku bertumbuh.
Waktu masuk ko-ass, KTB kami dapat ibu PA baru (stl ditinggal kakak KTB yg pergi koass lbh dulu). Mentor ini juga inspiratif & has her own wisdom. Dokter umum dgn kompetensi internoid & intensivist, majelis, GSM, dokter panti wreda, dan pemimpin PA & KTB2. Dia banyak cerita ttg kasus2 nyata dimana kita sbg dokter Kristen harus mengambil sikap.
Benar2 bersyukur akan kombinasi “belajar” dan “praktek” ini. Hidup terasa exciting, adventurous, penuh dgn hal2 baru untuk dipelajari & dipraktekkan, dan ada peningkatan pemahaman krn teori yang dipelajari dapat dipraktekkan. Baik di dunia medis (S.Ked lalu koass), dan non medis (hidup pribadi & di KTB – gereja).
                Di masa-masa remaja inilah untuk pertama kalinya aku betul2 sadar akan pentingnya mentoring – memiliki mentor(s) & pada gilirannya nanti, menjadi mentor.  How precious it is to have mentor(s)! Sulit sekali untuk bertumbuh tanpa ada orang yang dapat dijadikan teladan & menunjukkan jalan (yang benar) yang sudah lebih dahulu dia tempuh.
Kesadaran ini akan mewarnai pengambilan keputusan besar berikutnya setelah lulus menjadi dokter.

[TO BE CONTINUED]
0 Responses

Post a Comment

What do you think? ^^

abcs