Thinking
about….
FRAGILITY
OF LIFE
Thn 2011 ini dibuka dengan
operasi buka leher my bro sepanjang 3-4 segmen medulla spinalis. Irisan
memanjang ke bawah di tengkuknya. Pemuda yang periang, bersemangat, dan
suka berpetualang di alam bebas itu, tiba2 terbaring sulit bergerak di atas
tempat tidur post operasi. Masuk dgn berjalan kaki, pulang dgn kursi roda.
Kemudian rekan sejawatku
dikabarkan meninggal setelah kurang dari setahun berjuang melawan kanker paru
stadium terminal. Rasanya baru kemarin kami kuliah sama2 di Jtngr, baru kemarin
kami menyoraki teman2 di pertandingan olahraga antar angkatan, baru kemarin
kami berpapasan di lorong RSHS – sama2 wasted post jaga.
Tidak sengaja membuka jejaring
sosial dan terkejut waktu membaca belasungkawa untuk teman SMA-ku. Sekarang
sudah jadi guru yg berdedikasi & disayangi murid2nya, ibu 1 anak yg masih
batita, dan istri dr teman seangkatan. Tiba2 saja meninggal karena tertabrak
dlm upaya bergumul dgn penjambret tasnya. Bahkan tak sempat dirawat, hanya
sempat tiba di RS saja.
Dan yang terakhir datang waktu
aku sedang jaga di RS. My best pal called me & told me in grim voice, “She
had an advanced stage ovarian cancer”. Oh God. Her? That passionate doctor, a
faithful servant, with leadership heart. My colleagues in med school, who went
with me to Serukam for 3rd MMC. Who went to serve the government in
Sumba Island. Who dreamed to be a paediatrician.
All of them were younger than
me.
Life is fragile. Life is short.
“...Apakah arti hidupmu?
Sebab kamu adalah uap yang muncul sebentar saja dan kemudian lenyap” Yakobus
4:14. Yakobus mengingatkan kita bahwa kita sama rapuhnya dengan uap. Ingatlah
bahwa kita tidak akan bertahan lama di bumi ini. Waktu kita singkat dan kita
akan lenyap. It’s so absurd to desire “I wanna live a 1000 yrs more” – more
than 100 yrs on earth?? I don’t think so. We have an eternity to live in =)
Kita semua akan pergi dari dunia ini.
But life is precious. Life
is a gift from God. Life is a test, a trust, and a temporary assignment (Rick
Warren, Purpose Driven Life)
For us Christians, who believe
in Jesus’ redemption for us at the cross & put our faith in Him who gives
us the grace of salvation, death is not the problem. Sudah ada jaminan yang
pasti bahwa saat meninggal, kita akan pulang ke rumah Bapa di Surga untuk
tinggal bersama-Nya dalam kekekalan.
Death
is not the problem, life is.
Hidup kita sbg org percaya di
dunia harus dapat dipertanggungjawabkan. Ada assignments yg Tuhan berikan
setelah kita diselamatkan – semuanya sebagai ungkapan syukur atas anugerah yg
tak layak kita terima, yaitu keselamatan. It comes to these questions : how
well have I live my life? Sdh selaraskah dgn rencana Allah? Sdh sejalankah dgn
kehendak Allah? Sudahkah berjalan dgn setia di jalan-Nya?
Atau
sedang sibuk hidup semau-maunya?
"One
life to live for Christ my Lord,
One life to do my part,
One life in which to give my all
with fervency of heart"
-Brandt
One life to do my part,
One life in which to give my all
with fervency of heart"
-Brandt
I
must say that….
Kekhawatiranku (yg mulai menyerupai
keputusasaan) di akhir thn 2010 sangat tidak beralasan. Segala bayangan buruk
yang kupikirkan tidak terjadi. Kasih karunia Tuhan selalu cukup, bahkan
berlimpah, datang dari sumber2 yang tak terduga.
Operasinya berhasil. Salah satu
operasi tersulit di dunia, yg bisa memutuskan nafasnya/melumpuhkan keempat
anggota geraknya – Tuhan buat berhasil dgn baik. Ada konsekuensinya memang. Dan
masih harus dia tanggung hingga hari ini. Tapi hikmat, penyertaan, kasih Tuhan
sudah membawa dia jauuuuuh lebih baik dari kondisi pertama post op.
Impianku sekolah masih belum
dikabulkan. Tapi PASTI itu untuk suatu alasan yang baik. Dan lagi-lagi belajar
banyak dari itu =)
Pergumulan panjang juga
membawaku meninggalkan “rumah” untuk kembali ke rumah. Inilah yang kuyakini,
kuimani, kugumulkan sebagai yang terbaik untuk saat ini. Tidak mudah memang.
Tapi Dia menopangku untuk melewatinya dengan lebih baik dari sebelumnya. Sudah
bisa menarik garis pemisah antara masa lalu dengan masa kini ^^ sehingga bisa
“keep on moving – forward”.
Teman yang sakit berat itu masih
terus dalam pergumulan. Perjuangan masih panjang. Rasanya tak ada kalimat yang
cukup baik untuk dikatakan. Jadi ingat ketika 3 teman Ayub datang & hanya
duduk diam mengelilingi Ayub. Terus mendoakan, smbl mencari cara2 nyata untuk
berkontribusi, dan memohon hikmat Tuhan untuk memberikan encouragement yang
tepat, disaat yang tepat.
Ditengah-tengah banyak
“kehilangan”, banyak juga “kedatangan”. Minimal five of my colleagues gave
birth to their (healthy, cute, adorable) babies this year ;D How wonderful!
Siklus normal dalam hidup manusia. Ada yang datang, ada yang pergi.. Ada yang
sakit, ada yang disembuhkan. Ada kesedihan, namun selalu ada alasan untuk
bersukacita.
Thinking
about….
LIVE
“NOW”
Masalah yang seringkali ditemukan
adalah masalah di “masa” mana kita hidup. Masa kini, masa lalu, atau masa
depan. Apakah tenggelam dalam kenangan masa lalu atau malah terfiksasi pada
impian2 masa depan. Keduanya sama berbahayanya, karena bisa membuat kita lupa
untuk hidup di masa sekarang. Misalnya, saat tinggal di daerah terpencil,
bermimpi untuk pergi bersekolah ke kota besar. Saat ada di kota besar,
merindukan masa2 di daerah terpencil. Saat baru bulan Januari, sudah mikirin
terus ttg bulan September.
Tidak ada habis2nya. Jadi
kapan hidup di masa sekarangnya?
Suatu saat Joni Eareckson
Tada membayangkan seperti apa rasanya 5 thn lagi/10 thn lagi dr sekarang, tetap
dlm kondisi quadriplegia diatas kursi roda setelah kecelakaan fatal yg mengubah
seluruh kehidupannya. Rasanya tidak sanggup untuk membayangkannya! Tetapi dia
belajar bahwa kasih karunia Allah bagi kita ada untuk ‘hari ini’.
“Allah
memberi saya kasih karunia bukan untuk masa-masa yang tidak pasti di masa
depan….Allah bahkan tidak akan meminjamkan kasih karunia yang cukup bagi saya
untuk menghadapi prospek2 hari esok! Allah hanya memberi saya kasih karunia
untuk hari ini. Ia mengharapkan saya untuk menjalani hari ini
dalam kekuatan-Nya, bersandar pada hikmat-Nya, menimba dari kehadiran &
kuasa-Nya.”
Oswald Chambers berkata, “Kasih karunia adalah untuk ‘sekarang’.
Kasih karunia bukanlah proses menuju semacam sasaran di masa depan, melainkan
merupakan tujuan akhir itu sendiri. Seandainya saja kita menyadari hal itu,
maka masing2 momen akan menjadi kaya dengan makna dan maksud.”
Jadi apa yang harus kita lakukan
dengan masa lalu? Bukankah kita bisa belajar dari pengalaman masa lalu?
Di satu sisi itu benar. Allah
berkepentingan terhadap situasi dimana kita menemukan diri kita saat itu.
Sekali-sekali Ia menggunakan keadaan2 kita untuk mempersiapkan kita di masa
depan. “Terkadang mau tidak mau kita
harus menoleh ke belakang untuk mempertimbangkan kemana saja kita selama ini.
Dan wajar saja kalau kita bertanya-tanya apa yang menantikan kita di tikungan
di depan…. Tetapi ingatlah ini : Tidak ada momen yang lebih penting dalam
kehidupan Anda daripada momen yang sekarang.”
Sebab hanya “sekarang” yang
benar2 kita miliki. Hanya “sekarang” yang dapat kita lakukan sesuatu
terhadapnya. “Sekarang” adalah realita, kenyataan yang sebenar-benarnya.
Don’t let life just pass us
by.
“Be very careful, then, how you live – not as
unwise but as wise,
making the most of every
opportunity, because the days are evil.
Therefore do not be foolish,
but understand what the Lord’s will
is”
-Ephesians 5:15-16 (NIV)
Tapi apabila ada bahaya
untuk “tidak” hidup di masa sekarang, apakah itu berarti kita tidak perlu
berencana?
Tidak demikian. Merencanakan
di muka adalah kegiatan yang bijaksana, bahkan sesuai Alkitab.
Dalam renungannya “Life as a
Vapor”, John Piper membahas teks dari Yakobus 4:13-16. Setelah mengingatkan
kita untuk memelihara cara pandang bahwa kehidupan kita di dunia ini sementara,
Yakobus mengajarkan pandangan yang benar ttg Allah yang harus kita miliki – dlm
pikiran kita, dlm mulut kita, saat kita merencanakan masa depan kita.
Ayat 13 dimulai, “Jadi
sekarang, hai kamu yang berkata : ‘Hari ini atau besok kami akan pergi ke kota
anu, dan disana kami akan tinggal setahun dan berdagang dan mendapat untung….’
Kini ia memberitahukan kesalah dari cara bicara seperti itu. Dalam ayat 15,
“Sebagai gantinya kamu seharusnya berkata, ‘Jika
Tuhan menghendaki, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”
John Piper berkata penting
sekali untuk memiliki konsep yang benar ttg Allah dlm perencanaan. Yang pertama
adalah “Jika Tuhan menghendaki, kita akan hidup”. Dan yang kedua, “Jika Tuhan
menghendaki, kita akan…berbuat ini dan itu”. Ada kebergantungan penuh dari
manusia kepada Allah. Tidak ada ruang untuk kecongkakan/kesombongan bahwa bisa
hidup tanpa Allah. Karena semuanya – catat : SEMUAnya – ada di bawah kendali
Allah & semuanya dimaksudkan untuk memashyurkan Allah.
"He
is no fool who lose that which he cannot keep
to gain what he cannot lose"
-Jim Elliot (missionary martyr)
to gain what he cannot lose"
-Jim Elliot (missionary martyr)
I must say
that….
Hati yang bersyukur dan
bersukacita adalah obat yang paling manjur untuk penyakit apapun, baik penyakit
badani maupun rohani. Betapa keterlaluannya kita ini klo gak bersyukur!!
Perubahan tempat bekerja
& tempat tinggal harus diakui membawa stress tersendiri, karena mo ga mo
kudu beradaptasi lagi. Apalagi ditambah “culture shock”! Hahaha, ampir ga
percaya aku – yg asalnya org kota - bilang kena culture shock di kota. Wkwkwk….
Kelamaan di utan kali yaa?? Benturan yang kerasa sih masalah life values &
passion. Rasanya tidak berdiri di satu pijakan yang sama. Tidak memegang
nilai-nilai dasar yang sama. Tidak memiliki passion yang sama. Hmmm…masih menimbulkan
tanda tanya bagiku. Bagaimana bisa survive di belantara yang satu ini?
Belantara dunia kota. Dimana uang, prestasi, kekuasaan, dan kepemilikan menjadi
ilah-ilah yang dikejar mayoritas orang. Bagaimana bisa berkontribusi di
belantara model begini?
Ditengah-tengah masa adaptasi yang lumayan
& kepusingan yang lumayan, unexpectedly one of the XSerukamers bro from the
past showed up. Only for a few hours. But we had a great time, along with my lil
bro =) And then I get to spend ±24 hours with two sisters (Serukamers &
XSerukamers). Had a fabulous day & birthday celebration with them ;D Tuhan
memelihara anak2Nya dengan berbagai cara. Bersyukur juga untuk short holiday.
I’ve had lots of fun! Kunjungan ke tmn yg sakit itu, spending time w/the
adorable baby, chitchat w/my best pal, “olahraga”, makan2, nonton SH II, dan
leyeh2). Smua tercapai dalam sekejap hahahaha….
Bersyukur untuk ‘gestures of
love’ yang ditunjukkan oleh keluarga & saudara2 seiman selama ini. I am
truly blessed!! Tidak ada alasan untuk murung, depresi, mengeluh, dan bersedih.
It’s so fulfilling to know that u are loved! Dikasihi pertama-tama oleh Allah
(His unconditional & perfect love), dan dikasihi oleh sesama manusia. It’s
so fulfilling too when u can show your kindness, attention, helping hand to
others. Humans are created to receive & then give back.
So
what to do with….
THE
NEW YEAR : 2012
“Making the most of every opportunity”.
Sedikit
penyesalan kadang menyelusup masuk. Andai saja bisa berkontribusi lebih banyak
untuk “rumah” dan “keluarga” nun jauh disana. Rasanya malah aku yang diberi
begitu banyak, mendapat begitu banyak, diajar (& dan dihajar, hehehe)
begitu banyak, hingga tak habis2nya bersyukur.
Tapi
yang lebih penting adalah apa yang bisa kubuat dgn masa yang sekarang ini.
“Making
the most of every opportunity”. According to God’s will & guidance for me.
No
matter where I am, I must stay faithful to the Call ^^
So
help me God.
Further
Reading:
v “A Lifetime
of Wisdom” – Joni Eareckson Tada, 2009, Light Publishing
v “Life as a
Vapor” – John Piper, 2008, Pionir Jaya
v The Bible –
NIV or ESV version ;D
Appreciate your reflections on the brevity of life, and how we should order our days. May you be encouraged in the Spirit, and be empowered to be thankful for each day the Lord gives.
Keep writing! I'm trully blessed. Reminds me a lot! Let's welcome the new year with a heart surrendered and committed to Him.
PS: so glad for your short visit! :D