My Christmas Journey - CHRIST of Christmas

DEC 2013
My Christmas Journey
  
            Akhirnya empat minggu masa Advent pun berakhir. Lilin2 ungu digantikan dengan lilin PUTIH – merayakan kehadiran Yesus Kristus, Sang Terang Dunia, di tengah manusia berdosa dan dunia yang gelap ini.
            Kalau dipikir-pikir segala sesuatu ttg Tuhan Yesus selalu kontroversial, tidak biasa, sensasional (kalau meminjam istilah infotainment zaman sekarang). Jika zaman dulu sudah ada surat kabar macam sekarang, mungkin Ia akan berkali-kali masuk headline. Entah Ia akan dipuji-puji sebagai the coming Messiah atau Ia akan dicerca sebagai the great blasphemer tentunya tergantung pemimpin redaksinya dan/atau sumber dana dibelakangnya. Yang pasti, kita tidak pernah bisa bersikap netral terhadap Tuhan Yesus. Kabar kelahiran Kristus saja sudah menghasilkan berbagai respons.  It’s either 1 of 3 responses.

            Respons pertama ttg kabar kelahiran Yesus digambarkan di Lukas 2 : 8-20 saat malaikat Tuhan datang kepada gembala-gembala di padang. The least of all people dikunjungi pertama kali untuk diberi kabar kesukaan besar, seorang Raja telah lahir (how weird is that?). “...they were filled with great fear” (Luk 2:9b) saat melihat kemuliaan Allah bersinar di sekeliling mereka (siapa yg tidak gentar coba??). Namun setelah mendengar kabar dari malaikat dan mendengar pujian2 from thousands of angels (I think it was soooo magnificent & awesome beyond words), ketakutan mereka digantikan dengan sukacita (& rasa penasaran pastinya). “They went with haste & found Mary and Joseph, and the baby lying in the manger” (Luk 2:15) – mereka tidak menunda-nunda lagi dan langsung cepat-cepat pergi mencari Sang Raja. Ketika mereka melihat bahwa semuanya benar seperti apa yang dikabarkan malaikat, respons mereka adalah memuji dan memuliakan Allah, seperti yang dilakukan para malaikat! =)) Sekitar 2 thn kemudian, bintang terang milik Allah membawa rombongan Majusi dari Timur untuk mencari Raja yang baru dilahirkan. “...they rejoiced exceedingly with great joy” (Mat 2:10) – saat bertemu dengan Kristus, mereka langsung bersujud (“fell down” Mat 2:11) dan menyembah Dia dalam sukacita yang sangat besar.
            Respons kedua dicatat dalam Matius 2:1-12; 16-18. Pada saat Herodes Agung bertahta, king of Israel & Judah, who ruled firmly & ruthlessly (tidak segan2 membantai istri, anak2nya, dan saudara2nya), lahirlah Raja semesta alam di Bethlehem, Efrata. “When Herod the king hear this, he was troubled, and all Jerusalem with him” (Mat 2:3). Bagi Herodes, kelahiran Raja baru ini menjadi ancaman baik bagi tahtanya maupun kepemimpinan politis & keagamaan yang korup di Yerusalem. Ia segera mencari tahu dan menyusun siasat untuk menghancurkan this potential threat. Saat rencananya gagal, karena para Majusi lebih taat pada Allah daripada takut pada raja, ia mengamuk dan membantai semua bayi laki-laki yang berumur 2 tahun kebawah. Dengan segala cara ia berusaha mempertahankan kedudukannya.
            Respons terakhir datang dari para imam kepala dan ahli Taurat di Yerusalem (Mat 2:4-6). Saat mendengar kabar bahwa the Messiah had been born as prophesied, mereka disuruh mencari tahu dalam Taurat dan kitab2 para nabi dimana Dia dilahirkan. Sebagai ahli-ahli kitab yang telah mempelajari nubuatan & hukum2 Allah hampir seumur hidup mereka, mereka bisa menunjukkan bahwa tempat kelahiran Mesias yaitu di Bethlehem, Yehuda. But that’s all. They felt threatened, yes. But most of all, they felt indifferent. Mereka tidak mencari tahu lebih lanjut. Kebisuan teks Alkitab ttg mereka menunjukkan ketidakpedulian mereka. Cold, indifferent, not moved at all.
            Di masa sekarang pun, kehadiran Kristus menghasilkan berbagai respons dari manusia. Sebagian besar orang menghormati Yesus Kristus dan merayakan kelahiran-Nya dengan penuh sukacita. Sebagian membenci Dia & masih mencari segala cara untuk membasmi Kristus & para pengikutnya dari muka bumi. Namun sebagian yang lain, memilih untuk tidak peduli (even indifferent is a choice by itself) & to ignore Him completely. “None of my business”, don’t wanna know, don’t care, “I can get along just fine without Christ”. Actually, to ignore Him is the same with reject Him.
            Which one are we? Christmas demands a decision about Christ.

Ì

            Christmas demands a decision about Christ.
But maybe up to this point, some of us still think, “Why bother?” and “Why Christ?”
Seperti yang sudah kusampaikan sebelumnya di section Adventus, bagi kita yang hidup di masa kini, seperti halnya Advent, Natal juga memiliki tiga aspek, yaitu aspek “memandang ke belakang” pada kelahiran Kristus sebagai the perfect God-Man ke dalam dunia; “memandang pada masa kini” pada kehadiran Allah yang menyertai (Immanuel); dan “memandang ke depan” saat Kristus datang kedua kalinya dengan segala kemuliaan sebagai Raja dan Hakim (Maranatha).
            I think that we should balance all three aspects so that we can approach Christmas with the right attitude. Jika Yesus hanya lahir sebagai bayi biasa, mengapa kita harus percaya pada-Nya? Jika Ia hanya tumbuh dewasa, berkhotbah dengan spektakuler lalu mati (tanpa bangkit), mengapa kita harus percaya pada-Nya? Tapi karena Dia lahir, tumbuh dewasa, menderita sampai mati untuk menebus dosa kita di kayu salib, dibangkitkan, naik ke surga, DAN (ini yang paling penting), DAN akan datang kembali sebagai Hakim dan Raja, tidakkah kita harus percaya kepada-Nya?
             Bayangkan betapa mulianya kedatangan Kristus yang kedua! Kita akan sangat bersukacita menyambut Dia dan turut masuk ke dalam kerajaan kekal-Nya! Tapi bayangkan betapa ngerinya – fear beyond words – saat Dia datang dalam segala murka penghakimannya bagi orang2 yang tidak percaya/salah percaya. Apakah mau bertobat nanti saat kiamat terjadi? Sayangnya saat itu sudah terlambat. Apakah mau tunggu the final judgment day untuk lihat siapa yang akhirnya datang sebagai The Ultimate Judge? Sayangnya saat itu sudah terlambat untuk bertobat.
           
Ì

What are the practical things we can do to really celebrate this Christmas so that Christ will be glorified?
1)       Memandang ke belakang : Don’t let the Christmas Story became an ordinary story, keep the amazement! Betapa luar biasanya Allah! Betapa besar kasih-Nya, sehingga Dia bersedia datang ke dunia sebagai manusia, untuk menyelamatkan kita yang berdosa. Dan keselamatan tidak ada dalam nama lain kecuali dalam nama Tuhan Yesus Kristus. “Salvation is found in no one else, for there is no other name under heaven given to men by which we must be saved” (Acts 4:12; look at John 3:16-18 too)
2)       Memandang pada masa kini : Mari memelihara persekutuan pribadi yang indah dengan Kristus. Seperti yang kutulis sebelumnya tentang the ultimate cure for our spiritual hunger – diluar Kristus kita tidak bisa berbuat apa-apa & tidak bisa dipuaskan dengan apapun/oleh siapapun. Only relationship with the Living God can fill the black hole in our hearts. Yesus Kristus bukanlah Allah yang jauh, namun dekat dan beserta dengan kita setiap saat. God create humans so that we can be in a relationship with our Creator & find our greatest JOY in Him.
3)       Memandang ke depan : Selama masih ada di dunia, mari mengerjakan apa yang sudah dipercayakan Allah bagi kita dengan setia. Di dalam melayani Dia, mari terus bergantung pada kekuatan Allah dan mari terus mengarahkan pandangan pada garis akhir, menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali. Jangan menoleh ke kanan-kiri (ke dunia) supaya tidak kehilangan fokus/tergiur hal-hal yang fana. Tetap bertekun di ladang Tuhan, masih banyak yang harus dijangkau, masih banyak yang harus dikerjakan, sebelum kedatangan Tuhan.


Have a blessed celebration with Christ of Christmas in our heart & in our lives =))
0 Responses

Post a Comment

What do you think? ^^

abcs