DEC 2013
My Christmas Journey
It’s a week before Christmas and several
days before birthday. While preparing for Christmas, I suddenly remember one of
Sunday school songs when I was still in West Borneo.
DATANGLAH
PADA YESUS (COME TO JESUS)
Datanglah
pada Yesus
Kau tidak
akan lapar lagi
Karena Yesus
adalah Roti Hidup
Datanglah kepada
Yesus
# Siapkan
dirimu s’karang
Untuk
mendengar suara Tuhan
Jangan sampai
kau terlambat
Sekaranglah
waktunya!
Katakan
tu...wa...ga...pat “Ikut Yesus!” (3x)
Ikut Yesus
selamanya!
Datanglah
pada Yesus
Kau tidak
akan haus lagi
Karena Yesus
adalah Air Hidup
Datanglah
kepada Yesus
Back to #
Anak2 menyukai lagu ini karena temponya
yang upbeat disertai gerakan yang bersemangat. The words are simple, easy to remember.
I particularly drawn into this song cause whenever I listened to it, it
reminded me of “my emptiness, my thirst & hunger” in life. The words are
simple, but actually the meaning is deep.
Jika kita mau jujur dengan diri kita
sendiri, kita tahu benar all that “empty feeling”. Seperti ada lubang, black
hole, di dalam hati kita yang tidak terpuaskan dengan apapun. Tentu kita bisa
menutupinya untuk sementara. Aku teringat saat-saat ketika jalanan menuju rumah
berlubang. Makin lama makin besar. Makin lama makin dalam. Tapi tidak ada
tanda2 akan diperbaiki. Akhirnya ada beberapa warga yang berinisiatif untuk
menutupnya dengan brangkal (bekas bangunan) atau dengan tanah berkerikil atau
dengan sisa2 batok kelapa (karena ada tukang kelapa muda dekat situ). Tapi
semuanya hanya sementara. Begitu hujan datang dan banyak mobil melewati lubang
tsb, tambalan sementara itu tak mampu bertahan dan hanyut terbawa air. Tetapi
tetap saja ritual itu akan diulangi beberapa hari kemudian. Bahkan sambil
menyediakan kaleng kencleng (kaleng minta sumbangan) atas “usaha” yang telah
dilakukan segelintir orang tsb. Ujung2nya lubang makin dalam, lebar, dan makin
berbahaya bagi pengendara motor/mobil/bahkan pejalan kaki yang menyeberang
jalan.
Atau mungkin kita lebih familiar dengan
“empty feeling” mode kehausan. Untuk membayangkannya tidak perlu jauh2 ke
padang gurun di Afrika sana.
Suatu
hari aku naik busway di ibukota. Matahari bersinar terik dan cuaca panas sekali
(mgkn mencapai 30-310C). Botol airku sudah kosong melompong dan perjalanan
masih jauh. AC dalam busway seakan tak berfungsi karena begitu padatnya
penumpang. Terpaksa berdiri dalam busway,
berpegangan pada salah satu tiang di situ, menjaga diri tetap seimbang dan
sadar, sambil bercucuran keringat. Apalagi setelah itu harus berjalan kaki (di
bawah terik matahari) untuk mencapai tempat tujuan. Kerongkongan seperti pipa
bambu yang habis dijemur sampai gosong. Air liur pun ikut kering kerontang, tak
ada yg bisa ditelan lagi. Rasanya hausssss sekali.
Kisah Natal pun diwarnai dengan orang2
yang haus dan lapar dan “berlubang” hatinya. Raja Herodes yang haus akan
kekuasaan dan kosong hatinya, hidup dalam ketakutan akan kehilangan tahtanya. Para ahli Taurat & org Farisi yang haus
akan kebenaran yang memerdekakan, terlalu buta untuk menyadari kekosongan dalam
hati mereka. Para gembala, orang2 tak
terpelajar dengan kehidupan yang keras dan kasar, sibuk bergelut dengan
kehidupan hari demi hari, boro2 menantikan Mesias. Tidak jauh beda dengan
kehidupan kita sekarang ini. Ganti saja tahta Herodes dengan posisi CEO /
anggota DPRD. Ganti ahli Taurat dengan profesor ilmu alam / doktor teologi.
Ganti gembala dengan tukang batu. Atau ganti saja dengan profesi kita masing2. Dokter,
guru, akuntan, karyawan, satpam, pelajar, ibu rumah tangga, dan masih banyak
lagi.
Salah satu hal yang paling awal dirasakan
manusia adalah “wants” / keinginan. Bayi baru lahir pun langsung bisa merasakan
“wanting”, tanpa perlu disekolahkan terlebih dahulu. Ingin minum susu, ingin
digendong, ingin diberi kehangatan. “Our best havings are wantings,”
said C. S. Lewis. Keinginan manusia tak ada akhirnya. Punya sepeda, ingin
motor. Punya motor ingin mobil. Punya mobil, ingin private jet. Atau ingin yang
lebih mewah, lebih bagus, lebih banyak jumlahnya, and so on. Tapi setiap kali
keinginan itu terpenuhi, yang datang bukanlah kepuasan/damai sejahtera dan
penutupan lubang. Yang muncul adalah keinginan yang lain lagi dan kekosongan
yang semakin lama semakin menyiksa.
Sama seperti approach thd lubang di jalan tadi, berbagai
usaha dikerjakan manusia. Definitive
approach untuk jalan berlubang adalah diisi bebatuan berbagai ukuran beberapa
lapis lalu diberikan aspal dan diratakan. Definitive approach untuk kehausan
adalah minum air dan kelaparan makan. Tapi kita seringkali berusaha menutupi
kekosongan dalam hati kita dengan uang, kekuasaan, popularitas, cinta,
persahabatan, dan lain sebagainya. Dan itu sia-sia.
Datanglah
pada Yesus
Kau tidak
akan lapar atau haus lagi
Cara2 manusia tidak bisa mengisi
kekosongan tersebut karena “God has put eternity in our hearts”. Kita
diciptakan sebagai makhluk yang harus berhubungan dengan Penciptanya untuk bisa
truly alive. Hanya ada satu solusi permanen untuk mengisi all that emptiness in
our heart.
Come
to Jesus.
Datanglah
pada Yesus
Karena Yesus
adalah Roti Hidup dan Air Hidup
Untuk datang kepada Yesus, butuh kesadaran bhw kita
ini manusia berdosa dan lemah, yang tidak bisa menyelamatkan diri sendiri. Yang
kita butuhkan adalah pengampunan-Nya dan anugerah-Nya sehingga hati kita yang
kosong dipenuhi oleh kasih-Nya dan damai sejahtera-Nya yang melimpah. Yang kita
butuhkan adalah Dia sebagai Juruselamat dan andalan kita satu-satunya, baik
dalam kehidupan ini maupun untuk kehidupan kekal kelak setelah umur kita
berakhir.
Bagi yang
sudah menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan & Juruselamat, mungkin ada saat2
dimana kita menjauh dari persekutuan yang hangat dengan Dia. Komunikasi menjadi
terhambat, hati menjadi dingin, dan fokus kita mulai bergeser kepada hal2 yang
fana dan sia2. Then come back to Jesus. Ask for His forgiveness. Ask for His
refreshment over our souls. Ask for His renewal iver our hearts. He’s truly our
only Hope in this world and for eternity. He’s the definitive treatment for our
emptiness, our hunger, and our thirst.
He satisfies the longing soul, and fills the hungry
soul with goodness. — Psalm 107:4
It’s only a week before Christmas.
Selain menyibukkan diri dengan segala persiapan Natal, belanja Natal, liburan
Natal – atau malah ignorant & tenggelam dalam rutinitas tiap hari – mari
kita merenungkan kembali kehidupan kita. Selama masih ada nafas, belum
terlambat. Jangan mengeraskan hati. Jangan mengabaikan panggilan-Nya. Datanglah
pada Yesus. Kembalilah pada Yesus.
Siapkan
dirimu s’karang
Untuk
mendengar suara Tuhan
Jangan sampai
kau terlambat
Sekaranglah
waktunya!
“We were made for God, and in the end, nothing less
will satisfy us. Without Him, we are all empty” - ODB
Further reading :
- John 6:30-40; John 4:7-15; John 7:37-39
- “Not All Empty” by David Roper – Dec 18th, 2013 – ODB Devotional www.odb.org
Post a Comment
What do you think? ^^