A PLACE TO BELONG

        
        Hari Kartini di thn 2008. Matahari bersinar dengan terik tanpa ampun di garis ekuator. Aku menginjakkan kaki untuk kedua kalinya di Supadio, bandara yang sempit dan hiruk pikuk itu. Masih teringat keberangkatanku tadi subuh. Saying goodbye to Dad, Mom, & bro – giving each of them a hug. Because for the first time in my life, I travelled alone to another island.
     God helped me to arrive safely. Rasa panas langsung menyengat kulit sewaktu turun dari pesawat. Setelah mengambil luggage, I got out from the waiting room. Many people swarmed near the exit door. Penjemput penumpang, calo, tukang taksi, porter, petugas keamanan, semua bercampur jadi satu. Syukurlah a familiar face welcomed me. HG, and then AP. My restless heart soothed a little bit.
     Aku menarik nafas panjang & menguatkan hati. “This is it Chris. Welcome to Borneo,” ujarku dalam hati sambil mengikuti mereka berdua ke Kijang 1070.
         A stranger in Borneo.


SOMEWHERE...OVER THE RAINBOW


“ Help me to walk aright,
More by FAITH and less by sight;
Lead me with heavenly light –
Teach me Thy way.” – Ramsey


Semuanya berawal dari rencana sederhana. 16-01-10. G dan FD berencana pergi ke Singkawang. G mo potong rambut, FD mo belanja. Biar mur-mer (murah meriah), kami mo naik bis sekola yang jam 05.30 pagi. Makan bur-ba (bubur babi) dulu (karena saking paginya, toko2 blm pada buka), baru menunaikan tujuan masing2 sambil JJS keliling Singkawang. Rencananya ga lama2 di Skw karena belum visite. Menjelang tengah hari, kami berharap sudah balik ke Serukam dengan bis umum (baca : elf – semodel Elf Cililin geto).

Namun malam sebelum hari JJS tersebut, sktr 22.30, ada makhluk tiba2 mengetok kaca jendela g (“Huweee?? Siapa yang ngetok malem2 begini??” pikir g wkt itu). Ternyata itu FD! Dia baru saja pulang dari tempat MG. Asalnya mah cuma mau ngambil kertas ucapan buat farewell TM namun “terhambat” disana hingga hitungan jam. Singkat cerita, FD mentioned about our plan ke MG lalu tiba2 MG punya ide bagus! “Jadi cie, kita kagak jadi pegi pk bis sekolah bsk. Kita pegi bareng MG dan ponakannya jm 7 pg. Oya, bareng 3 tamu dari S’pore juga.”
G cuma bisa melongo (kalo di film Nodame sih bunyinya,”Hieeeeh??”).

RESTLESS

RESTLESS
January 2010
Mengawali Januari dengan membuka mata di rumah dan 10 hari kemudian membuka mata kembali di pedalaman West Borneo…. Both are my beloved ;D
Setelah melalui hampir 3 minggu “praying & thinking session”, I decided to come back to Serukam even for a very limited time. Perjalanan yang aga aneh sebenarnya krn untuk pertama kalinya terdampar di Terminal 3 jam 4 pagi (!!!). Lebih anehnya lagi krn g pikir I was the only one, tp tnyt ada org yg sdh lebih dulu berada di situ sambil bergulung dalam kain Bali-nya (sambil tidur u/mengisi waktu). Keren sih Terminal 3 di waktu subuh…yang ga keren itu duinginnnya….brrrr….I wished I had my thick jacket on (instead of jeans jacket). Dengan menggigil kedinginan, g melewati pos pertama dengan mulus dan satu2nya ide yang muncul di kepala untuk mengusir rasa dingin yang kelewatan ini adalah dengan…MAKAN!!! Chewing would generate heat, my theory back then ;D

Singkat cerita, God helped me to arrive safely at Supadio airport. Padahal sebelumnya, pesawat Mandala yang kami tumpangi berguncang-guncang di angkasa due to cloudy weather for almost 20 minutes or so (quite long eh?). Rencananya g bakal stay one night di mess Ponti & ikut pulang bareng rombongan Serukam & tamu besok siang.
Namun dalam waktu relatif singkat, waktu WB muncul di mess, I heard surprising news. My senior TM is going to leave, this January. TM is my MMC senior, my senior housemate when we were still in the Sidon-Damsyik, and again my senior housemate when I moved to 308. By her leaving, our Sidon-Damsyik trio (with ES) is officially closed.

Thinkabout Christmas

(Occasion : Christmas Eve
Background : Christmas music
Place : my small-but-full room)

Several days before Christmas, a friend of mine had a sad & burdened heart. She felt that this Christmas is going to be miserable because her family can't be together like before. What striking me was her last sentence, "...I felt empty."

abcs