Christmas—God’s Cure

Our Daily Bread
December 23, 2010 — by C. P. Hia


"Grace and truth came through Jesus Christ" —John 1:17

If your physician called you and in a serious voice said, “Please come in as soon as you can. I have something to discuss with you,” you would know he has bad news! Your first response might be, “No, I don’t want to know.” But you go because it is only when you know the diagnosis that you can learn the cure.
God, our Great Physician, also has some bad news—about man’s spiritual condition. When against His expressed warning Adam and Eve ate the forbidden fruit, God told Adam that all mankind would die spiritually and physically. That’s the bad news.
But He also gave the solution. He promised a Savior (Gen. 3:15). The apostle John tells us, “Grace and truth came through Jesus Christ” (John 1:17). But how does that help? Jesus came that first Christmas to bring God’s grace, something that none of us deserve because like Adam we have all sinned. But Jesus also came to reverse what sin brought. He came to be the truth (John 14:6) that would bring us back to God. He came to “save His people from their sins” (Matt. 1:21).
Listen to what the Great Physician has to say in the Bible about your spiritual condition. Then accept the cure He has provided—the gift of salvation through Christ.

Life is uncertain,
Death is sure;
Sin the cause,
Christ the cure.
—Anon.

Spiritual blindness can be cured only by the Great Physician.

MIRACLE...MIRACLE

It was one hot Sunday noon (12 o’clock in the equator sunlight!!). I went home to have lunch, opened my FB and clicked the News Feed. A list of status updates showed up and one of them stroke me like thunder in a one holed-noon (itu kan Inggrisnya untuk “petir di siang-bolong”??).

About one month before, she wrote that she had pleural effusion – accumulation of fluid in thorax cavity between lung and pleura (selaput paru-paru). Back then, I thought that she got TBC (Indonesia’s national lung disease). And finally, they found the pleural effusion cause. The malignancy - lung cancer.

She’s a doctor, the same year as me, our age only differ one year.  She’s a Sundanese and we share hometown, Bandung. We were in the same lab group during med school. After graduation I don’t really know her updates, until now, when I learned her lung cancer. Stage 4 Squamous Cell Lung Cancer.

All of a sudden, a consciousness comes to mind. How does it feel? What if…it’s me and not her?
But more than that, I suddenly feel sad. My colleague, who hasn’t met HIM personally, is dying.

P

“Mengapa Allah menyembuhkan beberapa orang dan tidak menyembuhkan yang lainnya?“

Demikian tag line dari buku putih terbitan Visipress berjudul “Kesembuhan yang Ajaib” (Miraculous Healing). Walau katanya buku itu diterbitkan thn 2009, baru beberapa bln lalu aku melihat buku itu terpampang di toko buku rohani. Waktu itu aku baru saja pulang dari mission trip di Temanggung, my second mission trip yang meninggalkan kesan cukup dalam. Karena pengalaman di Temanggung itulah (akan kuceritakan lain kali), aku sangat tertarik ketika melihat buku itu (dan satu buku lain yang juga akan kuceritakan di lain kesempatan).  

Penulisnya adalah direktur nasional pertama dari China Inland Mission (a.k.a OMF International) di Amerika Utara, Henry Frost, yg juga merupakan rekanan dari (the famous) Hudson Taylor, pendiri CIM. Sebenarnya buku ini sudah lansia, pertama kali diterbitkan dalam bahasa aslinya pada tahun 1931 (wow, Indonesia masih dibawah penjajahan Belanda tuh). Pada edisi Indonesia-nya ini, turut diterjemahkan kata pengantar dari Joni Eareckson Tada, seorang penderita tetraplegia (kelumpuhan tangan dan kaki) selama 30 tahun lebih.

I found this book very interesting karena Frost membahasnya bukan hanya dari segi biblikal, tapi juga segi praktikal. Dia membeberkan argumen2 yang masuk akal sekaligus alkitabiah sebagai penjelasan thd pokok2 perdebatan yang umum, terutama dari orang2 yang mengklaim mukjizat secara ekstrim & keliru. Tetapi dia tidak kehilangan iman bahwa Allah tetap mampu dan mau memberikan kesembuhan yang ajaib pada masa sekarang ini.

Let’s peek in! ^ ^

MR.A and ME


Seorang laki-laki tua umur 70-an tahun terbaring di IGD dengan O2 lewat selang di lubang hidungnya. G memegang rekam mediknya dan melihat catatan pemeriksaan yang sudah dibuat rekan sejawat g.
 “Nyeri dada kiri sejak 3 hari SMRS, rasa ditusuk-tusuk dan ditindih, bla bla bla…. Rwyt TD tinggi sudah lama, bla bla bla…. Terakhir berobat ke RSUB 2004…,” g bergumam mencoba mencerna ceritanya. Lalu berpindah ke rekam jantung. “Weis… klasik serangan jantung,” komentarku melihat deretan garis hitam turun naik di lembar kotak2 merah. Pola yang khas, sulit dibantah.
Sejawat g sedang bertugas sebagai dokter klinik, jadi dalam 1 minggu ini dia tidak memasukkan px rawat inap. Kehormatan itu jatuh pada g. Maka g bergerak mendekati sang pasien, yang ditunggui seorang lelaki paruh baya. Aku menyapa sekilas, lalu menanyakan ulang beberapa pertanyaan kunci. Setelah mendapatkan konfirmasi, aku menyampaikan diagnosisnya, “… jadi dari hasil rekam jantungnya tampak bahwa bapak sedang mengalami serangan jantung dan…. “
Kalimat g terpotong oleh gesture dia yang tidak biasa. Dia langsung terisak dan menangis.
“Weleh…weleh….”
Setelah dia lebih tenang, I spoke a few reassurance sentences and explained that we would continue with chest X-ray and several blood examinations.  And then I left him.

When I was waiting for radiology expertise, one of the nurses told me that man real identity. Ternyata dia adalah bapaknya para pegawai di RS dan Akper Serukam dan masih kerabatnya beberapa perawat RS. Fenomena yang tidak asing lagi di RS “keluarga” Serukam, dimana semua orang (catat : SEMUA) masih bersaudara – berkerabat – berhubungan darah – sharing the same ancestors, entah bagaimana ^ ^’. Sambil menunggu, g telp IGD untuk meminta mereka menghubungi ICU untuk bersiap-siap menerima bapak ini.
Kembali di IRJ, salah satu perawat kerabat bapak itu datang mengajak bicara. Dia menyatakan kesiapannya untuk menerima bapak itu, tapi… “Masalahnya anaknya telepon saya dan meminta supaya…yah, kami juga mengerti kondisi bapak…tapi bagaimana kalau dia dirawat di rumah saja dan tidak masuk RS?” Sejenak g memandangi perawat itu dan terbayang muka salah seorang anaknya, Mr. Goodbye, yang bekerja di Akper – I looked at him in disbelief.
G menjelaskan ulang kondisinya yang jelas2 serangan jantung dan insisted that the best thing was to admit that px into the hospital. He finally backed out for a while dan menyarankan untuk memanggil anaknya. G lsg setuju dan ingin bertemu lsg dgn anaknya, Mr. Goodbye.

SEPT 2010 - Alone Into The Lone

ALONE INTO THE LONE

Lesson about Loneliness from Elisabeth Elliot
---Loneliness : It can be wilderness. It can be a pathway to God---


The day I found the book was not that dramatic.
I finally managed to arrive at Serukam safely after spending one night at Pontianak.
G ditempatin di motel, kamar no. 6 (by request dong – supaya ada kamar mandi dalem). Dan ternyata bukan cuma ada kamar mandi dalem, tapi ada terasnya juga. Begitu datang, g langsung “disambut” Mario, one of my fave twins, junior g sejak SMP. Dia lagi maen ke Serukam setelah menyelesaikan PTT Pusat-nya yang aneh bin ajaib di Sekadau.  

Hari itu juga g “shopping” di motel library. Semua buku di rak2 itu g liatin satu demi satu, dan akhirnya g bisa mendapatkan beberapa nice books ;D And one of them is “Loneliness” by Elisabeth Elliot.
Ini perjumpaan ketiga dengan karya2 Elisabeth Elliot, setelah Shadow of the Lord Almighty dan ?? of Love. Buku biru berdebu itu agak outstriking buat g karena pada saat itu g emang lagi dalam posisi “alone” di motel (well, ada Mario sih). Posisi “alone” itu menolong g untuk lebih menyelami ttg kesendirian dan kesepian (haha).

What is loneliness?

abcs