Beyond my expectation, mi brother (catat : adik KANDUNG, bukan ketemu gede)(habis sulit dapetin orang2 yang sepakat bahwa dia tuh ade g, heran….) came to visit me in Serukam.
Mi brother – kita sebut saja Budz – sudah nyelesein rotasi koass-nya. Tapi masih kudu ujian komprehensif (seluruh bahan) sebelum ikutan magang di RSUD selama 5 bulan. Setelah semua itu beres, baru dia akan “dipecat dgn hormat” dan dilabeli “Pak Dokter”. Nasibnya emang agak terkatung-katung, menantikan ujian kompre yang tak jelas kapannya. Jadi mi nyokap memutuskan untuk mengirim dia “tugas belajar” (euleuh, gaya teuing, sebenerna mah “berlibur sambil belajar” ;D hehe) selama 3 mingguan di Serukam.
Kami sempet foto2 banyaaaaaak banget di Serukam (lebih tepatnya sih dia yang foto banyak2) dan sempet maen ke aer terjun Riam Merasap di Sanggau Ledo. Berpetualang bertiga bareng Mbak Vika (yipiii) dan di Sg. Ledo, mampir ke tempat "tour guide" kami, dr. Stephen "Ku5-Ku5" Kuswanto - temen seangkatan g di Unpad 2001. Perjalanan yang nekat, but yet fascinating.
Foto2 kami berdua (dan kadang bertiga) udah di-publish di album FB g "Here, There, and Everywhere".
Tolnya aja 35 km, belum termasuk dari rumah ke tol & dari tol ke kampus. G inget respon temen2 g yang dari Jakarta mengenai their first impression ’bout Jatinangor – they didn’t KNOW at all bahwa kampusnya itu bukan di Bandung KOTA tapi PINGGIRAN ;D – so, kagetlah, ga nyangka, setengah terperangkap, setengah kepalang basah...hehe. G sendiri ngerasa kesian juga sama mereka. Biasanya tinggal di kota besar yang hingar bingar, sekarang ”terbuang” ke daerah pinggiran yang (pada pertengahan thn 2001) sepi, panas menyengat, ga da hiburan. Cuma ada warnet, warung tegal, dan tempat FC-an. That’s all. Mobil aja masih jarang. Banyaknya bus luar kota (Cirebon, Garut, dsb) dan truk barang.

Kos-an g yang pertama kali (selama 6 bulan pertama – more & less) engga banget deh. Tetangga g yg duluan kuliah di Jatinangor sih kerasan bgt disitu, tapi g sangat2 ga betah. Lalu g pindah ke Puren (Puri Endah – jgn tertipu dgn kt Puri-nya). Kamarnya ½ kali lebih kecil dari kos-an pertama, tapi sewanya lebih mahal (hmm...aneh kan??). Penghuninya berasal dari berbagai fakultas juga tapi mayoritas anak FK. G dapet kamar di lantei 2, persis ngadep jalan masuk (jadi g bisa tau mobil mana aja yang keluar-masuk kost-an hehe). Tiap 2 kamar kost share 1 kamar mandi. G share sama anak 2000, FK juga tapi KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik). Anaknya ngocol abis, seru, pinter, tomboy, kebluk setengah idup ;D Baru dah g ngerasa kerasan nge-kost.

Karena jarak Jatinangor ke Bandung nanggung (dibilang jauh, ya lumayan, dibilang deket ya engga juga), g lumayan sering balik ke rumah bawa cucian. Abis males klo bayar orang buat nyuci (buat apa??). Barang2 g di Puren juga ga terlalu banyak, sampe2 g selalu dihina-hina ”orang camping” sama temen2 yang masuk & ngeliat isi kamar g. G cuma bawa survival kits : panci listrik, tempat aer dengan elemen pemanas, dan radio (yang volume dan frekuensinyanya susyah bgt di-adjust). Laen2nya mah baju, selimut, buku – standarlah. Biasanya sih hari libur dan akhir minggu g ampir selalu ada di Bandung. Pulangnya suka nebeng temen ato naek bus Damri Elang-Jatinangor. G excited bgt wkt bus Damri tsb direnovasi jd laik pakai. Pertama kali edisi post revisinya keluar, g sampe terharu, ternyata bisa ya bus umum tampangnya beradab?? Padahal tau sendiri bus dalem kota Damri segimana ”engga banget”-nya, ya kotornya, ya bangkunya ampir rubuh, ya copetnya, ya pedagang asongannya, ya rokoknya, ya leletnya....
Tapi untuk g scr pribadi, bila dulu tidak ada periode ke Jatinangor, belum tentu ada periode Serukam saat ini. Periode Jatinangor adalah kali pertama I stepped out from my comfort zone. Setelah 12 tahun bersekolah di sekolah swasta Kristen yang homogen (baca : mayoritas Chinese semua), pindah ke universitas negeri (dimana dari 1 teater berskala 290-an orang, 2/3nya bertudung dan tiba2 kami jd ”double minorities” lagi)(lha wong memang udah ”DM” selama hidup di Indon kok) merupakan ”cultural shock” tersendiri buat g. Namun 4 thn di Jatinangor & 2 thn di RSHS adalah masa2 yang selalu g syukuri hingga saat ini. Masa2 pembentukan Tuhan yang ga enak tapi sekaligus indah.

Sedikit banyak, Serukam mengingatkan g kembali akan masa-masa kawah candradimuka di Jatinangor. Perbedaannya jelas banyak, misalnya : di Serukam ga bisa sering balik karena jauuuuh, ga da cutinya, dan ga da ongkosnya. Di Jatinangor, g tahan ga nonton TV karena ada radio untuk bertahan hidup (well, tetangga untuk ditebengin nonton jg deket jaraknya hehehe). Di Serukam, sinyal radio kaga nyampe, cuma smp Skw doang.
Persamaannya adalah I can get enough privacy, sepiii (iyalah, rumah ”Sidon-Damsyik” di tepi utan lsg)(di Jtngr jd sepi kec. ada pengkhianatan dari tetangga yg masang lagu untuk mecahin membrana timpani seakan kos itu milik moyangnya), harus usaha klo mau makan – jd sangat menghargai makanan (bljr btgjwb atas apa yg dimkn & ga rewel soal mknan), dan banyak lagi....
Tapi yang paling berharga sih masalah privacy. Ketika kita mendapatkan ruang & waktu yang cukup untuk berdiam diri, ber-refleksi, lalu ber-produksi – that’s priceless (maaf para E, ini jelas pemikiran orang I hehehe).
Dan akhirnya setelah melalui 1 tahun di Serukam (terhitung sejak masa orientasi April 2008), I begin to understand what a ”mudik” word means. Bagaimana rasanya ketika jauh dari suatu tempat yang asalnya kerasa biasa bgt, bisa muncul rasa rindu dan ada excitement yg besar waktu bisa datang kembali ke tempat asal. Dulu g ga begitu paham perasaan orang2 yang rela desek2an untuk mudik skala nasional tiap lebaran. G pikir ngapain gitu kudu bersusah payah. But finally I’m getting a grasp of it now ;D ”Gini toh rasanya homesick...” dan ”Gini toh rasanya antusias-mudik!!!”
And suddenly, Bandung looks beautiful in my eyes (haha)
Polang Kampong menolong g untuk melihat rangkaian kebaikan Tuhan selama ini. Mengingat kembali kasih setia Tuhan selama hidup g di Bandung dan terus berlangsung hingga sekarang di Serukam. Belajar menghargai apa yang sudah Tuhan berikan – keluarga, rumah, teman2, sahabat2 baik, gereja, komunitas kelompok kecil....
Make sure that we’re making the most of every times
Because those times surely won’t come back again
It will only come once & for all
Our lives shall have no regret if we’re living it to the most
”Whatever you do, work at it with all your heart, as working for the Lord, not for men” - Col 3:23
”Be very careful, then, how you live – not as unwise but as wise, making the most of every opportunity, because the days are evil. Therefore, do not be foolish, but understand what the Lord’s will is.” - Ephesians 5:15-17

Post a Comment
What do you think? ^^