21 April 2009
“Madam Kartini’s Day”
Happy birthday to me !
Today is exactly my first year in Serukam.
Remembering again the very first night I stepped in front of “Sidon-Damsyik”, my house now, with astonishment (astonishment = mulut menganga & separuh terbengong) “Ini toh rumahnya Ka TM & ES??”
(karena waktu MMC, g belum pernah mampir ke rumah mereka)
Hahaha…”the naïve -me” yang akhirnya menginjakkan kaki di realitas.
Welcome to the jungle, myself.

Sebenernya waktu mulai orientasi di Serukam, udah ga terlalu kaget karena (syukurlah) sudah pernah dateng waktu MMC 3. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa datang sebagai tamu dan datang sebagai “calon” anggota keluarga ternyata memberikan implikasi yang jauh berbeda. Tantangannya berbeda, sudut pandangnya berbeda, pengetahuannya berbeda, namun berkatnya juga berbeda ;D
G merasa bersyukur ditempatkan di (salah satu) rumah terjauh & terparah WC-nya (pre renovasi) bersama para alumni MMC. Mulanya agak ragu juga apakah bisa fit in dengan TM dan ES karena mereka sudah terlebih dahulu bersama-sama selama MMc-2 dan selama 8 bulan sebelum kedatangan g (dan ternyata mereka juga berpikir hal yang sama – bisa fit in sama g ga? Hehehe). Tetapi masa adaptasinya berjalan cukup baik & alhasil kami menjadi trio Sidon-Damsyik (walau eksistensinya sekarang sudah berakhir - secara de jure).
Banyak sekali hal yang g pelajari selama 1 tahun di Serukam. Dari sekian banyak, ada 2 hal yang secara khusus g dapatkan on this birthday :
(1) NO PAIN, NO GAIN
Merasa babak belur dengan jaga hari Sabtu (ga tidur dari jam 00.30 Minggu subuh sampe jam 7 pagi), disambung Monday-hell, diikuti Tuesday-sequelae.
Setiap hari harus bangun, cepet2 beberes, supaya bisa visite pagi sebelum morning report, ketemu pxs dengan segala permasalahannya (yang seringkali pelik). Habis morning report, cepet2 melirik outpatient box, periksa dulu, cek lab, balik lagi ke ruangan untuk selesein pxs yang belum divisite. Itupun ga boleh lama2 karena tumpukan di outpatient box semakin menggunung dan kalau tidak segera ditangani, akan bermunculan wajah2 yang resah & rewel. Dan demikianlah setiap hari.
Padahal semua itu adalah hal-hal yang membuat g bertumbuh.
Mengingat kembali pasien2 yang sulit, njelimet, ngebingungin, kaga keluar2 RS, keluarganya nyebelin, apatis, ngebabuin. Belum lagi guilty feeling klo ada yang missed atau terlambat diketahui. Ato perasaan jengkel, gemes, dan hanjakal karena mereka terlambat datang ke RS (setelah shopping dukun/berobat alternatif) padahal seharusnya bisa diselamatkan (if only they came earlier).
Dan semua hal itu adalah hal-hal yang membuat g bertumbuh.
Ditengah-tengah keletihan tubuh & pikiran, semua ingatan tsb membuat g bersyukur karena menyadari bahwa melalui bertahan hidup selama merawat merekalah, g bertumbuh.
Actually, klo dipikir-pikir lebih ndalem, I’m the one who should be thankful to them – for in treating them, I get the chance to grow up.
They were the one who taught me a great deal of things.
GOD taught me a lot through them. Not just medically, but mentally and spiritually.
The old verse is true : No Pain, No Gain.
Mengutip kata2 Rick Warren dalam Purpose Driven Life :
”…God’s ultimate goal for your life on earth is NOT comfort, but CHARACTER DEVELOPMENT. He wants you to grow up spiritually and become like Christ.
Becoming like Christ does not mean losing your personality or become a mindless clone. God created your uniqueness, so he certainly doesn’t want to destroy it. Christlikeness is all about transforming your character, not your personality…
…Everytime you forget that character is one of God’s purposes for your life, you will become frustrated by your circumstances. You’ll wonder, ‘Why is this happening to me? Why am I having such a difficult time?’
One answer is that life is supposed to be difficult! It’s what enables us to grow….”
Tidak berarti bahwa g menganut teologi kesengsaraan (lawannya teologi sukses).
Tapi betul bahwa hidup itu harus diperjuangkan. Dan harus diperjuangkan untuk alasan yang benar. Rasul Paulus bilang bahwa apa yang dahulu dia anggap sebagai keuntungan (gain) – status, pendidikan, kehormatan, garis keturunan - sekarang dia anggap sampah setelah berjumpa secara pribadi dengan Yesus Kristus. Jadi waktu memaknai ‘no pain, no gain’, harus didefinisikan juga dengan jelas – GAIN yang mana toh??
Orang2 yang belum mengenal Kristus kurang rajin bagaimana coba. Kerja keras banting tulang, 30 jam seminggu, demi ‘gain’ as much as they can. Money, carreer, fame, beautiful women/charming men, house, car, etc, etc.
Tuhan ingin membuat kita menjadi seperti Anak-Nya Yesus Kristus. I believe that HE is our gain. Dialah yang menjadi bagian kita, dan menjadi serupa dengan Kristus adalah ’gain’ yang terbesar yang bisa dihasilkan dari semua ’pain’ kita di dunia.
Even more, ”God is far more interested in WHAT YOU ARE than in what you do.”
Tuhan lebih concern dengan karakter kita, daripada hal2 yang kita (bilang kita) lakukan untuk Dia.
Life is not about us. You and I exist for God’s purpose, not vice versa.
(Rm 8 : 28-29)

There is no growth without change,
no change without fear or loss,
and no loss without pain.
Percakapan dengan seorang teman beberapa waktu lalu memunculkan suatu pemikiran mengenai status single (atau double)(kayak ukuran kasur aja). Dia diperhadapkan dengan suatu dilema antara pergi atau tinggal. Pergi untuk melayani di daerah terpecil (dgn konsekuensi SLJJ dgn cowoknya) atau tetap tinggal & melayani di daerah setempat (& bisa membangun hubungan jarak dekat / SLJD). Waktu itu g berusaha memahami perbedaan pengambilan keputusan yang melibatkan kepentingan 2 orang (karena udah jadian) dan bukan hanya kepentingan sendiri (seperti waktu masih single).
Baru-baru ini, g baru aja menyelesaikan salah satu buku Elisabeth Elliot (the wife of late Jim Elliot – Auca’s missionary martyr). Judulnya The Quest For Love. Buku ini disebut-sebut sebagai lanjutan dari karya Mrs. Elliot yang terkenal, Passion & Purity. Isinya berupa kisah2 perjalanan cinta dari berbagai orang, mostly Caucasians, tapi ada juga Asians. Di akhir setiap bab diberikan point2 analisis serta ulasannya secara alkitabiah. Banyak prinsip2 penting yang disampaikan Mrs. Elliot disitu. Salah satu bahasannya adalah The Gift of Singleness. Berikut kutipannya :
“If you are single today, the portion assigned to you for today is SINGLENESS.
It is God’s GIFT.
Singleness ought not to be viewed as a problem, nor marriage as a right.
God in His wisdom and love grants either as a gift.
Don’t confuse that with the gift of celibacy – one who is bound by vows not to marry.
If you are not so bound, what may be your portion tomorrow is not your business today.
Today’s business is TRUST in the living God, who precisely measure out, day by day, each one’s portion… receiving ONE DAY AT A TIME (Psalms 16:5)
He divinely apportioned gift of singleness, believing that God won’t withhold nothing that is good for us”
I am really grateful karena menyadari bahwa singleness saat ini adalah berkat dari Tuhan. Singleness yang dimaksud bukan selibat, tapi single dalam artian not married yet. Dalam kasus g (g tidak melakukan generalisata ya), g merasa bahwa melalui singleness ini Tuhan memberikan kesempatan untuk melayani dengan bebas. Sejak di gereja dulu waktu melayani di Remaja, lalu bisa sampe ke Borneo segala. Beyond my wildest imagination. G juga bersyukur bisa belajar dari temen2 yang udah jadian ato udah merit, dengan segala ups & downs mereka.
Dahulu kala pun bapak Pengkhotbah dengan bijak berkata bahwa ‘Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya’.
Rencana kita jauuuh klo dibandingin sama rencana Tuhan yang tidak terselami. Tapi yang pasti adalah Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktu-NYA. Dan klo sampe saat ini masih bisa makan, minum, bekerja, bersenang-senang dalam jerih payah, itupun pemberian Tuhan.
Yang suka susah adalah berhenti ngotot dengan proposal kita dan menantikan proposal Tuhan. Beriman bahwa rencana Tuhan dalam kehidupan kita itu pasti baik, tepat sasaran, dan tepat waktu butuh pergumulan setiap hari. Ini bukan melulu masalah single/double yah, tapi mengenai kehidupan secara umum. Fase menikah itu bukan segala-galanya dalam kehidupan, itu hanya salah satu aspek kehidupan. Jadi masih ada banyak aspek lain dalam hidup yang perlu dipikirkan & didoakan juga dengan serius.
Terus, ada artikel yang cukup menarik bagi para singletons...
(bersambung....)
Post a Comment
What do you think? ^^