Ingatan tentang kapan pertama kali
nonton film tidak jelas kuingat. I don’t really remember. But it must be from
the old JVC TV in my house. Samar-samar saja ada beberapa kilasan gambar film
kartun ttg rusa dan gajah. Kata ortuku waktu balita aku nangis bombay gara2
nonton Bambi, anak rusa yg keilangan induknya (iya gitu?? gak inget
tuh...*denial * emang beneran gak inget deng). Klo Dumbo sih sedikit lbh inget.
Klo gak salah itu juga sedih dan ada adegan keilangan induk juga deh.... Tapi
selalu ada kali pertama untuk segala sesuatu. Itulah awalnya aku menjadi “movie
enthusiast” ;D
Di Indo, stasiun TV yg pertama kali
muncul tentulah TVRI (tahun 1962). Karena cuma 1, jelas ga da pilihan. Dulu waktu
aku TK, TVRI baru mulai tayang jm 16.30 setelah jam bobok siang, jadi aja ga da
alesan untuk tidak tidur siang (oh, how I hate taking a nap back then, and how
I love it now! Hehe). Program TV yg kuingat cm si Unyil (film nasional anak
Indonesia zmn baheula), si Isaura (telenovela
ttg perbudakan), dan si Oshin (film kebangsaan ibu2 jadul). Aarrghh,
Isaura dan Oshin terlalu mellow buat anak kecil – hidup susah miskin, mertua
jahat, bunuh diri, perbudakan – tapi wanita2 dws dirmh g wkt itu demen bgt ntn
itu semua (pk acara nangis bombay segala tiap kali Oshin menderita). Aku mah
gak ngarti (masih terlalu kecil).
Maka betapa gembiranya penduduk
Indonesia waktu muncul RCTI di thn 1989. Si Unyil pun langsung tergeser
Doraemon (musuh bebuyutan guru2 sekolah minggu krn menurunkan Sunday School
attendants scr signifikan hahahaha....). Lalu nyaris tiap hari aku berjuang
mengendap-endap menonton serial Star Trek : The Next Generation tiap jm 15.00
(persissss jam bobok ciang yg “sakral”) sambil berusaha outsmarted my grandma
yg lagi mengorok pulas. Dan malamnya berusaha mengintip MacGyver dari celah
pintu yg jam tayangnya lebih dari jam 20.00 (jam tidur anak SD *sigh *sigh).
Hahahaha...perjuangan masa kecilku ^^v
Dan sejak pengalaman menonton TV waktu
SD itulah, I realize that I’m a movie
enthusiast. Bukan pecandu, bukan kritikus, apalagi pakar film (boro-boro) –
tapi penikmat film. Seseorang yang
menikmati menonton film yang didalamnya terkandung berbagai aspek yang
seringkali mengagumkan, sambil belajar sesuatu dari apa yang ditonton. Sekarang
aku berusaha bergerak ke tingkat berikutnya yaitu sharing tentang apa yg
dipelajari dan dinikmati dari film2 selama ini.
%%%
So what does movie mean to me?
- Buat hiburan. Nonton film (yang tepat) bisa menghibur hati, bs dinikmati (enjoyable), klo BT jadi gak BT lagi, klo sedih jadi gak sedih lagi (escape hatch). Tapi tentu saja yg sebaliknya juga berlaku. Klo nonton film yang gak tepat, outcomenya bisa jadi bertolak belakang dengan apa yg diharapkan ~.~”
- Sebagai sumber pelajaran. I learn a great deal from movies (the right movies tentunya). Belajar kisah hidup org lain, belajar budaya bangsa lain, belajar geografi, belajar pengetahuan umum, dan belajar bahasa. My 1st exposure with English was from English-speaking movie with Indo subtitle lho. Makanya dari dulu paling ga suka film berbahasa Inggris yg didubbing ke Indo. Jadinya gak bisa belajar.
- Sarana menyalurkan imaginasi dan mengembangkan imaginasi. Kadang2 kayak tersedot ke dalam film yg sedang ditonton untuk sementara waktu, “melupakan” rutinitas & masuk ke dalam ceritanya, seakan2 aku sedang berada di tempat yg lain. Enjoyable banget.
What makes a good movie?
Banyak
aspek sih yang membuat film itu bagus, misalnya storyline, actor/actress,
director, producer, & distributor. Klo storyline mah udah jelas lah ya.
Alur ceritanya kudu jelas, bisa dipahami, jangan terlalu abstrak dan bikin
orang menganga (menganga gak ngerti / menganga gak percaya / menganga ketiduran
saking absurdnya tu stotyline). Aktor/aktris berperan penting dalam melakonkan
storyline supaya believable dan director bertugas menerjemahkan visinya supaya
bisa ditangkap dengan baik oleh mereka dan diperankan sesuai keinginan sang
director. Producer bertugas mendanai film, film berbudget besar punya
kesempatan untuk lebih bersinar, tapi banyak juga low budget movie yg tetap
sukses karena diperankan secara brilian. Sementara distributor perlu banget
untuk menyebarkan film supaya bisa dikonsumsi masyarakat banyak. Ada film2
bagus tapi gak masuk Indo, atau film2 bagus yang susyaaaah banget didapatkan disc-nya.
Kan percuma dibuat klo tidak disebarkan. Penata latar, music director, dan
costume designer juga berperan penting dalam kesuksesan sebuah film. Mereka
harus jeli menerjemahkan apa yg diinginkan oleh director dan penulis skenario,
disesuaikan dgn tampang & kepribadian aktor/aktris yang digunakan. So
overall, it’s a teamwork.
Bagiku
sendiri, ada 1 point penting yg harus ada supaya film itu bagus : ada lessons
learned-nya yg disampaikan dengan cara yg elegan (bukan berupa pidato panjang lebar
bernada menggurui), artistik (dengan semua dialog, lakon, musik, kostum, dan
latar), dan nancleb! Sehingga pas beres nonton bener2 puas karena ga nonton an empty
movie ;D
How to enjoy your watching time?
Tentu
saja beda orang, beda gaya untuk menikmati. Individual sekali. Klo untuk aku, ada
beberapa cara yg selama ini berhasil :
- Minimize distractions and disturbances as much as possible. Mulai dari silent-kan HP dan taruh jauh2, nonton sendiri di kamar (bkn di ruang keluarga yg terbuka), pergi ke WC sblm menonton (hahaha, ini wajib klo nonton bioskop, klo di rumah kan tinggal di-pause), taruh minuman dekat kita, hindari mengobrol, pastikan semua alat2 elektronik pendukung nonton berfungsi baik (mis.laptop, proyektor, speaker).
- Jikalau menonton DVD pastikan DVD itu bisa terputar baik smp akhir (kan males uda nonton 2,5 jm lalu macet di bagian ending – duh!) dan ada subtitle yg baik yg bisa membantu kita mengerti ceritanya.
- Klo ini acara menonton massal (mis.di ruang keluarga yg terbuka) pastikan teman2 menonton Anda bukan yg doyan ngobrol sendiri & anak2 sudah “diamankan” di tmp lain (preferable klo uda tidur).
- Klo menonton di rumah, ruangan yg agak remang2 dan sound system yang OK juga menolong membangun suasana (macam di bioskop). Tapi inget tetangga sebelah, jangan putar volume sampe pekak telinga.
- Berimaginasilah dan coba menghayati filmnya supaya lebih terasa real, yang nantinya membantu kita mendapatkan lesson to learn dari film tsb. Sebagian film tidak perlu dipikir, bahkan kadang2 kita harus put aside our logic spy filmnya enjoyable. Tapi ada juga film2 yg menguras daya pikir dan emosi dan bikin penasaran. If u have to, make a note ttg apa yg menarik/apa yg dipelajari dr film yg ditonton atau bahkan hal2 yang masih jadi pertanyaan. And so on....
Kesimpulannya, I really love watching
movies. Film bisa dijadikan escape hatch sementara dari kehidupan nyata.
Relaksasi sejenak dari rutinitas dan kemumetan. Berfantasi sejenak. Tapi semua
juga engga boleh berlebihan. Jangan sampe kecanduan / lupa mana yg real dan
mana yg fantasi. After all, all movies must come to an end. Dan saat filmnya
berakhir, kembalilah kita ke dunia nyata yang harus dijalani hari demi hari.
Ingatlah juga bhw unsur edukasi dari
film juga tinggi, baik edukasi yang baik, maupun yang buruk. Jadi perlu
kehati2aan dan kebijaksanaan dlm memilih. Yang ditonton orang tiap hari lama2
bisa diadopsi jadi “kebenaran” dan “kebiasaan”. Segala sesuatu tidak boleh
berlebihan.
%%%
Suatu malam di bulan Mei....
Aku, my bro, dan kesembilan temen
kerjaku duduk sejejereun di 21Cineplex. Ini minggu perdana dari film yang akan
kami tonton. I was very excited karena ini seperti nostalgila masa kecil –
menonton lanjutan prequel dari serial TV fave ku wkt kecil. Jaket sudah
dipakai, minum ada di samping, HP sudah di-silent, dan 3D glasses uda
terpasang.
%%%
This
is a writing I want to make since a long time ago. Tapi baru kesampean
sekarang. Sengaja
dipublish bulan ini untuk menyambut summer time dan masa school holiday dimana
film2 box office mulai bermunculan, to my delight! Woo-hoo! ;D
Next time, I wanna share my fave movies with u all ^^

Post a Comment
What do you think? ^^