MAY 2013 ~ FROM NORTH TO SOUTH (Part Two)

Click HERE to see Part ONE

D#2 (Thursday, May 23nd)

            Mobil Avanza hitam melaju dengan kecepatan sedang di jalan menuju Lembang, Bdg Utara. Lalu lintas lengang karena kami berangkat sekitar 06.15an dari hotel. Tidak lama kami sudah tiba di daerah Cikole, dengan pohon2 besar tinggi menjulang di kiri kanan jalan. Udara pagi terasa dingin namun segar. Jam 06.50an kami sudah mengantri masuk di depan portal Gn. Tangkuban Parahu, bersama sekitar 5 mobil lainnya, kebanyakan dari luar kota. Portal dibuka jam 7. Sambil menunggu, ke-4 temanku makan pagi di mobil dengan sarapan yang sudah di-pack o/ petugas hotel (how nice).
            Begitu portal dibuka, mobil kami adalah yg pertama meluncur masuk (rajinnyaaa). Gn. Tangkuban Perahu sendiri berasal dari legenda masyarakat Jawa Barat dimana tokoh utamanya, Sangkuriang menendang perahu hingga terbalik dan voila! Terbentuk sebuah gunung =))  Ada 3 kawah utama di Gn. Tangkuban Parahu : yang tertinggi dan terbesar adalah Kawah Ratu, di tengahnya Kawah Upas, dan lebih dibawah Kawah Domas. Kami langsung naik ke Kawah Ratu alias The Queen’s Crater.
            Udaranya duingggiiin banget dan anginnya super kenceeengg (pegangan! Pegangan!). Syukur pake jaket ;D Mungkin sekitar 16 drjt celcius. Untuk org Bdg sih tertahankan kok, gak smp menggigil, cm dingiiiiin aja. Tapi buat org Sing yg udaranya relatif lbh panas, itu duingiiinn banget (mrk smp sibuk menghangatkan diri).
            Ada 3 tempat yang OK untuk menikmati pemandangan. Pertama tepat disamping pagar pembatas kawah Ratu.
The Queen's Crater @Mt.T.Parahu - all rights reserved
Kedua di tempat pengamatan diatas mushola (well dkt2 situlah), in opposite direction dgn kawahnya. Disitu bisa menikmati God’s painting – magnificent works of art!! Ada pegunungan, langit, awan2, dan daerah nun jauh dibawah sana yg separuh tertutup awan (jd inget lagu Katon Bagaskara “Negeri Di Awan” ^^ uhuy!). Top begete dah! (empat jempol) Tapi ati2 angin gedenya, bisi kebawa angin hahahaha....... Tapi teuteup aja RK bs “pose pantai” di pagar pembatas (deket tulisan “Jangan Lompat2”) wkwkwkwkwk...... Gak dibilang dilarang berbaring di pagar sih ;D

The mountains opposite Mt.T.Parahu - All rights reserved
"Do not Jumping Around on This Area!"
- All rights reserved


...but they never said "Do not Lie Down on the Fence!" LOL
- copyright by PT














Ketiga, di pos pengamatan dekat Kawah Ratu, tinggal naek dikit ke sebuah saung yg cukup tinggi. Disitu bisa foto2 kawah (lagi) dan foto2 pegunungan + langit di opposite direction dari kawah, plus foto2 tukang dagang.
The angklung guy @Mt.T.Parahu - All rights reserved
 Setelah puas foto2 di area Kawah Ratu, kami melewati deretan “pemukiman” tukang dagang yg buanyaaaaak bgt. Mereka jualan bandrek, bajigur, gorengan, jagung bakar, mie rebus, dan berbagai souvenir mulai dari baju – tas – boneka (aneh ya??) – angklung – kerajinan kayu batik. Ada plang yang menunjukkan arah Kawah Upas dan kami terus berjalan ke arah situ. Ada beberapa spot yg bagus buat foto2 disitu : hutannya seperti di Wizard of Oz, foto di batang pohon tumbang yg keliatan natural bgt, dan foto a la boyband. Tapi udah lama kami berjalan, kok gak nyampe2?? Akhirnya nanya ke petugas yg lewat pk motor. “Kawah Upas masih ditutup. Ke Domas aja.” Deuh. Kaga ada yg nulis di papan bhw itu msh ditutup ^^”””
            Kami kembali ke mobil dan turun hingga di depan pintu masuk Kawah Domas. Kawahnya sih gratis, tp mereka tidak membiarkan wisatawan masuk tnp membayar 250.000 untuk biaya tour guide. Kenape hrs pake guide? begitu pikir kami. Alasannya krn kawahnya aktif (hwee??). Yah sudahlah, itung2 ngidupin orang sekitar. Bapak2 tukang tiket ngasi kuitansi “250.000 for one hour tour” dan menyebutkan jam masuk kami.
            Sepanjang perjalanan menuju kawah, kami melewati hutan yg cukup lebat dan jalanan tanah dengan lumpur disana-sini (krn kemarin mlmnya sempat hujan). Pagar pembatas jalan juga belum selesai dipasang. Tour guide kami org lokal situ yg mewarisi pekerjaan itu dari bapanya. Aku bnyk nanya sm dia (bukannya itu gunanya tour guide??) mulai dari kapan taman wisata itu mulai dibuka, gmn ceritanya bs ada pemandu, rumor ttg keributan antara para pedagang dengan pengelola. Jadi mnr dia dibawah manajemen yg baru (swasta, bukan pemda lagi) sudah diatur bhw 1 guide & 1 pedagang per 5 org tamu dan mereka ada urutan gilirannya. Kemudian para guide itu juga belajar 1 bahasa asing, misalnya dia bljr bhs Belanda, temannya bljr bhs Inggris, dll. Sebelum krisis ekonomi di Eropa, turis asing dari sono lumayan byk kata dia. Selain sbg pemandu, guide disana juga berperan sbg tukang foto. Saking seringnya (well, lbh tepatnya dia maen disitu sejak kecil), dia uda apal kira2 spot mana yg bagus buat foto2 (dan hasilnya lumayan juga ^^)
The jungle walk to Domas crater - Copyright by PT
Setelah 1,2 km dan 30 mnt berlalu, akhirnya kami nyampe di Kawah Domas. Dataran putih penuh bebatuan dan kerikil disertai kolam2 air panas dengan suhu bervariasi. Ada yg bisa buat celup kaki, ada yg bisa bikin telur mentah sampe mateng sampe meledak krn kematengan hehehe.... Dia juga membawa kami naik lebih ke atas (melewati plang “Batas Kunjungan Wisata”) untuk foto2, liat batu sulfur dan “sulphur flower” (so they said).

Domas Crater @Mt.T.Parahu - All rights reserved

"Sulphur Flower" @Domas Crater - All rights reserved





Tiga teman yg lain mencoba mencelupkan kaki mereka ke kolam air panas. Tapi mereka menolak waktu mo dilulur dan dipijat pake tanah liat abu2. Sebenernya wkt itu situasinya udah rada gak enak. Karena si bapa tukang dagang baru reveal identitas dia sbnrnya (sbg tukang dagang). Dari awal soale dia cm ngebuntutin kami dan bantu waktu naik turun gunung bebatuan itu. Dia nawarin gelang batu item (andesit), gantungan kunci batu & magnet kulkas (dari batu & udah diwarnain), tapi harganya gak kira2. Masa 50.000/item (jd 250.000/5 items)?? Deuh. Aku kesian juga sm mereka krn tukang dagang juga usaha turun temurun dan digilir juga seminggu sekali. Tp harganya gak rasional dgn kualitas barang yang...bikin aku ragu ~.~”””
            Akhirnya kami jalan balik ke tmp parkir mobil. Another 1.2 kilos. Klo ditambah hiking kami ke Upas dan ke bukit batu di Domas, ditotal2 udah 3 kiloan kami jalan hari itu. Tercapailah ya keinginan mrk untuk hiking ;D
            Di pintu keluar (pintu masuk kami tadi) kami disetop sama bapak tukang tiket. Wah aku uda ada feeling gak enak. Sbnrnya uda feeling sjk kami masuk tadi. Tp karena guidenya OK, aku abaikan saja. Ternyata dia minta 250.000 lagi karena kami udah 2.5 jm. Whuatttt??
Ya gak mau lah!! Dia uda kongkalikong sama guidenya supaya kami dibawa berputar2 dan berlama2 disono dan sengaja gak diingetin bhw itu sudah lebih dari 1 jam. Sempet berdebat lama disitu dan aku udah gak enak banget sm temen2 dari Sing. Arrrgghhhh... dasar orang2 gak jujur! Tukang tipu semua. Bikin malu g aja!! Grawl. Akhirnya RK bilang dia cm mo nambah 80 rb sambil pasang tampang garang dan marah2. Si guide sih msh pk basa basi. Si tukang tiket pasang muka asem. Kami semua lebih il-fil lagi!!
            Dalam sekejap, semua rasa nasionalismeku dan bela rasa untuk memajukan masyarakat sekitar kawasan wisata nasional...musnah sudah. I think they would be different with the new management and all. But they proved me wrong. Hhhh....kalian ini. Mo gmn bs maju klo kayak gini caranya?? Aku mah kapok, gak mau lagi kesana. Cukup ke Kawah Ratu-nya aja.

            Setelah berada di dalam mobil lagi, aku confirm rencana kami selanjutnya. Waktu menunjukkan pukul 11.30.
            RK bilang, “Ayo pergi ke Kawah Putih sekarang.”
Jaw drop. Maximal jaw drop. G memandang mereka semua dalam disbelief. Segala argumen yg dilontarkan gak didenger (bhw butuh wkt 3 jam, blm macetnya, dan apa coba yg mo diliat di sono klo sore??) dan mereka keukeuh saat itu juga harus ke Kawah Putih. Supirnya aja udah enggan setengah mati karena kebayang jauhnya. Aku juga uda pernah bc blog org yg melakukan ide gila kyk gini & dia menyesal ~.~””” Tapi yah, mereka yang bayar mobil dan supir, mereka pikir sekalian di Bdg juga, terserah mereka deh klo ga mo denger.
            Maka pergilah kami ke Ciwidey, Bdg Selatan menuju Kawah Putih ^^””””

Demi mengejar waktu, kami gak berhenti untuk makan siang (pak supir sudah makan). Padahal pengen bgt ajak mereka makan tahu Tauhid, ketan bakar, es potong Lembang (yg lbh enak dr es potong di SAU), makan makanan Sunda yg enak di Sapu Lidi.... Hah, lupakan itu semua. Kami makan bekal piknik aja (hasil belanja di supermarket kemarin malam). Tadi di gunung boro2 bs piknik. 3 lembar roti tawar pandan isi tuna, 1 pisang dan 1 apel plus isotonic drink. 
            Tiga stgh jam kemudian, setelah melewati 72.5 km (klo di Google maps mah) – macet di Kopo – tidur siang, kami tiba di Kawah Putih. 150.000 untuk bawa mobil smp keatas (tapi lebih baik daripada daerah angkutan umum, hrgnya sama2 juga – klo pergi rombongan – tapi lbh lama krn ngetem dulu).

Kawah Putih di sore hari di kala hujan.... - copyright by PT
@Kawah Putih - copyright by PT













Begitulah Kawah Putih di sore hari yang sedang hujan lebaattt sekali, disambut bau sulfur kuat menyengat (sampe hrs pake masker – syukur bawa) dan craternya spt aer susu ijo muda. Bener2 ga da bagus2nya acan *gelenggeleng. Tapi setidaknya uda ngabisin penasaran mereka. Bnr2 bersyukur mereka punya ide untuk ke T.Parahu (God’s ordinance I think haha) karena buat mereka lebih menarik disana daripada ke Kawah Putih yg “cuma gitu doang” (komentar mrk). Well, beda pengunjung, beda yg diinginkan.... Kami cm 15 menit disitu, langsung cabs lagi cari tmp mkn. Sayang RM yg g survey lagi tutup untuk renovasi. Terpaksa mkn di Sindang Reret. Dulu wkt g kecil srg kesitu. Tapi skrg mah makanannya mahal dan gak enak.
            Perjalanan pulang menuju Bdg tidak lebih lancar. Macet berat di Kopo (jam plg kantor dong). Ditambah lagi dengan banjir selutut di Kopo Sayati. G dan pak supir udah pucat pasi keringet dingin takut mobil mogok. Dia udah ngegerung2 gas keras2 dan gak berani berhenti. Sementara tmn2 sibuk foto2 karena mrk (PASTI) blm pernah liat banjir di jalanan. Motor2 pada mogok, pak polisi gak byk berperan, dan anak2 malah ada di tgh jalan pengen cari uang dr dorong motor/mobil mogok. Lalu lintas kacau berat. Bener2 tour Bdg yang sebenar-benarnya!! ^^””””
            Puji Tuhan bs nyampe dalem kota lg dengan selamat. Kami bayar tiket shuttle dulu untuk mereka besok, makan bakso (ada yg ngebet pengen mkn bakso), lalu plg ke hotel dan g dianter plg kermh. Langsung mandi dan keramas, berasa kotor banget seharian. What a day. What an adventure ^^v

D#3 (Friday, May 24nd)

            Hari terakhir mereka di Bdg akan digunakan untuk city tour di dalam kota (setelah kemarin puas menjelajahi ujung Utara dan ujung Selatan dari Bdg). Cuaca cerah dan belum terlalu panas. Langit biru jernih dengan sedikit awan. Stl parkir mobil, kami berjalan kaki menyusuri Jl. Asia Afrika. Foto2 alun2 dan jl. AA dari jembatan penyeberangan (yg isinya homeless people semua). Liat2 taman Masjid Agung, liat Gedung AA (syg museumnya gak buka), lanjut ke Hotel Savoy Homann, nyebrang ke Hotel Grand Preanger; foto2 Titik Nol Bandung & mesin cetak jadul depan Pikiran Rakyat; kemudian ke Jl. Braga. Suatu perjuangan tersendiri juga untuk menyeberangkan mereka karena basically kita kan...nyebrang sembarangan, dimana saja, kapan saja, semau kita (beda bgt ama di Sing dimana SEGALAnya serba teratur dan terprediksi).
            Kami mampir di toko souvenir di Braga (seorg teman beli gantungan kunci angklung dan kendang2 kecil), beli poffertjes – roti kismis – pork bratwurst di toko roti jadul Sumber Hidangan, dan diakhiri dengan makan es krim di Braga Permai, restoran sjk zaman kolonial.  
            Salah seorang dari mereka penggemar kopi berat (dan juga ortunya). Jd g ajak ke Koffie Aroma, Banceuy untuk beli biji kopi (where else? ^^). Waktu kami dtg, pas banget ada om2 pemiliknya. Dia ramah banget, langsung cas ces cos dlm bhs Inggris (thank u Om) dan mengajak kami masuk ke dalam untuk melihat2 pabrik kecilnya. Hag hag hag...syukur pergi sama mereka, jadi dapet bonus tour ke dalem. Good coffee, good price, good service ;D

Asia Africa St. - All rights reserved
Savoy Homann Hotel @Asia Africa St. - All rights reserved
         
















Braga Permai @Braga St. 

Koffie Aroma @Banceuy St - All rights reserved
Koffie Aroma @Banceuy St - All rights reserved

              Puncak kegiatan kami hr itu adalah FO tour. Pokoke dijajal sepanjang Riau. Yang lebih antusias malah para cowok. Para cewek keliatan biasa2 aja. Tapi cowok2nya (t.u 1 cowok) kalap belanja haha. Dia tanya, ada brp FO disini. Jawabanku, kuatnya berapa FO krn di sepanjang jalan ini FO-nya berderet =) Ditotal-total kayaknya ada 7 FO yang kami masuki siang itu, diselingi lunch di Misbar, tmp makan yang relatif baru di Jl. Riau. Konsepnya bioskop jadul, klo zaman emak bapakku dulu Misbar tuh beneran GeriMIS buBAR karena ga da tudungnya. Klo ini sih ada ^^ Makannya prasmanan. Bs duduk di meja2 seperti biasa, ato duduk di semenan bertingkat sambil nonton film Indo zaman baheula. Bahkan saking jadulnya, end creditsnya aja msh disampaikan scr verbal, bkn pk tulisan =) Konsepnya menarik, sayang pada ngerokok di tmp nonton, makanannya enak juga, tp harganya emang gak murah. 
            Puas belanja, saatnya snack di batagor Kingsley. Pesan siomay dan batagor dan es durian. G gak terlalu terkesan sama batagornya (yg lebih enak dari siomay-nya). Tp es duriannya sih oke punya (asal gak pake tambahan susu coklat kental manis). Kapan2 perlu coba batagor Abun. Konon enak juga.
            Akhirnya waktu juga yang memisahkan kami. Shuttle mereka berangkat jam 17.00. Jadi kami segera kembali ke hotel untuk rehat sejenak, foto2 di taman hotel, baru g anter ke tempat shuttle. And off they go to BSD....
(well, gak seindah itu sih. Menyambut long weekend, lalin macet berat, shuttle dari BSD telat dateng, jd mrk terdampar 1 jam lebih di Cihampelas bwh. Baru dijemput tmnnya di BSD sekitar jm 23.00 – phew!)
            And my adventure from north to south came to an end ;D Great experience!


LESSONS LEARNED

I wouldn’t know any of these things klo gak pernah ngalamin langsung di Serukam dulu ;D
It was such a blessing (among all other things) untuk belajar ttg cross cultural relationship dgn sedemikian banyak tamu dalam dan luar negeri selama disana. Belajar mempersiapkan itinerary, lodging, mengantar mereka kesini dan situ, menerjemahkan untuk mereka, mendengarkan kisah2 mrk dan terinspirasi karenanya. Dan jangan lupa, flexibility! Kayaknya itu salah satu pelajaran paling berharga yg kudapat di Serukam. Tidak ada yang kebetulan dan hal2 yang terjadi dlm kehidupan kita tidak sia-sia.

Sebagai host :
  1. Kumpulkan info sebanyak mungkin ttg orang2 yg akan datang sbg tamu. Brp orang, gender, alergi ttt, penyakit ttt, kesukaan, kebiasaan, pantangan, dan their expentancies – apa yg mereka harap mrk capai dgn trip ini. Kedengeran tll serius?? Haha...mungkin juga. Tapi itu sangat bermanfaat untuk seorang host. Apalagi amateur host yg single fighter. Aku menikmati saat2 mencari info ttg kota sendiri, getting to know my hometown ^^. It’s a good experience dan aku berharap bisa menjadikan ini segmen baru juga dibawah label “PVJ Tour : Parijs van Java Tour”. Coz I just loveee this city very much – even with its traffic, flood, irregularities, and other minus things ^^”””
  2. Buat rencana dan buat rencana cadangan beserta back-up untuk rencana cadangan (sounds familiar, my XSerukamers friends??). Kumpulkan link internet, sediakan gadget yg reliable untuk cari info (googling maupun buka Maps). Klo ada di tempat yg inetnya jelek, ya put everything into conventional notes alias pake pena dan kertas hehehe.... Be flexible, keep ur optimism + enthusiasm and enjoy the whole thing.
  3. Rencana perjalanan harus di-tailoring sesuai minat dan hobi traveler. Mis.musik. Pas banget bawa mereka ke SAU karena minat musik mereka yang tinggi. Di Jkt pun mereka sengaja cari jazz cafe untuk hangout sambil dengerin live performance. Lalu hiking. Di T.Parahu mereka seneng banget karena kami bener2 hiking pake kaki berkilo-kilo jauhnya, menyusuri hutan di sepanjang gunung. Dan belanja. Cewek2nya gak tll antusias dgn FO, tapi cowok2nya antusias BANGET belanja (kaos) ;D
  4. The joy (& honor) of being a host. Seru banget jadi host. Memang repot, tapi pengalaman dan relasi yg dibangun membuat semua kesulitan/kelelahan jadi gak terasa. Worthed bgt kok ;D Lagipula, mjd host adl sarana untuk membalas kebaikan orang2 yang sudah terlebih dahulu menjadi host yang baik bagi kita di tempat2 lain, saat kita menjadi pendatang ^^ 

Sebagai traveler :
  1. Trust your host. Klo dia rekomendasiin sesuatu (alat transportasi, tmp makan, objek wisata, waktu yg tepat untuk suatu kegiatan, barang2), take that into consideration. Do ur research thoroughly and consider ur host’s recommendations. Komunikasikan hal2 yg kurang jelas, tanyakan ulang hal2 yg msh bikin bingung spy pada hari H-nya persiapanny OK.
  2. Be flexible. Buat travel plan yg paling convenient dan sesuai dgn tujuan berkunjung + minat pribadi.  Tapi siapkan diri untuk perubahan tidak terduga (go to plan B or C, make sure u have one haha) dan tetap nikmati perjalanannya ^^ Life might surprise u here & then.
  3. Selalu waspada dgn hidden charges, t.u yang ditujukan u/ merugikan org asing. Jangan naif, lebih baik banyak bertanya dan konfirmasi daripada kena getahnya. Keep urself safe too.  
Melalui pengalaman ini, aku disadarkan bhw aku pun perlu mengenal kota kelahiranku dengan lebih baik lagi =)) And not to take it for granted. Perlu mengeksplorasi hal2 baru, menelusuri ulang hal2 lama, dan menemukan hal2 baik & indah dari perpaduan kedua unsur tersebut shg bs menikmati dan tidak berhenti terkagum2 ;D

Titik NOL Bandung @AA St.
- All rights reserved









Photo Album : From North to South @FB
Links to explore :





0 Responses

Post a Comment

What do you think? ^^

abcs