5 JAN 2015
Life after Christmas
Hari
kelima di bulan yang baru dan tahun yang baru.
Sedang
bergulat mendisiplin diri duduk di hadapan netbook dan mengetik. Sambil
memasang lagu2 Natal yang belum sempat didengarkan bulan lalu *LOL*
Di luar, bokap lagi beberes hiasan &
lampu Natal dari our Christmas Stairlight yang tercinta. My brou & mum uda
masuk kerja lagi. Tanteku sibuk dengan urusan rumah tangga seperti biasa. Life
goes on, apparently. Life after Christmas.
Terbayang bagaimana situasinya di Serukam.
Setelah “party hard” (baca : kebaktian, perayaan, makan2, visitasi, fellowship) selama hampir 2 minggu
sejak 24 Desember, hari Senin pertama di bulan Januari ini like putting back
life to reality. Segala sentimental Natal berakhir. Segala hiasan segera
dibereskan (walo ada juga yang memasangnya sampai 2 bulan). Segala toples kue
segera disimpan kembali setelah isinya cepat2 dibagikan sampai habis..bis..bis.
Segala koleksi kostum, hadiah, lagu2, properti Natal dimasukkan ke gudang sampai
11 bulan berikutnya.
Preparing for the season is exciting, but
parting from it is like saying goodbye to beloved family/friends/things. Waktu
kita melihat ke sekeliling rumah yang tampak kosong & sepi & datar, we
can’t help thinking : Wouldn’t it be great if Christmas could last forever?
Ì
 |
| One afternoon @SRKM |
Only
4 days left before the announcement of Presidential election’s result. Situasi
di tempat2 tertentu, terutama di kota2 besar makin memanas. Sementara kami yang
di kampung ini juga ikut2an “memanas”. Memanas karena gelora Piala Dunia,
memanas karena matahari bersinar terikkk sekali, dan memanas karena makan
durian (hampir) setiap hari =)) Another summer in equator.
Petang
ini indah sekali. Di hamparan langit biru, matahari sudah mulai turun di ufuk
barat, angin sore berhembus membuat udara tidak sepanas tengah hari. Reminds me
of a summer 6 yrs ago. My first summer in Borneo. Sayang waktu itu blm punya wordpress/blogger.
Aku cuma bikin newsletter model buletin to celebrate my first summer here ^^ (I’ll
show u guys some other time).
TRAVELLING
THE BORNEOSKY
June 22nd, 2014
Yes, I’m travelling the Borneo sky again.
And today is exactly 3 months I’ve been here. After
2 years 3 months in my beloved hometown, I’ve decided to come to West Borneo
once again. Kali ini, bukan sekedar kembali seperti 4 tahun lalu. Tapi untuk memulai sesuatu yang
baru, bersama lembaga pelayanan baru, di tempat yang sudah kukenal.
Or so I thought. I thought I knew the place
wkwkwk.... But apparently there are so many changes in these past few years. Sesuatu
yang wajar untuk terjadi =))
Lahir sebagai generasi non
internet dan berkenalan dengan HP & internet saat beranjak dewasa has its
own perks and sorrows. Perks-nya tentu saja karena bisa menikmati kemudahan
berkomunikasi dengan belahan dunia lain dalam sekejap (t.u dalam 3 tahun
terakhir) dan kemudahan mencari informasi apapun yang dibutuhkan lewat gadget
in the palm of my hands. Pilihan, alternatif, informasi tersedia dalam jumlah
yang luar biasa banyak dan beraneka ragam. Perubahan juga (rasanya) terjadi
dalam hitungan detik, bukan lagi hari. Dunia seakan mengecil. Semua lebih mudah
dijangkau.
Sorrows-nya adalah seringkali banyak
terdistraksi dengan berjubelnya pilihan yang tersedia dalam dunia ini. Misalnya
saja untuk makan siang. Makanan Asia/Eropa/Afrika, di tempat baru yang itu/tempat
lama, pake rute biasa/ikut rute G-maps, pergi sendiri/bareng temen, dalam
rangka kumpul sosial/makan berdua saja. Walo semuanya lebih cepat dan lebih
mudah, di sisi lain rasanya lbh complicated dan njelimet. Meleng dikit aja, (rasanya)
dunia sudah berubah lagi. Duduk nonton TV aja kadang2 susah untuk konsentrasi
karena smartphone bunyi terus dari tadi. Alhasil nonton acara sambil ngobrol via
WA dengan 2-3 orang, ditambah cari info di Google untuk menjawab pertanyaan
teman dan untuk klarifikasi acara TV yang baru ditonton.
Pendek kata, media elektronik,
media komunikasi, dan media sosial menawarkan begitu banyak hal yang berusaha
menyita perhatian kita (dan kemudian kantong kita). Menjalani hidup yang
terfokus menjadi tantangan tersendiri.
Ì