Summer (non) Holiday

Ketika mendengar kata “July” dan “tropical island”, yang terbayang dalam imaginasi g adalah “sunbathing, pasir pantai, surfing, coconut (sluuurp…aah segeer), and of course…Bali! “ The gods’ island, so they said. Pokoke konotasinya liburan banget deh.

Tapi faktanya, ada discrepancy besar antara imaginasi dengan realita. Pantesan nenek moyang suka menghardik descendants mereka waktu para keturunan itu sedang leyeh2 di depan rumah menikmati angin sepoi-sepoi dan daydreaming – dibilang “Jgn kebanyakan ngimpi, ndhuk!”

Karena dua frase untuk menggambarkan “liburan” musim panas g di Serukam adalah :

“Maaf sudah penuh!” dan “Ga da matinya!!” J

Langit tetap biru cerah dan matahari tetap bersinar terik di ekuator. Tidak ada tanda-tanda alam yang memberi kami peringatan. Hanya saja, di suatu hari klinik, waktu melapor untuk bertugas di IRJ (abis visite like usually), g (dan juga sejawat yang lain ) mendapati sejublak status px bertengger di dalam kotak kami dan waktu diteliti, nomernya (waktu itu pk 11.00) sudah mencapai 123 (heeeeehh??). Waktu masih mengucek-ucek mata (untuk memastikan ga salah liat karena terdistorsi oleh belek yang mungkin masih tersisa), tiba-tiba salah satu anak Akper udah muncul lagi dengan senampan status yang tingginya menyaingi tart kawinan. Wadaw!!

Dan begitulah awal kisah perjuangan panjang selama minggu2 hectic di bulan Juli. Tuhan memberkati Serukam dengan LUAR BIASA. I’m not saying it in a cynical way lho. I’m saying it with full consciousness and with gratitude (even though I’m aware with all the “side effects” of the blessings J).

Di hari-hari klinik, kami kebanjiran sampai 180 pxs/hari (terdiri dari px umum, mata, gigi). Pulang jam 17.30 bagi dokter itu ‘bayang-bayang’, dan pulang jam 15.30 bagi perawat IRJ itu ‘mimpi’. Waktu istirahat makan siang udah ga pernah 1 jam lagi. Bisa cabut 15 menit sudah bersyukur. Yang penting cukup untuk duduk sekejap, masukkan nutrisi (survival food) ke oropharynx sekejap, bilas dengan air minum, dan back to work babe! (sambil menunggu peristaltik menyelesaikan sisanya J) Di hari-hari non klinik (selain Senin & Rabu), pxs ga terlalu banyak, tapi karena banyak dokter yang operasi (giliran ke KOB) tetep aja kerasa banyak untuk orang2 yang tersisa di IRJ.

Dampak lain dari “banjir bandang” itu adalah penuhnya kamar-kamar rawat inap, terutama kelas III. Setelah kelas III penuh, giliran kelas II dan I yang terisi. Ada suatu masa dimana Narwastu (VIP-nya Serukam) pun nyaris tak bersisa. Sehingga saat g duduk sebagai dokter jaga, yang pertama kali g tanya ke perawatnya adalah, “Masih ada kamar apa kita hari ini?” Dan saat ada px datang dengan ambulance, harus segera dilihat dan ditahan ambulancenya. Bila memenuhi kriteria, maka cepat-cepat kami bilang, “Maaf sudah penuh!”. Dengan terpaksa, px tersebut harus dirujuk ke RS lain.

G bilang “dengan terpaksa” karena merupakan suatu kebiasaan, bahkan budaya yang sudah berurat akar, bahwa Serukam tidak akan menolak pasien. Jaraaaaang sekali itu terjadi (kec.klo misalnya memang harus segera ke Ponti untuk CT-Scan kepala pada kasus severe head injury) dan ketika melakukannya, ada rasa jengah & keterpaksaan didalamnya. We don’t usually do that, but kali ini, terpaksa dilakukan karena mo dirawat di mana lagi toh?? Lha wong ruangan sudah penuh…. Ato ada juga kejadian dimana keluarga px ngotot banget pengen dirawat di Serukam, padahal kondisi px yang udah delir ga jelas (delir=delirium) mewajibkan dia dirawat di ICU. Sementara ICU-nya penuh (dan ga da yg bisa digeser krn msh pada gawat). Terpaksa-lah dirujuk balik ke Skw (padahal dia pk ambulance dari Skw!!). Dijelaskan baik-baik, sampai2 g kasih no.IGD Serukam, kalau2 msh penasaran & pengen nanya kamar di lain kesempatan.

Jadi “Maaf, sudah penuh!” terjadi beberapa kali saat ruangan rawat inap / ICU penuh. Pada tiap kali kejadian, kami berusaha supaya px bisa ditransfer secepat mungkin. Jangan sampe transit di Serukam memperlambat waktu mereka mendapatkan definitive treatment yang bisa didapetin di tempat lain. Pengalaman inipun mengajarkan keterampilan yang lain buat g. Mengukur kemampuan sendiri salah satunya. Klo kami mampu (dalam artian ada tempat), ndak mungkin kami tolak. Itu salah satu keistimewaan Serukam yang g hargai ;D

Setelah ditinggal pergi para sesepuh, sekarang para pejuang ada 7 orang : Ags (the master), YH (bapak internoid), TM (ibu jamkesmas), CR (yaitu g), SA (the “MTA”), AI (the basket-eye), ND (juara ngocol). Dengan 2 orang substitute players: VK dan FD (yang masih orientasi).

Walaupun bertujuh, dari hari Senin-Kamis, hanya ada 6 orang yang bisa masukin px karena ada sistem ‘dokter klinik’. Dokter klinik adalah orang terpilih yang full-on-duty di klinik Senen-Kamis selama 1 minggu itu. Dilarang ke KOB, boleh ga ikut morning report, ga boleh visite lama2 krn teng jm 8 udah kudu standby di klinik. Menerima nyaris semua px baru dan px kontrol yang gampang2 & bisa cepet. Di kertas catetan px, biasanya dia akan melesat dengan kecepatan cahaya meninggalkan kami. Tapi…teuteup aja klo Ags & YH sih biasanya banyak terus pxnya. Dan belakangan, g juga dapet byk terus (walo bukan dr.klinik). Apalagi waktu TM tugas luar. Berlima deh kami giliran masukin px rawat inap hasil saringan dr.klinik. Oya, ada lagi priviledge-nya DK. Secara dia uda ngos2an periksa px di IRJ, dia ga masukin px dari Sn-Kms. Jadi, klo ada px MRS, dioper ke dokter laen yang jumlah px rawat inapnya paling dikit, yaitu salah satu dari kami.

Urusan masukin pxs kadang2 aga sengit karena pada bulan Juli ini juga, beberapa kali “the chosen one” menembus level 15 untuk jumlah px rawat inap (such as the mighty Ags - way to go, Ka!!). Ga mungkinlah mrk disuru masukin lagi. Jadi pada prinsipnya sih bergiliran. Pokoke “Ga da matinya!!” deh px dateng dan masuk dirawat. Apalagi klo lagi jaga malem.

Saat jam klinik, pxs yang terus berdatangan dan “Ga da matinya!!” bisa dibagi-bagi ke dokter2 yang lain. So, masih tertahankanlah ya. Namun, saat jarum menunjukkan “Setengah LIMA”, ujian bagi dokter jaga dimulai. Semua pxs rawat jalan yang lambat datang akan berakhir di kotak dr.jaga. Belum lagi ditambah truk, Kijang, ambulance, motor, dan mobil umum yang “mampir” di depan pintu IGD mengantarkan “Ada pasien baru!”

Berdasarkan pengamatan, minimal ada 3 tipe jaga yang berhasil diidentifikasi di Serukam (bagi yang sudah tahu, maaf diulangi lagi J hehe).

Jaga tipe III adalah jaga yang notabene cuma mindahin badan doang, dari kasur di rumah ke kasur ruang dokter alias kosong bo..sepiiiii..ga da pasien IGD dan ga da konsul dari ruangan juga. Silent night, peaceful night. Sekali, dua kali dalam hidup ada juga lah kesempatan untuk dapat ketenangan seperti ini.

Jaga tipe II adalah jaga yang mirip dengan punya bayi baru lahir. Tiap 2-3 jam sekali, ngeeeng…tidur bentar, ngeeeng lagi… Jumlah pasien mungkin ga banyak, tapi mereka dateng pada waktu2 yang “ga enak” (misalnya subuh-subuh). Ato diselingi dengan krang-kring dari ruangan. Jaga kayak gini masih bisa tidur sih, tapi suka bikin hangover karena terbangun tiap 2-3 jam sekali. Mo pules dikit, eeh, dateng lagi pasien. Ga gawat lagi.

Sementara jaga tipe I adalah jaga beneran alias TERJAGA TERUSSS!!! Pasien dateng ga abis-abis di IGD (entah kenapa semua orang sakit hari itu), baik yang engga gawat maupun yang beneran gawat darurat. Yang gawat daruratnya kudu maju operasi CITO lagi, saat itu juga, ga bisa dibesokin lagi. Waktu ngurus mereka2 yang gawat, bisa ada telepon dari bangsal karena ada pasien nafas satu-satu di ruangan. Setelah ngurusin ruangan, operasi sudah siap dimulai. Saat lagi jadi asisten operasi (biasanya mata udah 4,5 watt dan tes Romberg positif alias udah goyang kiri-kanan nyaris tumbang), eeh….perawat dari IGD menelepon dan menyampaikan, “Dok, di depan udah ada 4 pasien yah. Yang satu…yg kedua….sementara yg ketiga, dan yg keempat dok, masih sodaranya yg kedua…bla..bla..bla” So, basically, you’re up all night and belel banget paginya.

Sepanjang bulan Juli, jaga tipe I is my on-call style ;D

There’s a good illustration from one of my fave books “Through His Eyes” by Kathy Collard Miller. I recommend all girls and women to read this book. Bener2 dari cewek, untuk cewek, dan ditulis dengan gaya yang ngertiin banget cewek.

Kathy bercerita tentang seorang pembicara, Gary Thomas, yang menyampaikan ilustrasi tentang the difference between responding to people with a full soul & an empty one. Bayangkan jika kamu belum makan apa-apa selama 36 jam dan kamu diundang ke suatu perjamuan makan. Ketika kamu nyampe, tuan rumahnya bilang ia perlu bantuan kamu untuk menghidangkan makanan. Tapi kamu lagi laapaaaar berat. Kamu tetap bilang iya sama tuan rumah. Tapi waktu kamu menyajikan makanan, kamu letakkan piringnya sembarangan, dengan setengah kesel, ngomel karena orang lain bisa makan, sementara kamu belum. Pada waktu kamu akhirnya bisa makan, kamu bahkan tidak bisa menikmatinya karena terlanjur kesel.

Namun jika kamu diundang ke perjamuan makan siang itu, setelah sebelumnya sempet brunch, setidaknya kamu akan nyampe dengan perut cukup kenyang. Saat tuan rumah minta kamu membantu menyajikan makanan, dengan senang hati kamu akan bilang iya dan tidak keberatan menunggu giliran makan belakangan. Kamu melayani mereka dengan baik dan memenuhi segala permintaan mereka dengan sabar. Senyum melekat di wajah kamu dan mudah bagi kamu untuk menunggu giliran untuk makan.

So, the difference between responding to people with a full soul & an empty one : an empty one hasn’t received God’s love, presence, grace meanwhile a full soul has already feasted on God’s encouragement & love, the fellowship of the Spirit, & the support of others. That soul is now able to respond to others with joy, grace, and cheerfulness.

Klo g merefleksikan ini sm pengalaman g sendiri, salah satu tantangan paling besar muncul klo abis jaga. Terutama post on-call type I. Pagi2 tuh seringkali dimulai dengan miserable. Semuanya serba cepet2. Cepet2 mandi&makan, lalu laporan pagi, disusul lari ke KOB klo ada pasien mo maju op. Habis dari KOB, px ruangan belum divisite, padahal di kotak depan udah penuh px yang mulai ga sabar nunggu. Belum lagi ditambah hypoglycemia, hypoxia, dan brain-jammed e.c kurang tidur. It’s difficult to respond to others with joy, grace, and cheerfulness. Basically, all u wish is that day will end soon & u will have your long, lost bedtime.

G jadi lebih sadar mengapa quiet time w/ God is very important, yang didalamnya mencakup berdoa dan baca FT. Itulah saat2 roh kita diberi makan, disegarkan, di-recharge. We have to feast on God’s love first before we are able to share that love to others. Dan saat melakukannya pun, kita sangat tergantung dengan God’s power within us. No way we can do it by our own strength. We’re too weak and humane.

Satu hal lagi yang g sadari dari pengalaman bulan ini adalah God’s sovereignty over all. Bahwa Allah kita adalah Allah yang memegang kendali.

Semakin lama berada disini, g semakin menyadari segala kelebihan maupun kekurangan Serukam. Byk hal yang secara mata manusia mustahil untuk dilakukan/dipertahankan. But I am amazed with God’s hands who entrusted this hospital with so many difficult and various patients. I am grateful to God that He shows Himself in this way. Allah yang empunya pelayanan ini, bukan manusia. Allah yang mengatur semuanya ini, bukan manusia. Allah yang berkenan mempercayakan sedemikian banyak hal bagi kami untuk dikerjakan. Allah yg sama juga menyediakan segala sumber dayanya. Memanggil anak-anak-Nya dari berbagai penjuru untuk melayani disini sesuai dengan apa yang Tuhan siapkan bagi tiap pribadi. Menyediakan semua equipments yang diperlukan klopun Semuanya tuh balik lagi ke God, God, and God alone.

It is God who sustain this ministry, here in the backwood of West Borneo. Not World Venture, not the Gearys, nor the doctors, nor the nurses, nor any men. It is GOD.

Klo lagi nyadar banget ttg kebenaran ini, g suka jadi gemeter sendiri. The reverence for God comes to me. Klo semuanya ini milik Tuhan dan pekerjaan tangan Tuhan, ya ampun kok berani-beraninya kami nggak mengerjakan dengan setia bagian kami?? Padahal siapa sih kami ini? Manusia dari debu dan tanah.

Jadi keleru (bukan cuma ‘keliru’) klo seseorang/sklpk org smp berpikir bhw suatu pelayanan adalah milik sendiri. Semuanya milik Tuhan. Kita adalah pekerja2 yang dipanggil sesuai kapasitas masing2 untuk bekerja di ladang-Nya Tuhan. Keleru juga klo selalu khawatir kekurangan orang. Yang Empunya ladang akan memanggil para pekerja untuk bekerja di tempat yang Dia inginkan. Bagian kita adalah tetap setia : bekerja & berdoa.

Tapi Tuhan itu baik. Dia tetep kasih wonderful break di sela-sela hecticity yang hiruk pikuk itu. Setelah mengalami banyak “kehilangan” di bulan2 sebelumnya, I got to know new people, hanged out with them, belajar hal2 baru, dan ternyata merupakan jembatan yang Tuhan buat supaya g bisa belajar bersyukur lebih banyak & belajar tentang keajaiban kasih karunia.

I wonder what lies ahead. God, would You please walk with me?

----Juli, 2009---Seroekam---West Borneo

Spending D'Day W/God [1]

SPENDING THE DAY WITH GOD [part one]

Practical tips for the Morning, Noon, & Night

(John Zarte, Serukam, June 2009)

IN THE MORNING (Announce – Feel – Hide – Say)

(1) Announce it – “Wartakan” – symbol : Radio Alarm / Rooster (if u can provide a rooster who will make a sound as punctual as your desire haha)

- Announce words of worship to recognize God’s presence.

- Ul 4 : 39 – announce how great God is, how grateful we are for the love of God.

- Dilakukan saat masih di tempat tidur, 2-3 menit setelah buka mata.

- Why is it important? Because feeling follows action & will change your view.

(2) Feel it – “Rasakan” – symbol : Water dipper alias gayung (apa lagi sih English untuk gayung?)

- Feel God’s love – love that runs down like water from water dipper when we take a bath, like Jesus’ blood that washes us & gives us forgiveness for our sins (Mzm 31:22, 63:4).

- We should remember our value before God.

(3) Hide it – “Simpan” – symbol : The Bible

- Hide God’s words in your heart (Mzm 119:11).

- If time shortage is the reason for neglecting Bible reading, remember that “we’ll always give time for something important” – jd klo ga sempet terus baca Alkitab, jgn2 itu krn Alkitab ga begitu penting buat kita….

- Reading the Bible for depth, not distance.

- Mzm 119:105

(4) Say it – “Bicarakan” – symbol : Coffee cup

- Say it in prayer. Coffee cup symbolize conversation with other people. If we’re so fond of talking to other people, we should be more fond of talking with our Creator.

- Conversation with God will change our relationship with others.

- What makes a prayer important?

1] God loves to hear us. Imagine this : the Almighty Creator of the universe loves to talk with His creation (small, weak, and from dust) !!

2] God will answer our prayers according to His good will (Mat 7:9-11).


Konon, ‘If the morning is right, the whole day will be bright’. Well, ga precisely demikian sih, tapi morning yang diawali dengan worshipping God & surrendering ourselves into Thy hand pastilah akan memberi kita kekuatan untuk menjalani seharian yang mungkin padat, nyesek, panas, dan penuh tantangan – dengan cara yang lebih baik dibandingkan klo pagi hari kita diisi hal2 yang mumet.


Satu quote lagi :

“Get yourself in tune with God in the morning, before the orchestra of the day begins”


SO LONG... FAREWELL... CON TE PARTIRO

JUNI 2009 ~ MASA POST CUTI

Cuti yang cuma 2,5 mg (dipotong ATLS 3 hari tinggal 2 mg) cepat sekali menguap..uap..uap. Klo ngikutin maksud hati mah, pastinya pengen stay longer di rumah.

Tapi ada perasaan yang mengganjal di hati, ketika yang dikerjakan tiap hari hanya bangun siang, makan, nonton, jalan2, makan lagi, bobo. Asa teu produktif dan ketika tidak produktif, asa cuma nyesek-nyesekin bumi.

Memang ada bahaya mengintip di balik rasa tersebut. Jangan sampe kita mendasarkan nilai diri kita pada seberapa penting gawean kita, ato seberapa bermaknanya kita ketika disangkutkan dengan hajat hidup orang banyak. Karena sesungguhnya kita itu VERY VALUABLE. Seberapa berharga? Sama harganya dengan darah dan tubuh Tuhan Yesus yang mati buat kita di kayu salib.

Klise? Mungkin ada yang bilang gitu krn keseringan denger. Tapi sebenernya klo mo direnungin lagi, fakta itu ga pernah klise. Kisah tentang “The supreme God mo mati dgn cara yang paling hina demi makhluk dari debu tanah” adalah fakta yang tak pernah bisa jadi klise. Bahkan itulah yang mendasari kehidupan baru kita sekarang sebagai orang percaya. Kita tahu pasti nilai diri kita sebenarnya. Kita tidak perlu lagi mencari-cari kedudukan yang lebih tinggi, kekayaan yang lebih banyak, salon yang lebih ampuh (untuk mempermuda wajah), spa yang lebih manjur (untuk meremajakan kulit), atau outfit yang paling gres dari Milan. All of that can’t define who we really are.

Only Jesus Christ can define the real ‘us’. He knows our value for sure, cause He already paid us with His own life.

Tapi, jangan mentang2 udah dibayar lunas, terus hidup ongkang2 kaki. Karena kita diciptakan untuk suatu tujuan tertentu dan tujuan2 Allah bagi hidup kita itulah yang harus kita kerjakan setelah memperoleh keselamatan.

Waktu balik ke Serukam, g langsung disambut hecticity tiada tara. Hr Senen yang hiruk pikuk, disambung Selasa (I was on-call) yang “can hardly breathe” mulai jam 8 pg-12 mlm (g br plg mandi jm 12 mlm itu!), Rabu yang juga “fish market-like” – tapi ada penghiburan krn makan2 besar (hehehehe…..). The weird thing is I’m really3 exhausted, but...I can’t deny the pleasure that comes from all of that hectic world (& I’m grateful too that God still entrusted us w/so many pxs).

Hanya saja yang terasa berat adalah kenyataan bahwa dalam 1 minggu itu I will lose 4 of my good friends. First is MO, a good senior, very Sanguin, a talented singer (& MC), a skilled surgeonoid (surgeon-wannabe). Pokoke klo ada dia tuh seru! Pasti ada yang aneh, rame, & asyik (sangunin typical lah). Dan dia coffee greatest fans juga, sama kayak K’Don dan SW yang sangat menggemari pure-black coffee (g tidak mengingkari bhw g jadi lebih doyan kopi karena mereka ;D hehe). Second & third are R & R, the young couple. This past year, they have become good friends of mine. RM – the doc – always comes up with new medical news. Dia rajiiiiin bgt baca & has a great curiosity over s’thing (t.u rheumatoid thingy) & cara dia membagikan pengetahuannya pd kami tuh kaga terkesan menggurui. Dia juga baeeeeeek bgt & hampir selalu riang gembira (typical San-Phleg). Sementara istrinya, RH asyik diajak ngobrol. G merasa kami cukup nyambung & bisa ngaler ngidul mulai dari issue serius sampe banyolan2 ga jelas. Rumah mrk tuh kayak escape-hatch when the going gets tough or boring. Juga selalu tersedia snack2 yang ga abis2 (ktnya sih selalu byk yg ngasih hehehe). Last, my housemate, ES. The singer – bahkan waktu kami ngobrol pun, dia bisa menemukan theme song yg tepat untuk obrolan kami hahahaha (mostly Indonesian songs). Berat juga ditinggal pergi dia. Biasanya dia yang jadi temen curhat di rumah. She’s a good listener (& memang selalu dijadiin tempat curhat temen2nya). Terus dia suka punya different point of view yg makin menambah wawasan g ttg sesuatu. ES pulang dulu krn ada urusan keluarga yg very urgent, yg udah ga bs ditunda lg untuk ditangani. Dia sendiri sih maunya balik lg kesini, tp entah deh gmn jadinya. Entah balik lg/entah ga.

Berat ternyata kehilangan 4 orang, setelah sebelumnya kami ditinggal SW & AD. SW tuh salah satu good senior juga. A very talented doctor, medically & non medically. Kutu buku, selera pelemnya agak nyentrik (biasanya g ga suka film2 dia – too depressive hahahaha), suka byk wejangannya, Sailor Moon-type (savior of the day). Kami baru belakangan agak deket, menjelang dia mo pergi. Sementara AD, dia tuh ngocol abis. Cowok yang dandy bgt katanya waktu dateng. Pake kalung emas cling..cling segala. Dia tuh asyik diajak ngobrol. Kami bisa ngobrol macem2 hal yang ringan & menyenangkan sampe ngomongin tingkah polah orang yg suka aneh2. Ga usah susah2 cari2 topik obrolan ;D

And they all gone. Mostly have finished their lives here and continuing their journey out there…. Suka rasa sepi pas lagi nyantei, inget2 jokes mereka. Ato lagi pengen konsul, tp orang2 yg biasa bs ditanya udah ‘gone with the wind’. Ato pas liat lapangan bultang, biasanya AD lagi maen disitu – ga ujan, ga panas, abis jaga pun tetep maen. Ato airplane runway deket gereja – tempat g, K’Don, dan SW sempet lari pagi bareng dalam acara “runwithSW dot com” hehehe….

Begitu banyak kenangan & mostly the good ones ;D

JUNI 2009 ~ MASA PARA TAMU BERDATANGAN

Wow. Ini sudah setahun sejak my first summer in Borneo. Dulu ketika g masih orientasi, disuru ngurusin Eye Team, ketemu para cewek2 nursing students dari Amrik itu, dan mengikuti petualangan tak terlupakan….

Sejauh ini yang ada di Serukam adalah dr. SoA (opthalmologist yg thn lalu dtg tea) with his whole family, Mrs. C & 3 children, Inggrid (fair&tall like her mom), Joshua (he’ll be a handsome guy someday), & Ethan (veryveryvery cute boy! Especially his chubby cheeks). Mereka udah disini sejak Maret ’09. Kemudian ada drg.Tim Clavin & dr.Janice Aldinger (neurologist from Mayo Clinic) & their daughter Emma (she’s a beauty too, big eyes-dark hair-mini Julia Roberts look alike??). Mereka dan keluarga dr.SoA saling kenal karena 1 gereja di Amrik sono. Kemudian (seakan belum cukup haha) pastor mereka juga dateng ke Serukam! Pastor itulah yg menikahkan Tim & Janice dan membaptis Emma. John Zarte dan istrinya Carla (lab technician) sekalian dateng untuk ikut konferensi GPIBI (perkumpulan gereja Baptis).

Tapi belum apa2, the Zartes udah dapet ujian. Entah bagaimana, luggage mereka ketinggalan sehingga mrk dtg cuma dgn tas yg mrk bw di kabin (nah lho). Sampe2 susah cari baju, celana, sepatu karena John paanjaaaang & tinggiiiii. Cukup deg2an juga karena semua bahan John untuk konferensi juga ada di luggage tsb. Syukurlah setelah nyaris seminggu, luggage mereka berhasil bergabung kembali dengan pemiliknya.

Ada 2 tamu lagi, yaitu nursing students thn ke-3 dari Bethel University, tmp Peter & Kristen Geary kuliah, Minnesota. Lagi-lagi orang Minnesota – sampe2 waktu farewell the Clavins, Opa bilang itu hari bersejarah karena lebih banyak orang Minnesota-nya daripada orang Indonnya hehe. Yang tinggi besar (reminding me of Carrie “Tinggi” Spowart)(tp ini bukan cuma tinggi, gempal jg) namanya Rachel Matz, sementara temennya yang tidak tinggi (even shorter than me)(berat jg kyknya jd orang pendek di Amrik) namanya Katrina Anderson (lagi-lagi Anderson – bahkan konon di gerejanya Katrina, ada 4 keluarga bernama belakang Anderson padahal they don’t related at all). Mereka memang temenan lama. Lucunya, mereka suka seragaman pake baju ke RS. Ckckck…formal betul…compare to the last year’s girls – tp ngakunya sih itu ga janjian.

Berbeda dengan thn lalu, I don’t really interact with them. Hanya ketemu dan saling menyapa sekilas2. Dengan dr.Janice, g sering konsul. Tapi dari 4 pxs yg g konsul, 2 murni syaraf, tapi 2 lagi malah suspek psikiatri (maaf dok…). Terus g sempet translate-in wkt dia & hubby-nya kesaksian di kapel. Wah, drg. Tim itu romantic abis! He proclaimed his love for his wife & child (their only child) in front of everyone at chapel ;D And actually he’s warm & funny. Sayang ga sempet mengenal dia lebih jauh. Dia sibuk di per-gigi-an bareng HC dan SK. Oya, ada fenomena yang g perhatiin, bahwa Tuhan kita adl Allah yang senantiasa menyediakan (a providence God). Sebelum Tim & Janice dateng, sempet ada kekhawatiran bakal kurang px gigi & syaraf. Tapi pada hari H-nya, banyak px kok buat mereka, baik yang bener2 dateng dari luar, maupun insider yang check-up. Ga kurang kerjaan kok mereka selama disini ;D Dan fenomena seperti itu juga terjadi saat spesialis2 lain berkunjung ke Serukam. Ga kan kurang pxs. Somehow, kunjungan mereka pasti bermakna.

Yang lebih dimanfaatin lagi dgn maksimal kehadirannya adalah the Zartes. Dari 10 hari kunjungan mereka ke Serukam, setiap hari Carla Zarte “mengurung” diri di lab bareng SA ngurusin lab & tetek bengeknya; sementara John Zarte khotbah 3x di kapel, 3 hari berturut-turut bawain seminar u/ hamba Tuhan, dan 2x khotbah hari Minggu (ditemani the most loyal interpreter, Ms.DP – way the go, Ka Don!). Namun harus diakui bahwa John got a talent of preaching the difficult part of Bible in a simple & practical way. It showed in his 3 chapel’s sermons yang bersambung. Topiknya tentang “Spending the DAY with God”.

I’m gonna share it with u today. Maap bahasanya capcai & hamcoi – Banglish – Bahasa Indon & English. Untuk kali ini, yang edisi 'morning' doang. Next time, yang 'noon' & 'night'.

[[to be continued...]]

POLANG KAMPONG

Menurut kamus besar bahasa prokem, “polang kampong” artinya pulang ke kampung halaman. Lazimnya yang disebut ‘kampung halaman’ itu adalah tempat darimana kita berasal. Namun pada prakteknya, istilah ini dapat dikompromikan menjadi tempat tinggal tetap sebelum merantau. Dan yang disebut ‘kampung’ tidak selalu berarti desa terpencil, sulit dijangkau, ga da ojyek, becyek…tapi bisa berupa kota metropolitan seperti Jakarte, Suroboyo, atopun yang non metropolitan (tapi ngangenin) yang sudah bisa dijangkau dengan becyak, beus (baca : bus), kareta seuneu (baca : kereta api), atopun plein (baca : pesawat terbang).

Setelah 9 bulan di Serukam sejak cuti Juli-Agust kemaren, akhirnya tiba waktu cuti besar berikutnya. Selama 20 Mei – 7 Juni 2009, akhirnya g bisa ada di Paris van Java lagi. BANDOENK!!! Here I come!!!

Yang spesial buat g adalah preliminary sebelum cutinya.

Beyond my expectation, mi brother (catat : adik KANDUNG, bukan ketemu gede)(habis sulit dapetin orang2 yang sepakat bahwa dia tuh ade g, heran….) came to visit me in Serukam.

Mi brother – kita sebut saja Budz – sudah nyelesein rotasi koass-nya. Tapi masih kudu ujian komprehensif (seluruh bahan) sebelum ikutan magang di RSUD selama 5 bulan. Setelah semua itu beres, baru dia akan “dipecat dgn hormat” dan dilabeli “Pak Dokter”. Nasibnya emang agak terkatung-katung, menantikan ujian kompre yang tak jelas kapannya. Jadi mi nyokap memutuskan untuk mengirim dia “tugas belajar” (euleuh, gaya teuing, sebenerna mah “berlibur sambil belajar” ;D hehe) selama 3 mingguan di Serukam.

Dia nyampe 27 April di Ponti, dijemput sama rombongan orang Serukam yang sekalian maen ke Ponti. Hmm...sebenernya lebih bagus klo dia sendiri yang nulis tentang ini. Pokoke we're having fun dech. Ada dia di Serukam bener2 ngobatin homesick g (well, ga se-homesick itu sih, tapi emang tergolong homesick)(jadi sebenernya homesick/ga sih?? hehehe). Dengan konsekuensi, semua resources g yang biasa bisa buat 3 bulan terkuras habis (wahahahaha......it's exagerrating!). Tapi worthed lah. Resources memang ada buat dipake, kesempatan dia bisa ke Serukam-nya itu yang langka ;D

Kami sempet foto2 banyaaaaaak banget di Serukam (lebih tepatnya sih dia yang foto banyak2) dan sempet maen ke aer terjun Riam Merasap di Sanggau Ledo. Berpetualang bertiga bareng Mbak Vika (yipiii) dan di Sg. Ledo, mampir ke tempat "tour guide" kami, dr. Stephen "Ku5-Ku5" Kuswanto - temen seangkatan g di Unpad 2001. Perjalanan yang nekat, but yet fascinating.

Foto2 kami berdua (dan kadang bertiga) udah di-publish di album FB g "Here, There, and Everywhere".

Klo dipikir-pikir, sebenernya tinggal di Borneo bukan pertama kalinya g tinggal terpisah dari ortu. Yang bener2 pertama kalinya itu waktu g kuliah med school dulu di Jatinangor.

Tolnya aja 35 km, belum termasuk dari rumah ke tol & dari tol ke kampus. G inget respon temen2 g yang dari Jakarta mengenai their first impression ’bout Jatinangor – they didn’t KNOW at all bahwa kampusnya itu bukan di Bandung KOTA tapi PINGGIRAN ;D – so, kagetlah, ga nyangka, setengah terperangkap, setengah kepalang basah...hehe. G sendiri ngerasa kesian juga sama mereka. Biasanya tinggal di kota besar yang hingar bingar, sekarang ”terbuang” ke daerah pinggiran yang (pada pertengahan thn 2001) sepi, panas menyengat, ga da hiburan. Cuma ada warnet, warung tegal, dan tempat FC-an. That’s all. Mobil aja masih jarang. Banyaknya bus luar kota (Cirebon, Garut, dsb) dan truk barang.

Kos-an g yang pertama kali (selama 6 bulan pertama – more & less) engga banget deh. Tetangga g yg duluan kuliah di Jatinangor sih kerasan bgt disitu, tapi g sangat2 ga betah. Lalu g pindah ke Puren (Puri Endah – jgn tertipu dgn kt Puri-nya). Kamarnya ½ kali lebih kecil dari kos-an pertama, tapi sewanya lebih mahal (hmm...aneh kan??). Penghuninya berasal dari berbagai fakultas juga tapi mayoritas anak FK. G dapet kamar di lantei 2, persis ngadep jalan masuk (jadi g bisa tau mobil mana aja yang keluar-masuk kost-an hehe). Tiap 2 kamar kost share 1 kamar mandi. G share sama anak 2000, FK juga tapi KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik). Anaknya ngocol abis, seru, pinter, tomboy, kebluk setengah idup ;D Baru dah g ngerasa kerasan nge-kost.

(wakakakakak...syerem amat klo Puren tampangnya kayak gini!!! Engga-lah, g ada foto Puren, cuma ada di Bdg, ga kebawa kesini)

Karena jarak Jatinangor ke Bandung nanggung (dibilang jauh, ya lumayan, dibilang deket ya engga juga), g lumayan sering balik ke rumah bawa cucian. Abis males klo bayar orang buat nyuci (buat apa??). Barang2 g di Puren juga ga terlalu banyak, sampe2 g selalu dihina-hina ”orang camping” sama temen2 yang masuk & ngeliat isi kamar g. G cuma bawa survival kits : panci listrik, tempat aer dengan elemen pemanas, dan radio (yang volume dan frekuensinyanya susyah bgt di-adjust). Laen2nya mah baju, selimut, buku – standarlah. Biasanya sih hari libur dan akhir minggu g ampir selalu ada di Bandung. Pulangnya suka nebeng temen ato naek bus Damri Elang-Jatinangor. G excited bgt wkt bus Damri tsb direnovasi jd laik pakai. Pertama kali edisi post revisinya keluar, g sampe terharu, ternyata bisa ya bus umum tampangnya beradab?? Padahal tau sendiri bus dalem kota Damri segimana ”engga banget”-nya, ya kotornya, ya bangkunya ampir rubuh, ya copetnya, ya pedagang asongannya, ya rokoknya, ya leletnya.... (biasanya klo jam2 padet dari Jtngr ke Bdg bisa kebagian berdiri sampe 1-1,5 jam dalem bus – t.u sepanjang tol Cileunyi – dan baru duduk setelah terminal Leuwipanjang hiks....).


Tapi untuk g scr pribadi, bila dulu tidak ada periode ke Jatinangor, belum tentu ada periode Serukam saat ini. Periode Jatinangor adalah kali pertama I stepped out from my comfort zone. Setelah 12 tahun bersekolah di sekolah swasta Kristen yang homogen (baca : mayoritas Chinese semua), pindah ke universitas negeri (dimana dari 1 teater berskala 290-an orang, 2/3nya bertudung dan tiba2 kami jd ”double minorities” lagi)(lha wong memang udah ”DM” selama hidup di Indon kok) merupakan ”cultural shock” tersendiri buat g. Namun 4 thn di Jatinangor & 2 thn di RSHS adalah masa2 yang selalu g syukuri hingga saat ini. Masa2 pembentukan Tuhan yang ga enak tapi sekaligus indah. I wouldn’t trade that for anything ;D


Sedikit banyak, Serukam mengingatkan g kembali akan masa-masa kawah candradimuka di Jatinangor. Perbedaannya jelas banyak, misalnya : di Serukam ga bisa sering balik karena jauuuuh, ga da cutinya, dan ga da ongkosnya. Di Jatinangor, g tahan ga nonton TV karena ada radio untuk bertahan hidup (well, tetangga untuk ditebengin nonton jg deket jaraknya hehehe). Di Serukam, sinyal radio kaga nyampe, cuma smp Skw doang.

Persamaannya adalah I can get enough privacy, sepiii (iyalah, rumah ”Sidon-Damsyik” di tepi utan lsg)(di Jtngr jd sepi kec. ada pengkhianatan dari tetangga yg masang lagu untuk mecahin membrana timpani seakan kos itu milik moyangnya), harus usaha klo mau makan – jd sangat menghargai makanan (bljr btgjwb atas apa yg dimkn & ga rewel soal mknan), dan banyak lagi....

Tapi yang paling berharga sih masalah privacy. Ketika kita mendapatkan ruang & waktu yang cukup untuk berdiam diri, ber-refleksi, lalu ber-produksi – that’s priceless (maaf para E, ini jelas pemikiran orang I hehehe).

Dan akhirnya setelah melalui 1 tahun di Serukam (terhitung sejak masa orientasi April 2008), I begin to understand what a ”mudik” word means. Bagaimana rasanya ketika jauh dari suatu tempat yang asalnya kerasa biasa bgt, bisa muncul rasa rindu dan ada excitement yg besar waktu bisa datang kembali ke tempat asal. Dulu g ga begitu paham perasaan orang2 yang rela desek2an untuk mudik skala nasional tiap lebaran. G pikir ngapain gitu kudu bersusah payah. But finally I’m getting a grasp of it now ;D ”Gini toh rasanya homesick...” dan ”Gini toh rasanya antusias-mudik!!!”

And suddenly, Bandung looks beautiful in my eyes (haha)


Polang Kampong menolong g untuk melihat rangkaian kebaikan Tuhan selama ini. Mengingat kembali kasih setia Tuhan selama hidup g di Bandung dan terus berlangsung hingga sekarang di Serukam. Belajar menghargai apa yang sudah Tuhan berikan – keluarga, rumah, teman2, sahabat2 baik, gereja, komunitas kelompok kecil....

Make sure that we’re making the most of every times

Because those times surely won’t come back again

It will only come once & for all

Our lives shall have no regret if we’re living it to the most

”Whatever you do, work at it with all your heart, as working for the Lord, not for men” - Col 3:23

”Be very careful, then, how you live – not as unwise but as wise, making the most of every opportunity, because the days are evil. Therefore, do not be foolish, but understand what the Lord’s will is.” - Ephesians 5:15-17


Fenomena PA-UN (Pasar Unpad) - every Sunday morning di sepanjang jalanan masuk kampus di Unpad Jatinangor. Penuh banget, padet banget, rame banget (baik penjual, pembeli, tukang parkir, dan para pencoleng). Disitu loe bisa dapetin banyak barang dengan harga miring (asal kualitasnya ga ikut miring juga haha)

abcs