SANDSTORM - Sept 2009

In the desert of the heart
Let the healing fountain start,
In the prison of his days
Teach the free man how to praise
– W.H. Auden (What’s So Amazing About Grace)

Friday - Sept 4th,2009 – Kapuas River – 10.10 AM

Angin dingin S. Kapuas berhembus di bawah terik panas ekuator. Kami bertiga duduk di bangku ferry. Trio Serukam : aku, Om IT, dan Ika. Di dek bawah kendaraan2 berjejer rapi, mulai dari truk besar dari Kalteng hingga Strada two-cabin berlumur lumpur.

Kami berangkat dari Serukam Jumat subuh tadi, waktu ayam masih tidur2 ayam dan kucing…yeah, sejak kapan sih kucing bangun pagi? Barang2 kami ga banyak, cuma ransel masing2, 2 kantung plastik (satu isi snack & 2 Aqua 1,5 L; satu lagi isi baju RS), dan 5 kotak (mulai dari seukuran kotak mie s/d seukuran kompor). Semuanya diangkut masuk Kijang misi dan kami dianter Pa Silent sampe Tayan.

Kami berangkat subuh2 karena takut ketinggalan satu2nya bis yang lewat hari itu. Tapi rupanya kami kepagian (walau udah sempet stop dulu untuk sarapan). Bisnya masih lama datengnya. Akhirnya Om IT putuskan untuk angkut semua barang dan ikut nyebrang bersama ferry. Jadilah kami mengangkut semua barang2 itu dan masuk ke ferry – which was our first mistake.

Sept 4th,2009 – Piasak – 12.03 PM

Perjalanan dengan ferry hanya makan waktu 10 menit. Yang lebih lama tuh proses masukin dan ngeluarin truk & mobil2nya.

Tadi g bilang kesalahan pertama karena akhirnya kami bertiga harus angkut barang lagi, dari ferry kembali ke daratan. Masalahnya jalan turunannya yang dari besi itu susah banget dijalani. Apalagi ditambah sambil mikul kotak. G udah kuatir jatoh. Dan keputusan kami untuk menyeberang sendiri (tanpa menunggu bis) led us to our second mistake.

Kena calo bis. Dia suruh kami bayar 110.000 per orang. Om IT ngotot bahwa 2 bulan lalu 105.000. Akhirnya dapet sih 105.000 beserta bonnya. Tapi waktu kami udah naek ke bis, kernetnya kasih bon lagi, seharga 300.000 alias cepe per orang. Males deeeh….

But anyway, tengah hari itu kami sudah duduk di dalam bis. Separuh depan berisi penumpang, sementara separuh belakang berisi tumpukan barang2 para penumpang. G duduk di sebelah Ika, sementara Om duduk di deket pintu samping. Waktu duduk, g aga heran. Kok rasanya bangkunya berdebu ya? Ketebalan debunya kayak udah ga didudukin 3 minggu gitu. Tapi yang penting dapet tempat duduk. Om bilang sih perjalanannya emang bakal berdebu jadi kami udah siap2 bawa masker. Om dan g pake topi, sementara Ika refused to use anything to cover her head.

Lalu bis Valenty kami mulai bergerak meninggalkan Piasak. Nanga Baram, here we come! (masih antusias)

Perjalanan ke Nanga Baram merupakan suatu proses transformasi. Transformasi pertama adalah struktur jalan yang kami lewati. 1/3 jarak pertama berupa jalanan hotmix, licin dan lancar. Menurut rencana, jalan besar ini akan menjadi jalan Trans Kalimantan, yang menghubungkan Kalbar dengan Kal-Kal lainnya (well, it’s about time, Mr. government). Kemudian di suatu titik, jalanan hotmix itu berubah menjadi jalan tanah orange yang sudah dimampatkan namun belum diaspal. Akibatnya, tiap kali dilewati kendaraan (dan memang banyaaak kendaraan yang lewat), debu tanah akan bergulung-gulung naik dan menutupi udara. Yang menuntun pada transformasi yang kedua : perubahan warna. Rambut hitam jadi beruban (uban debu). Baju biru jadi coklat (coklat debu). Tas hitam jadi coklat (ketimbun debu). Dan klo celana dikibaskan, bisa dapet oleh-oleh sekantong debu. Maka, setiap orang yang naik ke dalam bis, tidak akan keluar dengan wujud yang sama. Dijamin berubah wujud karena tertimbun debu.

Pantesan walau bis itu jalan tiap hari dengan banyak penumpang, debu di tempat duduknya selalu tebal (now we know).

Tapi yang membuat g heran adalah mayoritas orang2 di dalam bis yang ga pake apa-apa, cuma bawa diri doang – polos. Masker pun ga pake. Klo debu yang nempel di badan dan barang aja udah segambreng-gambreng, kebayang gak sih berapa banyak yang terinhalasi dan nyangkut di paru2?? Ngebayanginnya aja g uda serem sendiri.

Saturday - Sept 5th,2009 – Ng.Baram – 07.25 AM

Kemarin siang kami tiba sekitar jam 2 siang di klinik. Semua pakaian langsung kami buang ke ember untuk direndem semalem suntuk dan kami langsung mandi (baca : menggosok badan dari debu). Yang paling repot mandinya tentu saja Ika. Rambutnya baru bisa mulai terasa seperti rambut setelah 3 kali keramas (hehehe) gara2 ketimbun debu selama di perjalanan. Baru saja bernafas lega sejenak, pasien2 sudah berdatangan sampai malam.

Keesokan harinya, g mulai mencermati klinik dan sekitarnya dengan lebih seksama. Sebelum ke Ng.Baram, g sempet nanya ama TM (yang uda 2x ksono), ada tempat buat jogging ga disana. Dengan cepat TM menjawab ada, di depan klinik ada lapangan yang cukup luas katanya. Ternyata, bukan cuma luas, tapi segede gambreng! Luaaas seablag-ablag di depan dan samping klinik. Saking luasnya, yang di samping klinik itu dipake buat lapangan bola. Untuk mencapai tetangga terdekat di sebelah kanan klinik, perlu berjalan 7 menit. Tetangga di sebelah kiri sih udah ga perlu dikunjungi lagi (graveyard). To make it more interesting, lahan yang luaaaas banget itu semuanya gersang dan berpasir. Berdebu abis. Boro-boro mo jogging??

Lalu g bertanya-tanya, mengapa kami harus pake gen-set tiap kali matahari mulai meredup, sementara tetangga2 kami ada listrik. Ternyata PLN memang ada, tapi kabel terakhir diputus di depan klinik (lebih tepatnya di pinggir jalan, di depan klinik – karena ada jarak yang jauuuh antara tiang listrik dengan klinik hehe). Konon dulu sih klinik punya listrik, tapi sekarang sudah tidak lagi. Dan PLN di Ng.Baram hanya menyala di waktu malam saja, jadi setali tiga uang sama genset-lah. Bedanya lebih murah (ga usah pake bensin) dan ga ribut.

Diatas kertas klinik buka pk.08.00 s/d 17.00. Pada prakteknya orang2 datang saat kami belum makan pagi dan masih datang setelah genset dinyalakan. Asa di Puskesmas swasta ;D Tapi klo pasien itu ga berdatangan, basically kami ga da kerjaan (dan walau baru hari ke-2, udah mulai garinkkk….).

Itulah sebabnya setiap 2 hari sekali – di malam hari tentunya (mau gosong apa pergi siang hari bolong jalan kakee???) kami pergi mencari sinyal. Ini bener2 dalam arti harfiah : mencari sinyal. Kami harus berjalan dulu sejauh 500 meter menuju proyek jembatan, lokasi terdekat satu-satunya di regio itu untuk dapetin sinyal. Setelah itu kudu usaha mengacung-acungkan HP di titik2 tertentu (can we call it : hotspots??) sambil menekan 888 berulang-ulang (usaha memancing sinyal).

Suatu fenomena baru nan aneh buat g. Tapi itu udah jadi habitual action orang2 sekitar, t.u anak2 mudanya. Dan g baru menyadari satu fakta lagi : selain sinyal hanya ada di hotspots tertentu, hanya HP2 tertentu yang mampu menangkapnya!! HP Nokia jadul, apalagi yang 500 ribu-an berjaya banget di hotspots. Sementara HP berkamera g…yeah…ke laut aja deh. G udah nyerah pada pertemuan kedua, langsung aja ambil SIM Cardnya dan nunggu giliran minjem HP jadul ;D (sadar diri tea hehehe).

Jadi, siapa bilang hotspots cuma ada di mall2 kota2 besar? ;D

Sunday - Sept 6th,2009 – Ng.Baram – 09.55 AM

Seudah mandi pagi, kami berjalan kaki ke gereja (GFA – Gereja Firman Allah), around 1 kilo from clinic. Which makes me wonder, apa gunanya kami mandi dulu sebelum ke gereja, lha wong kami kena debu lage sepanjang perjalanan ke gereja??

Dulu gereja2 di daerah ini dirintis oleh Pak Ron dan Mr.Berglund (klo ga salah bokapnya Darcy, misionaris yang tinggal di sekitar Ketapang) tahun 70-an. Cuma payahnya (like in Sungkung)(payah untuk orang luar, bagus untuk orang dalem) mereka kebaktian pake bahasa suku. Bahasa Dayak daerah situ yang bahkan Dayak Ahe kami pun ndak ngarti bahasanya. Alhasil kami berdua (Om IT rada ngarti soalnya, krn udah beberapa kali kesini) cengo sepanjang kebaktian. Belum lagi buku lagunya aneh bin ajaib. Entah siapa yang ngarang…. Dari satu buku itu, kami ga tau semua lagunya. Tapi orang2 lokal disitu tetap menyanyi dengan khidmat dan rata2 sudah hafal luar kepala dengan lagu2nya.

Di hari ke-3 di Nanga Baram, g menyadari ada trio musuh besar bagi para pendatang (esp. g kayaknya), yaitu : heat, dust, and mite.

Disini karena gersang banget & jalan tanah padat yang belum diaspal, rasanya puaaanaaaaas banget. G curiga suhu di siang bolong bisa mencapai lebih dari 30 derajat. Bener2 burning sensation. Tiap siang (baca : 12.00-16.00) g selalu mandi sauna, free of charge! Keringetan sampe banjir. Keluar bentar aja, bisa pulang jadi barbecue (t.u g sih, ga semua orang kok). Kemudian dust-nya udah jelas la ya (seperti yang g gambarkan di awal kisah). Dan musuh ketiga adalah mite – the agas. Sejenis kutu item kecil, sulit diidentifikasi dengan mata (kecuali dipantau dengan teliti), entah melompat-lompat, entah terbang2. Biasanya kita baru menyadari kehadirannya klo udah kerasa NYELEKIIITT! Alias kena gigit. Terus antihistamin dilepaskan dan mulailah kita scratching – garuk, garuk, garuk, dan garuk lagi. Makin digaruk, makin gatal, makin panas, makin merah, makin gede…. Sayangnya, susah banget untuk ga ngegaruk dan jangan berharap besok sudah sembuh – karena bekas gigitannya will stay itchy for at least 3 days (and it’s possible to have it more than 3 days).

Makanya disini g rajin banget pake repellent. Tapi ga ngaruh banyak juga (jangan2 klo pake minyak tanah baru mempan??) Teuteup aja kena gigit sana sini. Kedua kaki dan tangan g dengan segera menjadi saksi medan pertempuran, kekalahan telak barrier kulit VS mites (dan insects). Hiks…. Gatelnya itu lho….

Tuesday - Sept 8th,2009 – Ng.Baram – 02.30 PM

Grafik kehadiran pasien tersedikit jatuh pada momen siang hari, di masa2 free sauna biasanya g dapatkan. Klo ga berhasil tidur siang (saking burning out-nya), g akan duduk di belakang meja dokter, baca buku “Reclaiming Friendship” (finally, I read it after a year nganggur di rak!), and thinking about soooo many things.

Salah satunya adalah : sulit benar jadi dokter di daerah terpencil. Sulit untuk hidup hanya dengan klinik tok, tanpa lab, tanpa pemeriksaan penunjang apapun. Udah harus serba tahu (mulai dari penyakit bayi 1 hari ampe nenek2, dari kulit ampe saraf), saingan sama mantri (yang kadang lebih gila & semau-maunya ngobatin orang!), dan tergantung banget sama pasokan obat lagi.

Biarpun baru hari Selasa, tapi sekarang ada kerjaan baru buat g. Stock opname tiap siang (sebelum baca buku & daydreaming). Ngeliatin obat2an yang masih ada sambil memperkirakan kapan habisnya, kapan ngelepasnya, untuk siapa, dan berapa banyak mo dikasih. Karena obat2an sirup aja udah sangat menipis dan akan lenyap in no time. Heavy dust membawa pasien2 ISPA (t.u youngster) dalam jumlah berjubel ke klinik dan persiapan obat sirup sangat terbatas dibandingkan dengan jumlah pasien yang membutuhkan.

Karena tidak ada lab, mau ga mau harus kembali ke fitrahnya : a clinical doctor. Dgn praktek di Nanga Baram, g baru nyadar betapa tergantungnya g sama lab lately. Keenakan hidup di Serukam. Dikit2 cek darah, dikit2 foto, klo masih ga yakin ada USG. Enak betul dibanding disini. Disini g diingetin lagi untuk mempertajam anamnesis (yang konon menentukan 80% diagnosis), melakukan pemeriksaan fisik (by hands, otoscope) dengan teliti, dan menentukan working diagnosis. Nyaris ga da diagnosis pasti, tapi harus ada working diagnosis supaya bisa ngasih th/. Anamnesis yang kerasa penting juga adalah riwayat berobat – karena rata2 dari mereka udah minum macem2 sebelum dateng ke klinik (such as obat malaria – yang udah makin mirip permen Hexos untuk mereka). Pokoke bener2 jadi klinisi lagi.

And the weird thing is…even though it’s stressful (krn tdk ada kepastian Dx/)…it turns out that I can enjoy it. Using my mouth to ask, my eyes to see, my hands to examine, my ears to hear, and gathering all info for analysis and take action. Stressful but enjoyable. Making me realize that I love being a clinician.

Tapi klinik Nanga Baram sih sebenernya punya potensi untuk jadi kayak klinik ASRI di Sukadana - Ketapang. Jadi klinik yang punya simple lab dan suatu hari bisa jadi klinik dgn beberapa beds u/rawat inap. Lagian kan ada lapang bola seabalg-ablag di sebelah klinik. Kemudian kalo Trans Kalimantan bener2 udah diaktifin, daerah itu bakal rame dilewati kendaraan. Daerah yang mulanya terpencil dan sulit dijangkau berubah drastis ketika sarana transportasi diperbaiki.

Hanya saja keinginan g untuk stay di suatu tempat yang ada sarana pemeriksaan penunjang lebih daripada stay di remote area yang kliniknya polos..los..los membuat g bertanya-tanya lagi. Ada sebagian diri g yang muncul ke permukaan slm g merenung-renung di klinik. I questioned my motives about becoming a missionary doctor (dalam artian ‘dokter yg melayani di remote area’). I cannot fool myself / lying to myself. No, I don’t like being isolated. I don’t like living in a place without electricity. I feel inadequate of taking care myself in remote place – cari makanan di hutan/sungai, masak barang2 asing itu sendiri, wah…. G ngerasa not capable of many things. I feel like don’t have capability to adapt easily in new places and new people. Dan demikianlah pikiran2 semacem itu memenuhi pikiran g.

It’s confusing how our minds can explore many subjects when we’re placed in a remote place like this….

Wednesday - Sept 9th,2009 – Ng.Baram – 08.31 PM

Cuma mo bilang, tanggal yang bagus buat kawinan. 09-09-2009. Gampang diinget lagi ;D Kira2 di Bandung berapa banyak ya yang merit tgl segini? Tapi emang hambatan terbesarnya adalah bukan akhir minggu, jadi susah juga, sapa yang mo dateng? Ato bisa juga buat tanggal lahir anak. Via SC elektif misalnya. Kira2 berapa ya tarif SpOG-nya klo pesenan kayak gitu? (bukannya seharusnya SC itu ga boleh dipesen ngikutin kemauan px, tapi atas indikasi?)

Cuma mo bilang, semua obat sirup udah ke laut. Klo sampe dateng pasien anak ato bayi lagi mo gimana?? Disuru minum tablet?? Padahal mayoritas pasien sejauh ini adalah anak-anak.

Maka dimulailah petualangan puyer kami. G mulai mengidentifikasi obat2an yang masih tersedia di lemari obat kami dan menghemat item2 yang bisa dipuyer. Konon, menurut verifikator waktu akreditasi RSUB tahun lalu, puyer sudah tidak direkomendasikan lagi oleh para spesialis karena ada kemungkinan dosis kurang akurat, kurang terjamin kebersihannya, dll, dsb. Tapi di daerah terpencil kayak gini, boro2 mikirin himbauan itu. Yang penting, apa yang bisa kita buat untuk pasien, ya kita buat. Yang penting, benefit masih melebihi risk.

Bersyukur banget perawat sesenior Om IT yang pergi ke NB. Posologi puyer dia lumayan juga, banyak akalnya di dalam menerjemahkan instruksi pembuatan puyer yang kadang njelimet (yang didahului oleh dokternya mikir tujuh keliling gimana caranya menerjemahkan dosis hasil hitung2an ke dalam bentuk obat yang real!!). G udah keluarin semua jurus2 kungfu yang g tau deh buat ngobatin penyakit yang muncul dengan apa yang ada. Setiap obat yang diberikan diiringi doa dari dokter dan perawatnya supaya pasiennya cepet sembuh ;D

Sunday - Sept 13th,2009 – Ng.Baram – 01.00 PM

Last day on clinic.

Tomorrow we’ll go home to Serukam (wow, finally Serukam IS home ;D hehe).

10 hari di NB rasanya udah cukup. Yang bikin berat tuh trio musuh besar : heat, dust, and mite. Ditambah lagi insomnia selama 3 malam berturut-turut e.c cuaca kepanasan kali. Pokoke klo ga bisa tidur tuh sengsara betul.

But, at the end of journey, I’m grateful to God. He knows how I dislike pediatric patients, but He provided me with PLENTY of them. And He helped me to get through with them, providing the medicine (walau dengan improvisasi abis), and giving them the health they needed. Kemudian ada sekitar 6 pxs yang kontrol ulang dan look better than before (THANK’S GOD!). jadi selalu ada ups & downsnya ^ ^. Dapet banyak pengalaman u/ mendiagnosis secara klinis – s’thing that I almost forget by working in a hospital. Ngandelin anamnesis, riwayat2, PF, dan disesuaikan dengan obat2an yang tersedia. This is a wonderful experience indeed. It’s like being a Sherlock Holmes – kayak detektif.

Thank You Lord. I love being a physician. An instrument in Your hand. There’s no point in being a doctor without The Great Physician behind ;D

Reassurance seperti apa yang Tuhan berikan di NB?

He assures me that He will put me anywhere He wants, at any times He thinks it best

& I will feel blue (even black haha) or battered here & there;

but eventually I will ALWAYS feel & see His guiding hands & His wonderful intentions & plans in my life. Sudah terbukti dulu - sekali, dua kali, berkali-kali, bahkan setiap kali, sampe sekarang dan sampe seterusnya akan selalu terbukti….

“Never will I leave you, never will I forsake you”

“For My thoughts are not your thoughts, neither your ways My ways…as the heavens are higher than the earth, so are My ways higher than your ways and My thoughts than your thoughts.”

Hmmm….pada akhirnya inipun suatu pengalaman iman.

Perjalanan pertumbuhan.

Berasa seperti kacang ijo yang jadi tauge, tumbuh melengkung makin tinggi ke arah sinar matahari (kenapa tauge?? Krn bentar lagi kami mo mkn kc.ijo hihihihihi)

Guess it’s time to say goodbye, Nanga Baram………….

EPILOGUE :

Hampir aja ga jadi pulang ke Serukam hari Senen yang agak naas itu.

Pagi2 buta Om IT udah krasak-krusuk beresin kotak-kotak. Jam 05.30 dia berkokok bangunin kami. Jam 8.15 kami semua udah duduk manis depan klinik, nunggu bis Valenty (satu2nya bis pada hari itu yang naek ke peradaban) yang KONON dateng jam 9 – yang KONON kami sudah dipesankan tempat.

Jam 9.15, Ika mendengar deru bis dari kejauhan dan ternyata benar…itu Valenty…yang berjalan terus, melewati kami??! Nah lho?? Kok ga stop sih? Wualah! Jadilah si Boneng (salah satu anak lokal situ) mengejar bis dengan motornya. Alhasil baru di-stop di deket GFA ( around 1 kilo from clinic, duh). Trus bisnya ga mo balik lagi, jadi harus kami yang kesana maek motor.

Begitu naek bis, Ika langsung menyampaikan kabar laen, “Udah ga da tempat duduk,dok.” Heh? Berdiri 2,5 jam? Berdiri di Damri 1,5 jm dari Jatinangor ke Leuwipanjang sih g uda pernah. Tapi 2,5 jam mah ga kira-kira!!!!

Ika dapet tempat duduk di bangku serep (baca: sebuah kotak ditengah bangku penumpang kiri & kanan). G dapet tempat di kotak yang sama, tapi ngadep blkg (which would be really nauseous) dan pinggul g kaga muat. Alhasil g menemukan karung, teuing naon eusina, pokoke langsung g dudukin dan kepala g setinggi siku para penumpang.

Dan debunya…mau mati kena timbun debu! All part of me yang terexposed to the the air changed into chocolate L. Ada beberapa kali agak choking karena air-filled dust. Padahal g udah pake masker yang di dalemnya pake tissue lagi. Luar binasa memang debunya. Syukurlah g pake baju rangkep 2, luarnya tangan panjang. Celana, tas, apalagi kaki g (dan sepatu sendal Spotec nan lawas itu) jangan ditanya lagi kabarnya.

Tapi relalah menderita 2,5 jam ketimbang batal pulang. Siapa yang bisa jamin hari Selasa kami ga kan dapet Valenty yang penuh kayak gitu lage?

Setelah itu kami menyeberang pake ferry & di ujung sana, Mr.Silent sudah menanti bersama 1070 tercintya ;D Duh, senengnya lihat 1070! Langsung deh masuk, pasang AC segede-gedenya, bersih2 pk tissue basah, dan ketiduran dalam perjalanan menuju Sosok (late lunch).

Pendek cerita, kami tiba dengan selamat di Serukam =) Home sweet home. Bed sweet bed. Thanks a lot my Lord!!

LESSONS IN G

Pagi itu mobil Taft hitam belewuk (karena belum dicuci) membawa kami bertiga (berempat dengan supir) ke Pak Bulu, Anjongan – sekitar 2 jam dari Pontianak. Di depan ada Timo (sopir PKMD) dan HC, sementara g dan Lisia (perawat dari PKMD) duduk di belakang. Ada 2 jalan menuju tepat tsb, via Singkawang or via Bengkayang. Somehow, Timo is very fanatic with Bky route.

Separuh perjalanan dilalui dengan agak mual (karena lewat jalan ular Vandering yang belokan tertajamnya 160 derajat), tetapi diselesaikan dengan lebih mual lagi sejak masuk jalan menuju Karangan. Semua jalannya berlubang (baik small, medium, or ndaleeem bo) dan ga sedikitpun Timo berniat untuk mengerem mobil saat masuk lubang. Dia bahkan lebih memilih masuk badan jalan yang dari tanah sehingga berkali-kali Taft kami miring kiri ato kanan. Seakan-akan kami sedang “Tour de Karangan”, off-road selama 1 jam, diiriingi “sepoi-sepoi” angin debu yang masuk lewat jendela karena Taftnya cuma punya AG (Angin Gelebug).

Sekitar jam 11 siang, 4 orang Serukam tiba di Pak Bulu, wajah lengket dan agak2 hitam karena debu, rambut menebal seperti ijuk, dan sensasi motion sickness post dikocok dalam Taft.

(Amazingly, dalam 5 menit, Timo hopped into the Taft again and returned to Serukam, via the very same disastrous way. Ck ck ck)


3-8 Agustus kami bertugas di PPMT (Pusat Pelatihan Misi Terpadu) yang berdiri sekitar 9 tahun yang lalu di Pak Bulu. PPMT tuh proyeknya GKY Greenville, salah satu supporting donor Bethesda. Sitenya lumayan luas, semua bangunannya dari kayu dan beratap seng (konon dulunya rumbia – lebih adem) terdiri dari aula pertemuan (merangkap tempat ibadah), perumahan (baik asrama maupun per keluarga), kantor dan ruang kuliah. Yang menarik adalah perpustakaan yang dibangun diatas kolam. It supposed to be really beautiful. Sayangnya karena sedang puncak musim kemarau, aer kolamnya udah kayak greenish gray ga jelas gitu dan debit air udah minim banget (tapi masih cukup untuk para ikan di dalamnya idup).

Peserta PPMT adalah orang2 dari berbagai tingkat pendidikan (mulai dari ga tamat SD sampe pernah kuliah tapi ga selesei) yang bersedia digembleng dalam hal rohani maupun pertanian (dan sedikit tentang medis sederhana). Mereka diharapkan akan menjadi pengabar2 Injil ke daerah2 terpencil di Kalimantan Barat, yang bisa men-support diri mereka sendiri melalui berkebun. Atau mereka bisa mengajarkan masyarakat tentang bercocok tanam yang baik sambil “memberi makan” rohani mereka.

Makanya selain bangunan2, ada site untuk bercocok tanam juga. Ada ladang terong, pare, semangka, cabe, dll, diselingi pohon2 pepaya (yang tiap hari bisa diambil buahnya), pisang, dan rambutan. Pokoke lumayan luaslah.

Tugas kami bertiga disana adalah mengajarkan sedikit tentang medis, yang lebih ditujukan pada upaya promotif dan preventif, mengenali hal2 yang bahaya dan harus segera dirujuk. HC bicara tentang gigi, Lisia tentang P3K, dan g tentang penyakit2 umum. Kami adalah kloter pengajar ketiga untuk periode thn ini, yang datang setiap bulan untuk ngajar.

Angkatan tahun ini ada 12 orang. Gendernya campuran (mayoitas cewek, tp ada cowok). Range umurnya mulai dari 16 tahun s/d 27 tahun, daerah asalnya tersebar dari pelosok Kalbar, dan pendidikannya ada yang tidak tamat SD sampe ada yang tamat SMA. Jadi benar2 variatif, kurang homogen.

Mereka diajar untuk hidup teratur selama pendidikan di PPMT. Sudah ada jadwalnya untuk hari demi hari dan mereka kudu taat sama jam2 itu (yang ditandai dengan bunyi lonceng)(jadi inget waktu SD). Jam bangun, jam makan, jam belajar, jam istirahat, jam berladang, jam belajar mandiri di perpus, dan jam masuk rumah. Makan pun harus bareng2 dan sebelumnya suka diawali dengan melafalkan ayat hafalan yang ditugaskan untuk hari itu (baru boleh makan). Jadi kebayang dong betapa bergumulnya anak2 yang udah terbiasa hidup semau-maunya sendiri. Yang biasa hidup bebas tanpa peraturan. Mereka bisa merasa sangat terkekang selama di PPMT.

I’m reading a book now. A famous writing by Philip Yancey, called “What’s So Amazing About Grace”. G udah denger tentang buku ini sejak lama, tapi baru di Serukam ini berkesempatan untuk membacanya original versionnya (yang Englishnya). G yakin lebih bagus dari terjemahannya sih karena Philip banyak menuliskan frase yang lebih bagus dalam bahasa aslinya ketimbang diterjemahkan.

Salah satu pernyataan awal yang outstriking adalah definisi GRACE. “Grace means there is nothing we can do to make God love us more & there is nothing we can do to make God love us less” Anugerah Allah bagi kita adalah final, fixed, dan immeasurable. Tidak berubah, tidak bisa dipengaruhi apapun.

Perumpamaan yang paling mengena buat g ttg GRACE adalah The Prodigal Son parable. Kisah si anak yang hilang. Dalam perumpamaan ini tampak jelas bahwa in the realm of GRACE, the word “deserve” does not even apply. Karena we don’t deserve it. Klo kita layak untuk mendapatkannya, maka itu bukan anugerah. Dan perumpamaan yang selalu menohok g adalah tentang hamba yang jahat. Hamba yang baru saja dianugerahi penghapusan hutang yang sangat besar oleh raja, yang menjebloskan temannya ke penjara karena sedikiiiit saja berhutang. Sudah diberi anugerah besar, tapi tidak mau menyalurkan itu kepada sesamanya. Ingrate.

Talking about ingrate atau ungrateful, g jadi inget kisah anak2 PPMT. Sperti tadi g bilang, mereka berasal dari latar belakang yang bermacam-macam tapi kesamaannya adalah rata2 mereka dari keluarga tidak mampu. Singkatnya unfortunate people klo menurut ukuran dunia. From my point of view, bisa masuk PPMT adalah suatu anugerah. Bisa dapet pendidikan, makan-minum-tmp hidup gratis! Asal…sungguh2 dan mo ikut aturan. Tapi nyatanya selalu aja ada orang yang mengabaikan that big grace, throw it away in various ways. Ada yang ga tahan hidup teratur di asrama, kabur pulang. Ada yang bikin masalah sampe udah didisiplin pun tetep menolak berubah, akhirnya dikeluarin. Banyak yang gugur selama proses pendidikan berlangsung untuk berbagai alasan. Ada lagi yang selama praktek lapangan, bukannya men-Injili dan melayani masyarakat, malah sibuk gonta-ganti cewek. Malah ada yang sampe sekarang menghilang entah kemana (padahal lagi praktek lapangan) dan dikabarkan sudah merit sama cewe lokal.

Bukankah itu ungrateful? Padahal grace yang ditawarkan sudah sedemikian besar.

Tapi banyak juga diantara mereka yang sadar betul akan anugerah yang diterima. Salah satunya angkatan PPMT awal yang duduk makan bersama kami selama 1 minggu kemarin. Cewek itu selesai pendidikan PPMT, melanjutkan S1 di Jakarta (klo ga salah), dan setelah tamat kembali lagi ke PPMT jadi staf. Padahal klo denger cerita dia, dulu angkatan2 PPMT awal sengsaraaaaa betul! Sampe nginep di ladang, lahannya besar dan susah digarap (harus ditebas dulu baru bisa ditanami), sampe nangis ngerjainnya. Sekarang sih mereka lebih enak, pake lahan yang di kompleks PPMT. Walaupun perjuangannya berat, anugerah untuk bisa masuk PPMT itu dia syukuri dan manfaatkan semaksimal mungkin. Asalkan mereka mau berusaha, sebenernya mereka bisa sekolah setinggi-tingginya dan bisa disponsori oleh donor untuk pembiayaannya. So lucky, aren’t they? (menurut standar dunia)

But again, I myself am not any better from the prodigal son or anak PPMT yang kabur. Anugerah Tuhan yang sedemikian besar suka lupa g syukuri dan lupa hidupi dengan nyata. Dua masalah besar yang sering muncul adalah kejatuhan (lagi dan lagi) dalam dosa (yang sama) dan keengganan untuk mengampuni. Topik pertama dibahas Philip Yancey dalam “The Scandal of Grace”, dan yang kedua dibahas dalam masalah forgiveness (“Why Forgive?”).

Dilema tentang pengampunan dibuka dengan kisah satu keluarga di Amerika. Sang nenek tidak mau memaafkan ayahnya yang pemabuk dan bertekad untuk tidak jadi seperti ayahnya. Tetapi hatinya yang keras (never apologized & never forgave), melukai anak perempuannya; yang lagi-lagi bertekad untuk tidak jadi seperti ibunya, namun pada akhirnya melukai anak lelakinya. Mereka semua dibelenggu oleh kebencian yang “ditularkan” dari generasi ke generasi. Satu keluarga yang dibelit oleh unbroken chain of unforgiveness.

Selanjutnya Philip menguraikan lebih lanjut mengenai alasan mengapa harus memaafkan dan pentingnya memaafkan. Selama membaca chapter2 tsb, g bisa merasakan logikanya dan langsung menyetujui isinya. Lalu g teringat seorang teman (perhatikan : lagi2 kata2 Yesus dalam Alkitab terbukti benar). Teman g ini punya masalah dengan bapanya. Sekitar 5 thn lalu (lupa persisnya), ibunya meninggal tiba-tiba karena sakit. Sesudah menduda selama ini, bapanya tiba-tiba datang menemui dia untuk mengabarkan bahwa pada tanggal sekian dia akan menikah lagi dengan seorang janda beranak 2. Teman g kaget banget tapi ga bisa protes karena semuanya udah fixed. Dan bapanya berlaku sama dengan anak2nya yang lain; mengabarkan, bukan meminta persetujuan. Namun di depan orang2 lain, ia berkata bahwa semua anak2nya sudah menyetujui (padahal semuanya tidak setuju). Teman g ini marah, sedih (dia nangis abis slm 2 hari – sebelum & saat pernikahan bapanya), dan ga mo pulang lagi ke rumah.

Untuk alasan yang berbeda, g juga bergumul tentang masalah memaafkan bokap selama bertahun-tahun (yang proses rekonsiliasinya dimulai saat MMC 3). Jadi g tahu betul bahayanya, penderitaannya, dan betapa destruktifnya hatred and unforgiving heart. G langsung inget dia dan pengen nyampein ke dia tentang pentingnya beresin masalah kemarahan dia itu supaya ga jadi kepahitan yang berlarut-larut. Pas g lagi mikirin gimana cara ngasitaunya, tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah seorang yang g bener2 ga suka.

PLAK!

G serasa “ditampar” sama Roh Kudus.

Jangan sok-sok mo ngambil debu di mata orang laen sementara balok segede gaban masih melintang di depan pupil mata sendiri. Lagi-lagi kata2 Yesus dalam Alkitab terbukti benar.

Begitu ngeliat orang itu, instantly I remember how I dislike that person. Kilasan2 peristiwa yang tidak menyenangkan langsung muncul di permukaan. G langsung ngerasa ‘panas’. I remember all evil deeds-nya dia, crooked ways-nya dia, dia yang selalu menghalalkan segala cara demi kenyamanan & keuntungan pribadi, pokoke semua yang bikin g ga suka banget sama dia. Walaupun semua yang dia bikin ga langsung berdampak sama g, g tetep ga suka banget sama dia (aneh).

Dan g harus memaafkan dia???! You gotta be joking!

Ternyata yang perlu bertobat itu g dulu, bukan temen g. G langsung bergumul antara knowledge yang baru g setujui dari tadi dengan kenyataan bahwa hati g masih belum mau memaafkan. Parah betul g ini. Lebih gampang nunjuk kesalahan orang laen daripada melihat kesalahan diri sendiri. Jadi, jangan lupa untuk bertobat sebelum berpikir untuk mempertobatkan orang lain =)

Menjelang tengah bulan Agustus, akhirnya g mendapatkan “Summer Holiday” g. Persis seperti yang dibayangkan di edisi yang lalu. The “sunbathing, beach sand, and coconut (sluuurp…aah segeer)” (without Bali tentunya hehe). Tgl 17-nya kan libur. Nah, tgl 15-nya kami cabut ramai-ramai ke Sengkejong (Skw). Bawa mobil L-300 yang muat 9 orang. Ada B’Andy & nyokapnya, Pa Leo Rooroh, HC, g, FD, VK, SA, dan SW (foto2ne udah g publish sebagian di Facebook – album “August Splash”).

Berangkat pagi2 abis visite px. Nyampe disana lunch di nasi campur deket SS (Sinar Sakti – tmp kami biasa belanja…dulu…skrg msh tutup krn sengketa warisan). Nasi campurnya enak!! Menyerupai Nasi Akwang di Ponti ;D Dari situ kami belanja2 barang kebutuhan dulu, baru berangkat ke Pasirpanjang.

Waktu nyampe di Pasirpanjang, kami liat ada jalan baru, sebagian tanah, sebagian diaspal. Jalannya lumayan jauh, makin lama makin nanjak. Para cw di belakang hesitate ttg mencoba objek wisata baru, tapi B’Andy, g, SW di depan berpikir masih worth trying for kok. Akhirnya nekatlah kami mencoba. Ternyata itu memang menelusuri lereng gunung, nanjaaaaaaaak terus sampe tiba di puncak gunungnya. Syukur L-300 nya kuat nanjak haha.

Tapi emang worth it banget pas nyampe puncak. Kami bisa liat tepi pantainya Singkawang. Pesisir paling barat dari Kalimantan. Kereen ;D Abis deh difoto-foto. Sayangnya horisonnya kurang jelas karena ditutupi kabut. Cuma timingnya emang aga salah, soale lagi panas ereng2an, nyaris kami terbakar hanya gara2 foto2 hehehe.

Udah puas foto2 dan nyobain gazebonya (konon tempat ngeliat sunset klo sore2), kami turun ke pantai. Klo dipikir-pikir, hebat juga investornya. Berani invest sedemikian banyak duit untuk bikin objek wisata baru, di tempat yang sebenernya sih ga bagus2 amat tapi jadi menarik karena mulai ditata. Cuman teuing tah kumaha ngerawatna. Orang Indon mah pinter nyieun tapi goreng miarana. Sok kurang sense of belonging nya teh.

Pantainya – surprisingly – sepi. Seakan-akan kami punya pantai untuk sendiri. Acara maen dimulai dengan makan degan (kelapa muda), lalu nyebur maen aer sampe basah kuyup, trus jalan ke daerah batu2an (tujuannya lagi2 foto2lah). Setelah kenyang maen aer, kami maen softball. Waktu itu ujan udah mulai rintik2 sampe akhirnya kami ujan2an maen softball. Sampe soaking wet abis, lebih basah daripada waktu nyebur. Tapi…seneeeeng banget!! Udah lama musim kemarau, ga kena aer, lalu hari itu kena aer seharian. Nyebur, maen di pantai lalu kena hujan ;D kayak katak kena hujan. Senang ;D (bari was-was kuatir pilek setelahnya).

Malamnya kami ke kota Singkawang. Makan malam di tempat capcay yang uenak di pinggir jalan (konon deretan jualan malem2 itu namanya Pasar Hongkong). Tempat capcay itu ada keunikannya. Rupanya dia kongsi-an sama tukang minuman. Nah, si engko2 minuman ini yang nyentrik. Dia rupanya ga suka klo disuruh nyebutin harga tiap minuman. Maunya ngitung 1 meja ditotal langsung. Dulu salah satu dokter kami sempet tarik urat sama dia karena dokternya ngotot pengen tau harga per gelas, sementara dia sambil ngomel tetep ga mo ngasih detailnya, Cuma totalnya doang. Dasar aneh. Makanya kami kemaren pesen barang yang sama dan langsung bayar se-meja-eun, ngarah teu ribut. Abis makan, belanja lagi sebentar (karena ada yang ngebet belanja pasar). Udah itu barulah pulang ke Serukam. Cape, lepek, ke-pasir-an (baca: cucian banyak pasir dan asin kena laut) tapi senang!! Asli, entah kenapa, g seneng banget dan very enjoying that day =)

Finally, I got my summer holiday.

And I’m learning my lessons in G.


[G = Grace]

Summer (non) Holiday

Ketika mendengar kata “July” dan “tropical island”, yang terbayang dalam imaginasi g adalah “sunbathing, pasir pantai, surfing, coconut (sluuurp…aah segeer), and of course…Bali! “ The gods’ island, so they said. Pokoke konotasinya liburan banget deh.

Tapi faktanya, ada discrepancy besar antara imaginasi dengan realita. Pantesan nenek moyang suka menghardik descendants mereka waktu para keturunan itu sedang leyeh2 di depan rumah menikmati angin sepoi-sepoi dan daydreaming – dibilang “Jgn kebanyakan ngimpi, ndhuk!”

Karena dua frase untuk menggambarkan “liburan” musim panas g di Serukam adalah :

“Maaf sudah penuh!” dan “Ga da matinya!!” J

Langit tetap biru cerah dan matahari tetap bersinar terik di ekuator. Tidak ada tanda-tanda alam yang memberi kami peringatan. Hanya saja, di suatu hari klinik, waktu melapor untuk bertugas di IRJ (abis visite like usually), g (dan juga sejawat yang lain ) mendapati sejublak status px bertengger di dalam kotak kami dan waktu diteliti, nomernya (waktu itu pk 11.00) sudah mencapai 123 (heeeeehh??). Waktu masih mengucek-ucek mata (untuk memastikan ga salah liat karena terdistorsi oleh belek yang mungkin masih tersisa), tiba-tiba salah satu anak Akper udah muncul lagi dengan senampan status yang tingginya menyaingi tart kawinan. Wadaw!!

Dan begitulah awal kisah perjuangan panjang selama minggu2 hectic di bulan Juli. Tuhan memberkati Serukam dengan LUAR BIASA. I’m not saying it in a cynical way lho. I’m saying it with full consciousness and with gratitude (even though I’m aware with all the “side effects” of the blessings J).

Di hari-hari klinik, kami kebanjiran sampai 180 pxs/hari (terdiri dari px umum, mata, gigi). Pulang jam 17.30 bagi dokter itu ‘bayang-bayang’, dan pulang jam 15.30 bagi perawat IRJ itu ‘mimpi’. Waktu istirahat makan siang udah ga pernah 1 jam lagi. Bisa cabut 15 menit sudah bersyukur. Yang penting cukup untuk duduk sekejap, masukkan nutrisi (survival food) ke oropharynx sekejap, bilas dengan air minum, dan back to work babe! (sambil menunggu peristaltik menyelesaikan sisanya J) Di hari-hari non klinik (selain Senin & Rabu), pxs ga terlalu banyak, tapi karena banyak dokter yang operasi (giliran ke KOB) tetep aja kerasa banyak untuk orang2 yang tersisa di IRJ.

Dampak lain dari “banjir bandang” itu adalah penuhnya kamar-kamar rawat inap, terutama kelas III. Setelah kelas III penuh, giliran kelas II dan I yang terisi. Ada suatu masa dimana Narwastu (VIP-nya Serukam) pun nyaris tak bersisa. Sehingga saat g duduk sebagai dokter jaga, yang pertama kali g tanya ke perawatnya adalah, “Masih ada kamar apa kita hari ini?” Dan saat ada px datang dengan ambulance, harus segera dilihat dan ditahan ambulancenya. Bila memenuhi kriteria, maka cepat-cepat kami bilang, “Maaf sudah penuh!”. Dengan terpaksa, px tersebut harus dirujuk ke RS lain.

G bilang “dengan terpaksa” karena merupakan suatu kebiasaan, bahkan budaya yang sudah berurat akar, bahwa Serukam tidak akan menolak pasien. Jaraaaaang sekali itu terjadi (kec.klo misalnya memang harus segera ke Ponti untuk CT-Scan kepala pada kasus severe head injury) dan ketika melakukannya, ada rasa jengah & keterpaksaan didalamnya. We don’t usually do that, but kali ini, terpaksa dilakukan karena mo dirawat di mana lagi toh?? Lha wong ruangan sudah penuh…. Ato ada juga kejadian dimana keluarga px ngotot banget pengen dirawat di Serukam, padahal kondisi px yang udah delir ga jelas (delir=delirium) mewajibkan dia dirawat di ICU. Sementara ICU-nya penuh (dan ga da yg bisa digeser krn msh pada gawat). Terpaksa-lah dirujuk balik ke Skw (padahal dia pk ambulance dari Skw!!). Dijelaskan baik-baik, sampai2 g kasih no.IGD Serukam, kalau2 msh penasaran & pengen nanya kamar di lain kesempatan.

Jadi “Maaf, sudah penuh!” terjadi beberapa kali saat ruangan rawat inap / ICU penuh. Pada tiap kali kejadian, kami berusaha supaya px bisa ditransfer secepat mungkin. Jangan sampe transit di Serukam memperlambat waktu mereka mendapatkan definitive treatment yang bisa didapetin di tempat lain. Pengalaman inipun mengajarkan keterampilan yang lain buat g. Mengukur kemampuan sendiri salah satunya. Klo kami mampu (dalam artian ada tempat), ndak mungkin kami tolak. Itu salah satu keistimewaan Serukam yang g hargai ;D

Setelah ditinggal pergi para sesepuh, sekarang para pejuang ada 7 orang : Ags (the master), YH (bapak internoid), TM (ibu jamkesmas), CR (yaitu g), SA (the “MTA”), AI (the basket-eye), ND (juara ngocol). Dengan 2 orang substitute players: VK dan FD (yang masih orientasi).

Walaupun bertujuh, dari hari Senin-Kamis, hanya ada 6 orang yang bisa masukin px karena ada sistem ‘dokter klinik’. Dokter klinik adalah orang terpilih yang full-on-duty di klinik Senen-Kamis selama 1 minggu itu. Dilarang ke KOB, boleh ga ikut morning report, ga boleh visite lama2 krn teng jm 8 udah kudu standby di klinik. Menerima nyaris semua px baru dan px kontrol yang gampang2 & bisa cepet. Di kertas catetan px, biasanya dia akan melesat dengan kecepatan cahaya meninggalkan kami. Tapi…teuteup aja klo Ags & YH sih biasanya banyak terus pxnya. Dan belakangan, g juga dapet byk terus (walo bukan dr.klinik). Apalagi waktu TM tugas luar. Berlima deh kami giliran masukin px rawat inap hasil saringan dr.klinik. Oya, ada lagi priviledge-nya DK. Secara dia uda ngos2an periksa px di IRJ, dia ga masukin px dari Sn-Kms. Jadi, klo ada px MRS, dioper ke dokter laen yang jumlah px rawat inapnya paling dikit, yaitu salah satu dari kami.

Urusan masukin pxs kadang2 aga sengit karena pada bulan Juli ini juga, beberapa kali “the chosen one” menembus level 15 untuk jumlah px rawat inap (such as the mighty Ags - way to go, Ka!!). Ga mungkinlah mrk disuru masukin lagi. Jadi pada prinsipnya sih bergiliran. Pokoke “Ga da matinya!!” deh px dateng dan masuk dirawat. Apalagi klo lagi jaga malem.

Saat jam klinik, pxs yang terus berdatangan dan “Ga da matinya!!” bisa dibagi-bagi ke dokter2 yang lain. So, masih tertahankanlah ya. Namun, saat jarum menunjukkan “Setengah LIMA”, ujian bagi dokter jaga dimulai. Semua pxs rawat jalan yang lambat datang akan berakhir di kotak dr.jaga. Belum lagi ditambah truk, Kijang, ambulance, motor, dan mobil umum yang “mampir” di depan pintu IGD mengantarkan “Ada pasien baru!”

Berdasarkan pengamatan, minimal ada 3 tipe jaga yang berhasil diidentifikasi di Serukam (bagi yang sudah tahu, maaf diulangi lagi J hehe).

Jaga tipe III adalah jaga yang notabene cuma mindahin badan doang, dari kasur di rumah ke kasur ruang dokter alias kosong bo..sepiiiii..ga da pasien IGD dan ga da konsul dari ruangan juga. Silent night, peaceful night. Sekali, dua kali dalam hidup ada juga lah kesempatan untuk dapat ketenangan seperti ini.

Jaga tipe II adalah jaga yang mirip dengan punya bayi baru lahir. Tiap 2-3 jam sekali, ngeeeng…tidur bentar, ngeeeng lagi… Jumlah pasien mungkin ga banyak, tapi mereka dateng pada waktu2 yang “ga enak” (misalnya subuh-subuh). Ato diselingi dengan krang-kring dari ruangan. Jaga kayak gini masih bisa tidur sih, tapi suka bikin hangover karena terbangun tiap 2-3 jam sekali. Mo pules dikit, eeh, dateng lagi pasien. Ga gawat lagi.

Sementara jaga tipe I adalah jaga beneran alias TERJAGA TERUSSS!!! Pasien dateng ga abis-abis di IGD (entah kenapa semua orang sakit hari itu), baik yang engga gawat maupun yang beneran gawat darurat. Yang gawat daruratnya kudu maju operasi CITO lagi, saat itu juga, ga bisa dibesokin lagi. Waktu ngurus mereka2 yang gawat, bisa ada telepon dari bangsal karena ada pasien nafas satu-satu di ruangan. Setelah ngurusin ruangan, operasi sudah siap dimulai. Saat lagi jadi asisten operasi (biasanya mata udah 4,5 watt dan tes Romberg positif alias udah goyang kiri-kanan nyaris tumbang), eeh….perawat dari IGD menelepon dan menyampaikan, “Dok, di depan udah ada 4 pasien yah. Yang satu…yg kedua….sementara yg ketiga, dan yg keempat dok, masih sodaranya yg kedua…bla..bla..bla” So, basically, you’re up all night and belel banget paginya.

Sepanjang bulan Juli, jaga tipe I is my on-call style ;D

There’s a good illustration from one of my fave books “Through His Eyes” by Kathy Collard Miller. I recommend all girls and women to read this book. Bener2 dari cewek, untuk cewek, dan ditulis dengan gaya yang ngertiin banget cewek.

Kathy bercerita tentang seorang pembicara, Gary Thomas, yang menyampaikan ilustrasi tentang the difference between responding to people with a full soul & an empty one. Bayangkan jika kamu belum makan apa-apa selama 36 jam dan kamu diundang ke suatu perjamuan makan. Ketika kamu nyampe, tuan rumahnya bilang ia perlu bantuan kamu untuk menghidangkan makanan. Tapi kamu lagi laapaaaar berat. Kamu tetap bilang iya sama tuan rumah. Tapi waktu kamu menyajikan makanan, kamu letakkan piringnya sembarangan, dengan setengah kesel, ngomel karena orang lain bisa makan, sementara kamu belum. Pada waktu kamu akhirnya bisa makan, kamu bahkan tidak bisa menikmatinya karena terlanjur kesel.

Namun jika kamu diundang ke perjamuan makan siang itu, setelah sebelumnya sempet brunch, setidaknya kamu akan nyampe dengan perut cukup kenyang. Saat tuan rumah minta kamu membantu menyajikan makanan, dengan senang hati kamu akan bilang iya dan tidak keberatan menunggu giliran makan belakangan. Kamu melayani mereka dengan baik dan memenuhi segala permintaan mereka dengan sabar. Senyum melekat di wajah kamu dan mudah bagi kamu untuk menunggu giliran untuk makan.

So, the difference between responding to people with a full soul & an empty one : an empty one hasn’t received God’s love, presence, grace meanwhile a full soul has already feasted on God’s encouragement & love, the fellowship of the Spirit, & the support of others. That soul is now able to respond to others with joy, grace, and cheerfulness.

Klo g merefleksikan ini sm pengalaman g sendiri, salah satu tantangan paling besar muncul klo abis jaga. Terutama post on-call type I. Pagi2 tuh seringkali dimulai dengan miserable. Semuanya serba cepet2. Cepet2 mandi&makan, lalu laporan pagi, disusul lari ke KOB klo ada pasien mo maju op. Habis dari KOB, px ruangan belum divisite, padahal di kotak depan udah penuh px yang mulai ga sabar nunggu. Belum lagi ditambah hypoglycemia, hypoxia, dan brain-jammed e.c kurang tidur. It’s difficult to respond to others with joy, grace, and cheerfulness. Basically, all u wish is that day will end soon & u will have your long, lost bedtime.

G jadi lebih sadar mengapa quiet time w/ God is very important, yang didalamnya mencakup berdoa dan baca FT. Itulah saat2 roh kita diberi makan, disegarkan, di-recharge. We have to feast on God’s love first before we are able to share that love to others. Dan saat melakukannya pun, kita sangat tergantung dengan God’s power within us. No way we can do it by our own strength. We’re too weak and humane.

Satu hal lagi yang g sadari dari pengalaman bulan ini adalah God’s sovereignty over all. Bahwa Allah kita adalah Allah yang memegang kendali.

Semakin lama berada disini, g semakin menyadari segala kelebihan maupun kekurangan Serukam. Byk hal yang secara mata manusia mustahil untuk dilakukan/dipertahankan. But I am amazed with God’s hands who entrusted this hospital with so many difficult and various patients. I am grateful to God that He shows Himself in this way. Allah yang empunya pelayanan ini, bukan manusia. Allah yang mengatur semuanya ini, bukan manusia. Allah yang berkenan mempercayakan sedemikian banyak hal bagi kami untuk dikerjakan. Allah yg sama juga menyediakan segala sumber dayanya. Memanggil anak-anak-Nya dari berbagai penjuru untuk melayani disini sesuai dengan apa yang Tuhan siapkan bagi tiap pribadi. Menyediakan semua equipments yang diperlukan klopun Semuanya tuh balik lagi ke God, God, and God alone.

It is God who sustain this ministry, here in the backwood of West Borneo. Not World Venture, not the Gearys, nor the doctors, nor the nurses, nor any men. It is GOD.

Klo lagi nyadar banget ttg kebenaran ini, g suka jadi gemeter sendiri. The reverence for God comes to me. Klo semuanya ini milik Tuhan dan pekerjaan tangan Tuhan, ya ampun kok berani-beraninya kami nggak mengerjakan dengan setia bagian kami?? Padahal siapa sih kami ini? Manusia dari debu dan tanah.

Jadi keleru (bukan cuma ‘keliru’) klo seseorang/sklpk org smp berpikir bhw suatu pelayanan adalah milik sendiri. Semuanya milik Tuhan. Kita adalah pekerja2 yang dipanggil sesuai kapasitas masing2 untuk bekerja di ladang-Nya Tuhan. Keleru juga klo selalu khawatir kekurangan orang. Yang Empunya ladang akan memanggil para pekerja untuk bekerja di tempat yang Dia inginkan. Bagian kita adalah tetap setia : bekerja & berdoa.

Tapi Tuhan itu baik. Dia tetep kasih wonderful break di sela-sela hecticity yang hiruk pikuk itu. Setelah mengalami banyak “kehilangan” di bulan2 sebelumnya, I got to know new people, hanged out with them, belajar hal2 baru, dan ternyata merupakan jembatan yang Tuhan buat supaya g bisa belajar bersyukur lebih banyak & belajar tentang keajaiban kasih karunia.

I wonder what lies ahead. God, would You please walk with me?

----Juli, 2009---Seroekam---West Borneo

Spending D'Day W/God [1]

SPENDING THE DAY WITH GOD [part one]

Practical tips for the Morning, Noon, & Night

(John Zarte, Serukam, June 2009)

IN THE MORNING (Announce – Feel – Hide – Say)

(1) Announce it – “Wartakan” – symbol : Radio Alarm / Rooster (if u can provide a rooster who will make a sound as punctual as your desire haha)

- Announce words of worship to recognize God’s presence.

- Ul 4 : 39 – announce how great God is, how grateful we are for the love of God.

- Dilakukan saat masih di tempat tidur, 2-3 menit setelah buka mata.

- Why is it important? Because feeling follows action & will change your view.

(2) Feel it – “Rasakan” – symbol : Water dipper alias gayung (apa lagi sih English untuk gayung?)

- Feel God’s love – love that runs down like water from water dipper when we take a bath, like Jesus’ blood that washes us & gives us forgiveness for our sins (Mzm 31:22, 63:4).

- We should remember our value before God.

(3) Hide it – “Simpan” – symbol : The Bible

- Hide God’s words in your heart (Mzm 119:11).

- If time shortage is the reason for neglecting Bible reading, remember that “we’ll always give time for something important” – jd klo ga sempet terus baca Alkitab, jgn2 itu krn Alkitab ga begitu penting buat kita….

- Reading the Bible for depth, not distance.

- Mzm 119:105

(4) Say it – “Bicarakan” – symbol : Coffee cup

- Say it in prayer. Coffee cup symbolize conversation with other people. If we’re so fond of talking to other people, we should be more fond of talking with our Creator.

- Conversation with God will change our relationship with others.

- What makes a prayer important?

1] God loves to hear us. Imagine this : the Almighty Creator of the universe loves to talk with His creation (small, weak, and from dust) !!

2] God will answer our prayers according to His good will (Mat 7:9-11).


Konon, ‘If the morning is right, the whole day will be bright’. Well, ga precisely demikian sih, tapi morning yang diawali dengan worshipping God & surrendering ourselves into Thy hand pastilah akan memberi kita kekuatan untuk menjalani seharian yang mungkin padat, nyesek, panas, dan penuh tantangan – dengan cara yang lebih baik dibandingkan klo pagi hari kita diisi hal2 yang mumet.


Satu quote lagi :

“Get yourself in tune with God in the morning, before the orchestra of the day begins”


abcs