ALONE INTO THE LONE
Lesson about Loneliness from Elisabeth Elliot
---Loneliness : It can be wilderness. It can be a pathway to God---
The day I found the book was not that dramatic.
I finally managed to arrive at Serukam safely after spending one night at Pontianak.
G ditempatin di motel, kamar no. 6 (by request dong – supaya ada kamar mandi dalem). Dan ternyata bukan cuma ada kamar mandi dalem, tapi ada terasnya juga. Begitu datang, g langsung “disambut” Mario, one of my fave twins, junior g sejak SMP. Dia lagi maen ke Serukam setelah menyelesaikan PTT Pusat-nya yang aneh bin ajaib di Sekadau.
Hari itu juga g “shopping” di motel library. Semua buku di rak2 itu g liatin satu demi satu, dan akhirnya g bisa mendapatkan beberapa nice books ;D And one of them is “Loneliness” by Elisabeth Elliot.
Ini perjumpaan ketiga dengan karya2 Elisabeth Elliot, setelah Shadow of the Lord Almighty dan ?? of Love. Buku biru berdebu itu agak outstriking buat g karena pada saat itu g emang lagi dalam posisi “alone” di motel (well, ada Mario sih). Posisi “alone” itu menolong g untuk lebih menyelami ttg kesendirian dan kesepian (haha).
What is loneliness?
13:48
Posted by
Chris Cross
Semuanya berawal dari pengumuman penerimaan PPDS.
G mengikuti ujian saringan masuk hari pertama dengan semangat. Bertekad untuk menaklukkan soal2 TOEFL, mengerjakan sebisa mungkin TPA (soale udah seabad rasanya sejak ngerjain soal2 Math SD-SMP-SMA), berharap they-think-I’m-sane-enough di MMPI (catet : I AM sane haha)(lbh tepatnya, I AM Chris, not Sane, who is Sane anyway?).
Ujian hari kedua lebih menegangkan. Soal2 khusus jurusan yang diminati. Hanya 60 soal, means kudu bener banyak2, salahnya seminimal mungkin. Soalnya sih standard, jawabannya itu yang membingungkan haha.
Yang paling parah ketegangannya adl 1 mg kemudian : interview. G jadi inget ujian lisan g masa ko-ass dulu. 1x di Syaraf, 2x di Interne. And I concluded that I didn’t like verbal tests.
The interview lasted for half an hour or so. They didn’t torture me, don’t worry & I didn’t want to go through the details again. What I knew was when I got out from the room, I got a bad feeling. I felt like they would reject me. I couldn’t explain why. I just felt that way. What? Sounded lack of faith? U can name it all u want. I just felt that way.
To read the FIRST PART of the story, click the following link :
DAY THREE – JUNE 27TH – GUILIN-YANGZHUO
Setiap hari, kami hanya menginap 1 malam saja dan pagi2nya harus check-out untuk melanjutkan perjalanan. Breakfast di hotel lumayan bervariasi. Ada bubur (polos, pitan, telur), udon (kwetiauw kuah dgn beragam asinan), kue2 & roti (mocinya mirip cireng, tapi enak), dumplings (kue tie sayur, daging), nasi goreng (biasanya enak – sesuai selera Indon), kwetiaw goreng, fresh pakcoy/kailan, sosis goreng (I assume it’s pork), juice (orange/apel/nanas), hot soy bean milk, hot milk, dll, dsb. Ada yang tawar, ada yang keasinan, ada yang cocok, ada yang engga. Pokoke coba aja deh =)
Di pagi yang kelabu itu, kami mengunjungi 2 objek wisata Guilin yang terkenal, Elephant Trunk Hill dan Fubo Hill. I like Elephant Trunk Hill better. Jadi itu suatu taman yang luaaaas di pinggir sungai, dimana kita bisa menikmati keindahan bukit di seberang sungai, yang bolong shg berbentuk belalai gajah. FYI, Guilin tuh dikelilingi bukit2 yang mungkin ratusan jumlahnya. Semodel bukit kapur di Tagog Apu. Beragam ukuran, bentuk, dan imaginasi yang menyertainya. Ada yang model jempol, jari jemari, ibu2, sampe ke belalai gajah ini. Keren sih. Lebih keren lagi karena bukit2 beginian bisa jadi objek wisata. How clever is the people who found it.
Masa kecil g diwarnai dengan kehadiran berbagai film silat Mandarin yang tidak terlupakan. Sebut saja Legend of the Condor Heroes (cewe pintar dgn cowo lugu tp jago kungfu), disambung Return of the Condor Heroes (Andy Lau dgn sindrom Bibi-nya, Siao Liong Li), To Liong To (Tony Leung waktu masih muda), dan tentu saja beragam film Jet Lee. Dan yang paling berkesan adalah pentalogi Once Upon a Time in China. Sang master kung fu Wong Fei Hung dgn bibi-nya, Bibi ke-13 (lagi2 bibi, ada apa sih dgn bibi2 di film2 ini??). Jalan ceritanya simple (and cliché) tapi dikemas dgn menarik, gaya rambut Manchu VS jas & rayban Western style, gerakan2 kung fu yg amazing, gaya Jet Lee yang kocak, dibumbui love story, dan tentunya sang hero akan menang di akhir cerita. Namun dgn ke-klise-an yang very entertaining ini, Once Upon a Time bs mencapai 5 seri! Hebat….
Setelah “berpetualang” dgn film2 tersebut, akhirnya 25-29 Juni 2010 kemaren, diriku bisa mengunjungi daratan Cina. The Nanning-Guilin-Yangzhou trip. Ini trip keluarga kami yang pertama setelah hampir 10 thn sjk terakhir pergi bareng (wow, kemana aja g slm ini??)(Jatinangor, RSHS, Borneo...weleh-weleh).
[June 25-29th, 2010 – Nanning, Guilin, Yangzhou Trip]