"THE SURVIVORS" - July 2011

"THE SURVIVORS" 
Episode Dawar Challenge Test 

Episode “The Survivors” kali ini diawali dengan sebuah ide untuk melakukan darmawisata (nama bekennya : rekreasi) ke air terjun Dawar di Dsn. Dawar, Kec. Sanggau Ledo, Kab. Bengkayang, Kalbar. Lokasinya sekitar 4 jam dari RSUB (dgn mobil pribadi). Original ideanya melibatkan tim Bedah, yaitu KOB (kmr operasi) dan Mata, dgn prediksi peserta para perawat KOB & Mata beserta keluarga, juga para spesialis bedah (Bedah Umum dan Mata) beserta keluarga.

Seiring berjalannya waktu, entah mengapa, jumlah peserta makin berkurang & berubah-ubah terus, hingga akhirnya hari ini ada sekitar 25 orang yg berangkat yg terdiri dari perawat KOB, Mata, bangsal lain, org2 admin & keuangan, 1 SpB, 1 SpRad, 5 dokter umum, 1 fisioterapis, 1 kasir, 1 bumil, dan 2 anak balita.

Kami berangkat dari RSUB ½ jam lebih lambat dari waktu yg direncanakan menggunakan 2 kendaraan : bus kecil Akper dan Kijang Krista 1070. G ikutan yg 1070. Ada NL sbg pengemudi dgn co-pilot Om Fah (yg naturnya mabuk mobil berat), IH dgn Lana dan Dindin, DW, dan deretan belakang diisi the big three : LA, B’ Tius, dan MT.

Jalan mobil menuju Dawar tidak mulus. Pertama kami harus melewati D’Vandering – belokan2 maut dan illogical menyusuri pinggang gunung, tidak jauh dari Serukam, menuju kota Bengkayang. Kedua, jalan beraspal gerenjul (bhs gaulnya dari : tidak rata & berlubang-lubang) sepanjang 1 jm perjalanan sejak belok di Sanggau Ledo s/d dusun Dawar. Cuma lurus doang tp menimbulkan sensasi kebas & tingling a/r gluteus bilateral karena lamanya waktu tempuh jalan gerenjul tersebut.

Di dalam 1070, hanya ada 2 orang yg pernah ke site tsb, LA & IH. Mereka main kesana 10 thn yg lalu dan meninggalkan kesan yg sgt menyenangkan buat mrk. Jd kali ini mrk membawa serta kedua balita mrk, yg terkecil Lana umur sktr 1thn-an. Blm ada survey resmi stl 10 thn yg lalu ttg lokasi tsb, hanya dari kata orang saja. Honestly, g juga gak tanya2 gmn medan yg akan dihadapi. Pas diajakin ikut, hayu2 aja krn blm pernah. Jadi dengan polos, g bercelana pendek, bawa baju ganti (walo gak niat nyebur), pake sandal jepit, bawa sunblock & payung, tapi lupa bawa topi serta gak pake backpack (tp tas yg digendong di samping).

MELLOWPATHY, RIDICULOPATHY, & CERVICALARITY [part Two]

MELLOWPATHY, RIDICULOPATHY, & CERVICALARITY
[part two]
[to read part one, click HERE


Sometimes we are bound by blood, sometimes by friendship.
Sometimes by the crossing of life paths, many times by faith.
But always by love.
That’s (the real) family.

 As for this storm,
we will go forth, in grace alone.
[@Tangerang hospital]

Tuesday, Jan 11th, 2011
BEFORE D-DAY

Yesterday afternoon, g, Budz, dan nyokap arrived in S Hosp, Tangerang (2,5 hrs from Bdg). Bokap kaga ikut krn mslh DM-nya itu bikin susah ngatur makanannya, lagian dia mana kuat suru nungguin di RS. Jd g & nyokap yg pergi. Babe ditinggal di rmh bareng my aunt. Begitu nyampe, kami nunggu di lobby RS (dgn sofa empuknya) for another 1,5 hrs for Suster ‘S’ (SS) to showed up (after work).
SS ini one of Budz’ friend from Unpad Nursing School dan KSR PMI Unpad. Dia jadi tutor di nursing school sblh RS sjk Nov 2010. Sblmnya dia kerja 2 thn di ICU RS I, Bdg. Beberapa waktu sblm op, Budz kontak2 dia dan singkat cerita, dia nawarin u/ stay di kost-annya pre & post op. Kosnya gak jauh dari RS. So, diputuskan u/menumpang di kost-annya. Stl bikin janji sama dia, g baru tau SW – my XSerukam senior – juga stay di kompleks deket situ.
Selidik punya selidik ternyata SS itu anak KoPem (Komisi Pemuda Paskal) & her long lasting boyfriend juga orang Paskal (what a small world No.1). A good girl, funny, capetang (bhs “Jerman”nya talkative)(haha), helping hand (very much!), & an idealistic nurse =) Like her instantly.

MELLOWPATHY, RIDICULOPATHY, & CERVICALARITY (part One)

As I sit down in the top of the downhill runway, I stare at the beautiful sky.
The slight purple-blue color turns into a gleaming orange light.
The sky is so vast, with a soft stroke of clouds, like a carpet above me.
Here & there birds singing joyfully, welcoming the beautiful sunset.
The Painter is showing His work of art. This is a nice way to end a tiring & hectic day.

But life isn’t always that simple.
[@serukam airstrip]


Saturday, November 20th, 2010
I took a leave to attend my best friend’s wedding at the end of the week. She was going to marry Serukam’s future obstetrician ;D (it’s a small world after all). Then out of the blue, my brother announced the out striking news.
Dia udah mengeluhkan symptoms baal di kedua tangan dan sedikit kelemahan di tangan kanan sejak ± 3 thn yg lalu. Dan itu bertambah buruk scr gradual. Waktu g resign dari Serukam di bln Maret 2010, kami sepakat u/ ganti neurolog-nya. Sebelumnya dia udah berobat ke 2 neurolog & dikasih high dose Bcomp u/ keluhan neuropatinya, but no further testing/anything. Kami memutuskan u/ konsul pada dr. SG, the lady w/ the bright mind & yg terpenting memiliki curiosity over something (bkn cm terima doang & ga nyari lg further cause-nya). Dulu dia dosen kami dan salah satu dosen pembimbing my bro wkt skripsi.
Dr. SG mulai dengan pemeriksaan paling mendasar. Rontgen tulang leher and the result was still OK, cuma spasme otot aja. Dia nyuruh trial high dose Bcomp lagi u/ 3 bln dan disuruh control lagi stl itu. Ketika masa 3 bln itu lwt & hny ada sedikit perbaikan symptoms, my bro maju dgn pemeriksaan NCS (Nerve Conduction Study) dan memang ada masalah dengan beberapa saraf tepi tangan kanannya. So memang betul ada masalah yg lebih besar dari sekedar baal2 biasa.
Waktu itu kami baru nyampe rumah, msh di mobil, dan dia bilang dia udah MRI cervical (MRI leher). The MRI showed a mass inside his cervical spinal cord, suspect ependymoma. Sebuah benjolan menghuni dan bertumbuh di dalam medulla spinallis daerah leher, menyebabkan penekanan ke serabut2 saraf disekitarnya, yg mengakibatkan symptoms dia selama ini.   
This is so weird. Begitu pikiran g waktu itu. Don’t know for sure how to react. This is the first time somebody was having tumor in my close family. My clinical mind instantly taking control. What’s next? What are our options? But my heart was grieving too. The possibility of losing my only bro was unimaginable. And at that time, I was thinking about our parents & aunt. We didn’t want to make them worry or sad. But the truth must be revealed.
But first, we were going to consult dr.SG about the result before telling our family.

Pen & Paper

One rainy noon, with empty stomach, in my hometown

Tadi pagi my old pal (who lives just outside Bandung, haha, just outside means 3 hours or so) send me a message via FB. Bertanya bagaimanakah caranya untuk menjadi seorang blogger. That question strikes me, for the second time this week. Masalahnya, I have stopped writing since December last year. Before this, an old friend (how come many of my friends are old? Hahaha) replied my Easter wish with a compliment about stories in my blog, how he enjoyed them, & how he wished I would continue writing. Lalu sebelumnya lagi, my bro said that his doc told him to write his story (the lesion, op, & all neuropathies that came with it, now & then) & he asked how he would start. Dan g memberi dia saran2, padahal yah teuteup aja g belum mulai nulis lagi.

That’s why, today, I come back.
abcs